Bacaan: Markus 13 : 1 – 8 | Pujian: KJ. 433 : 1
Nats: ”Maka mulailah Yesus berkata kepada mereka: Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!” (Ayat 5b).
Dalam tata cara kehidupan masyarakat Jawa jaman dulu, setiap keluarga menyediakan genthong berisi air bersih di depan rumah mereka masing-masing. Tujuannya, jika sewaktu-waktu ada orang lain yang haus saat dalam perjalanan yang ditempuh dengan berjalan kaki, air di genthong itu dapat menjadi bentuk pertolongan. Dari tradisi ini kemudian muncul istilah tenar: urip iku mung mampir ngombe. Dalam tata cara hidup dan unen-unen tersebut terkandung falsafah hidup yang teramat dalam, yakni saling berbagi, menyediakan diri untuk memberi. Ini warisan budaya luhur. Nilai luhurnya terletak pada penggalian sikap dasar batin setiap manusia, yakni berbagi atau memberi pertolongan kepada orang yang membutuhkan. Bahkan dalam keterbatasan yang tidak mungkin secara penuh waktu memperhatikan kebutuhan orang lain, para leluhur masih sempat menyediakan genthong berisi air bersih agar sewaktu-waktu dapat dirujuk sebagai sumber pertolongan. Pada perkembangannya, moral manusia semakin merosot. Manusia cenderung suka melihat sesuatu yang nampak di luar saja, tanpa mau menggali nilai-nilai etis dan mendasar dalam setiap tata cara hidup yang diberlakukan. Menyediakan genthong di depan rumah memang sudah bukan jamannya. Tetapi, sikap etis untuk menyediakan diri memberi pertolongan bagi yang lain justru menjadi kebutuhan utama setiap manusia di jaman ini.
Melalui penulis Injil Markus, Tuhan Yesus ingin mengingatkan kita agar waspada terhadap kesesatan yang diusung oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan pribadi atau golongan. Hari-hari ini, semakin banyak orang yang ”menuhankan” dirinya sendiri bahkan mengatas-namakan Tuhan demi kepentingannya pribadi Sikap yang demikian ini menjadikan gambar kehidupan yang semakin memudar. Kehidupan yang semestinya kaya dengan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu melalui tata cara hidup berdampingan. Namun, tata cara itu seiring waktu hanya dilihat sebagai sebuah cara saja, tanpa menggali nilai dasar yang terkadung di dalamnya.
Sikap berbagi dapat dilakukan dengan banyak cara. Bukan hanya dengan menyediakan genthong berisi air bersih di depan rumah saja. MARKILI. Mari kita terus menggali nilai-nilai luhur budaya kita, agar ide tentang kedamaian dapat tergapai. Menghayati setiap nilai luhur yang diwarisi, berarti kita terus berupaya untuk waspada terhadap kesesatan hidup. Amin. [aan].
”Keluhuran manusia ada pada penghayatannya terhadap tata cara hidup.”