Bacaan: Yesaya 42 : 1 – 9 | Pujian: KJ. 446
Nats: “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, dengan setia Ia akan menyatakan hukum.” (Ayat 3)
Sabtu malam selepas Ibadah Sabtu Sunyi, gereja mulai lengang. Jemaat pulang membawa perenungan dan lilin-lilin mulai padam perlahan. Tapi di tengah keheningan itu, beberapa orang tetap tinggal, mereka seksi dekorasi. Mereka bekerja dalam diam dan cinta dari dekorasi yang dituangkan. Kain ungu diturunkan, diganti putih; bunga segar ditata dengan cermat; meja perjamuan dibersihkan dan dihias ulang. Tidak ada kamera, tidak ada tepuk tangan, hanya kesetiaan yang tenang. Mereka tidak melayani demi sorotan, tapi karena tanggung jawab yang lahir dari cinta. Mereka tahu, esok pagi gereja akan menjadi tempat di mana kematian dikalahkan dan hidup baru dimulai. Dalam kerja yang tampaknya “remeh”, mereka ikut menyiapkan simbol ruang bagi kebangkitan Kristus.
Yesaya 42:1-9 menggambarkan sosok Hamba TUHAN yang membawa keadilan bukan dengan kekerasan atau sorak-sorai, melainkan dengan kelembutan dan kesetiaan! Ia tidak mematahkan buluh yang terkulai dan tidak memadamkan sumbu yang pudar, sebuah ungkapan simbolis tentang kepedulian terhadap yang rapuh dan hampir padam! Hamba ini bekerja dalam diam, namun penuh keteguhan. Ia tidak mencari gemerlap perhatian tetapi tetap setia menunaikan panggilan hingga tuntas. Gambaran ini menegaskan bahwa keadilan Allah hadir bukan hanya dalam tindakan besar, namun juga dalam kesetiaan kecil yang tak terlihat. Keadilan yang dibawa Hamba TUHAN adalah keadilan yang memberi ruang untuk pemulihan, bukan penghukuman, keadilan yang menjunjung kehidupan, bukan menghancurkannya.
Di tengah kesibukan pelayanan yang sering tampak di panggung, ada mereka yang setia, yang bekerja dalam diam, seperti seksi dekorasi. Mereka tidak menata gereja atau membentangkan kain putih untuk mendapat perhatian, tetapi karena tanggung jawab dan cinta yang sederhana. Dalam setiap detail yang mereka siapkan, mereka membantu menciptakan ruang yang layak untuk perayaan kebangkitan Kristus. Apa yang mereka kerjakan mungkin luput dari sorotan, tetapi justru di sanalah “Kristus” hadir: lewat tangan yang merapikan, mata yang memperhatikan, dan hati yang memberi tanpa pamrih. Jika kebangkitan disiapkan oleh cinta yang bekerja dalam diam, pertanyaannya: peran sunyi apa yang kita lakukan dalam menyambut hidup baru itu? Amin. [vena].
“Not all of us can do great things. But we can do small things with great love.”
(Mother Teresa)