Minggu Biasa | Penutupan Bulan Penciptaan
Stola Hijau
Bacaan 1: Mikha 6 : 1 – 8
Bacaan 2: 1 Korintus 1 : 18 – 31
Bacaan 3: Matius 5 : 1 – 12
Tema Liturgis: GKJW Terlibat Mewujudkan Keadilan Ciptaan
Tema Khotbah: Alam Diciptakan Supaya Ada Keadilan Dan Keseimbangan
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Mikha 6 : 1 – 8
Digambarkan bahwa bukit-bukit, gunung-gunung, dan dasar-dasar bumi bukanlah ciptaan yang mati. Mereka hidup dan bisa menjadi saksi antara Tuhan Allah dan manusia. Tuhan menantang umat-Nya untuk membantah Dia dengan segala karya, kehendak, dan kasih-Nya. Tuhan menantang mereka dengan memanggil bukit-bukit, gunung-gunung, dan dasar-dasar bumi untuk menjadi saksi perbantahan mereka. Alam ciptaan Tuhan itu diyakini dapat menilai kebenaran kasih, karya, dan kehendak Tuhan. Dan menilai ketidakbenaran umat-Nya. Alam ciptaan Tuhan itu diyakini dapat mendengarkan rasa kesal Tuhan terhadap umat-Nya.
1 Korintus 1 : 18 – 31
Dalam perikop ini Rasul Paulus memberitakan tentang Yesus yang disalibkan dan murid-murid-Nya yang dipakai-Nya untuk memberitakan Injil. Penyaliban Yesus adalah kebodohan bagi orang Yunani yang suka mencari hikmat atau kepandaian. Penyaliban Yesus adalah suatu batu sandungan, suatu tanda yang konyol bagi orang Yahudi untuk mengakui Yesus sebagai Mesias. Namun suatu kebodohan dan yang konyol dipakai oleh Allah menjadi hikmat bagi dunia. Para murid Yesus yang berasal dari kalangan tidak berpendidikan, bisa dipandang rendah dan tak berarti, dipakai oleh Allah untuk memberitakan hikmat ilahi di dalam Yesus Kristus. Sehingga, yang bodoh, konyol, rendah dan dipandang tak berarti, dipakai oleh Allah menaklukkan hikmat duniawi.
Matius 5 : 1 – 12
Yesus melihat orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya. Ada dua kemungkinan latar belakang kedatangan mereka kepada Yesus. Pertama, mungkin mereka datang dengan kemauan sendiri, karena terpesona mendengar atau melihat sendiri semua yang telah dilakukan dan dikatakan Yesus. Kedua, mereka mendapat undangan atau membaca pengumuman yang dibuat oleh murid-murid Yesus untuk mendengarkan khotbah Yesus, guru mereka yang luar biasa itu, tentu seijin atau bahkan atas perintah Yesus sendiri. Mereka diundang atau membaca pengumuman untuk mendengarkan hikmat ilahi yang diajarkan-Nya dan untuk mendapatkan pertolongan atau mujizat-Nya.
Yesus sengaja naik ke atas bukit untuk memberitakan kerajaan Allah kepada orang banyak itu. Bukit yang lapang adalah tempat yang bagus untuk berbicara kepada orang banyak. Mestinya Yesus berada di puncak bukit, walaupun mungkin kadang-kadang turun ke tengah-tengah kerumunan orang banyak itu. Bukit juga menjadi tempat yang baik bagi orang banyak untuk mendengarkan suara orang yang berbicara dari puncaknya. Dari puncak bukit itu, Yesus memberitakan dan mengajarkan tentang kerajaan Allah bagi orang-orang yang miskin, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, membawa damai, dianiaya karena kebenaran, dianiaya dan dicela karena Yesus.
Benang Merah Tiga Bacaan
Manusia suka memandang semua pihak yang rendah dan tak berpengertian seperti alam dan orang-orang yang berpendidikan rendah adalah pihak yang tak berarti. Namun ketiga bacaan kita di atas menunjukkan bahwa yang dipandang tak berarti itu menjadi hikmat ilahi.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Tidak sedikit orang yang berbuat sewenang-wenang terhadap alam. Misalnya, rakus menguasai tanah dengan cara yang tidak sah, sehingga akhirnya ketika meninggal dan dikuburkan “ditolak” oleh tanah. Ada yang jenazahnya ketika hendak dimasukkan ke liang lahat, tiba-tiba dasar liang lahat itu naik, ada yang sisi liang lahatnya tiba-tiba menyempit, sehingga jenazahnya tidak bisa dimasukkan ke dalamnya. Ada orang-orang yang membabat pohon-pohon yang bukan haknya tanpa ijin, alias mencuri pohon di hutan, sehingga rumah dan harta bendanya hanyut dibawa banjir bandang. Hidupnya jadi mengenaskan. Tidak sedikit sikap dan perbuatan manusia yang memandang remeh alam ciptaan Tuhan. Mereka memandang dan memperlakukan alam hanya untuk kepuasan nafsu duniawinya. Alam dipandang tidak lebih dari sekedar harta benda untuk kesenangan dan kepuasan duniawinya.
