Kegemilangan yang Sia-Sia Pancaran Air Hidup 30 Juli 2022

30 July 2022

Bacaan: Mazmur 49 : 1 – 13 | Pujian: KJ. 363
Nats: “Tetapi dengan segala kegemilangannya manusia tidak dapat bertahan, ia boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan.” (Ayat 13).

Sewaktu kecil, saya banyak mendengar saat ibu-ibu membicarakan tetangga kami yang kaya raya. Saking kayanya, harta bendanya tidak akan habis 7 turunan, sawah ladangnya dimana-mana sampai-sampai oleh pihak desa dilarang untuk membeli tanah lagi agar orang lain mempunyai kesempatan membeli dan mempunyai tanah, begitu yang saya dengar dulu. Namun sayangnya dengan harta benda yang sedemikian melimpah, mengapa kok dia sangat pelit? Ada yang bertanya, “mengapa mesti begitu berhemat?” Tetangga kami ini memberi jawab yang tidak dinyana-nyana, katanya, “Aku olehe donya iki rekasa wit enom, saiki ya kudu dieman-eman.” Sayang sekali, begitulah pendapat banyak orang. Apalagi tetangga kami ini bukan hanya pelit terhadap orang lain, terhadap diri dan keluarga sendiri pun begitu. Lalu, apa untungnya punya harta benda melimpah? Cibiran dan cemoohan yang beredar bisa sangat mungkin, karena orang iri, bisa juga sakit hati atau kecewa karena ketimpangan sosial, dan kemakmuran yang ternyata tidak membawa kebaikan bagi sekitar – toh harta dunia tidak akan dibawa mati.

Pemazmur saat ini sedang menyampaikan khotbah penghiburan oleh karena permasalahan dan kesedihan melihat kemakmuran orang fasik. Secara khusus pemazmur menyoroti akan dosa dan kebodohan mereka dalam mengarahkan keinginan hati pada perkara duniawi. Di ayat 12 disebutkan bahwa kegemilangan itu akan lenyap, bahkan manusia disamakan dengan hewan yang dibinasakan. Tidak ada tebusan yang memadai kepada Allah, sebagai ganti nyawanya, apalagi hanya harta benda (ayat 7-8).

Nyatanya segala apa yang kita miliki di dunia ini tidak berharga ketika berhadapan dengan Allah. Jika demikian apa yang patut dibanggakan dari semua kegemilangan dan kebahagiaan yang sia-sia itu, apabila tidak berhikmat dan berpengertian? Apa gunanya semua kegemilangan itu apabila justru membuat kita menjadi bagian dari orang-orang fasik? Semoga apa yang ada pada kita menjadi sarana bagi kita untuk memuliakan Allah. Amin. [Sv].

“Aku mungkin tidak kaya, tetapi aku sangat beruntung karena memiliki Yesus”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak