Melawan Godaan Khotbah Minggu 16 Oktober 2022

3 October 2022

Minggu Biasa | Bulan Ekumene
Stola Hijau

Bacaan 1: Kejadian 32 : 22 – 32
Bacaan 2:
2 Timotius 3 : 14 – 4 : 5
Bacaan 3:
Lukas 18 : 1 – 8

Tema Liturgis: Mewujudkan Hubungan dan Kerjasama Antar Umat sebagai Panggilan Pelayanan
Tema Khotbah:
Melawan Godaan

 

Penjelasan Teks Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kejadian 32 : 22 – 32
Konteks cerita ini terjadi pada saat malam hari sebelum Yakub bertemu dengan saudaranya Esau, untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun mereka berpisah. Pada saat itu Esau ingin membunuh Yakub dan hal ini pun juga diketahui oleh Yakub bahwa Esau masih ingin melakukannya. Hal ini dibuktikan melalui informasi yang diberikan oleh utusan Yakub bahwa Esau akan datang menemuinya dengan membawa empat ratus orang. Tentu saja hal ini menyebabkan Yakub mengalami ketakutan yang luar biasa (Kej. 32:3-8).

Karena takut bertemu dengan Esau, Yakub pertama kali bertemu lagi di tepi Sungai Yabok. Di tempat ini ia bergulat dengan “seorang laki-laki” yang tidak dikenalnya sampai fajar menyingsing. Bahkan setelah orang asing itu melepaskan pinggul Yakub, Yakub tidak akan melepaskannya sampai dia memberinya berkat. Kemudian orang asing itu menanyakan namanya, Yakub menjawabnya dan kemudian pria itu memberinya nama baru yaitu “Israel1 oleh karena ia telah berjuang dengan Allah dan dengan manusia serta menang” (Kej. 32:28). Kemudian orang asing itu memberkati dia. Entah bagaimana prosesnya Yakub tahu bahwa pria ini adalah Allah yang sama yang telah berkarya menjaganya selama perjalanan hidupnya. Jadi dia menyebut tempat itu Pniel (artinya: wajah Tuhan), oleh karena ia telah melihat Tuhan muka dengan muka dan ia masih hidup (Kej. 32:30). Setelah pertemuan ini Yakub menjadi pincang menanggung bekas luka perjumpaan itu. Hal inilah yang menjadi asal mula (etiologi) orang Israel tidak lagi memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha.

Kisah pertandingan gulat Yakub di sungai Yabok ini juga sebagai perumpamaan tentang kehidupan bangsa Israel. Israel adalah bangsa yang bergumul dengan Tuhan. Dia berpegang teguh pada Tuhan dengan kuat bahkan ketika Tuhan tampak tidak ada atau tidak peduli. Israel tetap memegang janji Tuhan karena mereka adalah bangsa yang memikul tanggung jawab besar untuk dipilih dan diberkati Tuhan.

2 Timotius 3 : 14 – 4 : 5
Bersama dengan 1 Timotius dan Titus, surat 2 Timotius dikategorikan sebagai surat penggembalaan atau surat pastoral. Surat ini secara personal dialamatkan kepada Timotius. Ia adalah anak seorang wanita Kristen Yahudi dan ayahnya non Yahudi dari Listra. Kemungkinan ia menjadi Kristen oleh karena pengaruh Paulus (Kis. 16:1; 1 Kor. 4:17). Pada pasal 3:14-17 rasul Paulus mengingatkan Timotius agar ia senantiasa berpegang teguh pada kebenaran yang ia yakini dan selalu mengenang orang-orang yang telah memberikan pengajaran kepadanya. Hal ini harus ia lakukan oleh karena sejak kecil sudah mengenal kitab suci yang memiliki manfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, mendidik orang dalam kebenaran dan memperlengkapi untuk berbuat baik.

Selanjutnya pada pasal 4:1-5 rasul Paulus memberikan tugas tanggung jawab kepada Timotius untuk melakukan pelayanan memberitakan firman Tuhan. Tugas ini harus dikerjakannya dalam segala situasi dan kondisi (baik atau tidak baik waktunya). Pemberitaan firman ini tentu bukan hanya kepada orang-orang yang belum menerima Tuhan (eksternal) tetapi juga berlaku kepada orang-orang yang telah percaya kepada Tuhan (internal). Pemberitaan firman ini juga mencakup keberanian untuk menyatakan yang salah, menegor dan menasihati dengan kesabaran dan pengendalian diri (Ay. 5). Itulah tugas panggilan pelayanan.

Lukas 18 : 1 – 8
Perikop Lukas 18:1-8 ini merupakan bagian dari pasal 13:1 – 19:27 yang secara umum berisi pengajaran Tuhan Yesus tentang Kerajaan Allah saat melakukan perjalanan ke Yerusalem. Dalam memberikan pengajaran-Nya itu ia memakai perumpamaan tentang hakim yang tidak benar. Tujuan perumpamaan ini adalah supaya murid-murid memiliki sikap yang benar dalam menantikan hadirnya kerajaan Allah yaitu dengan cara selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu (Ay. 1). Hal ini mengandung arti bahwa yang utama bukanlah kapan dan dimana kerajaan Allah itu akan hadir, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana sikap para murid meresponnya. Disini Tuhan Yesus menggunakan perumpaan seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Dalam budaya Yahudi, hakim adalah orang dengan kuasa yang luar biasa. Hakim adalah wakil Allah untuk menyatakan kebenaran dan keadilan kepada mereka yang tertindas. Sementara dalam budaya Ibrani, hakim memegang keputusan terakhir tanpa juri atau naik banding. Oleh karena itu, hakim harus selalu berpegang pada hukum Musa sebagai dasar kebenaran. Dalam konteks Yudaisme, takut akan Allah mutlak bagi seorang hakim (2 Taw. 19:6-7). Apabila hakim dalam perumpamaan ini memiliki karakter yang bertolak belakang dari karakter yang seharusnya dimiliki oleh seorang hakim menegaskan bahwa Tuhan Yesus ingin memperlihatkan betapa bobrok dan bejatnya hakim itu.

Di hadapan hakim yang bobrok dan bejat seperti itu, ada seorang janda yang selalu datang kepadanya untuk mencari keadilan membela haknya. Di dalam budaya Yahudi yang patriarkhal, wanita (secara khusus janda) merupakan kelompok yang seringkali mendapatkan perlakuan diskriminatif, baik dari segi politik, religius, dan sosial. Lebih mengenaskan lagi biasanya mereka adalah orang-orang yang secara ekonomi mengalami kekurangan dan tanpa pertolongan. Bahkan seringkali mendapatkan tekanan, pemerasan, dan menjadi korban hukum serta pengadilan. Meskipun mengalami situasi dan kondisi kehidupan seperti ini janda ini dengan gigih dan hati tulus terus menerus berjuang untuk mendapatkan keadilan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya keterangan waktu yaitu: “selalu (ayat 3), beberapa waktu (ayat 4a) dan terus saja (ayat 5)”.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Kehidupan manusia di dunia ini tidak lepas dari tantangan, godaan, dan berbagai macam pergumulan hidup lainnya. Oleh karena itu, setiap orang seharusnya selalu mengandalkan kuasa Tuhan dalam menghadapinya. Selain itu juga dibutuhkan ketekunan, kesabaran, dan pengendalian diri.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat setempat)

Pendahuluan
Pelayan mengawali khotbahnya dengan menyanyikan KJ. 436:1 “Lawanlah Godaan”

Lawanlah godaan, s’lalu bertekun
Tiap kemenangan kau tambah teguh
Nafsu kejahatan harus kautentang
Harap akan Yesus: pasti kau menang

Refrein:
Mintalah pada Tuhan agar kau dikuatkan
Ia b’ri pertolongan: pastilah kau menang

Nyanyian tersebut mengingatkan kita semua bahwa setiap orang hidup di dunia ini tidak lepas dari godaan, pencobaan, tantangan dan berbagai macam dinamika pergumulan hidup lainnya. Godaan itu datang tidak memandang status sosial seseorang (baik itu status sosial ekonomi, usia, pendidikan, jabatan dll). Dalam kehidupan masyarakat barangkali kita pun sudah biasa mendengar bahwa sumber godaan itu berasal dari 3 TA (harta, tahta atau kekuasaan dan wanita). Tiga hal inilah yang menjadi godaan terbesar dalam hidup manusia. Namun, bagi saya pribadi 3 TA itu nampaknya belum cukup, karena tidak hanya wanita saja yang menjadi sumber godaan. Seorang pria pun juga bisa menjadi sumber godaan. Pada saat menghadapi godaan, hanya ada 2 pilihan yang bisa kita lakukan yaitu: berani berjuang dan mengalahkan godaan atau kita dikalahkan oleh godaan itu.

Isi
Melalui perumpamaan hakim yang tidak benar (Luk. 18:1-8), Tuhan Yesus memberikan pengajaran kepada murid-murid-Nya terkait dengan godaan yang dialami oleh seorang hakim. Ia tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Dalam budaya Yahudi, hakim adalah orang dengan kuasa yang luar biasa. Oleh karena hakim menjadi wakil Allah untuk menyatakan kebenaran dan keadilan kepada mereka yang tertindas. Sementara dalam budaya Ibrani, hakim memegang keputusan terakhir tanpa juri atau naik banding. Oleh karena itu, hakim harus selalu berpegang pada hukum Musa sebagai landasan kebenaran. Sementara itu dalam konteks Yudaisme, takut akan Allah mutlak bagi seorang hakim (2 Taw. 19:6-7). Apabila dalam perumpamaan ini hakim memiliki karakter yang bertolak belakang dari karakter yang seharusnya dimiliki oleh seorang hakim, disini Tuhan Yesus ingin memperlihatkan betapa bobrok dan bejatnya hakim itu.

Dihadapan hakim yang bobrok dan bejat seperti itu, ada seorang janda yang selalu datang kepadanya untuk mencari keadilan membela haknya. Di dalam budaya Yahudi yang patriarkhal, wanita (khususnya janda) merupakan kelompok yang seringkali mendapatkan perlakuan diskriminatif, baik dari segi politik, religius, dan sosial. Lebih memprihatinkan lagi biasanya mereka adalah orang-orang yang secara ekonomi mengalami kekurangan dan tanpa pertolongan. Bahkan seringkali mendapatkan tekanan, pemerasan dan menjadi korban hukum serta pengadilan. Meskipun mengalami situasi dan kondisi kehidupan seperti itu, janda ini dengan gigih dan hati tulus terus menerus berjuang untuk mendapatkan keadilan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya keterangan waktu yaitu; “selalu (ayat 3), beberapa waktu (ayat 4a) dan terus saja (ayat 5)”. Berkat kegigihan dan perjuangannya, hakim yang dikenal memiliki karakter bobrok dan bejat itu pun mau membela dan membenarkan janda ini. Namun hal ini dilakukan bukan atas dasar kebenaran melainkan supaya janda ini tidak menyusahkan, tidak merepotkan dan terus-menerus datang kepadanya.

Kegigihan untuk terus berjuang juga dilakukan oleh Yakub ketika ia ingin bertemu dengan Esau saudaranya (Kej. 32:22-32). Namun sebelum pertemuan itu terjadi, Yakub terlebih dahulu bergulat dengan “seorang laki-laki” yang tidak dikenalnya sampai fajar menyingsing di tepi Sungai Yabok. Ia pun memperoleh kemenangan dalam pertandingan itu (Kej. 32:28). Entah bagaimana prosesnya Yakub tahu dan sadar bahwa pria ini adalah Allah yang sama yang telah berkarya menjaga selama perjalanan hidupnya. Ia berpegang teguh pada Tuhan dengan kuat bahkan ketika Tuhan tampak tidak ada atau tidak peduli. Yakub tetap memegang janji Tuhan untuk memikul tanggung jawab sebagai umat yang dipilih dan diberkati Tuhan.

Sebagaimana nasihat rasul Paulus kepada Timotius (2 Tim. 3:14-4:5) tugas tanggung jawab ini harus dikerjakan dalam segala situasi dan kondisi (baik atau tidak baik waktunya). Tanggung jawab untuk memberitakan firman Tuhan, bukan hanya kepada orang-orang yang belum menerima Tuhan (eksternal), tetapi juga berlaku kepada orang-orang yang telah percaya kepada Tuhan (internal). Pemberitaan firman ini juga mencakup keberanian untuk menyatakan yang salah, menegor, dan menasihati dengan kesabaran dan pengendalian diri (2 Tim. 4:2, 5). Itulah tugas panggilan pelayanan kita sebagai orang Kristen.

Penutup
Melalui firman Tuhan yang kita renungkan saat ini marilah kita:

  1. Senantiasa berpegang teguh pada kebenaran firman Tuhan dalam melawan setiap godaan, tantangan, dan pergumulan hidup yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Berani menyatakan kebenaran, menegor, mengingatkan, dan menasihati yang salah, sehingga setiap orang dimampukan untuk memperlengkapi diri dengan perbuatan baik. Memang hal ini tidak mudah untuk dilakukan, namun bukan berarti hal ini tidak bisa dilakukan. Dibutuhkan kesabaran dan pengendalian diri. Hal ini menjadi tugas dan panggilan kita sebagai umat Allah. Amin. [gimbul].

 

Pujian: KJ 429 : 1, 2, 3 Masih Banyak Orang Berjalan


Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Pelados miwiti khotbahipun kanthi ngidung saking KJ. 436:1 “Lawanlah Godaan”

Lawanlah godaan, s’lalu bertekun
Tiap kemenangan kau tambah teguh
Nafsu kejahatan harus kautentang
Harap akan Yesus: pasti kau menang

Refrein:
Mintalah pada Tuhan agar kau dikuatkan
Ia b’ri pertolongan: pastilah kau menang

Pepujian punika ngemutaken kita sedaya bilih saben tiyang gesang ing alam donya punika mboten uwal saking panggodha, pacoben, tantangan lan maneka warni kahananing gesang sanesipun. Panggodha punika saged anrejang sinten kemawon, mboten mawang status sosial saben tiyang (sae punika status sosial ekonomi, umur, pendidikan, pangkat, drajat lsp). Ing salebeting gesang bebrayan mbok menawi kita nggih sampun limrah mireng bilih sumber panggodha punika asalipun saking 3 TA (harta/ banda, tahta/ jabatan/ panguwaos lan wanita). Tigang bab punika ingkang dados sumbering godaan paling ageng ing salebeting gesang manungsa. Ananging, kangge kula pribadi 3 TA punika ketingalipun taksih dereng cekap, amargi mboten namung wanita mawon ingkang dados sumber godaan. Tiyang jaler ugi saged dados sumber godaan. Nalika ngadhepi panggodha, namung wonten kalih pilihan ingkang saged kita tindhakaken, inggih punika: wantun mbudidaya utawi berjuang lan ngawonaken panggodha utawi kita dipun kawonaken dening panggodha punika.

Isi
Lantaran pasemon bab hakim ingkang tumindhak sawenang-wenang (Luk. 18:1-8), Gusti Yesus paring piwucal dhumateng para sakabat gegayutan kaliyan panggodha ingkang dipun alami dening hakim. Piyambakipun mboten ajrih marang Gusti Allah, mboten ngajeni lan mboten peduli dhateng sesami. Ing salebeting kabudayan masyarakat Yahudi, hakim punika kagungan panguwaos ingkang ageng. Karana hakim punika kaangep dados wakilipun Gusti Allah ingkang negesaken tumindhak leres lan adil dhumateng tiyang ingkang katindhes. Ing kabudayan Ibrani, hakim ngasta keputusan pungkasan tanpa juri utawi “naik banding”. Pramila, hakim kedah migunakaken hukum Musa minangka dasar kebenaran. Sawetawis punika ing salebeting konteks Yudaisme, ajrih-asih dhumateng Allah dados bab ingkang baken utawi mutlak kangge hakim (2 Babad 19:6-7). Bilih ing pasemon punika hakim kagungan watak ingkang nyingkur kaliyan watak ingkang kedah dipun gadhahi dening hakim, ing ngriki Gusti Yesus kepingin nedhahaken tumindhak ala lan bobrok hakim punika.

Wonten ngarsanipun hakim ingkang ala lan bobrok punika, wonten salah satungaling randa ingkang tansah sowan wonten ngarsanipun kangge ngupadi kaadilan mbela hakipun. Wonten gesangipun masyarakat Yahudi ingkang “patriarkhal”, tiyang estri (punapa malih randa) punika golongan ingkang asring nampi tumindhak sewenang-wenang utawi “diskriminatif”. Sae punika ingkang bab politik, agami, lan sosial. Langkung mrihatosaken malih limrahipun punika tiyang ingkang secara ekonomi kekirangan lan tanpa pitulungan. Asring dipun tindhes, pemerasan, lan dados korban hukum saha pengadilan. Senadyan nglampahi gesang ingkang kados mekaten, kanthi kekah lan manah ingkang tulus randa punika tansah mbudidadya utawi berjuang supados pikantuk kaadilan. Lantaran tekad ingkang kekah lan manah ingkang tulus, wekasanipun hakim ingkang ala punika karsa mbela lan paring kaadilan. Ewosemanten bab punika katindhakaken mboten krana adhedasar ingkang leres nanging supados randha punika mboten nyisahaken lan ngrubedi piyambakipun.

Kekiyatan niat lan tekad kangge tansah mbudidaya samukawis ugi dipun tindhakaken dening rama Yakub nalika panjenenganipun badhe kepanggih kaliyan Esau sadherekipun (PD. 32:22-32). Ananging saderengipun pepanggihan punika kelampahan, rama Yakub langkung rumiyin gelut kaliyan tiyang jaler ingkang mboten dipun tepangi ngantos raina ing sakpinggiripun lepen Yabok. Piyambakipun unggul utawi menang ing salebeteing gelut punika (PD. 32:28). Duka kados pundi prosesipun, rama Yakub lajeng sadar lan mangertos bilih tiyang jaler punika Gusti Allah piyambak ingkang sampun makarya nganthi saha rumeksa gesangipun. Rama Yakub nggadahi manah lan kapitadosan ingkang kekah kangge mikul tanggel jawab dados umat ingkang dipun piji lan binerkahan dening Gusti Allah.

Kadosdene pituturipun rasul Paulus dhumateng Timotius (2 Tim. 3:14-4:5) tanggel jawab punika kedah dipun lampahi ing sadhengah kawontenan “sumanggem ing wektu kang becik utawa ing wektu kang ora becik (2 Tim. 4:2)”. Tanggel jawab kangge nggelaraken pangandikanipun Gusti. Mboten namung kagem tiyang ingkang dereng nampi lan pitados Gusti (eksternal) nanging ugi dhumateng tiyang ingkang sampun pitados Gusti (internal). Nggelaraken pangandikanipun Gusti punika secara nyata kawujudaken kanthi melehaken ingkang lepat, nyrengenana lan paring pitutur kanthi sabar lan mbudidaya ngendalekaken dhiri (2 Tim. 4:2, 5). Punika tanggeljawab kita minangka tiyang Kristen.

Panutup
Lantaran dhawuh pangandikanipun Gusti ingkang kita suraos wegdal punika, sumangga kita:

  1. Tansaha kekah ngagem dhawuh pangandikanipun Gusti Allah minangka sumbering kayekten (kebenaran) lan kekiyatan kangge nglawan panggodha, tantangan lan maneka warni kahananing gesang sanesipun ingkang kita lampahi saben dinten.
  2. Wantun njejegaken kayekten (kebenaran) kanthi srana ngengetaken lan paring pitutur dhumateng tiyang ingkang lepat temahan saben tiyang dipun samekta kangge nindhakaken kesaenan. Pancen bab punika mboten gampil dipun lampahi, ananging mboten ateges mboten saged dipun lampahi. Mbetahaken kesabaran lan ngendalekaken dhiri kita. Bab punika dados timbalan lan tanggel jawab kita minangka umatipun Allah. Amin. [gimbul].

Pamuji: KPJ. 109 : 1 – 3 Gusti Pangayom Kang Setya


1  Nama “Israel” secara sederhana diterjemahkan “Tuhan menentang”. Dalam perikop ini dipahami sebagai orang yang menentang Tuhan.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak