Sudah Selesai Tuntunan Ibadah Jumat Agung Remaja 3 April 2026

23 March 2026

Tahun Liturgi: Jumat Agung
Tema: Makna Kematian Yesus
Judul: Sudah selesai

Bacaan: Yohanes 19:28-30
Ayat Hafalan: “…supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya”. (Yohanes 20:31)

Lagu Tema:

  1. Menjulang Nyata Atas Bukit Kala (Kidung Jemaat No.183)
  2. Karya Terbesar

Tujuan:
Remaja memahami kesetiaan Yesus, menghayati pengorbanan yang sempurna, dan belajar beriman secara teguh.

Penjelasan Teks (Hanya untuk Pamong)
Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memberi judul perikop dari Injil Yohanes 19:28-30, yaitu “Yesus Mati.”  Judul perikop “Yesus Mati” yang ada dalam bacaan Yohanes 19:28-30, mengingatkan kita bahwa peristiwa kematian akan dialami oleh setiap manusia.

Dikisahkan dalam Yohanes 19:30 bahwa “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai,’ lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.” Dalam ayat 30 inilah kata “Sudah selesai” merupakan kata terakhir yang Yesus ucapkan sebelum Ia mati. Kata “sudah selesai” dalam bahasa Yunani adalah tetelestai. Artinya bahwa semuanya kini telah digenapi. Dengan demikian kita perlu memahami bahwa Yesus Kristus memilih apa yang ingin Ia lakukan sebagai upaya penggenapan atas rencana karya Allah bagi dunia. Seruan “Sudah selesai” berarti segala sesuatu yang telah dirancangkan Allah, termasuk pengorbanan-Nya, telah digenapi. Setiap umat-Nya telah dibebaskan dari hukuman, oleh karena Yesus Kristus telah membayar lunas, maka kita tidak lagi harus menanggung hukuman atas dosa kita. Perhatikan pasal sebelumnya (Yohanes 10:18), ketika Yesus berkata: “Karena itulah Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Tugas inilah yang Kuterima dari Bapa-Ku”.

Melalui kisah penyaliban Yesus, terdapat tiga hal penting, yaitu:

  1. Yesus menggenapi nubuat Perjanjian Lama. Dalam ayat 28 dan 29, diungkapkan demikian: “Sesudah itu, karena Yesus tahu bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia (supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci), “Aku haus!” Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang yang telah dicelupkan dalam anggur asam itu pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.” Dalam bagian ini Yesus mengutip Mazmur 69:21 “Mereka memberi aku racun untuk makanan, dan untuk kehausanku, mereka memberi aku anggur asam untuk diminum.” Proses penyaliban menggunakan rasa haus sebagai bagian dari proses penyiksaan.
    Ketika Yesus berkata di kayu salib, “Sudah selesai,” Ia menyatakan bahwa seluruh Kitab Suci adalah tentang Dia, dan bahwa Ia telah menggenapi semua nubuat dan tanda Perjanjian Lama yang menunjuk kepada-Nya. Inilah yang Paulus maksudkan ketika ia menulis, “Kristus telah mati untuk dosa-dosa kita sesuai dengan Kitab Suci”. Dengan demikian, Yesus menggenapi nubuat-nubuat Perjanjian Lama yang ditujukan kepada-Nya. Kristus datang untuk menjamin bagi kita apa yang tidak pernah dapat kita jamin bagi diri kita sendiri, yakni jaminan akan keselamatan melalui pengorbanan-Nya di kayu salib.
  2. Kesetiaan Yesus hingga akhir untuk menyelesaikan rencana penebusan. Meskipun menderita, Yesus tetap fokus pada tujuan misi-Nya di bumi yaitu dengan mengutamakan ketaatan pada Bapa-Nya. Yesus menerima anggur asam yang diberikan, untuk menggenapi Firman Tuhan dengan kerendahan hati dan ketaatan. Penderitaan dan kematian Yesus di kayu salib merupakan wujud cinta kasih-Nya yang tiada batas. Dengan tulus hati Yesus mengorbankan diri-Nya demi keselamatan seluruh umat yang di kasihi-Nya. Ini merupakan cinta sejati yang tidak mengenal alasan, tidak memiliki ukuran, tidak menciptakan batasan, tidak menghitung-hitung, tidak mengingat kesalahan, dan tidak memaksakan bersyarat.
  3. Penghinaan yang diterima oleh Tuhan Yesus di kayu salib adalah untuk menebus dosa umat manusia. Upah dosa Adalah maut atau kematian. Tuhan Yesus rela dan mau berkorban demi dan untuk keselamatan kita yang adalah manusia berdosa. Yesus yang tak berdosa mau menanggung hukuman dosa. Karena itulah pengorbanan-Nya memenuhi syarat, layak dan diterima. Melalui kematian-Nya, Yesus menyelesaikan dan melaksanakan misi-Nya, lalu Yesus menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.’ Yesus melakukan semua-Nya, taat sampai mati supaya tergenapi nubuat dalam kitab suci yakni, “Supaya manusia percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah. “…supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yoh.20:31).

Refleksi untuk pamong
Tuhan Yesus sungguh-sungguh menderita dan Dia rela menderita untuk menebus dosa kita semua. Penderitaan yang Yesus alami bukan karena dosa dan pelanggaran-Nya, akan tetapi oleh karena dosa-dosa yang manusia lakukan. Melalui Firman Tuhan yang terambil dari Yohanes 19:28-30, para Pamong diajak untuk semakin taat dan setia sekalipun menghadapi masalah dan penderitaan.

Dengan demikian, mari tidak mudah melarikan diri dari masalah dan pergumulan yang sedang kita hadapi. Melainkan, dengan meneladani Yesus Kristus, marilah bertekun menghadapinya dengan iman kepada-Nya. Mari meyakini pemeliharaan-Nya, sebab jikalau darah dan nyawa-Nya saja diberikan-Nya kepada kita, apalagi masalah dan pergumulan kita sehari-hari tentulah Tuhan akan memberi petunjuk dan jalan keluar.

Renungkan dan rasakanlah penderitaan Yesus di kayu salib sebagai wujud kerelaan dan ketaatan-Nya. Yesus Kristus mengalami penganiayaan, menderita dan menyerahkan nyawa karena kasih-Nya yang besar. Dengan merasakan dan menghayati penderitaan-Nya, kiranya kita beroleh cara pandang dan cara pikir baru tentang kehidupan, masalah dan penderitaan yang membuat kita tidak lagi takut, apalagi lari dari semua pergumulan. Mari menghadapi masalah dan pergumulan dengan iman kepada Yesus yang menganugerahkan penyertaan dan kekuatan untuk menanggung derita. Selamat melayani dan menghayati Jumat Agung, Tuhan Yesus memberkati!!

Pendahuluan

  • Sebagai pendahuluan, Pamong mengingatkan tenang Judul: “Sudah selesai” dan Tema Ibadah Remaja “Makna Kematian Yesus.”
  • Lalu ajaklah remaja untuk melakukan game singkat mencocokkan kata “selesai” dalam ragam bahasa. Pamong dapat menulis ulang atau mencetak/print kata-kata berikut.
  • Acak kata dan asal negara/daerah. Kemudian, mintalah remaja untuk mix and match atau mencocokkan kata sesuai asal negara/daerah.

Kata “selesai” dalam bahasa di berbagai negara

done dan finished Inggris
Fini Prancis
Aufgegeben Jerman
Terminado Spanyol

Kata “selesai” dalam berbagai bahasa daerah Indonesia

rampung Jawa
sapu Sunda
tamat Betawi
mattepo

dung

Bugis

Batak

maklebat Madura

Inti Penyampaian
Jika kita kembali ke bacaan di ayat 30 : Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.”…..Kata “Sudah selesai”, dalam bahasa Yunani yaitu tetelestai. Kata ini merupakan kata terakhir yang Yesus ucapkan sebelum Ia mati di kayu salib. Seruan “sudah selesai” yang Yesus katakan mengartikan bahwa segala sesuatu yang telah dirancangkan Allah, termasuk pengorbanan-Nya, telah usai dan tergenapi.  Jadi, setiap umat-Nya telah bebas dari hukuman dan tidak lagi harus menanggung hukuman atas dosa.

Kata tetelestai atau “sudah selesai” ini memiliki tiga makna penting, yaitu:

Pertama, kata ini digunakan ketika seorang hamba diutus untuk suatu misi dan kemudian kembali kepada tuannya. Setelah menyelesaikan tugasnya, hamba itu akan berkata, “Tetelestai,” Misi ini sudah selesai!

Kedua, kata tetelestai setara dengan kata Ibrani yang diucapkan oleh imam besar ketika ia mempersembahkan seekor domba kurban yang tak bercacat atau cacat. Setiap tahun, imam besar memasuki Ruang Mahakudus, tempat ia mencurahkan darah domba kurban yang tak bercacat ke atas tutup pendamaian Tabut Perjanjian. Nah, darah domba kurban yang tercurah menandai permohonan ampun kepada Allah dan pendamaian atas dosa-dosa umat. Jadi, ketika Yesus disalibkan, Dia menjadi Anak Domba yang dikurbankan sekaligus Imam Besar yang menjadi juru damai. Sebagai Imam Besar Yang Agung, Yesus Kristus mempersembahkan darah-Nya sendiri dan bukan darah hewan kurban demi karya pendamaian dan penghapusan dosa umat, sebagaimana Ibrani 9:12 “Ia telah masuk satu kali ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri, setelah Ia memperoleh penebusan yang kekal bagi kita.”

Ketiga, kata tetelestai digunakan untuk menggambarkan titik balik ketika satu periode berakhir dan periode lain dimulai. Dengan demikian, seruan, “Sudah selesai,” merupakan titik balik dalam seluruh sejarah umat manusia, karena pada saat itu, Perjanjian Baru dimulai. Ketika Yesus berseru, “Sudah selesai,” semua nubuat Perjanjian Lama tentang pelayanan Yesus di bumi digenapi. Melalui Yesus Kristus Sang Anak Domba Allah, semua bentuk ritual pengorbanan-pengorbanan hewan dalam Perjanjian Lama yang dilakukan untuk penebusan dosa umat selesai. Sebab Yesus Kristus, Sang kurban yang sempurna telah menyerahkan nyawa-Nya demi keselamatan umat manusia. Dengan demikian, Ia berseru bahwa tugas-Nya sudah selesai!

Kata “selesai” menandai kematian Yesus. Setujukah anda, jika ada pernyataan bahwa manusia tidak berkuasa atas nyawanya? Ya, seperti yang kita ketahui bersama, bahwa kematian manusia pada umumnya adalah suatu yang bersifat alamiah dan terjadi di luar kuasa dan kendali manusia itu sendiri. Setiap manusia tidak akan mampu menahan, menunda dan menolak kematian. Jikalau Tuhan sudah berkehendak atas kematian seseorang, maka tidak ada yang bisa mempertahankan nyawanya.

Nah jika ada pertanyaan seperti ini: “Bagaimana dengan kematian Yesus?”. Apakah kematian Yesus sama dengan kematian manusia pada umumnya? Apakah kematian Yesus itu kebetulan, di luar kuasa dan kendali-Nya? Apakah kematian-Nya menyatakan kelemahan dan kegagalan-Nya?

Tentu saja jawabannya “Tidak’’!! Tidak kebetulan, tidak di luar kuasa dan kendali-Nya.

Mengapa demikian? karena kematian Yesus adalah penggenapan nubuat Alkitab untuk menyelamatkan umat manusia yang berdosa. Melalui peristiwa salib Yesus menunjukkan bahwa Dialah Mesias, Anak Allah yang pegang kendali bahkan sampai saat kematian-Nya. Kematian Yesus harus dilihat sebagai penggenapan bahwa Juruselamat dunia harus mati untuk menebus dosa manusia.

Penerapan
Setelah berujar “sudah selesai,” Yesus Kristus menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. Yesus melakukan semua-Nya, taat sampai mati supaya tergenapi nubuat yang tedapat di dalam kitab suci dan supaya manusia percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah. “…Supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yoh.20:31). (Perhatikan: Ayat ini menjadi ayat hafalan di jenjang remaja.) Yesus Kristus yang rela menderita untuk menebus dosa kita semua ia lakukan bukan karena dosa dan pelanggaran-Nya, akan tetapi oleh karena dosa-dosa yang kita lakukan.

Maka melalui Firman Tuhan hari ini, hendaklah kita belajar untuk menjadi remaja yang semakin setia mengikut Yesus, yang telah mengorbankan diri-Nya untuk kita, dan belajar menghidupi iman yang teguh di tengah beragam penderitaan.

Jika di dalam perjalanan hidupmu, kau ditantang dan didesak oleh sesamamu untuk meninggalkan iman kristen (log-out) dengan ancaman pengucilan maka apa yang akan kau lakukan? Ingatlah sobat remaja dengan pengorbanan-Nya yang mahal. Teladanilah kesetiaan dan kasih-Nya, dan berimanlah dengan teguh dan tanpa takut menghadapi penderitaan. Sebab Kristus telah mengalahkan maut dan tidak akan pernah meninggalkanmu! Jadi, jangan mudah lari dari masalah dan pergumulan yang sedang dihadapi. Sebab jikalau darah dan nyawa-Nya pun diberikan-Nya kepada kita, maka terkait masalah dan pergumulan sehari-hari kita tentulah akan diberi-Nya jalan keluar. Tuhan Yesus memampukan dan memberkati kita semua, Haleluya. Amin!

Aktivitas

  • Sebagai aktivitas di akhir Ibadah Jumat Agung, setiap anak di jenjang remaja ditugaskan untuk memilih salah satu karya seni (puisi/lukisan/karya seni apapun) yang menggambarkan bagaimana makna kematian Yesus.
  • Untuk teknisnya, Pamong menyediakan peralatan yang diperlukan, misalnya kertas, spidol warna warni dan perlengkapan lainnya untuk menunjang pembuatan aktivitas.
  • Jika waktunya terbatas, maka pembuatan aktivitas bisa dilakukan di rumah masing-masing dan silahkan dikumpulkan hari minggu saat ibadah Paskah! (jika memungkinkan maka Pamong dapat memberikan reward bagi remaja yang membuat dan sharing saat proses membuat karya seninya tersebut pada hari minggu saat Paskah).

Renungan Harian

Renungan Harian Anak