Rabu Abu | Masa Pra Paskah
Stola Ungu
Bacaan 1: Yoel 2 : 1 – 2, 12 – 17
Mazmur: Mazmur 51 : 1 – 17
Bacaan 2: 2 Korintus 5 : 20b – 6 : 10
Bacaan 3: Matius 6 : 1 – 6, 16 – 21
Tema Liturgis: Bertobat, Memulihkan Rumah Tuhan
Tema Khotbah: Meniti Jalan Pertobatan, Menuju Ruang Pemulihan
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yoel 2 : 1 – 2, 12 – 17
Dalam perjalanan umat Israel yang penuh dinamika, jatuh bangun, jatuh dan bangun lagi, mereka berada pada situasi yang begitu gelap digambarkan oleh Yoel. Peristiwa yang membuat orang gemetar karena kengerian yang disebut belum pernah ada dan dinamai sebagai Hari Tuhan. Bencana bukan hanya digambarkan sebagai gelap gulita, namun juga fajar yang biasanya menggambarkan harapan pada hari yang baru. Semua penggambaran itu seperti hendak menunjukkan ketika hari TUHAN datang, semuanya muram, menderita sengsara, dan hancur tanpa ada yang terluput dan bisa mengelak.
Kitab Yoel mengisahkan bahwa sekalipun status umat itu adalah umat pilihan, tidak lantas membuat mereka kebal dengan bencana. Dalam situasi demikian, umat dipanggil untuk merenungi diri, berinstrospeksi atas segala peristiwa yang terjadi. Seruan pertobatan menjadi pesan penting dalam kitab Yoel ini. Allah memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk berbalik dengan segenap hati, berpuasa, menangis, dan meratap. Jelas ini bukan perilaku formalitas belaka. Berbaliklah dan koyakkanlah adalah kata perintah yang menuntut tindakan aktif yang dilakukan dengan serius dan sungguh-sungguh.
Allah digambarkan sebagai pengasih dan penyayang, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia sehingga kepada orang-orang yang mau menyesal dan bertobat, mungkin Ia akan menyesal. Karena itu, semua umat dari berbagai kalangan secara komunal dipanggil untuk menyadari pemberontakan mereka sekaligus bersedia menyambut pemulihan dari Tuhan melalui pertobatan. Pesan ini harus diumumkan pada perkumpulan raya, termasuk diceritakan kepada anak-anak mereka.
2 Korintus 5 : 20b – 6 : 10
Bagi Paulus, nampaknya kondisi Jemaat Korintus ini sungguh menantang. Sebagai kota metropolitan dengan keberagaman orang dan perbedaan kepentingan yang membuat mereka rentang untuk berseteru, Paulus menekankan kesatuan. Selain itu, Paulus juga berhadapan dengan pandangan orang yang meragukan kerasulannya sebagai utusan Kristus karena melihat penderitaan yang dialami oleh Paulus. Rasanya, motivasi dan ketulusan Paulus diuji oleh orang-orang yang meragukannya, yang kemudian dia respons dengan menunjukkan bahwa pelayanan yang sejati itu bukan ditandai oleh kejayaan lahiriah, melainkan kesetiaan dalam penderitaan.
Inilah yang diteladankan Paulus sebagaimana isi suratnya kepada jemaat Kristen Korintus. Dalam melayani, Paulus tabah dalam penderitaan, kesengsaraan, dan kesukaran. Sebagai pelayan Allah, ia fokus pada terwujudnya pemberitaan akan kebenaran dan kekuasaan Allah. Motivasi yang murni memampukan Paulus menerima berbagai pengalaman hidup dengan utuh sekalipun banyak yang saling bertentangan dalam hidupnya: dihormati dan dihina, diumpat dan dipuji, dianggap penipu ternyata benar, tidak dikenal namun terkenal dst. (Ay. 8-10).
Paulus merasakan pemulihan yang nyata dalam anugerah Allah, sehingga ia menasihatkan Jemaat Korintus untuk tidak menyia-nyiakannya. Oleh karenanya, setiap waktu yang ada adalah tawaran untuk menggunakan kesempatan dengan bijak demi memperbaiki panggilan yang murni sekalipun jalan menuju ke sana tidak selalu mulus.
Matius 6 : 1 – 6, 16 – 21
Dalam rangkaian khotbah di bukit, Yesus mengungkapkan laku religius yang dianggap luhur dan dipraktikkan dengan setia oleh orang Yahudi melalui: sedekah, doa, dan puasa. Hal ini semacam 3 rukun agama Yahudi. Sejatinya, Yesus tidak mempermasalahkan itu semua. Namun, Yesus nampak resah atas aturan agama yang mulia namun dasar dan tujuannya keliru, sehingga Dia mengkritik kemunafikan laku religius yang sering dilakukan demi pengakuan publik, bukan relasi dengan Allah. Secara penampilan luar nampak sangat baik, namun itu semua dilakukan demi menonjolkan dan memuliakan diri yang membuat seseorang kehilangan makna dan nilai pentingnya. Motivasi yang harusnya muncul dari hati yang murni digantikan dengan pamer atau mencari pujian.
Ketika orang bersedekah, memberi atau beramal perlu didasarkan atas motivasi yang jernih yang mencerminkan relasinya dengan Tuhan, bukan sebagai ajang pertunjukan yang mendatangkan apresiasi dan pujian. Yang sejati bukan apa yang itu, namun perkenan dari Allah yang melihat apa yang tersembunyi. Demikian juga ketika orang berdoa dan berpuasa. Pertama-tama orang perlu untuk bertanya pada diri apa yang menjadi memotivasi tulusnya. Laku religius itu didasarkan pada buah persekutuan pribadi dengan Tuhan, yang dilakukan demi kebaikan jiwanya ataukah untuk memamerkan bahwa ia telah menuruti aturan agama?
Nampaknya memang ketiga laku religius Yahudi itu cukup baik, namun orang perlu melihat lebih dalam dan berupaya terus memaknainya supaya tetap murni dan bukan perilaku yang berlalu dengan biasa tanpa makna. Pesan Yesus pada para pendengar khotbah-Nya adalah: Jika orang melakukan kebaikan hanya untuk pamer diri dan demi beroleh pujian atau gengsi, maka menurut Yesus mereka ini sudah mendapat upahnya, namun kehilangan upah yang hanya bisa diberikan oleh Allah sendiri. Maka, jika orang Yahudi berlaku baik demi memenuhi aturan Taurat dan mendapatkan keselamatan, maka pengikut Kristus mestinya melampaui itu.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Hidup ini diawali dengan cinta Tuhan yang mulia. Dalam perjalanannya, manusia mengaburkan cinta Tuhan melalui perilaku yang didasarkan pada motivasi yang keliru. Pertobatan adalah jalan pulang menuju pemulihan. Ya, pertobatan yang didasarkan pada pembaruan hati karena relasi dengan Tuhan, bukan pamer diri dan haus apresiasi. Meskipun perjalanan hidup kadang berjumpa dengan penderitaan, memeluk semua itu dalam cinta Tuhan akan selalu membawa pemulihan.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Dalam kehidupan sesehari, hal apakah yang membuat kita sulit untuk mengatakan “Cukup”? Biasanya hal yang sangat disukai. Lawan dari cukup adalah kurang atau lebih. Di satu sisi, ada titik dimana orang harusnya cukup, namun akan merasa perlu lagi dan lagi. Di lain sisi, “cukup” itu sering tak pernah cukup sekalipun kenyataannya berlebih karena orang sudah menjadikan itu sebagai kebiasan, atau mungkin kecanduan. Semua berjalan otomatis begitu adanya. Bahkan, bisa juga merasa “tidak bisa”, jika hal itu tidak ada. Merasa tidak bahagia jika tanpa itu semua.
Di tengah kehidupan yang penuh liku dan dinamika, orang diajak untuk tidak larut dalam keadaan yang demikian. Apapun yang dilakukan, perlu menemukan makna, mengapa dan untuk apa semua ada? Tanpa itu, hidup hanya berjalan begitu saja.
Isi
Dalam pusaran hidup yang tidak selalu baik dan sering kali jatuh bangun, bangsa Israel menampakkan jalan hidup yang demikian juga. Berkali-kali mereka jatuh, lalu menyesal dan bertobat, menangis dan berduka kemudian mendapat kasih karunia, namun kembali jatuh lagi. Rasanya, jatuh sekali dua kali masih tak cukup. Situasi demikian ini mestinya tidak bisa dianggap biasa. Umat dipanggil untuk terus merenungi diri dan berintrospeksi atas segala peristiwa yang terjadi: Apa makna semua ini?
Kitab Yoel mengisahkan akan panggilan introspektif itu. Status sebagai umat pilihan tidak lantas membuat mereka ini kebal dari bencana dan kesulitan hidup. Lalu, bagaimana sebaiknya umat memandang kejadian tragis seperti ini? Pesannya jelas, jadikanlah pelajaran! Ceritakan itu pada anak- anakmu, dan anak-anakmu akan menceritakan ke anak-anak mereka. Demi apa semua itu dilakukan? Demi anak-anakmu mawas diri, bukan meninggikan diri “mentang-mentang menjadi umat pilihan”. Demi anak-anakmu menyadari bahwa dirinya terbatas, sekalipun kasih karunia Tuhan tak terbatas.
Karena itu, Yoel memberikan pesan yang jelas dan tegas: Serukan pertobatan (Ay. 12). Kata ‘Berbaliklah dan koyakkanlah, adakanlah puasa …” ini semua adalah kata perintah. Tindakan aktif yang diharapkan dilakukan secara serius dan sungguh-sungguh oleh umat. Cukuplah perilaku umat selama ini. Ada haluan yang perlu dikembalikan pada jalurnya. Ada hati yang harus sungguh-sungguh dibarui dalam terang-Nya. Melalui pesan “koyakkan hatimu bukan pakaianmu” memanggil umat untuk benar-benar membereskan dirinya di hadapan Tuhan.
Dalam Injil Matius, pesan yang sama diberikan oleh Yesus pada umat, bahkan pada mereka yang sudah terbiasa melakukan perbuatan yang baik dalam laku keagamaannya. Orang Yahudi mempraktikkan laku religius yang dianggap luhur melalui: sedekah, doa, dan puasa. Hal ini semacam 3 rukun agama Yahudi. Tentu saja, Yesus tidak mempermasalahkan itu semua. Namun, yang meresahkanNya atas aturan agama yang mulia itu adalah dasar dan tujuan yang keliru. Ketika semua laku baik itu dilakukan demi menonjolkan dan memuliakan si pelaku, maka ia telah kehilangan maknanya, kehilangan nilai pentingnya.
Ketika orang bersedekah, memberi atau beramal perlu didasarkan atas motivasi yang jernih: Apakah itu dilakukan demi memamerkan kemurahan hati dan menikmati rasa terima kasih serta pujian dari orang lain, ataukah demi meringankan beban yang lain atau demi menjadi jalan berkat Tuhan?
Ketika orang berdoa, didasarkan atas motivasi yang sungguh tertuju kepada Allah ataukah sesama? Ada sebagian orang yang berdoa untuk sesama itu isinya bukan harapan baik yang tulus, namun malah menasihati, menegur atau bahkan mengejek. Bahkan mungkin tergoda menjadi hakim atas yang lain, karena pendoa merasa orang lain itu berhak menerima balasan yang menurutnya pas.
Ketika orang berpuasa atau pantang, sebenarnya hal itu dilakukan demi kebaikan jiwanya dan merendahkan diri di hadapan Tuhan ataukah untuk memamerkan bahwa ia telah menuruti aturan agama? Yang penting untuk diperhatikan adalah saat orang melakukan kebaikan hanya karena pamer diri, demi beroleh pujian atau gengsi, maka menurut Yesus, mereka ini sudah mendapat upahnya, namun kehilangan upah yang hanya bisa diberikan oleh Allah sendiri, yang melihat apa yang tersembunyi.
Bukankah ketiga laku religius Yahudi itu cukup baik? Iya. Namun cukup sudah laku yang sudah menjadi kebiasaan ini. Sekarang, orang perlu hidup baru dengan melihat lebih dalam dan berupaya terus memaknai perilakunya supaya tetap murni dan bukan perilaku yang berlalu dengan biasa tanpa makna. Maka pesan penting Yesus sampaikan kepada para murid adalah ingatlah, janganlah kamu begitu, kapoka, aja dibaleni! Pengikut Kristus Yesus harus jauh melampaui itu, dengan hal yang lain: baruilah hidupmu, juga motivasimu! Laku hidup yang baik dan olah batin secara spiritual itu penting, namun berhati-hatilah!
Jika orang Yahudi berlaku baik demi memenuhi aturan Taurat dan mendapatkan keselamatan, maka pengikut Kristus mestinya melampaui itu. Inilah yang diteladankan Paulus sebagaimana isi suratnya kepada Jemaat Kristen Korintus. Dalam melayani, Paulus tabah dalam penderitaan, kesengsaraan, dan kesukaran. Sebagai pelayan Allah, ia fokus pada terwujudnya pemberitaan akan kebenaran dan kekuasaan Allah. Motivasi yang murni memampukannya menerima berbagai pengalaman hidup dengan utuh sekalipun banyak yang saling bertentangan dalam hidupnya: dihormati dan dihina, diumpat dan dipuji, dianggap penipu ternyata benar, tidak dikenal namun terkenal dst (Ay. 8-10).
Paulus merasakan pemulihan yang nyata dalam anugerah Allah, sehingga ia menasihatkan Jemaat Korintus untuk tidak menyia-nyiakannya. Oleh karenanya, setiap waktu yang ada adalah tawaran untuk menggunakan kesempatan dengan bijaksana demi memperbaiki panggilan yang murni.
Penutup
Mari sejenak lerem. Rabu Abu dan masa pra paskah ini menjadi kesempatan bagi kita untuk sejenak berhenti, melihat keberadaan diri kita sebagai manusia. Ya manusia terbatas dengan keinginan luas, manusia lemah yang banyak polah. Kita ini debu yang banyak mau serta selalu merasa kurang dan tidak pernah merasa cukup. Inilah saatnya meniti jalan pertobatan, berjumpa dengan anugerah Allah, dan merasakan pemulihan. Saatnya bagi kita yang menjumpai diri, yang mungkin berperilaku hanya karena terbiasa, selalu kurang dan ingin lagi dan lagi untuk berkata “cukup”.
Laku spiritual dalam Injil Matius itu bisa kita lakukan sebagai disiplin diri untuk merasa cukup, bertobat dari segala laku yang mengarah kepada diri, beralih kepada Tuhan. Perilaku yang tidak didasarkan pada melayani nafsu diri yang sulit berkata cukup, selain ingin lagi dan lagi. Melalui puasa atau pantang sesuatu yang selama ini menyenangkan kita dan memenuhi nafsu diri yang selalu ingin lagi dan lagi, kita sedang melatih diri untuk mengendalikan nafsu dan keinginan diri, sehingga lebih lapar dan haus akan kehendak Tuhan. Ya, inilah jalan pertobatan yang harus kita titi sebagai upaya agar kita tidak menjadi budak kebiasaan. Selama 40 hari masa pra paskah yang diawali dengan Rabu Abu saat ini, kita diajak menyadari diri dan bertobat. Apa yang selama ini membuat kita terikat dan begitu menyukainya bahkan enggan untuk berhenti? Jangan-jangan itu tanda yang mengajak kita untuk sejenak jeda. Mungkin itu makanan, kebiasan belanja, kesukaan bermedia sosial atau hal-hal lain.
Rabu Abu dan masa pra paskah ini menjadi kesempatan bagi kita untuk memeluk hidup dengan utuh. Mari kita menyadari kerapuhan manusiawi dan segala goda yang membuat kita lupa akan makna, lalu bersedia meniti jalan pertobatan kita. Mari kita berpulih dan memohon pertolongan Tuhan agar dimampukan memenuhi panggilan kita bukan demi pujian, namun demi melayakkan diri dan memantaskan diri sebagai pelayan Allah yang telah mendapatkan anugerah. Mari kita mengingat bahwa sejatinya kita ini hanyalah abu yang menerima anugerah. Mari kita menyambut Tuhan dengan setia, dengan senantiasa bertobat dan berpulih dari segala luka. Bagi yang sungguh bertobat, pemulihan disediakan oleh-Nya. Amin. [KRW].
Pujian: KK. 66 Kau Bagai Abu
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Wonten ing gesang saben dinten, bab punapa ingkang dadosaken kita awrat mungel “Cekap”? Limrahipun, bab ingkang saestu dipun remeni. Wonten kahanan ingkang ndadosaken tiyang punika kedahipun sampun cekap, ananging taksih rumaos betah malih lan malih. Wonten ing perangan sanes, “cekap” punika asring mboten cekap sanadyan kanyatanipun sampun linuwih, karana tiyang sampun ndadosaken bab punika limrah, malah kepara nagih (kecanduan). Kados-kados sadaya sampun lumampah otomatis kados mekaten, menawi mboten wonten punika raosipun “mboten saged”. Rumaos mboten bingah menawi tanpa bab ingkang dipun remeni kalawau.
Ing satengahipun gesang ingkang kebak maneka warni prastawa, kita kaatag mboten keli arus ingkang kados mekaten. Punapa ingkang dipun lampahi, kedahipun saged manggih wangsulan saking pitakenan “kenapa lan kanggo apa kabeh iki?” Bab punika wigati supados gesang mboten namung lumampah mekaten kemawon, lumampah salimrahipun.
Isi
Anggenipun nglampahi pigesangan, bangsa Israel lumampah ing margi ingkang nglirwakaken bab ingkang wigati punika. Wongsal-wangsul dhawah, getun lan mratobat, muwun lan sedhih lajeng kaparingan sih rahmat, nanging wusananipun inggih dhawah malih. Raosipun, “tiba pisan pindho” punika taksih dereng cekap. Kahanan punika samestinipun mboten kawastanan limrah. Umat katimbalan tansah ningali diri lan introspeksi tumrap sadaya ingkang kalampahan: punapa tegesipun sadaya prastawa punika?
Kitab Yoel nyerat bab timbalan introspektif punika. Minangka umat ingkang kapiji mboten lajeng ndadosaken umat Israel punika kebal saking bencana lan ewetipun gesang. Lajeng, kados pundi saenipun umat ningali prastawa tragis mekaten punika? Piwelingipun cetha, dadekna sarana pasinaon. Critakna marang anak anakmu, supaya padha mawas dhiri lan ora gumunggung “mentang-mentang dadi umat kang kapiji”. Bab punika supados sami sadar bilih gesangipun winates, sanadyan sih rahmatipun Gusti Allah tan winates.
Pramila, Yoel paring pitedah kanthi cetha: Dhawuh supados mratobat (Ay.12). Tembung “Mratobata, balia ngabekti, nglakonana pasa …” punika sadaya tembung pangatag. Tumindak aktif ingkang kedahipun dipun lampahi dening umat kanthi tumemen. Sampun cekap tumindakipun umat punika. Wonten margi ingkang kedah dipun wangsulaken malih ing jaluripun. Wonten manah ingkang kedah saestu kaenggalaken wonten ing pepadhangipun Gusti Allah. Lumantar dhawuh “atimu suweken, aja sandhanganmu”, umat katimbalan saestu nata dhiripun wonten ngarsanipun Gusti.
Lumantar Injil Matius, bab ingkang sami ugi kadhawuhaken dening Gusti, kalebet kangge tiyang ingkang sampun sae nindakaken laku agami. Tiyang Yahudi nindakaken laku religius ingkang kaanggap luhur lumantar: dedana, ndedonga, lan pasa. Punika kados 3 rukun agama Yahudi. Tamtunipun, Gusti Yesus mboten nampik bilih punika tumindak sae, nanging Gusti Yesus prihatin karana kadhasaraken dhumateng motivasi lan pancasan ingkang lepat. Nalika laku sae kalawau katindakaken supados ketingal tiyang sanes lan pikantuk piwales, piyambakipun sampun kecalan ajinipun.
Nalika tiyang dedana, maringi utawi damel kabecikan, punika kedah dipun dhasari kanthi motif ingkang murni: Punapa punika dipun tindakaken namung kangge pamer lan ngraosaken panuwun saha pangalembana saking tiyang sanes, utawi saestu kangge ngenthengaken momotanipun tiyang sanes lan dados talanging berkahipun Gusti Allah?
Nalika tiyang dedonga, punapa adhedhasar motivasi ingkang tumemen tumuju dhumateng Gusti Allah? Wonten saperangan tiyang ingkang dedonga kangge tiyang sanes, nanging isining pandonganipun sanes panyuwunan becik kanthi tulus, nanging malah ngandhut pepeling, pitutur, utawi malah sindiran. Asring ugi, kepara malah kagodha dados hakim tumrap tiyang sanes, karana piyambakipun rumaos bilih tiyang sanes punika pantes pikantuk piwales ala.
Nalika tiyang nindakaken pasa utawi pantangan, punapa punika pancen kangge kabecikaning jiwa lan ngasoraken dhiri wonten ing ngarsanipun Gusti utawi namung kangge pamer bilih piyambakipun sampun netepi paugeraning agami? Ingkang wigati: nalika kabecikan dipun tindakaken namung kangge pamer, ngajeng-ngajeng pangalembana, miturut Gusti Yesus, tiyang-tiyang kados mekaten sampun pikantuk ganjaranipun, nanging kecalan ganjaran sejati saking Gusti Allah, ingkang mirsa punapa ingkang mboten katon.
Tigang laku religius Yahudi punika rak nggih sae to? Inggih. Nanging tumindak punika kedah kaanggep cekap ngantos semanten, lan kalajengaken kanthi gesang enggal, ingkang ningali langkung lebet malih supados tansah murni lan mboten namung tumindak ingkang salimrahipun kemawon. Pramila, dhawuhipun Gusti Yesus dhumateng para sakabatipun, “Elinga, kowe aja tumindak kaya mangkono, wis cukup, aja dibaleni!” Para pandherekipun Sang Kristus kedah nglangkungi laku religius kalawau kanthi gesang enggal lan motivasi enggal.
Menawi tiyang Yahudi nindakaken kabecikan kangge netepi Angger-anggering Toret lan pikantuk kawilujengan, para pandherekipun Sang Kristus kedah nglangkungi punika. Rasul Paulus sampun paring tuladha kados ingkang kaserat wonten ing layangipun dhateng pasamuwan Kristen Korinta. Nalika leladi, Paulus madhep mantep senaosa nandhang sangsara, karupekan, lan reribed. Minangka abdinipun Gusti Allah, piyambakipun ngladosi kanthi ngener Gusti, martosaken kayekten lan pangwaosing Gusti Allah. Motivasi ingkang murni punika ndadosaken Paulus saged nampi maneka warni kahanan kanthi wetah: dipun aji-aji lan dipun remehaken, dipun undhat-undhat lan dipun alem, kadakwa juru apus nanging kena dipun pitados, ora ana kang wanuh, nanging kondhang (Ay. 8–10).
Paulus ngraosaken pamulihan sejati karana sih-rahmatipun Gusti, pramila piyambakipun paring piweling supados pasamuwan Kristen Korinta sampun ngantos damel muspraning Sih Rahmat punika. Awit punika, saben-saben, kita kaparingan wekdal ingkang becik kangge ngreksa lan ngenggalaken timbalan yekti punika.
Panutup
Sumangga lerem sawetawis. Rebo Awu lan mangsa Pra Paskah punika dados wekdal ingkang sae kangge kita niti priksa gesang kita. Kita punika manungsa ingkang winates nanging gadhah pepenginan ageng, manungsa ringkih nanging kathah polah. Kita punika awu ingkang kathah pepenginanipun, asring tansah rumaos kirang lan mboten nate rumaos cekap. Ing wekdal punika, kita katimbalan mlebet ing margining pamratobat, rumaket kaliyan sih rahmatipun Gusti Allah, saha ngraosaken pamulihan. Punika wekdal kangge kita sadaya, ingkang asring tumindak karena “lumrahe ngono” utawi tansah rumaos kirang lan kepengin malih lan malih, samangke sinau ngucap: “cukup.”
Laku spiritual ing Injil Matius punika saged dados sarana ngladhi batin: sinau rumaos cukup, mratobat saking laku ingkang suwaunipun tumuju dhateng dhiri pribadi ginantos kaliyan tumuju dhumateng Gusti Allah. Pasa utawi pantangan punika nglatih kita ngendhaleni napsu lan karep, supados langkung ngelak lan cumadhang dhateng karsanipun Gusti, sanes pikajeng kita piyambak. 40 dinten mangsa Pra Paskah, kawiwitan Rebo Awu punika ngatag kita sami tansah eling lan waspada, lajeng mratobat. Punapa ingkang kados-kados naleni kita lan ndadosaken kita saestu remen lan ewet kendel? Punapa panganan, blanja, medhia sosial, utawi prekawis sanesipun. Mbok bilih punika pratanda ingkang ngatag kita lerem sawetawis.
Rebo Awu lan mangsa Pra Paskah punika wekdal sae kangge kita ngrengkuh gesang kanthi wetah, sadhar bilih kita ringkih lan saged dhawah ing panggodha ingkang murugaken kita kesupen bab gesang ingkang sayekti. Sumangga kita mratobat, ngraosaken pemulihan, lan nyuwun pitulunganipun Gusti supados kita saged nglampahi timbalan Kristen kanthi leres, sanes karana pados pangalembana nanging kagem ngluhuraken asmanipun Gusti. Sumangga kita enget, yektinipun kita punika namung awu ingkang nampeni kanugrahan. Pramila sumangga kita lumampah ing margining Gusti kanthi setya tuhu, tansah mratobat, lan ngraosaken pamulihan ing salebeting pigesangan kita. Amin. [KRW].
Pamuji: KPJ. 61 Saestu Keduwung