Psikologi Kerumunan Pancaran Air Hidup 2 April 2023

2 April 2023

Bacaan: Matius 21 : 1 – 11 | Pujian: KJ. 155 : 1, 2
Nats:Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan.” (Ayat 8)

Dalam dunia psikologi terdapat sebuah bidang yang secara khusus memfokuskan pandangan pada dimensi psikologi seseorang ketika berada dalam kelompok besar atau kerumunan. Disebutkan bahwa ketika seseorang berada di tengah-tengah kerumunan, seseorang tersebut secara sadar atau tidak sadar akan meleburkan identitas individualnya menjadi identitas kelompok kerumunan itu. Dalam bahasa yang sederhana, ketika kita berada dalam sebuah kerumanan orang banyak, akan sangat sulit bagi kita untuk menunjukkan kesejatian diri kita. Kita pun tidak akan mampu mengontrol sikap dan respon kita terhadap suatu peristiwa di tengah-tengah kerumunan itu dengan dasar standar nilai-nilai yang selama ini kita pegang. Inilah yang menjadi penjelasan, mengapa sampai ada orang yang tadinya terlihat sangat pendiam, santun, dan lembut dalam kesehariannya dapat seketika berubah menjadi beringas, sadis, dan kasar ketika berada di tengah kerumunan. Seseorang dapat berubah menjadi pribadi yang lain karena pengaruh kerumunan.

Dalam bacaan firman Tuhan hari ini, kita disuguhkan sebuah cerita tentang peristiwa Tuhan Yesus bersama para murid yang bersiap masuk ke kota Yerusalem. Iring-iringan Tuhan Yesus yang sedang menaiki keledai bersama para murid mendapatkan sambutan meriah dari orang banyak. Orang banyak yang sangat besar jumlahnya itu menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan. Orang banyak itu berjalan di depan Yesus dan mengikuti-Nya dari belakang, sambil berseru, “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!” Namun sambutan meriah yang mereka lakukan itu sepertinya bukanlah sambutan yang lahir dari kesejatian diri mereka. Teriakan, “Hosana, hosana, hosana!”, seketika waktu berubah menjadi teriakan, “Salibkan Dia, salibkan Dia!” ketika mereka berada pada kerumunan dan pada situasi yang lain.

Di sinilah kita dapat melihat keberadaan diri kita dalam kaitannya mengikut Tuhan Yesus. Sudahkah kita mengikuti dan mengasihi-Nya berdasarkan kesungguhan dan kesejatian diri kita? Atau jangan-jangan kita tidak memiliki kontrol atas diri kita masing-masing, sehingga wujud kasih dan iman kita hanyalah bentuk psikologi kerumunan yang tidak kita sadari. Mari kita uji rasa cinta dan keputusan beriman kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Amin. [YEP].

“Burung Beo sangat mahir mengutarakan, ‘I Love You’, tanpa perlu memahami maknanya”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak