Kesadaran untuk Bertobat Khotbah Rabu Abu 22 Februari 2023

8 February 2023

Masa Pra Paskah | Rabu Abu
Stola Ungu

Bacaan 1: Yoel 2 : 1 – 2, 12 – 17
Bacaan 2: 2 Korintus 5 : 20b – 6 : 10
Bacaan 3: Matius 6 : 1 – 6, 16 – 21

Tema Liturgis: GKJW Meneladani Solidaritas Yesus Dalam Keseharian
Tema Khotbah: Kesadaran Untuk Bertobat

Penjelasan Teks Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yoel 2 : 1 – 2, 12 – 17
Tema “Hari Tuhan” atau hari dimana Tuhan akan menentang kejahatan di antara umat-Nya dan membawa keselamatan bagi umat-Nya sangat dominan dalam Kitab Yoel. Wabah Belalang (Pasal 1) yang dialami oleh bangsa Israel menjadi peringatan sebagai hukuman dari Tuhan atas dosa-dosa yang dilakukan oleh bangsa Israel. Kawanan Belalang yang menyerang juga memainkan peran simbolis kawanan pasukan musuh yang akan menyerang bangsa Israel sebagai hukuman dari Tuhan (Ay. 1-11). Tiupan sangkakala adalah pertanda akan bahaya yang sudah mendekat, memberitahukan hukuman akan segera menimpa, tanda bahwa umat harus segera berkumpul. Oleh sebab itu, Sang Nabi menyerukan agar umat segera bertobat. “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu …” (Ay. 13) adalah seruan Sang Nabi supaya pertobatan yang dilakukan bangsa Israel bukan merupakan sebuah kepura-puraan. Pertobatan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh agar bangsa Israel bisa keluar dari masalah, karena Tuhan Allah tidak tertarik dengan pertobatan yang pura-pura. Allah menghendaki adanya pertobatan yang sejati supaya bangsa Israel dengan sungguh-sungguh dari dalam hatinya bertekat meninggalkan dosa yang mereka perbuat. Berbalik kepada Allah dengan segenap hati perlu dilakukan, karena Allah penuh dengan belas kasih dan penyayang. Berjalan dengan Allah yang penuh kasih akan selalu ada pengharapan hari depan yang lebih baik.

2 Korintus 5 : 20b – 6 : 10
Injil adalah pemberitaan kabar gembira akan kasih Allah melalui Yesus Kristus yang mendamaikan orang berdosa, sehingga siapa saja orang yang mendengar berita ini, mengambil keputusan untuk bertobat kepada Kristus (Ay 20-21). Oleh karena itu, Paulus menasihati jemaat di Korintus supaya Injil yang mereka dengar tidak disia-siakan (Ay. 1), artinya jangan sampai Injil itu menjadi kosong dan tidak ada artinya apa-apa dalam hidup mereka, karena mereka tidak sungguh-sungguh hidup di dalam Kristus. Jangan sia-siakan kebaikan hati Tuhan yang sudah memberikan kasih karunia. Umat Tuhan harus terus memuliakan Tuhan dalam hidupnya. Karena hidup itu terbatas, maka orang percaya harus bisa menghargai waktu yang ada. Itu sebabnya “… waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu” (Ay. 2) artinya sekaranglah waktu yang tepat untuk menerima tawaran keselamatan Injil itu. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi dengan hari esok, tetapi yang jelas sekarang Tuhan masih memberikan kita waktu dan kesempatan untuk menerima tawaran keselamatan, maka manfaatkan kesempatan itu dengan cara tetap setia menjadi pelayan Allah. Paulus bersama dengan pekabar Injil lainnya ingin memberikan contoh keteladanan bagaimana menjadi pelayan Allah. Menjadi pelayan Allah harus menahan berbagai hal (Ay. 4-10), yaitu sabar dalam penderitaan, kesesakan, dan kesukaran dalam menanggung dera, berjaga-jaga dan berpuasa, dalam sukacita dan dukacita tetap setia menjadi pelayan Allah.

Matius 6 : 1 – 6, 16 – 21
Tuhan Yesus sedang mengkritik praktik kehidupan dari ahli Taurat dan orang Farisi tentang memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa. Tuhan Yesus mengkritik supaya dunia ini jangan dijadikan tempat pertunjukan untuk memamerkan perbuatan baik yang dilakukan hanya supaya dilihat orang lain (Ay. 1). Contoh pertama yang dikecam Yesus adalah tentang memamerkan pemberian sedekah. Kata yang diterjemahkan ‘orang munafik’ (Ay. 2) dalam bahasa Yunaninya adalah “Hupochritai” yang juga berarti aktor/pemain sandiwara. Jadi, orang yang memamerkan kebaikannya oleh Tuhan Yesus disebut sebagai aktor/pemain sandiwara. Kelihatannya mereka menolong orang, tetapi tujuan mereka supaya mereka dipuji orang lain. Kata-kata ‘Jangan diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu’ (Ay. 3) memiliki arti janganlah pamer ke orang lain, bahkan pamer kepada diri kita sendiri saja, jangan. Ini yang disimbolkan dengan tangan kiri dan kanan sebagai anggota tubuh kita sendiri, itu juga tidak diperbolehkan. Pamer terhadap diri sendiri bisa dilakukan dengan mengingat-ingat kebaikan yang pernah dilakukan lalu memuji diri sendiri. Bagian ini tidak bisa diartikan secara mutlak bahwa kebaikan kita tidak boleh dilihat oleh seorangpun, akan tetapi penekanan bagian ini adalah kita tidak boleh pamer dengan tujuan untuk dipuji orang lain. Jadi yang ditekankan bukan soal kerahasiaannya, tetapi soal motivasi yang ingin dipuji.

Praktik keagamaan yang kedua yang dikritik Yesus adalah hal berdoa. Tuhan Yesus mengkritik apa yang sering dilakukan oleh orang Farisi dan Ahli Taurat yang suka berdoa di tempat umum, seperti di rumah ibadah dan tikungan jalan dengan tujuan supaya mereka dilihat banyak orang (Ay. 5). Akan tetapi biarlah ketaatan kita berdoa hanya dilihat oleh Bapa saja. Jadi penekanan bagian ini juga berkaitan dengan jangan berdoa hanya untuk pamer. Bagian ini bukan berarti tentang dimana tempat kita boleh atau tidak boleh berdoa, juga tidak menekankan perahasiaan doa, tetapi menekankan bahwa kita tidak boleh memamerkan doa dengan tujuan supaya dipuji manusia.

Praktik keagamaan berikutnya yang juga dikritik oleh Yesus adalah tentang hal berpuasa. Puasa menjadi cara yang dilakukan oleh orang Yahudi supaya mendapatkan pujian. Mereka berpuasa dengan membuat mukanya muram, sehingga orang akan bertanya dan mereka bisa menjawab bahwa mereka sedang berpuasa dan berharap mendapatkan pujian, karena menjalankan kewajiban agama. Sekali lagi motivasi berpuasa mereka hanya untuk pamer dan mendapatkan pujian, inilah yang dikritik oleh Yesus. Jika seseorang suka memamerkan kesalehan dan kebaikannya bisa jadi dia akan mendapatkan pujian dari orang lain, akan tetapi mereka tidak berhak mendapatkan pujian dan berkat Allah.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Pertobatan yang sejati harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dari dalam hati dan memiliki tekad meninggalkan dosa yang diperbuat. Hal ini dilakukan bukan karena takut mendapat hukuman dari Allah, melainkan karena Allah penuh dengan belas kasih dan penyayang. Itu sebabnya pertobatan yang dilakukan bukanlah perbuatan baik yang penuh kepalsuan karena ingin mendapatkan pujian dari manusia, melainkan karena hidup yang terbatas ini tidak boleh disia-siakan.

