Dampak Nyata Kuasa Kebangkitan Tuhan Yesus Khotbah Minggu 23 April 2023

10 April 2023

Minggu Paskah 3
Stola Putih

Bacaan  1:  Kisah Para Rasul 2 : 14a, 36 – 40
Bacaan  2:  
1 Petrus 1 : 17 – 23
Bacaan  3:  
Lukas 24 : 13 – 35

Tema Liturgis: GKJW Bangkit Bersama Kristus
Tema Khotbah:
Dampak Nyata Kuasa Kebangkitan Tuhan Yesus

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan kotbah)

Kisah Para Rasul 2 : 14a, 36 – 40
Pada Kisah Para Rasul 1 kita mengetahui bahwa Kisah Para Rasul ini ditulis dan ditujukan kepada Teofilus. Hal ini sama dengan Injil Lukas, yang juga ditujukan kepada Teofilus. Dalam pembukaan Kisah Para Rasul, penulis (Lukas) menyebutkan dalam bukunya yang pertama (Lukas), ia telah menjelaskan segala sesuatu yang dikerjakan Tuhan Yesus sampai hari Ia terangkat ke sorga. Sebelum itu, Tuhan Yesus telah memberikan perintah-Nya kepada para Rasul yang dipilih-Nya. Sedangkan pada pasal 2, penulis menyaksikan para murid dipenuhi Roh Kudus yang dicurahkan pada saat hari Pentakosta (Yahudi). Peristiwa Pentakosta itu dinyatakan dengan tanda-tanda: bunyi seperti tiupan angin keras; lidah-lidah api, dan para Rasul yang berkata-kata dengan bahasa lain seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka, namun dapat dipahami oleh bangsa-bangsa lain yang berada di tempat itu.

Rasul Petrus, salah satu murid Tuhan Yesus memberi kesaksian nyata tentang kuasa Roh Kudus yang dicurahkan kepadanya. Dengan berani dan penuh semangat, dia menjelaskan kepada orang-orang yang menyindir para rasul sebagai orang mabuk. Petrus menjelaskan bahwa yang terjadi adalah mujizat Allah (Kis. 2:14-21). Dan ia juga bersaksi tentang kebangkitan Tuhan Yesus Kristus (Kis. 2:18-35).

Pada Kisah Para Rasul 2:36-40 (bacaan kita) Rasul Petrus menegaskan bahwa Allah telah membuat Yesus yang mereka salibkan menjadi Tuhan dan Kristus (Ay. 36). Kepada orang-orang yang merespon atas penjelasan Rasul Petrus, Rasul petrus menyerukan hendaknya mereka bertobat dan dibaptis dalam nama Tuhan Yesus, maka mereka akan menerima kuasa Roh Kudus.

1 Petrus 1 : 17 – 23
Rasul Petrus yang disaksikan dalam Kisah Para Rasul, dalam Pekabaran Injilnya menulis surat kepada orang-orang percaya yang berada di berbagai tempat (1 Ptr. 1:1). Mereka diingatkan untuk selalu menyadari siapa jati diri mereka, yaitu orang-orang terpilih dan orang-orang yang dikuduskan oleh Allah melalui karya penebusan Yesus Kristus. Tanda bagi mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, yaitu mereka hidup dalam ketaatan kepada Allah dan hidup penuh kasih. Itulah bukti nyata dari hidup baru di dalam Tuhan Yesus Kristus.

Lukas 24 : 13 – 35

Injil Lukas memberi kesaksian cerita yang berhubungan dengan kebangkitan Tuhan Yesus. Urutan kejadian-kejadian pada hari kebangkitan Tuhan Yesus  menurut pemberitaan Lukas 24 adalah sebagai berikut:

  1. Pagi-pagi benar, para perempuan menemukan bahwa kubur Tuhan Yesus telah kosong (Ay. 1-11).
  2. Beberapa murid memeriksa kubur itu dan melihat bahwa memang benar demikian (Ay. 12).
  3. Tetapi Tuhan Yesus yang bangkit (hidup) pada mulanya belum dapat dipastikan, sebab mereka tidak melihat Tuhan Yesus yang bangkit (Ay. 24).
  4. Dalam suasana murung dua orang meninggalkan Yerusalem pada sore harinya untuk pergi pulang ke Emaus. (Ay. 13).
  5. Sesudah mereka berangkat, Yesus menampakkan diri-Nya kepada Petrus (Ay. 34).
  6. Kemudian Iapun menampakkan diri-Nya kepada kedua orang yang pergi ke Emaus. (Ay. 30-31).
  7. Ketika kedua orang itu kembali ke Yerusalem, muncullah Tuhan Yesus dalam ruangan tempat murid-murid itu berkumpul. (Ay. 36-49).

Khusus bacaan kita (Ay. 13-35) menceritakan tentang dua orang dari murid Yesus. Yang seorang disebutkan bernama Kleopas. Ia dan seorang temannya pergi ke Emaus yang berjarak sekitar 7 mil jauhnya dari Yerusalem dalam keadaan putus asa dan kecewa. Mereka merasa putus asa karena Yesus telah dihukum mati dan disalibkan oleh imam-imam dan pemimpin-pemimpin Yahudi. Hal itu diceritakan kepada orang yang berjalan bersama mereka, yaitu Tuhan Yesus sendiri, namun mereka tidak mengenalinya. Ketika hari mulai malam dan mereka tiba di tujuan, mereka meminta agar orang tersebut singgah dan tinggal bermalam bersama mereka. Ketika mereka mengadakan makan malam, tamu itu memecah-mecahkan roti, maka terbukalah mata mereka dan mereka mengenali Dia, tetapi Dia lenyap dari tengah-tengah mereka.

Perjumpaan mereka dengan Tuhan Yesus yang bangkit, membangkitkan  kekuatan dan semangat baru kepada mereka. Pertama, mereka tidak mengingat kelelahan yang mereka rasakan setelah berjalan sejauh 7 mil. Malam itu juga mereka segera kembali ke Yerusalem. Kedua, mereka sangat bersemangat untuk segera memberitahukan kepada para murid lain akan pengalaman perjumpaan mereka dengan Tuhan Yesus yang telah bangkit.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Tuhan Yesus yang bangkit dan hidup menjumpai para murid-Nya. Perjumpaan-Nya dengan para murid ini menumbuhkan kekuatan dan keberanian pada diri para murid untuk memberitakan bahwa Tuhan Yesus sungguh telah bangkit dari antara orang mati. (Luk. 24:13-35; Kis. 2:14a, 36-40). Orang yang percaya Yesus bangkit, percaya bahwa Dia telah menang dan memenangkan manusia dari kuasa dosa, sehingga hidup manusia dikuduskan kembali dari dosa dan hidup dalam Firman Tuhan (1 Ptr. 1:17-23). Dengan kuasa Roh Kudus, para murid dan orang-orang percaya dimampukan hidup penuh ketaatan kepada Allah dan penuh kasih kepada sesama. Itulah dampak nyata dari kuasa kebangkitan Yesus Kristus.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing).

Pendahuluan
Bagaimanakah saudara menjelaskan seandainya seseorang bertanya, “Bagaimanakah ciri-ciri orang Jawa itu?”. (Beri kesempatan kepada warga untuk mengungkapkan pendapatnya). Ciri-ciri umum yang biasanya digunakan untuk menggambarkan orang Jawa antara lain: Tenang, mudah sungkan, tidak mengatakan yang sebenarnya (sudah lapar katanya belum lapar). Mungkin itu sebagian ciri yang didapat tentang orang Jawa dari masa lalu. Sekarang: “Bagaimana saudara menjelaskan seandainya ada orang yang bertanya: Bagaimanakah ciri-ciri Pegawai Negeri itu?” Mungkin akan ada yang menjawab, “Memakai seragam coklat, berangkat kerja pagi-pagi sekali, sibuk absen dengan foto ketika berkegiatan di luar.”

Lalu bagaimanakah saudara menjelaskan, kalau ada pertanyaan, “Bagaimanakah ciri-ciri orang Kristen itu?” Mungkin akan ada yang menjawab, “Berbaju rapi pada hari Minggu, memakai aksesoris salib pada tubuhnya, atau tertempel stiker dengan tulisan I Love Jesus pada kendaraannya.” Atau ada yang menjawab, “Orang Kristen itu, selalu mengucap puji Tuhan/ puji Gusti.” Apakah saudara berani mengatakan ciri-ciri orang Kristen itu, “Selalu bersemangat?, Selalu siap membantu orang lain dengan ramah? Selalu berkata-kata baik? Ora gampang mutung?” Mungkin hal-hal ini agak berat untuk dikatakan, namun ketika ciri-ciri itu tidak ada dalam diri seseorang yang menyebut dirinya sebagai orang Kristen, lantas bagaimanakah orang lain akan mengenalinya sebagai orang Kristen? Tiga bacaan kita hari ini, mengajak kita untuk semakin menemukan ciri khas hidup sebagai orang Kristen yang dapat dikenali orang lain dan yang berdampak positif bagi orang lain.

