Bacaan: Yehezkiel 1 : 1 – 25 ǀ Pujian: KJ. 387
Nats: “Pada tahun ketiga puluh, dalam bulan yang keempat, pada tanggal lima bulan itu, ketika aku bersama-sama dengan para buangan berada di tepi sungai Kebar, terbukalah langit dan aku melihat penglihatan-penglihatan tentang Allah.” (Ayat 1)
Sabtu, 10 April 2021 menjadi hari yang tak terlupakan bagi saudara-saudara di GKJW Sukoanyar dan beberapa tempat di Malang Selatan. Gempa bumi berkekuatan 6,1 SR yang mengguncang telah merobohkan beberapa bangunan rumah milik warga jemaat. Rumah yang dibangun bertahun-tahun hancur dalam waktu beberapa menit saja. Akan tetapi, selalu ada berkah terselubung di setiap peristiwa dukacita yang dialami manusia. Sesuatu yang awalnya tampak buruk atau tidak menyenangkan, tapi ternyata di belakang hari menghasilkan sesuatu yang baik. Di tengah dukacita karena dampak gempa yang harus dirasakan, ada banyak cinta yang hadir menyapa. Cinta yang hadir tanpa mempedulikan sekat agama. Bantuan datang silih berganti, tidak hanya sekedar berupa barang akan tetapi juga tenaga. Sampai akhirnya dampak gempa bisa tertangani dengan baik.
Yehezkiel beserta dengan para pembesar, bangsawan dan tenaga-tenaga ahli dari Israel dibuang ke Babel. Diperkirakan Yehezkiel dibuang dari Yehuda ke Babel dalam masa pembuangan pertama tahun 597 SM. Di pinggir sungai Kebar, Yehezkiel mendapat penglihatan yang meyakinkan dia bahwa Allah memanggilnya untuk berbicara sebagai nabi kepada orang buangan. Ada gambar kemuliaan Allah dalam penglihatan yang diterima Yehezkiel. Hal ini ingin menjelaskan bahwa Allah tidak meninggalkan umat-Nya yang sedang berada di tanah pembuangan. Walaupun mereka telah meninggalkan Allah dan menuruti keinginan sendiri dan dewa-dewa lain. Kasih setia Allah tidak pernah berubah untuk umat-Nya, perjanjian yang diberikan kepada Israel sebagai bangsa terpilih tetaplah berlanjutkan. Ada berkat, anugerah, dan penyertaan Allah bagi bangsa Israel di tanah pembuangan.
Suka dan duka selalu mengiringi kehidupan manusia. Saat merasakan sukacita, manusia akan baik-baik saja. Akan tetapi saat dukacita menghampiri, seringkali tak cukup kekuatan untuk menghadapinya. Dukacita bisa menjadikan manusia kecewa dan putus pengharapan. Akan tetapi belajar dari Yehezkiel di tanah Babel dan saudara-saudara di Sukoanyar, dukacita yang menghampiri manusia tak akan pernah cukup menghentikan karya, cinta dan kasih setia Allah untuk manusia. Selalu ada berkah terselubung yang disediakan-Nya. Amin. [cha].
“What seems to us as bitter trials are often blessings in disguise.” (Oscar Wilde)