Kemurnian Hidup Pancaran Air Hidup 26 September 2021

26 September 2021

Bacaan: Markus 9 : 38 – 50 | Pujian: KJ. 350 : 1, 3
Nats:
“Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.” (Ayat 42).

Ada beberapa lagu jika dipikir-pikir lebih dalam ternyata bisa “menyesatkan”. Misalnya “Balonku ada lima rupa-rupa warnanya, merah, kuning, kelabu, merah muda dan biru. Meletus balon hijau … Dor!” Itu balon hijau datang darimana sih? Katanya ada lima, kok muncul warna hijau? Jadi balonnya ada 6! Bukan 5. Contoh yang lain, lagu Burung Kutilang: “Di pucuk pohon cemara, burung Kutilang berbunyi, bersiul-siul sepanjang hari dengan tak jemu-jemu. Mengangguk-angguk sambil bernyanyi … Trilili lili lili li …” Kapan pernah burung bersiul “trilili lili lili”? Bukannya burung di pohon itu bersiulnya cicit cicit cuit cit cicit cicit cuit seperti lagunya Joshua? Akan tetapi kenyataannya tetap ada orang di masa sekarang yang “kritis” menyikapi “penyesatan” (dalam tanda petik) yang ada dalam lagu anak tempo dulu itu.

Pada bacaan Alkitab hari ini, kita diingatkan dengan keras untuk tidak menyesatkan. Perkataan Yesus yang ekstrim mengandung perintah yang jelas bahwa Ia tidak menginginkan kita menjadi batu sandungan bagi orang lain, dan tidak mudah tersandung karena orang lain. Karena itulah, Yesus menggunakan kata “garam”. Sebab fungsi garam sangat penting bagi masyarakat Yahudi, yaitu untuk memurnikan sesuatu. Garam adalah lambang kemurnian, putih, berasal dari air laut yang disinari matahari. Sehingga ungkapan “setiap orang akan digarami dengan api” berarti setiap orang percaya harus melewati ujian pemurnian hidup. Di ayat 50, disebutkan “hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dhirimu” artinya perintah untuk menjaga kemurnian hidup kita masing-masing.

Dengan tidak membiarkan dhiri sendhiri menjadi batu sandungan bagi orang lain dan tidak mudah tersandung adalah kunci hidup damai bersama sesama. Termasuk ketika kita meninggikan dhiri sendhiri di antara teman-teman dan ketika kita iri terhadap orang lain yang lebih hebat dari kita. Perbuatan demikian bisa menjadi batu sandungan dalam hidup kita bersama. Karena itu cara mujarab untuk menghindarinya adalah dengan tanggung jawab tiap orang menjaga kemurnian hidupnya. (Mts).

“Kemurnian hidup akan menentukan seberapa banyak pekerjaan Tuhan dapat disaksikan kepada orang-orang di sekitar anda.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak