Damai Sejahtera-Nya, Kekuatanku untuk Bersaksi Khotbah Minggu 24 April 2022

11 April 2022

Minggu Paskah 2
Stola Putih

Bacaan 1: Kisah Para Rasul 5 : 26 – 33
Bacaan 2:
Wahyu 1 : 4 – 8
Bacaan 3:
Yohanes 20 : 19 – 31

Tema Liturgis: Kebangkitan Kristus Menumbuhkan Harapan dan Keberanian
Tema Khotbah:
Damai Sejahtera-Nya, Kekuatanku untuk Bersaksi

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kisah Para Rasul 5 : 26 – 33
Para rasul semakin bersemangat memberitakan Injil Kristus, sehingga banyak orang yang semakin percaya kepada Yesus. Keadaan ini menjadi perhatian bagi Imam Besar dan orang-orang Saduki. Dengan bermaksud menolak Injil, para pejabat Yahudi menghendaki agar para rasul dibawa ke Mahkamah Agama. Kepala pengawal dan orang-orangnya yang kemudian membujuk para rasul itu untuk ikut secara sukarela. Mereka tidak berani menggunakan kekerasan waktu mengajak para rasul itu, karena takut reaksi keras masyarakat yang sangat menghormati para rasul.

Pada saat itu, para rasul berhadapan dengan orang-orang yang tidak menyukai mereka bahkan memberikan pertanyaan dan pernyataan keras yang ingin menjatuhkan mereka, namun semua itu tidak membuat para rasul menjadi gentar. Mereka tetap menerima dan menghadapinya dengan berani, tetap berani memberitakan tentang Yesus sekalipun ditolak dan dimusuhi.

Bersikap seperti para rasul bukanlah hal yang mudah, sebab orang sering lebih takut ditolak dan dimusuhi oleh orang lain. Banyak orang yang berpikir lebih baik menghindari masalah daripada terlibat dalam masalah yang ada, berbicara benar dan jujur serta menerima “serangan” kata-kata yang bisa melukai hati atau mengancam nyawa. Ketika yang terjadi seperti itu, maka keberanian hanyalah puing cita-cita belaka yang tak terwujud. Dalam keadaan yang demikian, kita perlu menenangkan diri di dalam kepanikan, ketakutan, dan kekalutan serta berserah kepada Tuhan yang mempunyai kendali penuh atas hidup kita.

Wahyu 1 : 4 – 8
Kitab Wahyu ditulis oleh salah seorang murid Yesus yang bernama Yohanes. Tulisan ini disampaikan kepada tujuh jemaat yang ada di Asia kecil, yang merupakan salah satu provinsi dalam kekaisaran Romawi. Ketika itu, menjadi pengikut Kristus bukanlah hal yang mudah. Banyak orang yang mengikuti Yesus merasakan ketakutan sebab berhadapan dengan penderitaan. Banyak pula yang disiksa dan dibunuh dengan kejam oleh penguasa kekaisaran Romawi. Yohanes membagikan penglihatan yang diterimanya itu, agar mereka yang sedang menghadapi penderitaan dapat tetap bertahan dengan iman mereka, dengan melihat karya Yesus sebagai Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati, yang berkuasa atas raja-raja bumi ini.

Yohanes 20 : 19 – 31
Setelah peristiwa penyaliban Yesus, para murid mengalami masa-masa yang berat. Berbagai perasaan campur aduk di hati mereka, kehilangan dan kesedihan, rasa bersalah dan ketakutan, cemas jika orang-orang Yahudi mencari mereka dan hendak membunuh mereka, seperti halnya yang telah mereka lakukan terhadap Yesus. Terlebih, kebangkitan Yesus juga disangkut-pautkan dengan para murid Yesus yang dianggap telah mengambil jasad Yesus yang hilang dari kubur.

Nampaknya, ketika itu para murid Yesus telah terpenjara oleh perasaan takut mereka, sehingga membuat mereka berkumpul di dalam ruangan dengan pintu-pintu yang terkunci. Sekalipun demikian, semua itu tidak membatasi Tuhan Yesus untuk hadir di dalam ruangan tersebut. Dia menampakkan diriNya kepada para murid. Rasa takut menguap, tergantikan dengan sapaan yang damai, menenangkan hati. “Damai sejahtera bagi kamu” adalah ucapan yang biasa diucapkan sebagai salam, namun sapaan Yesus dirasakan sangatlah berarti bagi murid Yesus yang sedang mengalami situasi yang tidak mudah. Sapaan itu disertai dengan bukti yang tidak dapat terbantahkan bahwa yang berdiri dihadapan mereka adalah Yesus yang telah bangkit. Mereka adalah saksi mata bahwa Dia hidup, karena itu mereka harus menyaksikannya kepada dunia. Kedua kalinya, Damai sejahtera bagi kamu!” diucapkan oleh Yesus untuk mempersiapkan mereka dalam penugasan yang mereka terima seraya Dia menghembusi mereka. Peristiwa ini mengingatkan kita akan penciptaan manusia (Kej. 2:7), seakan-akan untuk mengumumkan penciptaan baru, yang merupakan hasil dari penerimaan Roh Kudus yang akan memperlengkapi dan meneguhkan mereka dalam tugas dan pelayanan.

Ayat 24 menegaskan ketidakhadiran Tomas di antara para murid. Tampaknya, Tomas sedang ingin menyendiri dalam kesedihannya karena penderitaan dan penyaliban Yesus, Sang Guru. Tomas kembali bertemu dengan para murid, dan ketika itu, mereka berkata, “Kami telah melihat Tuhan!” (Ay. 25a). Tomas merespon dengan ketidakpercayaannya (Ay. 25b). Ia tidak percaya jika belum melihat dan membuktikannya sendiri. Logika Tomas telah menutup pintu hatinya dari kuasa Tuhan yang sedang bekerja.

Yesus kembali menembus pintu-pintu yang terkunci untuk menjumpai para murid. Sapaan kasih Kristus “Damai sejahtera bagi kamu!” kembali menjumpai para murid. Yesus meminta Tomas memasukkan jari dan tangannya pada bekas luka penyaliban yang ada pada tangan dan lambung-Nya. Pengakuan iman Tomas terucapkan, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Ay. 28). Kehadiran Yesus dan perasaan damai yang Tuhan Yesus berikan, memasuki ruang hati Tomas. Akhirnya Tomaspun percaya Tuhan Yesus telah bangkit dan hidup kembali walaupun iman yang dia nyatakan bukanlah hal yang mudah baginya. Oleh sebab itu, Yesus menegaskan pada ayat 29, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Percaya adalah ketika keadaan belum membaik namun mampu merasakan kehadiran dan kuasa Tuhan, serta mampu mempercayakan kehidupan kepada Kristus walaupun tidak pernah berjumpa dengan tubuh kebangkitan-Nya.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Penderitaan menjadi bagian dalam perjalanan kehidupan orang percaya. Penderitaan dialami oleh pengikut Yesus yang berhadapan dengan kekuasaan kaisar Romawi (bacaan 2) dan juga para rasul yang diperhadapkan dengan Mahkamah Agama (bacaan 1). Penderitaan yang mereka rasakan dikarenakan mereka berani mempertahankan iman mereka dan bersaksi tentang Yesus yang bangkit.

Bacaan 3 menjadi fokus dalam ibadah Minggu saat ini. Ketika para murid sedang menutup diri dari orang-orang Yahudi pasca kematian dan kebangkitan Yesus, dalam ketakutan mereka, Tuhan Yesus menghadirkan damai sejahtera. Damai sejahtera ini pula yang mendorong para murid merespon pengutusan dari Tuhan Yesus untuk bersaksi tentang karya, kasih, kebangkitan dan hidup-Nya.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Menjadi saksi Kristus adalah panggilan hidup setiap orang percaya. Namun, dalam kenyataannya tidak mudah untuk melakukannya, terlebih ketika kehidupan yang dijalani sedang menghadapi pergumulan dan beban hidup yang menekan berat, yang tak kunjung usai dan tidak menemukan jalan keluar. Kecemasan, ketakutan, keraguan, kekecewaan, penyesalan mulai menyelinap dalam hati dan ada rasa enggan, meski hanya sekedar untuk berbagi bahkan bersaksi. Hal inilah yang terjadi dan dirasakan dalam perjalanan kehidupan para murid Yesus.

Isi
Dimulai dari peristiwa Yesus ditangkap, para murid justru pergi meninggalkan-Nya, melarikan diri entah kemana. Peristiwa kematian Yesus di kayu salib memang membuat mereka merasakan kesedihan, kehilangan, putus asa, dan ketakutan. Mereka takut jika mereka ditangkap oleh orang-orang Yahudi dan diperlakukan sama seperti Yesus. Bahkan ketika mendengar kabar kebangkitan Yesus, dibalik rasa sukacita yang dibagikan oleh para perempuan, masih ada kebimbangan dan ketakutan di dalam diri para murid. Terlebih ketika orang Yahudi menganggap bahwa Yesus tidak bangkit. Mereka justru menuduh para muridlah yang mencuri jasad Tuhan Yesus. Para murid Yesus telah kehilangan damai sejahtera, mengalami keputus-asaan, merasa rasa tidak layak, dan ragu-ragu. Inilah yang menjadi alasan bagi para murid yang akhirnya berkumpul dalam suatu tempat. Mereka bersembunyi dalam ketakutan mereka, menutup diri, dan mengunci rapat semua pintu. Berharap tidak ada orang Yahudi yang mengetahui keberadaan mereka saat itu.

Bukan hanya pintu rumah yang tertutup rapat, tetapi juga pintu hati mereka tertutup rapat oleh ketakutan mereka. Namun semua itu tidak menghalangi Yesus hadir di tengah-tengah mereka. Lalu Yesus memberi salam: “Damai sejahtera bagi kamu” (Yunani : Eirene, Ibrani : Shalom Aleichem). Salam ini memang begitu khas diucapkan sebagai sapaan. Dan dalam keadaan yang dialami para murid, sapaan ini sungguh dibutuhkan dan berarti. Sebuah ungkapan bahwa Yesus datang membawa dan menghadirkan damai sejahtera dalam penyertaan-Nya bagi mereka yang sedang kalut. Hadirnya Yesus tidak sedang melakukan sulap, seketika mengubah keadaan menjadi baik, tidak! Persoalan yang dihadapi oleh para murid masih tetap ada, namun penyertaan Tuhan Yesus menenangkan hati mereka. Damai sejahtera melampaui segala keraguan, ketakutan, ketidaklayakan, keberdosaan, dan penyesalan mereka. Damai sejahtera itulah yang memberikan mereka keberanian untuk bangkit dari ketakutannya. Untuk kedua kalinya, Tuhan Yesus menyapa mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Damai sejahtera itu semakin memenuhi ruang hati mereka dan meneguhkan dalam perutusan yang diberikan Yesus kepada mereka untuk menjadi saksi-Nya dengan menghembusi mereka: “Terimalah Roh Kudus” (ayat 22). Ini mengingatkan kita pada penciptaaan manusia di dalam Kejadian 2:7. Yesus berkenan menerima para murid apa adanya dan memakai mereka untuk bersaksi tentang Dia, bersaksi akan kasih Allah sebab kini mereka adalah ciptaan yang baru yang dikasihi dan disertai oleh Roh Kudus.

Saat itu, Tomas tidak bersama dengan mereka. Tampaknya, Tomas ingin menyendiri dalam kesedihannya atas peristiwa salib yang dialami oleh Yesus. Ungkapan sukacita para murid: “Kami telah melihat Tuhan” (ayat 25) direspon dengan ketidakpercayaannya. Pikirnya, karena belum melihat dan membuktikannya sendiri, maka dia tidak percaya dengan berita itu. Logika Tomas telah menutup pintu hatinya dari kuasa Tuhan yang sedang bekerja. Namun, Tuhan Yesus tidak menginginkan Tomas menjadi seorang murid yang hanya mengandalkan logika. Delapan hari kemudian, Tuhan Yesus kembali menembus pintu-pintu rumah yang terkunci untuk menjumpai para murid-Nya dengan sapaan yang penuh kasih: “Damai sejahtera bagi kamu!” (Ay. 26). Yesus meminta Tomas memasukkan jari dan tangannya pada bekas luka penyaliban yang ada pada tangan dan lambung Tuhan Yesus. Melalui semua itu, kehadiran Kristus yang telah bangkit membuka pintu hati Tomas. Hati Tomas yang terbuka langsung memberikan respon dengan sebuah pengakuan iman: “Ya Tuhanku dan Allahku!”(Ay. 28). Damai sejahtera dari Yesus telah memasuki hati Tomas, dan akhirnya Tomas pun percaya akan kebangkitan Tuhan Yesus, walaupun hal beriman bukanlah hal yang mudah baginya.

Penutup
Dengan adanya bukti, akan dengan mudah membuat orang percaya. Sebaliknya, seseorang akan sulit percaya jika tidak melihat bukti atau kenyataannya. Persoalannya, tidak semua dalam kehidupan ini bisa dibuktikan secara kasat mata, termasuk tentang iman percaya. Iman percaya melampaui logika manusia. Oleh sebab itu, Yesus berkata, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Ay. 29b). Sekalipun kita tidak melihat tubuh Tuhan Yesus yang telah bangkit, kita tetap mampu merasakan kehadiran dan kuasa Tuhan, serta mampu mempercayakan diri kepada Kristus.

Keadaan hidup kita saat ini mungkin masih belum membaik, kita masih terus bergumul dengan banyak hal dalam hidup ini. Namun kita dipanggil Tuhan untuk bersaksi. Menemukan kasih dan kebaikan-Nya di tengah pergumulan hidup serta menceritakannya kepada orang lain. Bersaksi tidak perlu menunggu “nanti” dan “nanti”. Bersaksi tidak perlu menunggu ketika semua dalam keadaan baik-baik saja, atau ketika kita tidak lagi melakukan dosa.

Marilah kita ingat, sebagaimana Yesus telah memanggil para murid di dalam keberdosaannya dan mengutus mereka, Dia berkata, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” (Ay. 21b). Saat ini, Tuhan Yesus berkenan memakai kita menjadi saksi-Nya. Bersaksilah untuk menyapa dan menguatkan orang lain serta memuliakan nama Tuhan Yesus. Amin. [PM].

 

Pujian: KJ. 264 : 1, 3 Karna Jemaat di Sorga Mulia


Rancangan Khotbah: Basa Jawi

Pambuka
Dados seksinipun Gusti Yesus punika timbalan gesang ingkang endah dhateng para tiyang pitados. Ananging, kasunyatanipun prekawis punika mboten gampil dipun lampahi, punapa malih nalika gesang ingkang dipun lampahi punika kebak pekewed lan pergumulan. Awrating gesang punika kados – kados mboten wonten telasipun, kados-kados nemahi margi buntu. Karana punika asring kita rumaos sumelang, ajrih, mangu – mangu, getun ing salebeting manah. Kita ugi asring ngraosaken aras – arasen kangge makarya salebeting gesang punika. Kita rumaos ewet kangge andhum berkah, punapa malih kangge dados seksinipun. Bab mekaten punika ingkang kelampahan dan dipun raosaken dening para sakabat salebetings gesangipun.

Isi
Cariyos punika dipun wiwiti saking prastawa kacepengipun Gusti Yesus. Ing kahanan ingkang mekaten punika, para sakabat sami nilar Panjenenganipun, mlajeng mboten kanten – kantenan. Prastawa sedanipun Gusti Yesus wonten kajeng salib, ndadosaken para sakabat semplah ing manah, kecalan pangajeng-ajeng, lan rumaos ajrih. Ajrih menawi piyambakipun kacepeng kados dene Gusti Yesus. Nalika para sakabat mireng pawartos wungunipun Gusti Yesus saking para sakabat estri, para sakabat taksih ngraosaken was sumelang lan ajrih. Punapa malih nalika para tiyang Yahudi martosaken bilih Gusti Yesus mboten wungu. Tiyang Yahudi martosaken bilih layonipun Gusti Yesus dipun pendet kaliyan para sakabatipun. Para sakabat sami kecalan raos tentrem rahayu, kagantos raos “frustasi”, rumaos mboten layak, mangu-mangu, lan getun. Punika ingkang dados alesan kangge para sakabat sami makempal wonten ing satunggalipun panggenan, sami singitan salebeting raos ajrih, mboten ngatingalaken kawontenan piyambakipun, lan sedaya korining griya punika sami dipun kancing. Para sakabat sami ngajeng – ajeng supados para tiyang Yahudi sami mboten nyumerepi kawontenanipun.

Sanyatanipun, mboten namung korining griya ingkang sami dipun tutup, para sakabat ugi sami nutupi korining manahipun, karana raos ajrih. Ananging sedaya punika, mboten ngalang – alangi anggenipun Gusti Yesus rawuh lan ngatingalaken Sariranipun dhateng para sakabat. Gusti Yesus lajeng ngendhika “Tentrem rahayu anaa ing kowe kabeh” (Yunani: Eirene, Ibrani: Shalom Aleichem). Salam punika inggih salam ingkang “khas” kangge sapa aruh kaliyan tiyang sanes. Salebeting kahanan ingkang dipun lampahi dening para sakabat, salam punika minangka salam ingkang aji lan mupangati. Salam punika nedahaken bilih Gusti Yesus rawuh mbekta raos tentrem rahayu tumrap para sakabat salebeting raos ajrihipun. Rawuhpun Gusti Yesus mboten kados tiyang ingkang sami nindhakaken “sulap”, ingkang saged ngrubah kahanan sak det sak nyet dados sae, mboten! Para sakabat taksih ngadepi kahanan lan prekawis gesangipun, ananging Gusti Yesus tansah nganthi tuwin nentremaken manahipun para sakabat. Tentrem rahayu punika nglangkungi sedaya raos mangu – mangu, ajrih, mboten layak, dosa, raos keduwungipun para sakabat. Tentrem rahayu punika ingkang dadosaken para sakabat kiyat, nebihi raos ajrih.