Isi
Tuhan Yesus menunjukkan sikap yang mulia terhadap alam. Ketika hendak mengajarkan hikmat ilahi tentang kerajaan Allah kepada orang banyak yang berbondong-bondong mendatangi-Nya. Tuhan Yesus sengaja naik ke atas bukit. Dia tidak membawa mereka ke Bait Allah atau lapangan atau tanah datar. Bukit adalah salah satu anugerah Allah yang penting bagi kehidupan segala ciptaan-Nya. Bukit adalah tempat yang baik bagi manusia untuk mendapatkan dan menyampaikan hikmat ilahi. Berkali-kali Tuhan Yesus dalam pelayanan dan peneguhan diri-Nya menjalani misi Allah di dunia, berkaitan dengan bukit dan gunung. Dia naik ke atas bukit untuk berdoa sendirian kepada Bapa. Dia dimuliakan di atas bukit bersama Musa dan Elia dalam transfigurasi (perubahan wajah). Dia disalibkan di atas bukit Golgota untuk menanggung hukuman dosa manusia. Di bukit Zaitun Dia memberkati para murid ketika Dia hendak meninggalkan mereka naik ke sorga.
Nabi Mikha memberi gambaran bahwa bukit-bukit, gunung-gunung, dan dasar-dasar bumi bukanlah ciptaan yang mati. Mereka hidup dan bisa menjadi saksi antara Tuhan Allah dan manusia. Tuhan memanggil bukit-bukit, gunung-gunung, dan dasar-dasar bumi untuk menjadi saksi perbantahan umat-Nya. Alam ciptaan Tuhan itu diyakini dapat menilai kebenaran kasih, karya, dan kehendak Tuhan. Alam ciptaan Tuhan itu dapat menilai ketidakbenaran dan kejahatan umat-Nya. Alam ciptaan Tuhan itu diyakini dapat mendengarkan rasa kesal Tuhan terhadap umat-Nya.
Itu sebabnya para pandhita dalam tokoh pewayangan mesanggrah (mendirikan padhepokan atau pertapan, yaitu tempat untuk bertapa) di gunung atau bukit. Banyak tokoh orang Jawa dan bahkan tokoh nasional bertapa di bukit atau gunung, seperti Kyai Tunggul Wulung di gunung Kelud dan Jendral Soedirman, Panglima Besar TNI di pegunungan Gunung Kidul. Mereka mencari dan mendapatkan wahyu atau hikmat ilahi di bukit atau gunung dan kemudian mengajarkannya kepada banyak orang.
Di atas bukit itu Tuhan Yesus mengajarkan kerajaan Allah dan hikmat-Nya kepada gerombolan besar orang-orang itu. Orang-orang yang oleh umum dipandang remeh, lemah, dan tak berdaya dihargai dalam kerajaan Allah. Mereka yang miskin, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus, dsb itulah yang mendapatkan kerajaan Allah.
Itulah juga yang ditegaskan oleh Rasul Paulus dalam bacaan kedua. Yesus yang disalibkan, yang dipandang bodoh oleh orang-orang Yunani, dan tidak layak (batu sandungan) menjadi Mesias bagi orang-orang Yahudi. Namun Dia yang dipandang sebagai kebodohan dan batu sandungan itu menjadi hikmat dan bahkan kuasa Ilahi dengan kebangkitan-Nya menundukkan segala sesuatu, termasuk alam maut.
Hikmat dan kuasa Ilahi itu diberitakan oleh murid-murid Yesus, orang-orang yang dipandang bodoh, remeh, rendah, dan tak berarti. Melalui pihak yang diremehkan itu, kemudian milyaran orang di dunia -sejak saat itu hingga sekarang- mendapatkan hikmat Ilahi yang menyelamatkan dari kuasa dosa dan maut. Melalui pihak yang diremehkan, banyak orang mendapatkan hikmat, selamat, sehat, dan kesejahteraan hidup.
Bukit adalah bagian dari alam ciptaan Allah. Seluruh bagian dari alam ciptaan Allah ini adalah anugerah Allah untuk segala kebutuhan semua ciptaan dan manusia. Alam diberikan oleh Allah bukan hanya untuk mencukupi kebutuhan lahiriah atau jasmani saja, melainkan juga untuk memenuhi kebutuhan batin dan spiritualitas manusia dalam hubungan dengan Tuhan dan sesama ciptaan. Karena itu, tidak satu bagian pun dari alam ini yang boleh dipandang remeh dan tak berarti. Sekalipun banyak orang memandang remeh bagian-bagian alam ini, namun Tuhan memakai yang dipandang remeh itu untuk mengajari manusia tentang hikmat kerajaan-Nya yang membawa keselamatan dan kesejahteraan hidup.
Penutup
Jangan ada seorang pun dari antara kita yang memandang remeh bagian-bagian dari alam ini, ataupun memandang remeh orang lain. Kita perlu, bahkan harus:
- Menyadari bahwa seluruh bagian alam ini penting.
- Menghargai seluruh bagian alam ini.
- Memelihara dan melestarikan keberadaan seluruh bagian alam ini.
- Belajar hikmat ilahi dari bagian-bagian alam ciptaan-Nya.
- Bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya dalam wujud alam ini.
- Mengajarkan hikmat Allah kepada anak cucu dan semua orang dengan menggunakan bagian-bagian dari alam ini.
- Menularkan sikap dan perilaku seperti itu kepada anak cucu kita dan kepada semua orang.
Dengan bersikap dan berbuat begitu, seluruh bagian alam ini benar-benar akan menjadi berkat Tuhan bagi kita, dan kita bisa menjadi berkat Tuhan bagi semua ciptaan Tuhan. Amin. [st]
Pujian:
- KJ. 322 Terang Matahari
- KJ. 289 Tuhan Pencipta Semesta
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Boten sekedhik tiyang ingkang tumindak sawenang-wenang tumrap alam titahipun Gusti. Contonipun, wonten tiyang ingkang murka nguwasani siti kanthi margi ingkang boten leres, satemah pungkasanipun nalika tilar donya lan badhe kasarekaken “katampik” dening siti. Wonten ingkang nalika layonipun badhe kelebetaken dhateng luwenging kuburan, dumadakan siti dhasaring luweng kuburan minggah, wonten ingkang dumadakan dados ciyut. Satemah layonipun boten saged kalebetaken dhateng luwenging kuburanipun. Wonten tiyang-tiyang ingkang negor wit-witan tanpa ijin, kamangsa sanes gadhahanipun, alias nyolong kayu alas, satemah griya lan bandha donyanipun sirna katrajang banjir bandhang. Temah gesangipun dados ngenes. Taksih boten sekedhik malih patrap lan tumindaking manungsa ingkang nganggep remeh alam titahipun Allah. Kathah ingkang nganggep lan matrapi alam punika namung minangka pemarem nepsu kadonyanipun. Alam kaanggep namung dados bandha donya kagem kasenengan lan pemarem nepsuning kadonyanipun.
Isi
Gusti Yesus nedahaken patrap tumindak ingkang mulya tumrap alam. Nalika badhe mulangaken kawicaksanan ngaluhur bab kratoning Allah dhateng tiyang kathah ingkang sami marek dhumateng Panjenenganipun. Panjenenganipun sengaja minggah dhateng satunggaling puthuk (gunung alit). Panjenenganipun boten ngajak tiyang kathah punika dhateng Padaleman Suci utawi dhateng siti rata. Puthuk punika satunggaling kanugrahanipun Allah ingkang penting tumrap pigesanganipun sedaya titah. Puthuk punika papan ingkang sae kangge manungsa ngupadi lan medharaken kawicaksanan ngaluhur. Gusti Yesus asring gegayutan kaliyan puthuk utawi gunung ing salebeting anggenipun mbangun dhiri lan nindakaken pakaryanipun Allah ing donya punika. Panjenenganipun asring minggah puthuk saperlu ndedonga piyambakan. Panjenenganipun kaluhuraken ing gunung sesarengan kaliyan nabi Musa lan Elia. Panjenenganipun kasalib wonten ing redi Golgota kangge nanggel sedaya paukuman dosaning manungsa. Ing puthuk Zaitun Gusti Yesus mberkahi para muridipun nalika badhe sumengka dhateng swarga.
Nabi Mikha maringi gegambaran bilih puthuk-puthuk, pareden lan telenging bumi punika sanes titah ingkang pejah. Sedayanipun punika gesang saged dados seksi ing antawisipun Gusti Allah lan manungsa. Gusti Allah nimbali puthuk-puthuk, gunung-gunung, lan dhasaring bumi dados seksi pambalelanipun para umat. Alam titahipun Gusti Allah punika dipun yakini saged niteni yektosing sih katresnan, pakaryan, lan karsanipun Gusti. Alam titahipun Allah punika saged niteni paneraking umatipun Allah. Alam titahipun Allah saged mirengaken panalangsanipun Allah tumrap pratingkahipun manungsa.
