Minggu Paskah 2
Stola Putih
Bacaan 1: Kisah Para Rasul 2 : 14a, 22 – 32
Bacaan 2: 1 Petrus 1 : 3 – 9
Bacaan 3: Yohanes 20 : 19 – 31
Tema Liturgis: GKJW Bangkit Bersama Kristus
Tema Khotbah: Perjumpaan Yang Mengubahkan
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Kisah Para Rasul 2 : 14a, 22 – 32
Setelah peristiwa Pentakosta, Petrus dengan penuh keberanian memberikan kesaksiannya tentang Yesus Kristus. Dengan hikmat Tuhan, Petrus menggunakan tuduhan orang Yahudi dan para iman yang mengatakan bahwa para murid sedang mabuk, untuk menyampaikan kebenaran Injil kepada khalayak ramai dan orang banyak pada waktu itu. Ada 2 hal yang ditekankan oleh Petrus dalam khotbahnya, yaitu perihal dosa dan Yesus Kristus. Tentang dosa, Petrus menjelaskan bahwa mereka telah banyak berbuat dosa dengan menyalibkan dan membunuh Yesus yang tidak bersalah. Petrus menegaskan bahwa Yesus yang mereka salibkan, Dialah yang telah menggenapi janji Allah akan datangnya Mesias dari keturunan Daud (Ay. 30-31). Ia yang disalibkan telah bangkit dan para murid menjadi saksinya (Ay. 32). Tentu hal ini membuat orang banyak saat itu merasa bersalah atas apa yang telah mereka perbuat terhadap diri Yesus. Petrus tidak membiarkan perasaan bersalah itu terus menerus ada pada diri mereka. Petrus melanjutkan khotbahnya dengan menyampaikan kabar baik, jika mereka mau bertobat dengan berseru kepada nama Yesus, maka mereka akan diselamatkan (Ay. 21).
Pada bagian kedua tentang Yesus, Petrus menyampaikan bahwa Yesuslah Sang Mesias yang selama ini dinanti-nantikan. Isi pemberitaan Petrus menempatkan Yesus Kristus sebagai dasar peristiwa turunnya Roh Kudus. Melalui Roh Kuduslah para murid dimampukan untuk mewartakan karya Allah dan senantiasa memuliakan Yesus dalam kehidupan mereka. Maka menjadi panggilan bagi umat Tuhan untuk terus bersaksi dan memuliakan Yesus Kristus melalui laku hidup mereka sehari-hari.
1 Petrus 1 : 3 – 9
Petrus menyatakan pujian syukurnya kepada Allah, karena Allah telah menyatakan kemurahan-Nya dan keselamatan-Nya melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Petrus bersyukur untuk umat Tuhan di wilayah Asia Kecil yang telah menerima Yesus dan telah dikuduskan oleh Roh Kudus (Ay. 4). Melalui penebusan dan pengorbanan Yesus Kristus, umat Tuhan memiliki pengharapan akan menerima kemuliaan kekal di surga kelak, sebab Tuhan Allah memelihara hidup mereka hingga akhir zaman (Ay. 5). Pengharapan ini senantiasa dimiliki umat Tuhan walaupun mereka sedang mengalami berbagai-bagai penderitaan hidup. Oleh sebab itulah, Petrus menasihatkan agar mereka tetap bersukacita sekalipun mereka harus menderita di dunia ini. Penderitaan yang mereka alami bertujuan untuk menguji iman mereka. Melalui penderitaan itu, iman mereka semakin murni dari waktu ke waktu. Tuhan mengijinkan penderitaan kepada umat-Nya bukan untuk menjatuhkan mereka, melainkan untuk membuktikan kesejatian dan keteguhan iman mereka. Iman yang teruji dengan baik, ibarat emas yang dimurnikan oleh api, segala kotorannya terbakar habis, sehingga emas itu menjadi murni. Pada akhirnya oleh keteguhan iman inilah, mereka layak menerima puji-pujian, kemuliaan, dan kehormatan dari Allah (Ay. 7). Umat Tuhan merasakan bahagia dan sukacita, karena mereka mendapatkan jaminan keselamatan dari Allah. Keselamatan ini adalah anugerah dari Allah yang diberikan kepada umat-Nya, agar umat selalu hidup dalam pengharapan sekalipun mengalami penderitaan dan berada pada masa penantian akan kedatangan Kristus yang kedua.
Yohanes 20 : 19 – 31
Bagian bacaan ketiga ini oleh LAI dibagi menjadi 3 perikop: Pertama, Yohanes 20:19-23, Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya. Kedua, Yohanes 20:24-29, Yesus menampakkan diri kepada Tomas. Ketiga, Yohanes 20: 30-31, Maksudnya Injil ini dicatat.
Setelah Tuhan Yesus menampakkan diri kepada Maria Magdalena, Petrus, dan Yohanes, pada malam harinya, Tuhan Yesus menampakkan diri kepada para murid-Nya yang lain, kecuali Tomas. Saat itu para murid berada di ruangan yang tertutup dan terkunci, sebab mereka merasa takut dengan para pemimpin Yahudi yang akan menangkap mereka. Ketakutan itu sebenarnya sudah tampak menjelang Tuhan Yesus disalibkan. Meskipun pintu terkunci rapat, Tuhan Yesus hadir menampakkan diri-Nya kepada mereka. Ia mengucapkan salam kepada mereka, “Damai sejahtera bagimu!” Kemudian Tuhan Yesus memperlihatkan bekas luka di tangan dan lambung-Nya (Ay. 20). Para murid merasakan damai sejahtera sebagaimana yang Tuhan Yesus ucapkan saat menyapa mereka. Mereka sungguh dikuatkan dan bersukacita, karena Tuhan Yesus sungguh telah bangkit dan hidup kembali.
Kemudian Tuhan Yesus menyampaikan pengutusan kepada para murid-Nya. Ada 2 hal penting yang Tuhan Yesus sampaikan pada pengutusan-Nya. Pertama, Pengutusan para murid adalah seperti pengutusan Allah Bapa kepada Tuhan Yesus sendiri (Ay. 21). Maka menjadi tugas para murid untuk melanjutkan misi Tuhan Yesus di dunia ini, yaitu mewartakan kabar sukacita dan keselamatan bagi semua orang di dunia. Kedua, misi pewartaan Injil Kristus ini harus dilakukan dalam penyerahan diri dan kebergantungan penuh kepada Tuhan Allah. Untuk itulah Tuhan Yesus menghembuskan Roh Kudus kepada mereka. (Ay. 22). Tindakan Tuhan Yesus ini menunjuk pada pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta yang akan dialami oleh para murid. Roh Kudus inilah yang mengubahkan para murid, dari mereka yang penuh ketakutan menjadi saksi Kristus yang berani menyatakan kebenaran dan Injil Kristus kepada dunia.
Bagian perikop kedua, mengisahkan Tomas yang tidak percaya akan kebangkitan Tuhan Yesus. Bagi Tomas, iman itu harus dinyatakan, harus ada bukti, harus bisa dimengerti secara akal/ rasional. Terhadap diri Tomas yang skeptis, Tuhan Yesus datang menampakkan diri-Nya dan memenuhi harapan Tomas untuk melihat, memegang, dan mencucukkan jarinya pada bekas luka Tuhan Yesus sendiri. Akhirnya Tomas percaya Tuhan Yesus telah bangkit dan hidup kembali. Kemudian Tuhan Yesus mengatakan kepada Tomas, ”Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Dari perkataan Tuhan Yesus kepada Tomas ini, Tuhan Yesus menghendaki agar umat Tuhan tidak hanya percaya karena melihat, melainkan percaya kepada Tuhan karena iman.
Bagian perikop ketiga menjelaskan tentang maksud penulisan Injil, yaitu agar umat Tuhan sungguh-sungguh percaya kepada Yesus Kristus Sang Anak Allah yang telah bangkit dan hidup. Umat percaya kepada Yesus Kristus oleh iman. Hanya dengan imanlah maka umat memperoleh keselamatan dan hidup yang kekal di dalam Tuhan Yesus.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Kebangkitan Yesus Kristus telah terjadi dan para murid menjadi saksi akan kebangkitan Tuhan Yesus itu. Perjumpaan dengan Tuhan Yesus, baik secara pribadi seperti perjumpaan dengan Tomas maupun secara komunal seperti perjumpaan dengan para murid, mengubahkan keraguan, ketakutan, kecemasan yang dirasakan oleh Tomas dan para murid, berganti dengan sukacita, semangat, dan keberanian untuk menjadi saksi Kristus.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Pernahkah saudara mengadakan acara pertemuan atau reuni keluarga besar yang mungkin dilaksanakan setahun sekali? Bagaimanakah perasaan saudara? Tentunya kita merasa senang, sukacita, dan bahagia karena kita dapat bertemu kembali dengan sanak saudara kita yang jauh, yang setelah sekian lama tidak berjumpa. Kerinduan kita untuk bertemu dengan orang-orang terdekat yang kita cintai terobati. Dalam pertemuan tersebut kita dapat berbagi kisah tentang kehidupan keluarga kita masing-masing. Mungkin ada kisah-kisah masa lalu yang dikenang dan diceritakan kembali. Ada cerita-cerita bahagia, sukacita, keberhasilan, namun juga mungkin ada cerita duka, sedih atau kegagalan yang dibagikan, semua kisah itu saling melengkapi.
Ada hal menarik jika kita perhatikan di dalam pertemuan atau reuni keluarga besar tersebut, yaitu ada ibadah dan doa selain berbagi kisah hidup. Artinya dalam pertemuan keluarga itu, Tuhan hadir menyapa mereka melalui firman-Nya. Setiap anggota keluarga merasakan kasih karunia Tuhan yang menyertai hidup mereka. Tuhanlah yang senantiasa memberkati, menyertai dan menopang kehidupan masing-masing keluarga. Pada akhirinya setiap keluarga mampu bersyukur atas berkat dan penyertaan Tuhan pada keluarga mereka. Kemudian mereka saling mendoakan dan menguatkan antara keluarga satu dengan yang lain. Sungguh indahnya perjumpaan keluarga seperti ini, dimana Tuhan Yesus hadir di tengah-tengah mereka.
Isi
Kisah perjumpaan yang sama juga kita temukan pada bagian bacaan Firman Tuhan saat ini. Bacaan Injil Yohanes 20:19-29 mengisahkan perjumpaan itu, yaitu perjumpaan Tuhan Yesus dengan para murid-Nya. Tuhan Yesus yang bangkit berkenan menampakkan diri-Nya kepada para murid yang pada waktu itu sedang berkumpul di ruangan tertutup dan terkunci. Para murid saat itu masih diliputi rasa ketakutan, karena akan ditangkap dan dihukum oleh pemimpin agama Yahudi. Di tengah ketakutan itulah Tuhan Yesus hadir menyapa, “Damai sejahtera bagimu!”. Kemudian Tuhan Yesus memperlihatkan bekas luka di tangan dan di lambung-Nya. Setelahnya Tuhan Yesus mengutus para murid untuk melanjutkan misi-Nya ke dunia. Tuhan Yesus menyadari bahwa para murid memiliki keterbatasan dan kelemahan, untuk itulah Dia menghembusi mereka dengan Roh Kudus. Roh Kuduslah yang akan memimpin dan memampukan para murid menjadi saksi Kristus di dunia.
Pada pertemuan berikutnya Tuhan Yesus menampakkan diri kepada Tomas, yang pada saat itu tidak bersama dengan para murid yang lain. Kepada Tomas, Tuhan Yesus memperlihatkan bekas luka-Nya dan mempersilakan Tomas untuk mencucukkan jari tangannya pada bekas luka di tangan dan lambung Tuhan Yesus. Maka percayalah Tomas. Kemudian Tuhan Yesus mengajarkan kepada para murid, agar mereka hidup oleh iman. Sekalipun tidak melihat namun percaya. Iman kepada Tuhan Yesus inilah yang memampukan para murid untuk setia melakukan tugas panggilannya sebagai saksi Kristus.
Oleh kebangkitan Tuhan Yesus inilah, para murid mengalami perubahan hidup. Dari mereka yang ketakutan menjadi berani menjadi saksi Kristus. Bacaan yang pertama mengisahkan tentang Petrus yang berkhotbah mewartakan kabar sukacita tentang Yesus Kristus. Petrus yang semula menyangkal Tuhan Yesus sampai 3 kali, berubah menjadi Petrus yang setia hingga akhir hidup-Nya. Peristiwa perjumpaan dengan Tuhan Yesus di tepi pantai Tiberias (Yoh. 21) mengubahkan hidupnya. Demikian pula saat Roh Kudus turun di atasnya, Petrus menjadi berani mewartakan Injil Kristus.
Ada 2 hal yang menjadi pokok khotbah Petrus dihadapan orang-orang Yahudi, yaitu tentang dosa dan Yesus Kristus. Tentang dosa, Petrus menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi telah banyak berbuat dosa dengan menyalibkan dan membunuh Yesus. Yesus yang telah mereka salibkan, Dialah yang menggenapi janji Allah akan datangnya Mesias dari keturunan Daud (Ay. 30-31). Hal ini membuat orang-orang Yahudi saat itu merasa bersalah atas apa yang telah mereka perbuat terhadap diri Yesus. Petrus tidak membiarkan perasaan bersalah itu terus menerus ada pada orang-orang Yahudi itu. Dia melanjutkan khotbahnya dengan menyampaikan kabar baik tentang Yesus Kristus kepada mereka. Jika mereka mau bertobat dengan berseru kepada nama Yesus, maka mereka akan diselamatkan (Ay. 21).
Hal yang sama disampaikan oleh Rasul Petrus melalui suratnya kepada jemaat-jemaat di Asia Kecil. Pada bacaan yang kedua, Petrus menyebutkan bahwa melalui penebusan dan pengorbanan Yesus Kristus, umat Tuhan memiliki pengharapan akan menerima kemuliaan kekal di surga kelak. Petrus menasihatkan dan menguatkan mereka agar mereka tetap bersukacita sekalipun harus menderita di dunia ini. Sebab penderitaan yang mereka alami bertujuan untuk menguji iman mereka. Melalui penderitaan itu, iman mereka semakin murni dari waktu ke waktu. Iman yang teruji dengan baik, ibarat emas yang dimurnikan oleh api, segala kotorannya terbakar habis, sehingga emas itu menjadi murni. Pada akhirnya oleh keteguhan iman inilah mereka layak menerima puji-pujian, kemuliaan, dan kehormatan dari Allah.
Penutup
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita banyak mengalami perjumpaan dengan orang lain, berjumpa dengan keluarga, berjumpa dengan rekan sekerja, berjumpa dengan rekan sepelayanan, dan yang lain. Yang menjadi perenungan bagi kita bersama pada Minggu Paskah ke-2 ini, “Apakah kita sudah berjumpa dengan Tuhan Yesus yang hidup seperti yang dialami oleh Tomas dan para murid Tuhan Yesus? Jika kita berkata,”Ya saya sudah berjumpa Tuhan Yesus.” Apakah ada perubahan hidup setelah kita berjumpa Tuhan?” Menjawab pertanyaan reflektif tersebut ada hal yang menandai wujud perjumpaan kita dengan Tuhan Yesus, yaitu kita merasakan damai sejahtera Tuhan atas hidup kita dan kita mengalami perubahan hidup.
Ya kita merasakan damai sejahtera, perasaan tenang, sukacita dan bahagia sebab ada Tuhan yang senantiasa menyertai dan menolong kita. Kebangkitan Tuhan Yesus dan perjumpaan dengan Tuhan Yesus semakin menguatkan iman kita untuk sungguh-sungguh percaya dan mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan. Tidak ada sedikitpun keraguan di hati kita, melainkan kayakinan penuh akan penyertaan dan pertolongan Tuhan di sepanjang hidup kita. Bahkan sekalipun kita harus mengalami pergumulan dan penderitaan hidup dengan berbagai-bagai keadaan dan situasi hidup, kita tetap mampu tenang, sukacita, dan percaya Tuhan tidak meninggalkan kita. Damai sejahtera yang Tuhan berikan selalu ada dalam hidup kita, karena kita percaya Tuhan menjadi sandaran hidup kita.
Kedua, ada perubahan hidup yang kita alami dalam perjumpaan kita dengan Tuhan Yesus. Tomas yang semula tidak percaya menjadi percaya. Para murid yang semula takut menjadi pribadi-pribadi yang berani menyaksikan dan mewartakan Tuhan Yesus sampai akhir hidup mereka. Petrus yang semula menyangkal Tuhan Yesus, bertobat menjadi Petrus yang setia melayani Tuhan. Maka kita pun yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus juga mengalami perubahan hidup. Kita yang kaku menjadi lemah lembut. Kita yang minder atau pemalu menjadi berani untuk tampil melayani. Kita yang sombong diubahkan Tuhan menjadi pribadi yang rendah hati. Semua itu terjadi karena kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus.
Tuhan melalui Roh Kudus-Nya selalu menyertai, memimpin, dan menolong hidup kita. Roh Kuduslah yang selalu hadir dalam setiap langkah-langkah hidup kita. Maka ijinkan Roh Kudus Tuhan mengubahkan diri kita menjadi pribadi yang berkenan dihadapan-Nya. Amin. [AR].
Pujian: KJ. 191 : 1, 2 Hari Minggu, Hari Kebangkitan
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Punapa panjenengan nate ngawontenaken acara reuni brayat, menawi dipun wontenaken saben taunipun? Kados pundi raos manah panjenengan? Tamtunipun kita rumaos seneng, sukabingah awit kita saged pinanggih malih kaliyan sanak sederek kita ingkang tebih, ingkang sampun dangu boten nate kepanggih. Raos kangen kita saged kaobati. Selajengipun ing pepanggihan punika kita saged atur cariyos bab kawontenan brayat setunggal lan sanesipun. Wonten cariyos ngengeti mangsa kepengker ingkang kacariyosaken malih. Wonten cariyos ingkang bingahaken, nanging ugi wonten cariyos ingkang nyedihaken, sedaya cariyos punika sami jangkepi.
Wonten prekawis ingkang wigati salebeting acara reuni brayat ageng punika, inggih punika dipun wontenaken pangabekti dan dedonga sesarengan, sanesipun sami atur carios bab gesang. Tegesipun ing salebeting acara reuni brayat punika, Gusti Allah rawuh ing satengah-tengahing brayat punika lumantar Sabda-Nipun. Mekaten ugi saben anggota brayat punika saged ngraosaken sih rahmatipun Gusti Allah ingkang tansah nunggil gesangipun. Sedaya brayat sami pitados bilih Gusti Allah tansah mberkahi, nganthi, lan nuntun lampah gesangipun brayat punika. Pungkasanipun saben brayat tansah atur pamuji sokur dhumateng Gusti Allah awit saking berkah-berkah-Ipun tumrap brayat punika. Lajeng sami donga dinonga lan sami ngiyataken antawis brayat setunggal lan sanesipun. Saestu endahipun pepanggihan brayat ingkang kados mekaten punika, ing pundi Gusti Yesus rawuh ing satengah-tengahing brayat punika.
