Bacaan: Rut 1 : 1 – 22 | Pujian: KJ. 260
Nats: “Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apa pun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!” (Ayat 17b)
Ada sebuah pernyataan, “Jika anda membenci perbedaan, sejatinya anda membenci seluruh manusia – karena semua manusia itu dicipta berbeda adanya”. Hakikatnya manusia dicipta dengan keperbedaan – mulai dari sifat, karakter, latar belakang, golongan, dan segala atribut yang lain. Namun pertanyaan besarnya adalah “Modal keperbedaan yang ada dalam diri setiap manusia ini akan digunakan untuk membangun apa? Tembok pemisah karena berbeda atau jembatan penghubung keselarasan dalam keperbedaan?”
Berbicara masalah perbedaan, kisah Rut Naomi memiliki modal yang lebih dari cukup untuk membuat batasan ataupun tembok pemisah! (1) Rut adalah orang Moab, sedangkan Naomi adalah orang Yahudi. Mereka memiliki cara dan latar belakang yang berbeda dalam memahami Tuhan. (2) Relasi mereka hanya sebatas menantu-mertua (bukan hubungan sedarah/ sekandung). Ada modal dan peluang yang cukup jika mereka mau membuat jarak! Namun mereka mengolah modal itu bukan untuk semakin berjarak, melainkan membuat penghubung yang pada akhirnya mereka mampu untuk saling memahami. Pada akhirnya, mereka sama-sama memahami arti kehilangan sosok yang dikasihi (Rut kehilangan suami dan Naomi kehilangan anak). Mereka sama-sama memahami bahwa relasi mereka tidak sekedar menantu-mertua, melainkan sudah menjadi relasi anak-orang tua.
Kebijaksanaan untuk mengolah modal perbedaan inilah yang menjadi sebuah tantangan bagi kita bersama! Mari melihat diri, masihkah kita sibuk untuk memaksa agar semua orang menjadi sama dengan kita? Masihkah kita sibuk untuk terus berpusat pada sebuah batasan jelas antara aku dan kamu? Atau masihkah kita sibuk mengurus sampul yang berbeda tanpa sama sekali menyentuh masalah sosial bersama? Di sini, saya bergumam, “Mengapa Tuhan mengijinkan pandemi Covid-19 ini terjadi dalam kehidupan manusia bersama?” Mungkin Tuhan mau membuka mata semua orang yang masih sibuk membangun sekat pemisah bahwa pada kenyataan dalam sebuah penderitaan bersama, kita adalah saudara dan keluarga yang sama-sama merindukan tentram dan bahagia dalam relasi cinta. Amin. [gus].
“Cinta menciptakan jembatan dalam keperbedaan”