Tahun Gerejawi: Bulan Pembangunan GKJW
Tema: Pelayanan Gerejawi
Bacaan Alkitab: I Samuel 3:1-21
Ayat Hafalan: ”Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.” (I Samuel 3: 10C)
Lagu Tema: Dengar Dia Panggil Nama Saya
Tujuan:
- Remaja dapat menjelaskan cara Tuhan Allah memanggil Samuel untuk menjadi pelayan-Nya.
- Remaja dapat menjelaskan faktor penghambat untuk melayani.
- Remaja dapat menjelaskan faktor pendukung untuk melayani.
Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong):
Kehadiran Samuel di dunia bukanlah peristiwa yang biasa. Karena dia adalah anak yang dinanti-nanti sejak lama. Melalui ketekunan doa dan cucuran air mata Hana, akhirnya Tuhan mendengar doanya dan mengabulkan. Karena itulah anak yang dilahirkan diberi nama Samuel yang berarti “Tuhan mendengar”. Dan sesuai janji yang disampaikan Hana kepada Tuhan, Samuel kecil diserahkan kepada Tuhan, menjadi pelayan rumah Tuhan.
Samuel tumbuh di bawah didikan imam Eli, sosok yang baik dan lembut. Terbukti Samuel menunjukkan rasa hormat kepada Imam Eli. Perangai baik Imam Eli ternyata tidak menurun pada anak-anaknya. Itulah yang menjadi latar belakang Samuel yang dipilih Tuhan menjadi Nabi (penyambung lidah-Nya). Karena pada masa itu tidak banyak firman/nubuatan yang disampaikan Tuhan. Yang menarik dari kisah perjumpaan awal Samuel dengan Tuhan adalah jawaban yang diajarkan oleh Imam Eli yang akhirnya disampaikan
Samuel kepada Tuhan “Berbicaralah sebab hamba-Mu ini mendengar”. Samuel adalah anak yang lahir karena Tuhan mendengarkan doa Hana. Dan dalam kehidupannya Samuel nyatanya juga sedia untuk mendengarkan Tuhan.
Mendengarkan dan melakukan, merupakan 2 hal yang semakin sulit kita lakukan di dunia yang berjalan makin cepat. Seringkali kita belum sampai tuntas mendengar apa lagi paham sudah memberi komentar atau meneruskan berita. Karena itu pula HOAX mudah sekali merajalela. Mendengar suara Tuhan bukanlah hal yang mudah. Bahkan Samuel yang sejak kecil tinggal dan hidup di lingkungan Bait Allah awalnya tidak paham. Pengalaman dan tuntunan dari orang lain yang akhirnya membawa Samuel menjadi sosok yang peka. Demikian halnya dengan kita, mari kita berusaha untuk peka terhadap suara Tuhan, dan siap untuk melakukan kehendak-Nya.
Pendahuluan
- Ajak remaja melakukan permainan berikut:
- Minta remaja duduk/ berdiri membentuk lingkaran.
- Ajak remaja bernyanyi 1 lagu sekolah minggu (bebas sesuai pilihan remaja) sambil mengestafetkan sebuah benda (bisa pulpen/ buku/ kotak/benda-benda yang ada di ruangan dan mudah untuk diestafetkan).
- Remaja yang memegang benda saat pamong mengucapkan “STOP” dia dipersilahkan maju/ berada di tengah lingkaran.
- Remaja yang maju ditutup matanya dengan slayer atau selendang. Kemudian diputar-putar beberapa kali.
- Teman-teman yang lain boleh mengeluarkan suara secara bergantian (bisa menirukan berbagai bunyi, atau sekedar memanggil nama remaja yang ditutup matanya).
- Tugas remaja yang tertutup matanya adalah menebak arah suara, dan suara siapakah itu?
- Minta pendapat singkat mereka tentang permainan tersebut.
- Ajak remaja membaca 1 Samuel 3: 1-21!
Cerita
Remaja yang dikasihi Tuhan,
Dari pengalaman permainan kita tadi sebenarnya ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Ada yang dengan mudah mengenali dan menebak suara, ada pula yang kebingungan mencari dan menerka. Mengapa demikian? Karena ternyata mendengarkan itu tidak mudah. Sepanjang hari kita mendengar berbagai bunyi, bahkan di saat bersamaan. Saat kita berangkat ke sekolah, di jalan kita tentu mendengar deru berbagai kendaraan, bersama dengan itu ada yang membunyikan klakson, bunyi palang pintu kereta api, atau tukang sayur yang berteriak. Namun kadang kita tidak benar-benar mendengarkan dan menyadarinya karena telinga kita tertutup headset misalnya. Seperti dalam permainan tadi, bagi yang sudah mengenal dan hafal, akan langsung dengan mudah menebak suara siapa yang sedang berbicara, meski mata tidak melihat, karena kita mengenal pemilik suara dan mendengarkan dengan seksama.
Samuel adalah remaja yang baik dan penurut, sejak kecil orang tuanya sudah menyerahkan Samuel ke Bait Allah, menjadi pelayan di sana. Namun karena dia belum pernah mendengar suara Tuhan, dia ternyata kebingungan dan mengira itu suara Imam Eli. Berkat bimbingan Imam Eli, mulai saat itu Samuel menjadi pendengar Suara Tuhan yang baik. Seperti arti namanya, yaitu Allah mendengar, Samuel remajapun menyediakan diri untuk mendengar suara Tuhan. Sejak saat itu ada banyak hal yang disampaikan Tuhan kepada Israel melalui Samuel. Dan Samuel menyampaikan semuanya persis seperti yang Tuhan kehendaki. Coba sebutkan bagaimana cara Tuhan memanggil Samuel? Dan bagaimana respon dari Samuel? (Minta remaja menjawab.)
Cara Tuhan memanggil kita tidak terbatas. Samuel dipanggil secara langsung melalui suara-Nya di bait Allah, namun tanpa panduan Imam Eli mungkin saja Samuel melewatkan momen itu. Maka panggilan Tuhan perlu kita pahami tidak sebatas pada hubungan saya dan Tuhan secara rohani semata, tetapi juga melalui berbagai hal di lingkungan kita. Misalnya dengan adanya alat musik di gereja yang tidak berfungsi karena tidak ada yang memainkan. Bisa jadi itu adalah cara Tuhan memanggil kita untuk ikut melayani-Nya. Dan banyak hal lagi yang bisa jadi sarana Tuhan memanggil.
Coba teman-teman ingat, apa saja yang Tuhan sudah anugerahkan dalam hidup kita, kepandaian, kemampuan, keterampilan, keluarga yang selalu mengingatkan bisa jadi adalah cara Tuhan mendukung dan mendorong kita melayani Dia. Sekalipun tentu ada saja halangannya, yuk coba sebutkan! (memberi kesempatan remaja menjawab). Tuhan sudah memanggil kita, bagaimana jawab para remaja? Baik dalam segala dukungan maupun tantangan, kiranya kita tetap bertahan dan setia kepada Tuhan. Amin.