Transformasi Murid Yesus Khotbah Minggu 19 April 2026

6 April 2026

Minggu Paskah 3
Stola Putiih

Bacaan 1: Kisah Para Rasul 2 : 14a, 36 – 41
Mazmur: Mazmur 116 : 1 – 4, 12 – 19
Bacaan 2: 1 Petrus 1 : 17 – 23
Bacaan 3: Lukas 24 : 13 – 35

Tema Liturgis: Bangkit dan Menata Ulang Kehidupan
Tema Khotbah: Transformasi Murid Yesus

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kisah Para Rasul 2 : 14a, 36 – 41
Ayat 14a ini perlu ada dalam bagian ini untuk memperjelas bahwa bagian yang kita renungkan pada saat ini adalah satu kesatuan dengan khotbah rasuli Petrus pada bagian yang sebelumnya (Ay. 14-35). Seruan Petrus ini berguna untuk memusatkan perhatian para pendengar yang sedang takjub akan peristiwa turunnya Roh Kudus. Di mana orang yang percaya bersaksi tentang Kristus dengan berbagai bahasa. Khotbah Petrus pada ayat 36 ini mengulas penegasan bahwa betapapun agama Yahudi itu menolak tentang keistimewaan Yesus, namun peristiwa Pentakosta telah menunjukkan keistimewaan Yesus di hadapan siapapun yang hadir pada saat itu. Petrus terus menegaskan bahwa Allah yang dimengerti oleh orang Yahudi, membuat Yesus yang disalibkan itu menjadi Tuhan dan Kristus, yaitu yang diurapi dan memiliki kekuasaan tertinggi. Sungguh menarik apabila kita melihat ayat 37, di Terjemahan Baru dituliskan orang-orang Yahudi merasa terharu, untuk memahami bagian ini kita perlu melihat bahwa kata “katanusso” ini memiliki dimensi menusuk, menggelisahkan hati, menyayat (TB2). Maka di sini terlihat bahwa para pendengar khotbah Petrus ini memang merasakan perasaan bersalah yang amat dalam. Tidak hanya berhenti pada rasa bersalah saja, orang-orang Yahudi itu lebih lanjut bertanya tentang hal-hal yang bisa mereka lakukan seusai mereka tahu bahwa mereka salah. Jawab Petrus pada ayat 38 menunjukkan langkah selanjutnya dari rasa bersalah yang telah dirasakan, yaitu pertobatan. Pertobatan perlu ditandai dengan komitmen yang ditandai dalam baptisan. Baptisan ini juga menjadi tanda bahwa mereka sudah lepas dari sekadar dari rasa bersalah namun bersedia hidup dengan pembaruan diri, menerima keselamatan dari Allah.

1 Petrus 1 : 17 – 23
Surat Petrus ini merupakan surat yang menekankan pengajaran bagi komunitas Kristen. Penting bagi komunitas Kristen untuk mengupayakan hidup yang tidak bercela. Hal ini dilakukan supaya jika suatu saat difitnah dan diserang, fitnah dan serangan itu tidak beralasan. Ayat 7 menjelaskan tentang konsekuensi dari pengakuan imannya. Seorang Kristen tidak bisa hanya mengaku bertuhan saja dan tidak melakukan hal-hal yang dikehendaki oleh Tuhannya. Munafik sama sekali bukan pilihan. Di ayat 18 dengan jelas  disebutkan alasannya, bahwa orang yang percaya telah ditebus dari cara hidup yang sia-sia. Ayat 19 semakin menegaskan alasan mengapa orang percaya yang diselamatkan Allah tidak punya pilihan untuk menjadi munafik, karena ia ditebus dengan cara yang tidak main-main. Ia merasakan rahmat atas pengorbanan Yesus di kayu salib. Yesus yang memang sejak semula ada dan berketetapan untuk selalu menyelamatkan manusia. Hanya oleh Yesuslah manusia bisa percaya (pistis) kepada Allah. Kata ini digunakan untuk menggambarkan orang yang bisa diandalkan. Allah adalah sosok yang bisa dipercaya. Dengan sedemikian rupa rencana keselamatan Allah serta begitu besar pengorbanan-Nya yang sudah diberikan itu, mesti diikuti dengan sikap yang benar. Sikap itu ialah ketaatan, ketaatan itu akan menghasilkan kemurnian hidup di hadapan Allah. Kemurnian itulah yang memampukan manusia untuk lahir baru dan mengasihi dengan sungguh satu dengan yang lain.

Lukas 24 : 13 – 35
Bacaan Injil pada hari ini merupakan bacaan yang menarik. Di dalam bacaan ini kita bisa membayangkan jarak bahkan suasana ketika para murid berbincang dengan Yesus. Adegan demi adegan bisa kita runut dan rasakan. Dimulai dari perbincangan dua murid Yesus ketika menempuh 11 km (TB2) menuju ke Emaus. Mereka bukan hanya berbincang tetapi juga bertukar pikiran, nampak di sini bahwa para murid bukan hanya berbincang tetapi hendak mendalami peristiwa yang mereka temui di Yerusalem. Pada saat itulah Yesus bergabung dengan mereka.

Penulis Injil Lukas menggunakan kata “sendiri” di sini hendak meyakinkan pembaca bahwa yang terlibat dalam kisah ini memang Yesus dan bukan yang lain. Pada perjalanan ini, kedua orang murid yang berjalan terlebih dahulu tersebut gagal mengenali Yesus. Yesus mulai menuntun mereka dengan bertanya perihal apa yang sedang mereka bincangkan, namun mereka sendiri menunjukkan wajah mereka yang muram. Mereka lalu menceritakan soal pengalaman yang membuat wajah mereka muram itu. Pada ayat 21 mereka mulai menceritakan alasan yang membuat wajah mereka muram itu. Ada harapan-harapan yang pupus seiring kematian Yesus. Bahkan sudah sampai tiga hari namun mengapa Allah sepertinya diam saja melihat Yesus yang diperkenan oleh Allah meninggal dengan cara yang demikian tragis. Sekalipun demikian nampak pula kegamangan dalam hati kedua murid tersebut karena mendengar kesaksian bahwa Yesus hidup. Dari runutan narasi ini nampak, kesedihan, harapan namun juga kegamangan bercampur menjadi satu. Di situasi inilah Yesus mengajar mereka dengan pertama-tama menegur mereka. Hati yang lamban bisa dimengerti sebagai lambannya intelegensi mereka karena segala pertanda sesungguhnya telah dijelaskan oleh kitab yang terdahulu. Yesus mempertegas lagi unpopular opinion di kalangan orang Yahudi perihal mesias yang menderita di berbagai kitab, termasuk diawali dengan penjelasan di kitab-kitab Musa. Seperti yang disinggung di atas, kisah ini begitu menarik karena semakin akhir, kisah ini akan menuju puncaknya.

Setelah semakin petang Yesus diminta, seperti umat yang meminta kepada Tuhannya untuk singgah dan tinggal bersama. Pada saat perjamuan makan, mata para murid itu tercelikkan dan akhirnya mereka bisa melihat bahwa itu Tuhan Yesus. Seiring menghilangnya Yesus dari pandangan mereka, hati mereka menjadi berkobar-kobar. Kita bisa melihat perbedaan suasana di sini, dari mereka yang semula berwajah muram, kini hati mereka menjadi berkobar-kobar penuh semangat setelah menyadari kehadiran Tuhan Yesus.

Benang Merah Tiga Bacaan
Bacaan Injil yang kita baca renungkan pada hari ini rasanya dapat membingkai transformasi kehidupan yang ada di dua bacaan yang lain. Pada bacaan pertama, Kisah Para Rasul menekankan bahwa orang bisa mendengarkan segala kebenaran firman Allah, lalu bertobat. Pertobatan itu berbuah dalam komitmen baptisan. Sementara bacaan yang kedua, menuntun bahwa komitmen itu harus berlanjut pada ketaatan. Sementara bacaan yang ketiga menjadi contoh bahwa transformasi kehidupan tergambar dalam kehidupan para murid yang berbincang dengan Tuhan Yesus ketika melakukan perjalanan ke Emaus. Orang yang percaya kepada Tuhan Yesus pasti berubah, dari yang semula berwajah muram karena keputus-asaan bergerak seiring ajaran Tuhan Yesus memperhatikan kitab-kitab Musa dan ajaran-ajaran Tuhan Yesus yang lain. Masuk dalam hadirat Tuhan dalam perjamuan-Nya lalu bisa mengerti dan mengobarkan hati kita, sekalipun kita tidak melihat-Nya secara fisik.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Seorang anak kecil menanam biji mangga di belakang rumah. Setiap hari ia menengok tanah itu dengan penuh harapan. Dua hari lewat, tiga hari lewat, tidak ada tanda-tanda perubahan. Ia mulai gelisah. Ia berpikir, mungkin biji itu tidak akan tumbuh. Ia pun menggali tanah itu untuk melihat apa yang terjadi di bawahnya. Ternyata biji itu mulai pecah dan akar kecil baru saja keluar. Karena tergesa, anak itu menutup kembali, besoknya ia ulangi lagi. Lama-lama biji itu rusak, akar kecilnya patah, dan pohon mangga itu tidak pernah tumbuh.

Isi
Apa yang bisa kita pelajari dari kisah di atas? Pertumbuhan membutuhkan proses. Biji yang ditanam tidak langsung berbuah. Ia harus melalui tahapan—pecah kulitnya, menumbuhkan akar, bertunas, lalu menjadi pohon, barulah berbuah. Bila kita terlalu cepat ingin melihat hasil, kita justru bisa merusak prosesnya. Demikian juga dengan diri kita sebagai murid Kristus.

Pertobatan itu adalah awal, seperti biji yang ditanam. Kisah Para Rasul sesungguhnya memberikan fondasi yang kokoh bagi kita untuk “Bangkit dan Menata Ulang” seperti yang didengungkan oleh tema kita. Bangkit pertama-tama memang mengakui bahwa kita pernah terjatuh. Kemanusiaan kita di dalam rencana penyelamatan Allah diterima dan diberi kesempatan. Kesempatan itulah yang ditandai dengan adanya rasa bersalah sebagaimana orang yang mendengarkan khotbah Petrus yang ditulis dalam Kisah Para Rasul tadi. Rasa bersalah itu ialah tanda kesadaran bahwa apa yang telah kita lakukan itu salah. Tidak boleh berhenti pada rasa bersalah, seperti biji yang ditanam, akar mesti tumbuh. Seperti biji yang tak boleh membusuk pada proses penanaman, rasa bersalah ini mesti dilanjutkan dengan pertanyaan, “Apa yang mesti dilakukan kemudian?” Sekalipun pertobatan memang diawali dengan merasa bersalah, namun langkah berikutnya adalah perubahan. Bagian pentingnya adalah tidak melakukan kesalahan yang sama dan berubah untuk semakin lama semakin baik. Komitmen itulah yang ditunjukkan dengan baptisan. Di mana orang yang bertobat itu menandai dirinya dengan baptisan di mana ia tidak lagi bergerak berdasarkan kemauannya sendiri, namun berdasarkan pengakuan bahwa Yesus adalah Kristus yang telah menguasai hidupnya.

Ketaatan adalah proses bertumbuh. Setelah akar semakin kuat dan mencengkeram sebagai dasar, tunas mulai tumbuh. Proses ini adalah proses yang paling lama, proses yang kadang terasa sangat lama dan ada saja tantangannya. Setelah orang bertobat, mengakui secara sadar bahwa Yesus adalah Kristus dan menyerahkan dirinya menjadi bagian dari murid-Nya, konsisten adalah tantangannya. Seperti bacaan dari 1 Petrus 1:17-23 yang menyatakan bahwa orang-orang yang telah ditebus-Nya, mau tidak mau harus menjaga keselamatan yang telah Ia berikan. Ia telah mengerjakan keselamatan itu dengan darah-Nya sendiri, sehingga siapapun yang telah mengaku percaya tidak punya pilihan untuk menjadi munafik. Satu-satunya pilihan ialah taat. Proses untuk taat, seperti proses bertumbuh, selalu ada godaannya dan terkadang merasa melelahkan serta banyak sekali tantangannya. Sekalipun begitu susahnya, inilah proses pertumbuhan itu.

Pohon mangga yang berakar kuat, serta baik pertumbuhannya tentu semakin besar dan semakin kuat pohonnya, tahan dengan berbagai terpaan angin serta hama. Pertumbuhan iman seorang murid Yesus juga demikian. Waktu yang dilakukan dengan taat bukan berarti tidak terasa berat. Oleh karena itu, bacaan kita di Lukas 24:13-35 memberikan penguatan bagi kita. Di saat murid-murid Yesus mengalami saat-saat yang sulit, bahkan dikatakan di sana ada selubung yang menutupi matanya, Yesus tetap berjalan bersama mereka. Yesus sendiri mau mendengarkan dengan seksama apa yang mereka pikir dan rasakan. Yesus mau membersihkan setiap selubung yang ada di mata para murid-Nya, seperti seorang petani yang memberikan pupuk dan membersihkan hama yang mungkin saja menjangkit tanamannya. Proses pembersihan acapkali terasa menyakitkan, demikian pulalah para murid mesti menerima bahwa mereka memang masih lambat dalam mengerti semua pertanda yang ada pada kitab-kitab terdahulu, termasuk kitab-kitab Musa. Mereka mesti mengerti bahwa segala penderitaan itu bukanlah kekalahan justru bagian dari karya penyelamatan Allah. Buah dari segala proses perjalanan bersama dengan Yesus ialah hati yang berkobar-kobar. Para murid Yesus tidak lagi terhalang pandangannya, bahkan ketika Yesus sendiri tidak ada dalam pandangan mereka, hati mereka masih terus berkobar dan merasakan pertumbuhan akar, daun, dan cabangnya berada di jalur yang tepat.

Penutup
Transformasi tidak instan. Tuhan bekerja dalam proses untuk membentuk kita menjadi murid yang sejati. Kita semua bisa dalam fase manapun. Bisa dalam fase biji yang ditanam, tanaman yang mulai tumbuh ataupun yang telah berbuah. Semuanya bisa saja kita alami. Kita mesti sadar bahwa segala yang terjadi atas hidup kita adalah dalam rangka karya penyelamatan Allah. Tetap setia menjalani proses sebagai murid Yesus adalah keniscayaan. Amin. [MTW].

 

Pujian: KJ. 379  Yang Mau Dibimbing oleh Tuhan

 

Rancangan Khotbah : Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Wonten satunggaling bocah ingkang nandur wiji pelem ing siti wingkingipun griya. Saben dinten lare wau ningali siti kalawau kanthi kebak ing pangajeng-ajeng. Kalih dinten, tigang dinten sampun kalampahan ananging dereng wonten pratandha bilih wiji kalawau gesang. Pramila lare punika sumelang. Ing pemanggihipun mbok menawi wiji punika mboten badhe thukul. Siti kalawau lajeng dipun kedhuk kangge ningali wiji pelem ingkang sampun katandur punika. Sanyatanipun wiji punika nembe wiwit medal oyotipun senadyan alit. Awit mboten sabar, wiji kalawau dipun tingali kahananipun saben dinten. Sangsaya dangu wiji pelem wau malah risak, oyot ingkang alit kalawau risak, lan wiji pelem kalawau mboten saged thukul lan ngrembaka.

Isi
Punapa ingkang saged kita gatosaken? Thukulipun wiji punika mbetahaken proses. Wiji ingkang katandur mboten saged langsung ngrembaka lan ngedalaken woh. Sadaya wonten wekdalipun, wonten wekdalipun wiji punika pecah, medal oyotipun, thukul oyotipun lajeng dados wit nembe saged mijil wohipun. Bilih kita nggege, mboten sabar nengga wekdalipun, kita malah ngrisak sadaya prosesipun. Mekaten ugi kita minangka siswanipun Sang Kristus.

Pamratobat punika purwaning gesang minangka siswanipun Sang Kristus, kadya wiji ingkang katandur. Lelakone Para Rasul kalawau sejatosipun sampun maringi dasar ingkang kiyat kangge kita nindakaken kesanggeman “Bangkit dan Menata Ulang”. Bangkit ateges ngakeni bilih kita minangka manungsa pancen kebak ing karingkihan lan kaluputan. Senadyan mekaten Sang Kristus mbudidaya manungsa supados wonten kahanan ingkang wilujeng. Pramila mekaten kita kedah ngrumaosi bilih kita punika lepat, kados para tiyang Yahudi ingkang mirengaken khotbahipun Rasul Petrus. Ngrumaosi kalepatan kita punika purwaning pamratobat, awit kita mengertosi bilih kita punika lepat. Ananging mboten cekap namung ngrumaosi kalepatan kemawon. Kadya wiji ingkang katandur, wiji punika mboten pareng mandheg prosesipun. Wiji punika kedah nggadhahi oyot. Oyot punika kagambaraken kanthi pitakenan, ”Punapa ingkang kedah kula lampahi?” Punika kasanggeman kangge nglampahi gesang ingkang sansaya dangu, sansaya sae. Pamratobat punika lajeng katerusaken kanthi baptisan kangge pangaken bilih tiyang pitados kalawau sampun masrahaken gesangipun miturut Sang Kristus, mboten pikajengipun piyambak.

Taat punika kados wit ingkang tuwuh ngrembaka. Saksampunipun oyot sansaya kiyat minangka dasar, lajeng thukul tunas. Fase ngrembakanipun tanduran punika fase ingkang paling dangu, fase ingkang kraos dangu lan kebak ing tantangan. Saksampunipun mratobat lan sacara pribadi ngakeni bilih Gusti Yesus punika Sang Kristus ingkang nguwaosi dhirinipun, tantangan salajengipun, inggih punika konsisten. Kados ingkang kaserat ing 1 Petrus 1:17-23 ingkang nelakaken bilih manungsa ingkang sampun katebus, kedah njagi kawilujengan ingkang sampun katampi. Sang Kristus sampun nebus manungsa srana rah-Ipun ingkang suci, pramila manungsa kedah tumemen ing kawilujengan. Manungsa ingkang lair enggal kedah taat, senadyan pancen kathah godhanipun.

Wit pelem ingkang oyotipun kiyat lan sae, anggenipun tuwuh mesthinipun kiyat ugi slamet saking hama. Tuwuhipun Iman kapitadosan minangka siswanipun Sang Kristus ugi mekaten. Wekdal ingkang kalampahan kanthi setya kadhang karumaos awrat. Awit punika Lukas 24:13-35 paring kakiyatan kangge kita. Nalika kalih sakabatipun Gusti ngadepi kahanan gesang ingkang awrat, para sakabat punika pangling dhumateng Gusti Yesus gurunipun. Ing ngriki Sang guru tetap karsa lumampah sesarengan lan mirengaken kanthi kebak ing katresnan. Sang Kristus piyambak ingkang badhe paring pangluwaran dhumateng para sakabatipun. Kadya petani, Sang Kristus piyambak ingkang badhe maringi pupuk ugi ngresiki saking sakathahing hama. Anggenipun ngresiki hama kalawau ugi saged kemawon njalari rasa sakit lan mboten ngremenaken. Panggulawentahipun Sang Kristus pancen kedah katampi. Para sakabat kedahipun mangertos bilih Mesias sampun mesthinipun nglampahi kasangsaran kangge paring kawilujengan dhateng para manungsa. Wohing lumampah sesarengan kaliyan Sang Kristus inggih punika soca ingkang tinarbuka, mboten pangling malih dhumateng Pangeran. Malah sakpunika manahipun mangah-mangah kebak ing katentreman. Sinaosa Sang Kristus sampun ical saking ngajengipun, para sakabat saged ngraosaken tuwuhipun kapitadosan punika ing jalur ingkang leres.

Panutup
Transformasi punika mboten instan. Gusti makarya ing salebeting proses kangge nggladhi kita minangka siswa ingkang sejati. Kita saged dumugi ing fase pundi kemawon. Saged kadya wiji ingkang dipun tandur, tanduran ingkang wiwit ngrembaka utawi ingkang sampun mijil wohipun. Sadaya saged kita temahi. Ingkang wigatos kita kedah mangertosi bilih sadaya ingkang kedadosan ing gesang punika tansah ing rancangan sih rahmatipun Pangeran. Ingkang baken kita kedah tetep pitados kanthi setya minangka sakabatipun Sang Kristus. Amin. [MTW].

 

Pamuji: KPJ. 144   Yen Nuggil Lan Gusti

Renungan Harian

Renungan Harian Anak