Narsis Pancaran Air Hidup 6 Desember 2022

6 December 2022

Bacaan: Roma 15 : 14 – 21 | Pujian: KJ. 169
Nats:Jadi dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah.” (Ayat 17)

Seringkali bila kita berjumpa seseorang yang terlalu membanggakan dirinya, misalnya dia kerap memposting foto dirinya di media sosial, maka kita akan berucap,‘’orang kok narsis banget!’’ Istilah narsis ini berasal dari kisah mitologi Yunani tentang seseorang bernama Narcissus yang jatuh cinta terhadap cerminan dirinya sendiri saat berada di tepi danau, bahkan sampai meninggal dunia karena tenggelam pada saat dia berusaha merengkuh bayangan dirinya itu. Lalu bagaimana dengan kehidupan beriman, bolehkah kita narsis atas apa yang kita lakukan atas nama pelayanan kepada Tuhan dan demi menyaksikan kebaikan kasih-Nya kepada kita?

Ungkapan Rasul Paulus dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah tentu berbeda dengan motivasi narsisisme. Jika pusat dari narsistik adalah kepedulian yang berlebihan pada diri sendiri yang ditandai dengan adanya sikap arogan, percaya diri, dan egois, maka dasar dari Rasul Paulus adalah keberaniannya yang didapatkan dari Allah sendiri. Inilah yang membedakan antara bermegah dalam Tuhan dengan narsis, yaitu orientasi dan motivasi: apakah demi diri sendiri ataukah demi Tuhan serta demi kebaikan sesama yang lebih luas. Kerendahan hatilah yang menjadi kuncinya dan buah pelayananlah yang menjadi ukurannya, yaitu menuntun pada ketaatan melalui perkataan dan perbuatan (Ay. 18).

Dalam masa Adven yang dimaknai sebagai masa penantian kedatangan Tuhan, hendaknya senantiasa kita isi dengan kesadaran untuk menjauhkan diri dari sikap narsistik dan egoisme. Penantian akan kedatangan Tuhan, hendaknya kita isi dengan kesiap-siagaan diri kita serta kesetiaan kita dalam melayani Allah dan sesama yang berlandaskan kerendahan hati. Kita terus berupaya menjaga diri kita dari kesombongan diri yang membuat kita jatuh. Mari membangun semangat pelayanan yang sungguh, sebab dengan motivasi pelayanan yang benar, kita akan menjadi berkat bagi semua orang. Dengan demikian ini akan mendatangkan kebaikan bagi kita dan juga kehidupan bersama. Amin. [ads].

Tak boleh aku bermegah selain di dalam kasih-Mu.” (KJ. 169 : 2)

Renungan Harian

Renungan Harian Anak