Dipanggil untuk Diutus Pancaran Air Hidup 22 Januari 2023

22 January 2023

Bacaan: Matius 4 : 12 – 22 | Pujian: KJ. 357
Nats:Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.” (Ayat 20)

Badu adalah generasi masa kini yang gemar bermain gawai. Ibunya kesal, karena Badu sering tidak segera menyahut saat dipanggil atau diminta mengerjakan sesuatu. Karena terlalu asyik dengan gawainya, Badu seringkali mengesampingkan tugas-tugas penting. Badu adalah gambaran kehidupan umat Tuhan yang seringkali terlalu asyik dengan dunianya, sehingga tidak peka bahkan cenderung mengabaikan panggilan Tuhan.

Penahanan Yohanes oleh Herodes Antipas dan bahaya yang mengancam Yesus tidak menghentikan seruan pertobatan yang harus dinyatakan. Tugas mendesak ini disertai pemanggilan Yesus terhadap para murid-Nya: Simon Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes. Mereka bergegas meninggalkan pekerjaannya untuk mengikut Yesus, meski belum memahami arti panggilan itu. Sebagai nelayan, kerelaan mengikut Yesus tentu disertai pengorbanan mereka untuk meninggalkan keluarga, pekerjaan yang menguntungkan, dan kenyamanan hidup mereka. Panggilan menjadi penjala manusia mengisyaratkan tugas besar untuk membawa setiap orang datang kepada Kristus, bertobat, dan hidup dalam pimpinan-Nya.

Tidak semua orang sigap menjawab panggilan Tuhan. Berbagai alasan untuk menunda bahkan menolaknya, misalnya godaan materi, kesibukan, keluarga, zona nyaman, dsb. Panggilan Tuhan seringkali berhadapan dengan ketidaksiapan dan keengganan untuk melepaskan kelekatan dengan dunia. Padahal, kita diperhadapkan pada tugas mendesak untuk mewartakan pertobatan agar segenap ciptaan menerima karunia keselamatan dan hidup dalam terang. Namun beranikah kita melepaskan kelekatan-kelekatan itu demi menjawab panggilan-Nya? Karena komitmen untuk mengikut Kristus dan berkarya bersama-Nya tentu mengandung resiko, dibarengi kerelaan berkorban dalam banyak hal. Sebelum para murid Tuhan menjadi rasul-rasul yang hebat, mereka adalah orang-orang sederhana yang menyediakan dirinya ketika dipanggil dan diutus. Kemudian mereka disiapkan, diperlengkapi, dan diurapi untuk menjalani panggilan perutusannya masing-masing dengan keteguhan hati. Tidak perlu sempurna untuk menjadi utusan Tuhan. Jangan sampai menunda apalagi mengabaikan panggilan-Nya karena berbagai alasan. Sebab kesediaan untuk segera menjawab panggilan Tuhan menjadi langkah awal terwujudnya karya Allah di dunia. Bagian kita adalah menyediakan hati dan hidup untuk dipanggil dan diutus-Nya, seraya percaya, Tuhan pasti menyertai kita dalam setiap tantangan. Amin. [wdp].

Terwujudnya karya Allah di dunia dimulai dari kesediaan memperhatikan panggilan Tuhan dan kesetiaan melakukan perutusannya dengan bertanggung jawab.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak