Pemahaman Alkitab Februari 2023

1 January 2023

Pemahaman Alkitab (PA) Februari 2023 (I)
Minggu Biasa

Bacaan: Amsal 2 : 1 – 15
Tema Liturgis:
GKJW Terlibat Memperjuangkan Kebenaran Dalam Keseharian
Tema PA
:
Hikmat Membawa Berkat

Pengantar:
Bagi sebagian orang, hikmat mungkin merupakan sesuatu yang abstrak, tetapi dalam diri orang-orang tertentu hikmat adalah realitas yang hidup. Hikmat dapat didefinisikan sebagai kemampuan atau kepandaian dalam menjalankan kehidupan berdasarkan kebenaran Allah. Beberapa orang bijak yang dikisahkan dalam Alkitab telah mempraktikkannya menjadi gambaran yang lebih kongkrit.

Sejatinya, setiap orang merindukan agar hidup yang dijalaninya merupakan sebuah kehidupan yang berkualitas dan punya makna. Namun faktanya, tidak semua orang sungguh-sungguh bisa mewujudkannya. Harapan dan kenyataan tidak selamanya berbarengan. Sebab ada orang yang hanya bisa ‘bermimpi’, namun tidak mau melewati proses yang benar demi meraih impian tersebut. Hal itu disebabkan karena manusia tidak lagi memiliki hikmat dan pengetahuan yang benar dalam menjalani setiap realitas hidupnya akibat dosa. Manusia sering membanggakan ‘kebaikan-kebaikan’ dan ‘kebenaran-kebenaran’ yang semu dan berpusat pada dirinya sendiri.

Penjelasan Teks:
Amsal 2:1-15 berisi pengajaran tentang manfaat hikmat. Pengajaran hikmat di sini tidak dipersonifikasikan seperti pada perikop sebelumnya. Walaupun demikian, hikmat pada pasal ini juga bersifat teologis, karena merupakan hasil perpaduan antara hikmat yang praktis dari masa sebelum pembuangan dengan hikmat dari masa sesudah pembuangan. Hikmat yang amat teologis ini tertuang dalam ayat-ayat misalnya dalam bentuk kebenaran dan keadilan, serta petunjuk agar “takut akan Tuhan”. Perpaduan antara hikmat teologis dan praktis dilakukan sedemikian rupa sehingga setiap pengajaran yang tertuang dalam setiap ayat terlihat identik dengan hikmat yang menuntun pada kebenaran. Dengan melakukan kehidupan takut akan Tuhan, melakukan kebenaran, keadilan, kejujuran, kasih setia, maka Tuhan menyediakan pertolongan dan perisai di dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan (Ay. 7). Ketaatan kepada Allah dan kepada hikmat yang diajarkan-Nya adalah pilihan tepat untuk mendatangkan berkat.

Bait pertama dari Amsal 2 berisi pengajaran tentang kondisi yang harus dipenuhi para murid untuk mendapatkan manfaat hikmat. Pengajaran itu disampaikan dengan mempergunakan kalimat-kalimat kondisi pada ayat 1, 3, 4, dan motif pada ayat 2. Hai anakku, sapaan ini muncul tiga belas kali dalam tujuh pasal pertama. Ini membantu menunjukkan kesatuan bagian ini, yakni dalam pasal 1:1 – pasal 9:18.

Di ayat 1, kondisi pertama untuk mendapatkan manfaat hikmat adalah kesediaan untuk menerima dan menyimpan kata-kata dan perintah-perintah bijak di dalam hati. Petunjuk tersebut disampaikan melalui kalimat kondisi (jikalau). Pemakaian kata “perkataanku” dan “perintahku”, dalam TB, lebih pas diganti menjadi “kata-kataku” dan “perintah-perintahku”, mengacu pada kata Ibrani yang dipergunakan dalam bagian kedua kata benda ini yang berbentuk jamak, dan struktur kalimat ayat 1b disesuaikan dengan strukturnya dalam Bahasa Ibrani. Untuk memperoleh manfaat daripada hikmat, ada dua kondisi yang harus dimiliki murid atau seseorang yang disapa dengan kata-kata “hai anakku” pada ayat 1, yaitu kesediaan (Ay. 1) dan kesungguhan (Ay. 2-4) dalam menuntut hikmat. “Hai anakku, jikalau engkau menerima kata-kataku, dan perintah-perintahku kau simpan di dalam hatimu”.

Di ayat 2-4 berisi kesungguhan dalam menuntut hikmat. Pengajaran tentang kesungguhan ini diawali di ayat 2a, kemudian diikuti oleh kata-kata yang menunjukkan kesungguhan pada sisa perikop, yaitu “memperhatikan” dan “mencenderungkan hati” (Ay. 2), “berseru nyaring” dan “mengangkat suara” (Ay. 3), khususnya “mencari” dan “mengajar” (Ay. 4). Jadi, kesungguhan adalah hal pertama yang harus dimiliki, yaitu mengarah kepada kerelaan untuk menuntut hikmat. Hikmat tidak hanya perlu dicari, tetapi juga harus dikejar dengan sungguh-sungguh, dengan hati yang tekun, sikap yang gigih, pantang menyerah, berdisiplin, dan berkesinambungan, seperti mencari perak dan mengejar harta terpendam yang berharga. Berulang-ulang dalam kitab Amsal disebutkan bahwa hikmat itu lebih berharga dari perak dan emas. Ini menggambarkan betapa sulitnya memperoleh hikmat itu. Maka harus memiliki kesungguhan hati untuk mendapatkan hikmat tersebut. Dalam perikop ini juga dituliskan apa yang diperoleh ketika seseorang berhikmat, yaitu: mengerti tentang takut akan Tuhan (Ay. 5-6), memperoleh kekuatan dan kelepasan dari Tuhan (Ay. 7-11), diarahkan menuju jalan kebenaran (Ay. 12-15).

Belajar dari perikop ini, kita menyadari bahwa hikmat yang datangnya dari Tuhan Allah tidaklah instan. Ia diibaratkan perak dan harta terpendam. Hikmat Tuhan dapat kita gali lewat membaca, merenungkan, dan mempelajari Firman Tuhan. Kalau membaca bagian perikop ini secara keseluruhan, kita pun akan tahu bahwa hikmat Tuhan yang kita peroleh akan menuntun kita mendapatkan kebenaran dan menolong kita menghadapi berbagai hal dalam kehidupan ini.

Hikmat berkaitan dengan ‘takut’ akan Tuhan. Semakin kita takut dan hormat kepada Allah yang kita imani di dalam Tuhan Yesus Kristus, maka kita semakin memiliki pengetahuan kebenaran Firman Tuhan, kita semakin menjauhi kejahatan dan tipu muslihat, dan menolong orang melakukan keadilan dan kebenaran untuk mendatangkan berkat.

Petunjuk kunci, bagi orang percaya agar memperoleh hikmat dari Tuhan supaya berlimpah berkat berdasarkan pada :

  1. Takut akan Tuhan.
  2. Memiliki kekuatan untuk memelihara sikap hidup yang benar. Takut akan Tuhan berfungsi sebagai perisai bagi orang yang benar dan jujur.
  3. Tidak terpengaruh oleh kebiasaan jahat. Takut akan Tuhan akan menguasai pertimbangan intelektual, emosional, dan moral orang percaya tersebut.
  4. Mendapat berkat Tuhan.

Pertanyaan untuk Didiskusikan:

  1. Sebutkan pentingnya berhikmat bagi kehidupan orang percaya!
  2. Bagaimana sikap kita sebagai bagian dari tubuh Kristus di GKJW agar berhikmat dalam menyikapi tantangan gereja saat ini?
  3. Bagaimana saran yang membangun dari kita untuk tetap berhikmat kepada Allah dalam mendukung kehidupan GKJW semakin menjadi berkat bagi sesama? [FNS].

 


 

Pemahaman Alkitab (PA) Februari 2023 (II)
Minggu Biasa

 

Bacaan: Yakobus 3 : 13 – 18
Tema Liturgis: GKJW Terlibat Memperjuangkan Kebenaran dalam Keseharian
Tema PA
: Hikmat Allah Memurnikan Kehidupan

Pengantar:
Pernahkah Anda melihat seseorang yang mengaku berhikmat tetapi bertindak bodoh? Hikmat yang benar hanya bisa dilihat melalui karakter seseorang, sama seperti mengenal pohon dari buahnya. Tidak semua orang bisa membedakan antara orang yang berhikmat dan orang yang tidak berhikmat. Karakter seseorang yang berhikmat tidak hanya tercermin dari apa yang dikatakannya saja, tetapi juga terlihat dari apa yang dia perbuatan. Bisa saja seseorang sangat berhikmat dalam tutur katanya, tetapi belum tentu tindakannya sesuai dengan apa yang ia katakan. Maka, untuk bisa menjadi orang yang berhikmat dibutuhkan proses pendewasaan diri secara permanen, seperti yang akan kita pelajari dalam perikop hari ini

Penjelasan Teks:
Sejatinya Hikmat dapat kita peroleh dengan memintanya kepada Tuhan Sang Sumber Segala Hikmat. Dengan hikmat kita tahu membedakan antara baik dan jahat. Hikmat yang berasal dari Tuhan menuntut kita memiliki kemurnian hati, dengan menyadari tentang kebaikan-kebaikan Tuhan dalam hidup kita, dan kita mampu menjaga diri kita untuk hidup benar sesuai kehendak Tuhan. Dalam perikop saat ini, Yakobus memberikan pengajaran tentang pertentangan antara hikmat yang benar dan yang salah. Lebih tepatnya apakah kita hidup berdasarkan hikmat dari Tuhan ataukah hikmat dari dunia ini. Sedikit berbeda dengan surat-surat kiriman yang lainnya dalam Perjanjian Baru, isi surat Yakobus lebih kepada pengajaran hikmat. Walaupun di awal surat Yakobus ini menyapa orang Israel yang ada diperantauan, namun penekanan pengajaran dalam surat Yakobus  ini bukan membahas masalah khusus dalam suatu jemaat seperti yang sering ditemui di surat-surat Paulus. Sehingga ketika kita membaca kitab Yakobus ini, kita sedang membaca pengajaran hikmat yang dialamatkan kepada semua pengikut Yesus, yaitu tentang bagaimana kita menjalani kehidupan berdasarkan hikmat dari Tuhan. Pengajaran hikmat Yakobus dalam surat ini dipengaruhi oleh dua sumber utama, yaitu pengajaran Tuhan Yesus (khususnya khotbah di bukit – Matius 5-7) dan pengajaran hikmat dari kitab Amsal (khususnya Amsal 1-9).

Hikmat dari dunia berasal dari nafsu dunia dan dari setan-setan (Ay. 14), yaitu iri hati, mementingkan diri sendiri, memegahkan diri sendiri (kesombongan) dan berdusta melawan kebenaran (kemunafikan). Di sini, Yakobus hendak menjelaskan bahwa iri hati, kesombongan, dan kemunafikan memiliki hubungan satu dengan lainnya. Pada saat kita iri hati (cemburu) maka di sisi lainnya kita sedang menyombongkan diri dan di sisi lainnya kita mau mencari jalan keluar dengan kemunafikan, sebab tidak akan ada orang yang mau mengaku bahwa dirinya iri hati kepada orang lain, justru yang ada adalah menyombongkan diri sendiri dan mengangkat diri sendiri lebih hebat dengan kepura-puraan (munafik). Yakobus menyebutkan bahwa sikap seperti ini akan melahirkan berbagai macam perbuatan jahat (Ay. 16).  Maka apakah yang harus kita lakukan untuk menjauhkan diri dari sikap iri hati? Jawabannya yaitu hidup yang selalu dipenuhi dengan rasa syukur kepada Tuhan. Apapun yang Tuhan berikan kepada kita, itu adalah pemberian yang terbaik dari Tuhan tanpa perlu membandingkan dengan orang lain.

Hikmat dari Tuhan (Ay. 17) (hikmat yang datang dari atas) adalah kebalikan hikmat dunia. Hikmat dari Tuhan, yaitu : murni, pendamai, peramah, penurut (mau untuk mengalah), berbelas kasihan, menghasilkan buah-buah yang baik (dengan tulus dan ikhlas), tidak memihak (terus terang) dan tidak munafik (jujur). Tuhan menjadikan kita manusia dengan memberikan akal dan pikiran adalah supaya kita tidak dikuasai keinginan hawa nafsu duniawi. Akal dan pikiran Tuhan berikan kepada kita, supaya kita dapat mengerti dan menghidupi hikmat Tuhan. Akal dan pikiran yang diberikan kepada kita bukan untuk saling menjatuhkan, membenci, menipu, merendahkan, dan mementingkan diri sendiri, tetapi agar kita saling mengasihi.  Manusia yang berhikmat digerakkan oleh hati yang lemah lembut. Kelemahlembutan menunjukkan sebuah sikap hati, yaitu hati yang penuh dengan kasih Allah. Sikap seperti itu akan membuat diri kita memahami bahwa Allah berdaulat dan memelihara hidup kita. Di sinilah kasih Allah menghilangkan ketakutan. Kita yang dipenuhi kasih ilahi berfokus mengerjakan kasih kepada sesamanya. Dimana kita akan menjadi pribadi yang tulus dan berbelas kasihan, mengejar kedamaian sejati, mampu berbagi waktu, tenaga, dan harta kepada sesama meskipun kita berada di tengah situasi yang sulit. Kebaikan-kebaikan kita bukan politis, bukan pula penuh taktik untuk mendapatkan keuntungan, tetapi kita sungguh-sungguh ingin membangun relasi berdasarkan kasih dan kepedulian.

Pertanyaan untuk Didiskusikan:

  1. Dikatakan pada ayat 17: hikmat dari Tuhan memberi petunjuk kepada setiap orang percaya agar hidupnya dituntun sesuai dengan Firman Tuhan. Coba buatlah contoh atau kesaksian sederhana sesuai dengan kehidupan Anda, dalam pelayanan atau bergereja tentang sikap Anda menanggapi ayat tersebut!
  2. Sebutkan keberhasilan dan kesulitan dalam mewujudnyatakan pribadi yang murni seturut perikop hari ini dalam kaitannya membangun persekutuan di GKJW!
  3. Apakah refleksi Anda mengenai perikop kita hari ini, dalam kaitannya hikmat dari dunia dan hikmat dari Tuhan dalam menjalani kehidupan sehari-hari? [FNS].

Renungan Harian

Renungan Harian Anak