Isi
Cariyos bab pepanggihan ugi kacariyosaken ing waosan kita sapunika. Injil Yokanan 20:19-29 nyariosaken pepanggihanipun Gusti Yesus kaliyan para sakabat-Ipun. Gusti Yesus sampun wungu lan kersa ngatingal dhateng para sakabat-Ipun, ing rikala semanten sami makempal ing papan ingkang sami katutup lan kakunci. Para sakabat taksih ajrih dhateng para pimpinan agami Yahudi, ajrih bilih badhe dipun tangkep lan dipun ukum kados Gusti Yesus. Ing swasana ingkang mekaten punika Gusti Yesus rawuh lan atur salam, “Tentrem rahayu anaa ing kowe kabeh!” Selajengipun Gusti Yesus ngetingalaken bekas tatunipun ing asta lan lambung-Ipun. Boten namung punika kemawon, Gusti Yesus ngutus para sakabat kangge nglajengaken tugas-Ipun ing donya, kangge martosaken Kratoning Allah. Gusti Yesus mangertos bilih para sakabat punika kathah kakirangan lan karingkihan, karana punika Gusti Yesus maringi Roh Suci dhateng para sakabat punika. Sang Roh Suci punika ingkang badhe mimpin lan paring kasagedan dhateng para sakabat minangka saksi Kristus ing donya.
Ing pepanggihan selajengipun, Gusti Yesus ngatingal dhateng Tomas ingkang boten sesarengan kaliyan para sakabat sakderengipun. Dhateng Tomas, Gusti Yesus ngetingalaken tatu ing asta lan lambung-Ipun lajeng ngaturi Tomas kangge nyucukaken drijinipun ing asta lan lambungipun Gusti Yesus. Selajengipun Tomas pitados dhumateng Gusti Yesus. Saking prekawis Tomas punika Gusti Yesus paring piwucal dhateng para sakabat bab iman. Gusti Yesus ngersaaken para sakabat, gesang kanthi iman, sanadyan boten ningali sacara raga nanging pitados. Iman ingkang tumuju Gusti Yesus punika, ingkang dados daya kangge para sakabat setya nindakaken tugas timbalanipun dados saksinipun Sang Kristus.
Wungunipun Gusti Yesus punika dadosaken para sakabat ngalami owahing gesang. Para sakabat ingkang waunipun sami ajrih, sapunika dados para sakabat ingkang wantun dados saksinipun Sang Kristus. Waosan sepisan nyariosaken Petrus ingkang khotbah martosaken kabar kabingahan bab Gusti Yesus. Petrus ingkang waunipun selak dhateng Gusti Yesus, sapunika owah dados Petrus ingkang setya dhateng Gusti Yesus ngantos dumugi pungkasan gesangipun. Pepanggihan Petrus kaliyan Gusti Yesus ing pinggir seganten Tiberias (Yok. 21) ngowahi gesangipun. Mekaten ugi nalika Sang Roh Suci nunggil gesangipun, Petrus wantun martosaken Injil Kristus.
Ingkang dados pokok khotbahipun Petrus dhateng para tiyang Yahudi punika wonten kalih prekawis, inggih punika bab dosa lan Gusti Yesus Kristus. Petrus jelasaken bilih para tiyang Yahudi punika sampun kathah tumindak dosa karana sampun nyalibaken lan mejahi Gusti Yesus. Gusti Yesus ingkang dipun salibaken punika, sejatosipun Panjenenganipun ingkang genepi janji-Nipun Gusti Allah bilih Mesiah punika tedhak turunipun Dawud (Ay. 30-31). Pangandikanipun Petrus punika dadosaken para tiyang Yahudi punika rumaos lepat tumrap punapa ingkang sampun dipun tindakaken dhumateng Gusti Yesus. Petrus boten pengin para tiyang Yahudi punika sami kadosan, mila piyambakipun nglajengaken khotbahipun kanthi pawartos kabar kabingahan bab Gusti Yesus. Bilih tiyang-tiyang punika purun mratobat lan pitados dhumateng Gusti Yesus, para tiyang Yahudi punika badhe kawilujengaken. (Ay. 21).
Petrus lumantar seratipun dhateng pasamuwan ing Asia Alit ugi ngaturaken pawartos bab Gusti Yesus. Ing waosan kaping kalih, Petrus nyebataken lumantar panebusan lan pangorbananipun Gusti Yesus, para umat kagungan pangajeng-ajeng badhe nampi kamulyan langgeng di surga. Petrus ngiyataken para umat supados tansah sukabingah sanajan nandhang kasangsaran ing donya punika. Awit kasangsaran ingkang katampi punika kagungan tujuan kangge nguji imanipun umat. Lumantar kasangsaran punika, iman para umat sansaya murni. Iman ingkang kauji punika kados emas ingkang kaobong geni, sedaya kotoranipun kaobong ngantos telas. Mekatena ugi awit saking iman ingkang tanggon punika, para umat layak nampi pamuji, kamulyan lan kaurmatan saking Gusti Allah.
Panutup
Salebeting gesang kita sadinten-dinten, tamtunipun kita tansah pinanggih tiyang sanes, brayat kita, kanca makarya, kanca peladosan, lsp. Ingkang dados renungan kangge kita lumebet ing Minggu Paskah 2 punika, “Punapa kita sampun pinanggih Gusti Yesus ingkang gesang kados Tomas lan para sakabat? Bilih kita matur, ”Inggih, kula sampun pinanggih Gusti Yesus”. Lajeng ewah-ewahan punapa ing gesang kita sak sampunipun pinanggih Gusti Yesus?” Mangsuli pitakenan reflektif punika wonten pananda ingkang saged dados tetenger kangge kita, inggih punika kita saged ngraosaken tentrem rahayu saking Gusti Yesus lan kita owah ing kasaenan gesang.
Raos tentrem rahayu punika, raos tenang, lan bingah awit Gusti Yesus tansah nganti lan nulungi kita. Wungunipun Gusti Yesus lan pepanggihan kaliyan Gusti Yesus punika sansaya ngiyataken iman kapitadosan kita lan selajengipun kita pasrah sawetah ing astanipun Gusti. Kita boten badhe mangu-mangu nanging mantep pitados dhateng Gusti Yesus sauruting gesang kita. Mekatena ugi sanajan kita kedah ngadepi karibetan lan kasangsaran ing gesang, kita tansah pitados bilih Gusti Allah boten badhe nilar kita. Gusti Allah tansah maringi tentrem rahayu dhateng kita, mila kita tansah pitados Gusti Allah punika tuking pangayoman gesang kita.
Kaping kalih, owah-owahaning gesang ingkang alami punika awit karana kita sampun pinanggih Gusti Yesus. Tomas ingkang waunipun boten pitados sapunika pitados. Para sakabat ingkang waunipun sami ajrih sapunika wantun dados saksinipun Gusti ingkang purun martosaken Gusti Yesus ngantos pungkasaning gesangipun. Petrus ingkang waunipun selak dhateng Gusti Yesus purun mratobat lan setya ngladosi Gusti. Mila kita ugi badhe owah nalika pinanggih kaliyan Gusti Yesus. Kita ingkang waunipun tiyang kaku sapunika dados tiyang ingkang lembut. Kita ingkang waunipun minder/isinan sapunika dados tiyang ingkang wantun/percaya diri. Kita ugi wantun ngladosi pasamuwan. Kita ingkang waunipun tiyang ingkang gumunggung, sapunika dipun owahi Gusti dados tiyang ingkang andhap asor. Sedaya punika saged kedadosan karana kita pinanggih kaliyan Gusti Yesus.
Gusti Allah lumantar Sang Roh Sucinipun tansah nganthi, mimpin, lan nulungi kita. Sang Roh Suci tansah nunggil ing salampahing gesang kita. Pramila mangga kita tansah ngaturi Sang Roh Suci nuntun lan ngowahi gesang kita dados tiyang ingkang sembada wonten ngarsanipun Gusti. Amin. [AR].
Pamuji: KPJ. 258 : 1, 2 Gusti Yesus Wus Wungu