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Kenapa ada orang yang sering melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang? Ada siswa yang berkali-kali dihukum oleh gurunya, karena tidak mengerjakan PR atau datang terlambat. Ada anak yang tidak bisa menghentikan kebiasaan berbohong kepada orang tuanya, padahal dia sudah sering dimarahi orang tuanya. Ada orang yang suka berbohong kepada pasangannya, padahal dia sudah sering ketahuan berbohong dan menyebabkan pertengkaran. Atau juga ada orang yang sering melanggar rambu-rambu lalu lintas, padahal dia sudah sering ditilang. Banyak orang ingin berhenti melakukan kesalahan, tetapi dia tidak tahu bagaimana cara menghentikannya. Hal ini bisa terjadi karena banyak orang melakukan hal yang benar, tetapi tidak diikuti dengan kesadaran. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata “kesadaran” adalah hal yang dirasakan atau dialami oleh seseorang. Arti lainnya dari kesadaran adalah keinsafan. Kesadaran adalah suatu kondisi individu yang tahu terhadap apa yang dia lakukan atau perbuat, sehingga memberikan respek atau respon terhadap rangsangan. Banyak orang bertobat dan melakukan hal yang benar, itu karena mereka takut dihukum, takut tidak disenangi, atau bisa juga takut kesenangannya menjadi terganggu. Apapun yang dilakukan hanya karena rasa takut, tanpa ada keinsyafan atau kesadaran.

Isi
Bangsa Israel sering mendapat peringatan hukuman dari Tuhan. Kawanan Belalang yang menyerang juga merupakan simbol kawanan tentara musuh yang akan menyerang dan menghancurkan Israel sebagai hukuman dari Tuhan (Yoel 2:1-11). Tiupan sangkakala adalah pertanda akan bahaya yang sudah mendekat, memberitahukan hukuman akan segera menimpa, tanda bahwa umat harus segera berkumpul. Oleh sebab itu, Nabi Yoel menyerukan agar umat Israel segera bertobat. Kata “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu” (Yoel 2:13) adalah seruan Yoel supaya pertobatan yang dilakukan umat Israel bukan merupakan pertobatan yang pura-pura agar bisa keluar dari masalah. Allah mengharapkan pertobatan yang sejati, supaya umat Israel dengan sungguh-sungguh dari dalam hatinya bertekad meninggalkan dosa yang mereka perbuat. Berbalik kepada Allah dengan segenap hati, dengan penuh kesadaran bahwa Allah penuh dengan belas kasih dan penyayang. Hukuman Allah yang diberitakan kepada umat Israel hendak menyampaikan bahwa Allah penuh keadilan dan kekudusan. Karena itu, hendaknya umat Israel melakukan pertobatan, bukan karena takut mendapatkan hukuman dari Tuhan, melainkan pertobatan yang dilandaskan pada kesadaran bahwa Allah penuh kasih dan pengampunan. Selama kita berbuat benar sesuai dengan firman-Nya, tidak ada alasan bagi kita untuk takut dengan hukuman-Nya.

Pertobatan dari hati seperti ini bukanlah pertobatan yang penuh kepalsuan. Pertobatan jika tidak berasal dari pancaran hati yang paling dalam, maka akan cenderung memamerkan perbuatan baik dan kesalehannya kepada banyak orang supaya mendapatkan pujian dari orang lain. Perilaku orang-orang yang suka pamer dan haus pujian inilah yang dikritik oleh Tuhan Yesus. Janganlah dunia ini dijadikan tempat pertunjukan untuk memamerkan perbuatan baik yang dilakukan supaya dilihat orang lain. Jika ingin memberi sedekah ‘Jangan diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu’ (Mat. 6:3). Artinya bahwa janganlah pamer ke orang lain, bahkan pamer ke diri kita sendiri saja (yang disimbolkan dengan tangan kiri dan kanan sebagai anggota tubuh kita sendiri) itu juga tidak diperbolehkan. Pamer terhadap diri sendiri bisa dilakukan dengan mengingat-ingat kebaikan yang pernah dilakukan lalu memuji diri sendiri. Bagian ini tidak bisa juga diartikan secara mutlak bahwa kebaikan kita tidak boleh dilihat oleh seorangpun, misalnya kalau kita mau memberi sedekah harus tengah malam supaya tidak dilihat orang, akan tetapi penekanan bagian ini adalah kita tidak boleh pamer dengan tujuan untuk dipuji orang lain. Jadi yang ditekankan bukan soal kerahasiaannya, melainkan soal motivasi yang ingin dipuji. Karena terkadang perbuatan baik juga perlu untuk dilihat orang lain supaya menjadi teladan.

Tuhan Yesus juga mengingatkan jangan meniru orang Farisi dan Ahli Taurat yang suka berdoa di tempat umum, seperti di rumah ibadah dan tikungan jalan dengan tujuan supaya mereka dilihat banyak orang (Mat. 6:5). Akan tetapi biarlah ketaatan kita berdoa hanya dilihat oleh Bapa saja. Jadi penekanan bagian ini berkaitan dengan jangan berdoa hanya untuk dipamer-pamerkan. Hal ini bukan berarti tentang dimana tempat kita boleh atau tidak boleh berdoa, juga tidak menekankan perahasiaan doa, seperti kalau berdoa harus tidak boleh ada orang melihat atau sepi, tetapi menekankan bahwa kita tidak boleh memamerkan doa dengan tujuan supaya dipuji manusia. Begitu juga tentang hal berpuasa. Puasa adalah cara yang dilakukan oleh orang Yahudi supaya mereka mendapatkan pujian. Mereka berpuasa dengan membuat muka mereka muram, sehingga orang akan bertanya dan mereka bisa menjawab bahwa mereka sedang berpuasa dan berharap mendapatkan pujian karena menjalankan kewajiban agama.

Kebutuhan untuk memperoleh pujian dan penghargaan sering mendorong seseorang untuk melakukan banyak cara, baik dalam hal penampilan, apa yang dipakai, tingkah laku, bahkan juga dalam ritual keagamaan. Apapun akan dilakukan meskipun nampaknya itu perbuatan baik dan menyenangkan hati banyak orang. Akan tetapi perbuatan itu tidak didasarkan pada kesadaran sikap yang penuh kasih dan murah hati, melainkan karena perasaan takut. Takut tidak mendapatkan teman, takut tidak mendapatkan dukungan, takut tidak diperhatikan, bahkan takut mendapatkan hukuman dari Tuhan. Orang seperti ini tidak hanya ingin mengelabui sesamanya akan tetapi juga ingin mengelabui Allah, seakan-akan Allah tidak bisa mengetahui isi hati manusia yang terdalam. Padahal Allah yang penuh kasih itu adalah Allah yang Mahatahu.

Penutup
Mengawali Masa Pra-Praskah, Ibadah Rabu Abu saat ini dapat menjadi awal bagi kita untuk merasakan kasih Allah yang mendamaikan hati. Seruan pertobatan inilah yang juga disampaikan Paulus kepada jemaat di Korintus supaya Injil yang didengar tidak disia-siakan dengan cara terus memuliakan Tuhan dalam kehidupan. Karena hidup itu terbatas, maka orang percaya harus bisa menghargai waktu yang ada. Itu sebabnya “waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu” (2 Kor. 6:2). Artinya sekaranglah waktu yang tepat bagi kita untuk menerima tawaran keselamatan Injil itu. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi dengan hari esok, tetapi yang jelas Tuhan masih memberikan kita waktu dan kesempatan untuk menerima tawaran keselamatan, maka manfaatkan kesempatan itu. Yakinlah bahwa berjalan dengan Allah yang penuh kasih akan selalu ada pengharapan hari depan yang lebih baik. Mari kita bertobat bukan karena takut mendapatkan hukuman dari Allah, melainkan karena kita memiliki Allah yang penuh kasih di dalam Yesus Kristus yang terus berkarya dalam hidup kita. Amin. [M@ul].

 

Pujian: KJ. 33 : 1, 2 Suara-Mu Kudengar

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Kenging punapa kathah tiyang asring nindhakaken kalepatan ingkang sami? Wonten siswa ingkang bola-bali nampi paukuman saking gurunipun awit asring bolos utawi boten nggarap PR. Wonten anak ingkang remen ngapusi tiyang sepuhipun kamangka asring konangan lan dipun ukum. Wonten tiyang ingkang remen ngapusi semahipun kamangka asring konangan lan njalari tukaran. Wonten ugi tiyang ingkang asring nerak rambu-rambu lalu lintas kamangka sampun asring dipun tilang. Kathah tiyang kepingin mandheg nindhakaken kalepatanipun nanging asring boten mangertosi kanthi cara punapa? Prekawis punika saged kalampahan awit asring tiyang nindhakaken bab ingkang leres nanging boten dipun sarengi kanthi raos “kesadaran”. Miturut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tembung “kesadaran” tegesipun prekawis ingkang dipun raosaken lan dipun alami dening tiyang, kesadaran ugi ateges “keinsafan”. Kesadaran inggih punika kahanan nalika tiyang sumerap punapa ingkang dipun lampahi lan dipun tindakaken, lajeng paring wangsulan dhateng punapa ingkang dipun raosaken. Kathah tiyang tumindak sae lan mratobat awit piyambakipun kagungan raos ajrih. Ajrih dipun ukum, ajrih boten dipun remeni tiyang malih, utawi ajrih menawi karemenanipun kaganggu. Dados punapa ingkang dipun lampahi punika awit karana raos ajrih, boten wonten raos insyaf utawi “sadar”.

Isi
Bangsa Israel asring dipun engetaken bab paukuman saking Gusti. Hama Walang ingkang ngrusak tanduran punika dados pralambang bala tentara mungsuh ingkang badhe numpes bangsa Israel minangka wujud paukuman saking Gusti (Yoel 2:1-11). Suwanten kalasangka dados tanda bebaya ingkang nyelak, paring pirsa bilih paukuman badhe dipun tampi. Pratandha bilih umat kedah enggal mratobat. “Atimu suweken, aja sandhanganmu.”(Yoel 2:13). Nabi Yoel paring pitedah pamratobat ingkang dipun lampahi bangsa Israel sampun ngantos namung apus-apus supados saged luwar saking bebendhunipun Gusti Allah. Gusti Allah ngersakaken pamratobat ingkang sejati, ing pundi bangsa Israel kanthi saestu saking lebeting manah kagungan tekad nilar dosanipun. Wangsul dhumateng Gusti kanthi “kesadaran” bilih Gusti Allah punika Gusti ingkang kebak welas asih. Bebendhunipun Gusti dipun wartosaken dhateng umat supados umat tansah emut bilih Gusti Allah punika Maha Adil lan Maha Suci. Nanging sampun ngantos umat Israel mratobat awit ajrih nampi paukuman saking Gusti, nanging pamratobatipun kedah dipun landesi kanthi pamanggih bilih Gusti Allah punika Maha Asih lan kebak pangapura. Nalika kita tumindhak ingkang leres lan condhong kaliyan pangandikanipun Gusti, boten wonten alasan kangge kita ajrih dhumateng bebendhunipun Gusti Allah.
Mratobat ingkang medal saking telenging manah sanes mratobat ingkang apus-apus. Mratobat ingkang boten medal saking manah punika namung pamer tumindak sae lan kamursidan dhumateng tiyang kathah supados angsal pangalembana. Tiyang-tiyang ingkang remen pamer kasaenan karohanen punika ingkang boten dipun remeni Gusti Yesus. Kados-kados jagad punika namung panggung tontonan tumindak sae kangge angsal pangalembana. Menawi tiyang pingin paring dedana “tanganmu kiwa aja nganti sumurup apa kang ditindakake tanganmu tengen” (Mat. 6:3). Tegesipun boten namung dhateng tiyang sanes, dhateng dhirinipun piyambak tiyang boten angsal pamer (tangan tengen lan kiwa punika perangan badan kita piyambak). Pamer dhateng dirinipun piyambak saged kalampahan kanthi asring ngemut-emut kasaenan ingkang sampun dipun tindakaken lan ngalembana dirinipun piyambak. Bab punika sanes ateges kasaenan boten angsal dipun ketingalaken dhateng tiyang, kados paring dedana kedah tengah wengi supados boten wonten tiyang ingkang sumerap, nanging bab punika prekawis boten angsal pamer. Dados ingkang dipun emutaken sanes bab kerahasiaan, nanging prekawis tujuan kepingin nampi pangalembana. Awit kadang tumindak sae ugi perlu dipun pirsani tiyang sanes supados saged dados tuladha ingkang sae.

Gusti Yesus ngemutaken sampun ngantos kita kados tiyang Farisi lan Ahli Taurat ingkang remen ndedonga wonten pundi-pundi papan, kados papan pangibadah lan peken kanthi tujuan dipun pirsani tiyang kathah (Mat. 6:5). Nanging menawi kita seken ndedonga punika namung Gusti Allah ingkang mirsani. Dados prekawis punika sampun ngantos kita seken ndedonga namung kangge pamer kemawon. Bab punika sanes prekawis wonten ing pundi papan anggen kita angsal ndedonga lan boten, ugi sanes prekawis ndedonga kedah rahasia lan boten pareng wonten tiyang ingkang nyumerepi utawi kedah sepi. Nanging sampun ngantos kita seken ndedonga supados nampi pangalembana saking tiyang sanes. Mekaten ugi bab pasa. Pasa punika cara ingkang asring dipun lampahi dening tiyang Yahudi supados nampi pangalembana saking tiyang sanes. Awit nalika piyambakipun pasa, kanthi cara damel pasuryanipun ketingal lesu. Kanthi mekaten tiyang sanes badhe tanglet lan piyambakipun saged paring wangsulan bilih piyambaipun pasa lan arep-arep nampi pangalembana awit seken nidhakaken kewajiban agami.

Kabetahan kangge nampi pangalembana lan dipun ajeni asring ndadosaken tiyang nindakaken maneka warni cara. Sae wonten ing bab punapa ingkang dipun ketingalaken dhateng tiyang, bab tumindak gesang, ugi bab ritual keagamaan. Emanipun tumindak sae ingkang dipun ketingalaken wau sanes kanthi “kesadaran” raos katresnan, nanging awit dipun kuwaosi raos ajrih. Ajrih boten kagungan kanca malih, ajrih boten angsal dukungan, ajrih boten dipun gatosaken, lan ajrih nampi bebendhu saking Gusti Allah. Tiyang ingkang kados mekaten boten namung ngapusi sesaminipun, nanging ugi ngapusi Gusti Allah, kados-kados Gusti Allah boten badhe pirsa isining manah manungsa. Kamangka Gusti Allah ingkang Maha Asih punika ugi Gusti Allah ingkang Maha Pirsa.

Panutup
Miwiti Mangsa Pra Paskah, pangibadah Rabu Abu sak mangke saged dados wiwitan kangge kita saestu ngraosaken katresnanipun Gusti ingkang nentremaken manah. Timbalan pamratobat saking Paulus dhumateng pasamuwan ing Korinta supados Injil ingkang sampun dipun pirengaken sampun ngantos muspra kanthi cara tansah ngluhuraken Gusti wonten ing pigesangan. Awit gesang punika sarwa winates, mila tiyang pitados kedah saged ngajeni wekdal ingkang taksih wonten. Pramila “iya wektu iki wektu kang ngremenake iku, iya dina iki dinane karahayon iku” (2 Kor. 6:2), tegesipun sak mangke wekdal ingkang sae kangge kita nampi kawilujengan saking Injil punika. Kita boten mangertosi punapa ingkang badhe kelampahan ing tembe, nanging ingkang baku sak mangke Gusti Allah taksih maringi kita wekdal kangge mratobat lan nampi kawilujengan. Kita kedah pitados bilih lumampah sesarengan kaliyan Gusti ingkang kebak katresnan, tamtu tansah wonten pangajeng-ajeng kawontenan ingkang langkung sae ing tembe. Sumangga kita mratobat, sanes awit kita ajrih dhumateng bebendhunipun Gusti, nanging awit kita kagungan Gusti Yesus Kristus ingkang kebak katresnan lan makarya wonten ing gesang kita. Amin. [M@ul].

 

Pamuji: KPJ. 52 : 1, 2 Gusti Sestu Kula Nalangsa

Renungan Harian

Renungan Harian Anak