Isi
Salah satu kisah di sekitar peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus yang disaksikan dalam Injil Lukas adalah adalah kisah tentang dua orang yang merasa putus asa dengan peristiwa penyaliban Yesus. Yesus yang mereka harapkan menjadi pembebas bagi bangsa Israel, nyatanya mati disalibkan. Mereka kemudian meninggalkan Yerusalem, karena mereka merasa tidak lagi memiliki harapan untuk hidup yang baik. Hati mereka sangat hancur. Untuk beberapa waktu lamanya selama mereka dalam perjalanan ke Emaus, mereka tidak menyadari bahwa orang yang mereka jumpai dalam perjalanan dan berjalan bersama dengan mereka adalah Tuhan Yesus, yang mereka ceritakan. Ketika mereka tiba di tempat tujuan, mereka mempersilahkan orang yang bersama mereka tadi untuk singgah dan bermalam di rumah mereka. Kemudian dikisahkan hati mereka terbuka, yaitu saat mereka makan bersama. Orang yang bersama mereka memecah-mecahkan roti, dan saat itu mereka sadar bahwa yang telah bersama dengan mereka dalam perjalanan adalah Tuhan Yesus sendiri. Kemudian Tuhan Yesus lenyap dari antara mereka. Meskipun Tuhan Yesus lenyap setelah menyatakan kehadiran-Nya sebagai Tuhan yang bangkit dan hidup, kedua murid itu percaya bahwa Tuhan Yesus telah bangkit.

Keyakinan itu membangkitkan kekuatan dan semangat baru dalam diri mereka. Mereka tidak memperhitungkan kelelahan diri mereka setelah berjalan sekitar 7 mil (11.1 Km). Mereka tidak memperhitungkan bahwa saat itu hari sudah mulai malam dan banyak bahaya di jalan. Mereka dengan penuh semangat segera kembali ke Yerusalem untuk berbagi kabar sukacita dan memberitahukan kepada para murid yang lain bahwa Tuhan Yesus telah bangkit.

Kekuatan, keberanian, semangat yang sama juga dimiliki oleh para Rasul yang lain. Setelah mereka berjumpa dengan Tuhan Yesus dan menerima Roh Kudus Tuhan, mereka menjadi berani menjadi saksi Kristus. Salah satu kesaksian nyata dikisahkan dalam Kisah Para Rasul, khususnya pada bacaan kita yang pertama (Kis. 2:14a; 36-40). Rasul Petrus dengan lantang menjawab dan menjelaskan kepada orang-orang yang menganggap peristiwa pencurahan Roh Kudus sebagai peristiwa orang-orang mabuk. Rasul Petrus menjelaskan bahwa peristiwa Pentakosta yang dialami para murid itu adalah mujizat Allah. Karena itu, Petrus menyerukan dengan lantang agar orang-orang yang hadir saat itu mau menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat mereka, agar mereka bertobat, dan menerima pengampunan dosa serta anugerah Roh Kudus untuk kehidupan baru.

Selanjutnya Rasul Petrus dalam Pekabaran Injil, ia menuliskan surat untuk orang-orang percaya yang tersebar di beberapa tempat (1 Ptr. 1:1-2). Dalam suratnya, ia menekankan pentingnya jati diri dan ciri khas hidup sebagai orang percaya, yaitu dapat dikenali oleh orang lain dan berdampak positif bagi orang lain atau bagi kehidupan. Rasul Petrus menekankan bahwa kebangkitan Tuhan Yesus Kristus dari antara orang mati, melahirkan kembali manusia ke dalam kehidupan baru yang penuh pengharapan akan kemuliaan sorgawi          (1 Ptr. 1:3). Ia menjelaskan bahwa penebusan yang dilakukan Allah dalam diri Tuhan Yesus Kristus itu adalah penebusan yang sangat mahal (Ay. 18). Dengan penyucian itu, setiap orang percaya memiliki tanda atau ciri khas hidup baru, yaitu hidup di dalam ketaatan kepada Allah, hidup yang dilandasi dengan Firman Allah, dan hidup yang berbuahkan kasih kepada sesama.

Penutup
Dengan demikian meskipun terasa berat, kita tidak perlu dan tidak boleh ragu menjawab, “Bagaimanakah ciri khas hidup orang Kristen itu?” Jawabannya bukan sekedar memakai aksesoris salib, memasang stiker pada kendaraan dengan tulisan I Love Jesus, beribadah ke gereja, memberikan persembahan dan berdoa. Tetapi lebih dari itu, ciri hidup orang Kristen yang nyata dan berdampak positif bagi kehidupan adalah: selalu bersemangat, tidak loyo, tidak nglokro, selalu mengucap syukur, tidak gampang mengeluh, tidak mudah menyerah dan mau melakukan berbagai hal yang berdampak positif bagi orang lain sebagaimana disaksikan oleh dua orang murid yang ke Emaus dan Rasul Petrus dalam bacaan kita hari ini.

Pada Minggu ini, kita memasuki Minggu Paskah ke-3. Dalam suasana peringatan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus saat ini menjadi kesempatan bagi kita untuk bertanya pada diri sendiri, “Apakah saya sungguh percaya bahwa Tuhan Yesus bangkit dan hidup?” Jawabannya ada pada apa yang kita katakan dan kita perbuat, apakah hidup kita benar-benar berdampak positif bagi diri kita sendiri dan sesama? Amin. [YA].

 

Pujian: KJ. 340 : 1, 2  Hai Bangkit Bagi Yesus

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Kados pundi anggenipun panjenengan jelasaken bilih wonten pitakenan, “Kados pundi ciri-cirinipun tiyang Jawi punika?” (Warga dipun paring wekdal kangge mangsuli). Ciri umum ingkang biasa dipun damel gambaraken tiyang Jawi antawisipun: Piyantunipun tenang, gampang sungkan, boten badhe matur ingkang sakmesthinipun (sampun luwe maturipun boten luwe). Punika ciri-cirinipun tiyang Jawi miturut tiyang ing mangsa kepengker. Sapunika bilih wonten pitakenan malih, “Kados pundi ciri-cirinipun Pegawai Negeri punika?” Menawi badhe wonten ingkang mangsuli: “Piyantunipun ngagem seragam warni coklat, bidhalipun nyambut damel enjing sanget, piyambakipun sibuk absen kaliyan foto nalika wonten kegiatan ing jawi.”

Lajeng kados pundi panjenengan jelasaken ciri-cirinipun tiyang Kristen punika? Mbok menawi wonten ingkang badhe mangsuli: “Tiyang Kristen punika agemanipun rapi bilih tindak Greja ing dinten Minggu, piyambakipun ngagem aksesoris salib ing badanipun utawi wonten stiker tulisan I Love Jesus ing kendaraanipun, sarta tansah ngucap Puji Gusti.” Lajeng punapa panjenengan wantun matur bilih ciri-cirinipun tiyang Kristen punika: tansah semangat? sumadya mbiyantu tiyang sanes kanthi tulus? pituturipun sae? Lan boten gampil mutungan? Prekawis punika kadosipun awrat dipun tindakaken, nanging bilih ciri-ciri punika boten wonten ing salebeting gesangipun tiyang Kristen, lajeng kados pundi tiyang sanes saged mangertos kita punika tiyang Kristen? Waosan kita ing dinten punika ngajak dhateng kita sami mangertosi ciri khasipun tiyang Kristen ingkang dipun tepang tiyang sanes lan saged betha dampak ingkang positif kangge tiyang sanes.

Isi
Salah setunggaling cariyos ingkang dipun serat wonten Injil Lukas bab wungunipun Gusti Yesus inggih punika cariyos kalih sakabatipun Gusti ingkang tumuju Emaus. Kasebataken bilih kalih sakabat punika rumaos kecalan pengajeng-ajeng awit Gusti Yesus sampun pejah. Kalih sakabat punika medal saking Yerusalem karana sampun boten kagungan pangajeng-ajeng malih bab gesang ingkang endah, manahipun sampun ajur. Ing sawetara wekdal sakabat kalih punika sami boten sadar bilih tiyang ingkang dipun panggihi ing margi lan lumampah sesarengan punika Gusti Yesus. Nalika kalih sakabat punika dumugi ing papan ingkang dipun tuju lan dhahar sesarengan, manah kekalihipun tinarbuka, sami mangertos bilih tiyang ingkang sinarengan punika Gusti Yesus. Ing ngriku Gusti Yesus, mecah-mecahaken roti lajeng dipun paringaken dhateng kalih sakabat punika. Lajeng Gusti Yesus ical saking paningalanipun kalih sakabat punika. Saking kedadosan punika, kalih sakabat punika pitados bilih Gusti Yesus sampun wungu.

Pepanggihanipun kalih sakabat punika kaliyan Gusti Yesus nuwuhaken kakiyatan lan semangat enggal salebeting batos kalih sakabat punika. Kekalihipun enggal wangsul dhateng Yerusalem ing wekdal dalu punika, tanpa ngetang sayahing raganipun ingkang nembe mlampah antawis 7 mil (11, 1km). Kekalihipun boten rumaos ajrih sanadyan dinten sampun dalu lan kathah ancaman bahaya ing margi. Kalih sakabat punika kanthi kebak semangat wangsul malih dhateng Yerusalem kangge martosaken kabar kabingahan bilih Gusti Yesus sampun wungu dhateng para sakabatipun Gusti sanesipun.

Para Rasul kaparingan kakiyatan, semangat, wantun dados saksi, sak sampunipun pinanggih Gusti Yesus lan nampi Roh Suci. Contonipun kados Rasul Petrus ingkang kaserat ing Para Rasul 2:14a, 36-40. Ing ngriku Rasul Petrus wantun jelasaken dhateng para tiyang Yahudi ingkang nganggep para sakabat sami mabuk saksampunipun nampi Roh Suci. Kanthi sora, Rasul Petrus matur bilih para sakabat punika boten mabuk, nanging nampi mujizatipun Gusti, lumantar tumedhaking Sang Roh Suci dhateng para sakabat. Piyambakipun lajeng matur supados para tiyang Yahudi punika sami mratobat, lan pitados dhumateng  Gusti Yesus minangka Juru Wilujenging gesang. Kanthi mekaten para tiyang punika badhe nampi pangapuntening dosa lan kanugrahan Roh Suci sarta gesang enggal.

Salajengipun Rasul Petrus ugi nyerat surat kangge para tiyang pitados ingkang kasebar ing perangan papan (1 Ptr. 1:1-2). Rasul Petrus paring piwucal bilih tiyang Kristen punika kedah kagungan jati diri lan ciri khas ingkang saged dipun tingali tiyang sanes lan saged betha dampak ingkang positif kangge tiyang sanes. Petrus nyebatkan bilih wungunipun Gusti Yesus saking antawisipun tiyang pejah punika, nglairaken manungsa ing gesang enggal, ingkang kebak pengajeng-ajeng ing kamulyaning surga (Ay. 3). Rasul Petrus nandesaken bilih  Gusti Allah kersa nebus dosanipun manungsa lumantar Rah Korbanipun Gusti Yesus Kristus ing kajeng salib, punika wujud panebusan ingkang awis sanget (Ay. 18). Sarana pasucen punika, saben tiyang pitados kagungan tandha utawi ciri khas, inggih punika: nindakaken gesang enggal, manut dhumateng Gusti Allah, gesangipun kalandesan Sabdaning Gusti, sarta nindakaken katresnan dhateng sesaminipun.

Panutup
Bilih mekaten, sanajan ketingalipun awrat, kita boten badhe mangu-mangu mangsuli pitakenan, “Kados pundi ciri khasipun tiyang Kristen punika?”, Wangsulanipun: ciri khasipun tiyang Kristen punika, sanes ngagem aksesoris salib, sanes tulisan I Love Jesus ing kendaraanipun, sanes namung ngabekti dhateng greja, sanes namung pisungsung lan dedonga kemawon. Langkung saking punika, cirinipun tiyang Kristen punika kedah nyata lan betha dampak ingkang positif salebeting gesangipun, inggih punika: tansah semangat, boten loyo, boten nglokro, tansah saos sokur, boten gampang sambat, boten gampang mutung sarta nindakaken maneka warni prekawis ingkang betha dampak positif kangge tiyang sanes kados kalih sakabatipun Gusti ingkang tumuju Emaus lan rasul Petrus ing waosan kita.

Minggu punika kita lumebet ing Minggu Paskah kaping 3. Ing swasana mengeti wungunipun Gusti Yesus, dados kesempatan kangge kita atur pitakenan dhateng diri kita piyambak, “Punapa kula sampun saestu pitados bilih Gusti Yesus sampun wungu lan gesang?” Wangsulanipun wonten gesang kita piyambak, “Punapa ingkang kita ucapaken lan tindakaken saged betha dampak ingkang positif kangge gesang kita piyambak lan kangge sesami?” Amin. [Terj. AR].

 

Pamuji: KPJ. 258 : 1, 2  Gusti Yesus Wus Wungu

 

Renungan Harian

Renungan Harian Anak