Kaping kalihipun, Gusti Yesus uluk salam dhumateng para sakabat, sarta ngendika, “Tentrem rahayu anaa ing kowe kabeh!” Para sakabat ngraosaken tentrem rahayu saking Gusti punika. Saking raos tentrem rahayu punika, para sakabat nglajengaken tugas pangutusan saking Gusti Yesus dados seksi-Nipun. Gusti Yesus maringi Roh Suci dhateng para sakabat, “Padha nampanana Roh Suci” (Ay. 22). Gusti Yesus kersa nampi lan ngutus para sakabat dados seksinipun. Dados seksi tumrap sih katresnanipun Allah, karana wiwit sak punika para sakabat sami dados titah enggal ingkang dipun tresnani lan dipun kanthi dening Sang Roh Suci.

Nalika semanten, Tomas mboten sarengan kaliyan para sakabat. Tomas saweg piyambakan. Tomas saweg trenyuh tumrap prastawa salib ingkang dipun alami dening Gusti Yesus. Para sakabat ingkang bingah atur pangucap, “Aku wus padha ndeleng Gusti!” (Ay. 25). Pangucap saking para sakabat punika boten dipun tangkepi kaliyan Tomas. Karana piyambakipun dereng nyumerepi piyambak rawuhipun Gusti Yesus. Gusti Yesus mboten karenan bilih Tomas dados siswa ingkang namung ngandelaken “logika”. Ing wolung dintenipun sak smapunipun, Gusti Yesus ngrawuhi para sakabat ingkang saweg sidem ing salebeting griya ingkang dipun tutup korinipun. Gusti Yesus ngendhika, “Tentrem rahayu anaa ing kowe!” (Ay. 26). Gusti Yesus lajeng matur dhateng Tomas supados drijinipun dipun lebetaken dhumateng Asta-Nipun lan Lambung-Ipun Gusti Yesus. Lumantar prastawa punika, Tomas pitados bilih Gusti Yesus saestu sampun wungu. Gusti Yesus kersa mbikak korining manahipun Tomas. Penggalihipun Tomas ingkang sampun kabuka, lajeng paring wangsulan salebeting iman kapitadosanipun, kanthi munjuk, “Dhuh Gusti kawula, Allah kawula!” (Ay. 28). Tentrem rahayu ingkang saking Gusti Yesus rumesep salebeting manahipun Tomas. Tomas pitados, sanajan kapitadosanipun punika mboten gampil.

Panutup
Kanthi wontenipun bukti, tiyang sami pitados. Kosok wangsulipun, tiyang ewet pitados bilih dereng nyumerepi bukti kasunyatanipun. Masalahipun mboten sedaya prekawis ing gesang punika saged dipun buktekaken kaliyan mripat tinarbuka, mliginipun iman kapitadosan. Iman kapitadosan punika ngungkuli “logika” manungsa. Pramila, Gusti Yesus paring pangandika, “Rahayu wong kang padha ora ndeleng, nanging kumandel” (Ay. 29b). Sanajan kita mboten saged ningali raganipun Gusti Yesus ingkang sampun wungu, ananging kita tetep saged ngraosaken rawuhipun, tuwin panguwaosipun dhateng gesang kita.

Ing kahanan gesang kita sakpunika, bilih kita ngraosaken karibetan, awrating gesang, pergumulan sampun ngantos kita semplah lan nglokro. Gusti Yesus nimbali kita dados seksi-Nipun, supados kita saged manggihaken sih katresnan-Ipun lan kasaenan-Ipun Gusti salebeting prekawis gesang kita. Dados seksi mboten kedah ngrantos “mangke” lan “mangke“. Dados seksi mboten ngrantosi sedaya kahanan sae rumiyin, utawi nalika kita mboten nindhakaken dosa. Sumangga kita sami enget bilih Gusti Yesus sampun nimbali para sakabat sanajan kathah dosanipun, Gusti Yesus karsa ngutus sedayanipun, pangandhikanipun, “Kaya anggonKu kautus dening Sang Rama, kowe saiki iya padha Dakkongkon”(Ay. 21b). Gusti Yesus ugi karsa ngutus kita dados seksi-Nipun. Dados seksi kangge ngiyataken lan martosaken wungunipun Gusti Yesus dhateng tiyang sanes, sarta ngluhuraken asma-Nipun Gusti. Amin. [PM].

 

Pamuji: KPJ. 117 Kala Kula Dhawah

Renungan Harian

Renungan Harian Anak