Lah punika sababipun para pandhita ing cariyos ringgit purwa sami mesanggrah lan yasa padhepokan utawi pertapan ing gunung. Kathah ugi tetungguling tiyang Jawi lan ugi tokoh nasional ingkang sami semedi lan tapa brata wonten ing gunung, kados ta Kyai Tunggul Wulung ing gunung Kelud lan Jedral Soedirman ing pareden Gunung Kidul. Para tetunggul punika sami ngupadi lan pikantuk wahyu saking ngaluhur wonten ing gunung lan lajeng mulangaken dhateng tiyang kathah.
Nenggih wonten ing puthuk utawi gunung alit Gusti Yesus mulangaken bab kratoning Allah lan kawicaksananipun dhateng golonganing tiyang kathah punika. Tiyang-tiyang ingkang anggep remeh dening tiyang kathah, inggih punika ingkang miskin, sekeng, ringkih, tanpa daya dipun ajeni wonten ing kratonipun Allah. Tiyang-tiyang mlarat, nandhang sisah, alus ing budi, luwe lan ngelak, lsp punika ingkang nggadhahi kratoning Allah.
Lah punika ugi ingkang dipun tandhesaken dening Rasul Paulus ing waosan kaping kalih. Gusti Yesus ingkang kasalib punika kaanggep satunggaling kabodhohan dening tiyang Yunani, lan dados watu sandhungan (boten pantes) dados ratuning tiyang Yahudi. Nanging Panjenenganipun ingkang kaanggep remeh, bodho, lan watu sandhungan punika dados kawicaksanan lan malah panguwaos saking ngaluhur ingkang nelukaken samukawis ing donya lan ugi telenging pati.
Kawicaksanan lan panguwaos saking ngaluhur punika kawartosaken dening para muridipun Gusti Yesus, tiyang-tiyang ingkang kaanggep bodho, remeh, asor, lan tanpa daya. Lumantar pihak ingkang dipun remehaken punika wusananipun mayuta-yuta tiyang ing donya -wiwit nalika samanten ngantos sapriki- sami pikantuk kawicaksanan saking ngaluhur ingkang mitulungi rahayu saking rehing dosa lan pepejah. Lumantar pihak ingkang dipun remehaken, tiyang kathah sami pikantuk kawicaksanan, kaslametan, kasarasan, lan katentremaning gesang.
Puthuk utawi gunung punika peranganing alam titahipun Gusti Allah. Sedaya peranganing alam titahipun Gusti Allah punika dados kanugrahanipun Allah kagem sedaya kabetahaning sedaya titah lan manungsa. Alam kaparingaken dening Gusti Allah boten namung kagem nyekapi kabetahan tata lair lan jasmani kemawon, nanging ugi nyekapi kabetahan tata batin lan karohanenipun manungsa sesambetan kaliyan Gusti Allah lan sedaya titah. Pramila saking punika, boten wonten satunggal kemawon peranganing alam punika ingkang kaanggep remeh lan tanpa guna. Sanadyan kathah tiyang ingkang nganggep remeh perangan-peranganing alam punika, nanging Gusti Allah malah ngagem samukawis ingkang kaanggep remeh punika dados sarana mulang manungsa bab kawicaksanan saking kratonipun ingkang mbekta karahayon lan karaharjaning gesang.
Panutup
Sampun ngantos wonten ing antawis kita ingkang nganggep remeh dhateng peranganing alam punika, utawi nganggep remeh dhateng tiyang sanes. Kita prelu, malah kita kedah:
- Nyadhari bilih sedaya peranganing alam punika penting.
- Ngaosi sedaya peranganing alam punika.
- Ngrimati lan nglestantunaken sedaya peranganing alam punika.
- Sinau bab kawicaksananipun Gusti Allah saking perangan-peranganing alam.
- Saos sokur dhumateng Allah tumrap wujudipun peranganing alam.
- Mulangaken kawicaksananipun Gusti Allah dhateng putra wayah lan sedaya tiyang kanthi migunakaken peranganing alam punika.
- Nularaken tumindak utama kados mekaten punika dhateng putra wayah lan sedaya tiyang.
Kanthi patrap lan tumindak mekaten, sedaya peranganing alam punika saestu badhe dados berkahipun Allah tumrah dhateng kita, lan gesang kita badhe saged dados berkah tumrap sedaya titah. Amin. [st]
Pamuji:
- KPJ. 175 Neng Gunung Wah Neng Ngare
- KPJ. 170 Lubering Berkah Sing Gusti