Suasana khidmat dan penuh harapan menyelimuti persawahan di sekitar GKJW Jemaat Bayem Mojorejo. di Dusun Plosorejo, Desa Jagir, Kec. Sine, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Acara Doa Tanam Padi secara rutin dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan dan syukur atas anugerah alam yang menopang kehidupan jemaat. Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya musim tanam, sebuah tradisi yang mengaitkan erat spiritualitas dengan siklus agraris.
Pada Minggu pagi 14 Desember 2025, sekitar 25 orang berkumpul di persawahan, jumlah yang terasa intim namun mewakili berbagai elemen penting dalam komunitas. Kehadiran ini tidak hanya terbatas pada anggota gereja saja, melainkan masyarakat diluar gereja juga ikut serta.
Doa dipimpin oleh Pdt. Gideon Pandu Perdana dan diikuti oleh anggota majelis GKJW Bayem Mojorejo, warga jemaat, beberapa pemilik sawah, serta penggarap dan buruh tanam yang menjadi ujung tombak di lapangan. Selain itu, pengurus kelompok tani juga turut hadir, memperkuat sinergi antara lembaga gereja dan organisasi pertanian. Kehadiran yang beragam ini menunjukkan semangat kolaborasi dan kepedulian bersama terhadap hasil bumi.
Inti dari ibadah Doa Tanam Padi ini adalah mengajak seluruh warga untuk merenungkan dan merasakan berkat Tuhan yang dicurahkan melalui alam semesta, khususnya sawah. Sawah bukan hanya dipandang sebagai lahan mata pencaharian, tetapi sebagai perwujudan nyata dari penyertaan dan kemurahan Ilahi.
Melalui kegiatan ini, jemaat diajak untuk menyadari bahwa siklus tanam, tumbuh, dan panen adalah sebuah proses teologis. Air, tanah, dan benih adalah media yang dipakai Tuhan untuk memelihara umat-Nya. Kesadaran ini menumbuhkan rasa tanggung jawab ekologis dan spiritual untuk menjaga keberlangsungan alam.
Bagian selanjutnya dari doa bersama ini adalah permohonan agar sawah gereja dan sawah-sawah di sekitarnya dapat menghasilkan panen yang baik dan maksimal. Permintaan ini mencakup harapan akan kualitas dan kuantitas hasil panen yang melimpah, agar kesejahteraan ekonomi warga dapat terjamin.
Selain memohon hasil yang optimal, doa juga dipanjatkan untuk perlindungan. Para petani memohon agar tanaman padi dijauhkan dari berbagai penyakit yang merusak dan serangan hama, seperti wereng atau tikus. Doa ini merefleksikan pengakuan bahwa di tengah upaya manusia, ada batas kekuatan yang memerlukan campur tangan dan pemeliharaan dari Yang Maha Kuasa.
Doa Tanam Padi GKJW Bayem Mojorejo ini berakhir dengan harapan teguh bahwa benih yang ditanam akan tumbuh subur di bawah lindungan Tuhan. Tradisi ini memperkuat ikatan spiritual dan komunal, mengingatkan semua yang hadir bahwa pertanian adalah kerja keras sekaligus ibadah. Semangat kebersamaan yang terjalin pada pagi itu diharapkan terus berlanjut hingga musim panen tiba.
Berita : Pdt. Gideon Pandu Perdana
Foto : Tim Multimedia GKJW Bayem Mojorejo