Minggu Biasa – Penutupan Bulan Kitab Suci
Stola Hijau
Bacaan 1: Bilangan 11 : 4 – 6, 10 – 16, 24 – 29
Bacaan 2: Yakobus 5 : 13 – 20
Bacaan 3: Markus 9 : 38 – 50
Tema Liturgis: Firman Tuhan Penuntun Kehidupan
Tema Khotbah: Pilih Hidup: Dituntun Hawa Nafsu atau Firman Tuhan?
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Bilangan 11 : 4 – 6, 10 – 16, 24 – 29
Berawal pada hari kedua puluh, bulan kedua pada tahun kedua, semua suku Israel berangkat dari Sinai menurut urutan yang sudah ditetapkan pada pasal-pasal sebelumnya. Dengan awan yang berjalan di depan mereka, menuju ke padang gurun Paran. Waktu berlangsungnya memang tidak disebutkan, namun kita dapat mengetahui bahwa rangkaian peristiwa yang dikisahkan, memakan waktu sedikitnya beberapa bulan (empat puluh hari untuk kedua belas mata-mata dan beberapa minggu atau bulan untuk ps. 10-12). Jalur perjalanan mereka ialah menuju Kadesy (13:26) melalui Tabera (11:3) dan Kibrot-Taawa (11:35).
Pada perikop sebelumnya, pada peristiwa Tabera, diceritakan bahwa bangsa Israel telah diingatkan oleh Tuhan melalui nyala api-Nya. Dan ternyata pada perikop ini pun, Bangsa Israel menerima kembali wujud amarah dan peringatan dari Tuhan. Bangsa Israel rupanya tidak mau belajar dari hajaran kecil di Tabera, bangsa Israel membiarkan pengacau menyeret mereka untuk mendambakan daging, buah-buah serta sayuran segar dari Mesir. Murka Allah kembali berkobar terhadap mereka dan bahkan Musa juga terjebak dalam perasaan kesepian karena harus memikul tanggung jawab atas berandal-berandal rohani itu sendirian. Musa meminta Tuhan membunuhnya daripada membiarkan dia memikul sendiri beban orang Israel itu. Karena itu Allah menugaskan tujuh puluh tua-tua untuk membantu Musa memikul tanggung jawab tersebut serta memberikan kepada mereka roh nubuat. Ketika dua orang tua-tua, yang tidak termasuk tujuh puluh orang tersebut, mempergunakan karunia bernubuat di tengah perkemahan, Yosua memohon kepada Musa agar menghentikan mereka. Permohonan itu membuat Musa memberikan jawaban yang sangat terkenal itu, “Ah, kalau seluruh umat Tuhan menjadi nabi, oleh karena Tuhan memberi Roh-Nya hinggap kepada mereka.” (Ps. 11: 29). Keinginan orang Israel untuk makan daging terpenuhi ketika Allah mengirimkan burung puyuh untuk dimakan. Orang-orang yang sudah sangat bernafsu itu makan sepuas-puasnya sehingga tidak lama kemudian sebuah tulah menimpa mereka.
Yakobus 5 : 13 – 20
Pada bagian ini, topik ‘pengendalian lidah’ nampaknya masih menjadi pesan utama yang ingin Yakobus sampaikan kepada pembaca suratnya. Pertama, peringatan agar orang Kristen tidak bersumpah. Kedua, anjuran agar mereka yang jatuh sakit akibat dosa, saling mengakui dosa agar disembuhkan.
Bersumpah adalah mengklaim atas nama Tuhan untuk menguatkan pernyataan seseorang. Akan tetapi tidak semua orang yang telah bersumpah dalam nama Tuhan untuk meyakinkan orang lain terhadap sumpahnya itu, kemudian benar-benar melakukan apa yang diucapkannya. Maka disinilah penulis surat Yakobus memberikan larangan keras kepada setiap orang untuk tidak mudah bersumpah dengan mengatas-namakan Tuhan, tetapi tidak dapat menjalankannya. Maksudnya, orang Kristen harus memelihara kesatuan kata dan perbuatan. Kita harus berkata benar mengenai segala hal, dan tiap perkataan kita harus dapat dipercaya.
Dalam segala keadaan, melalui lidahnya setiap orang percaya dipanggil untuk senantiasa menyatakan ketergantungan dan syukurnya kepada Tuhan (13). Bila tubuh sedang lemah atau menderita penyakit berat yang memerlukan pelayanan dia, orang bisa memanggil penatua jemaat. Ada dua tindakan yang diperlukan agar doa itu dijawab Tuhan dengan menyembuhkan orang sakit tersebut. Pertama, pengakuan dosa. Karena ada semacam pemahaman yang dihidupi oleh orang-orang percaya pada saat itu, bahwa sebagian sakit yang diderita oleh seseorang, disebabkan oleh perbuatan dosanya. Si sakit harus mengakui dosanya kepada Tuhan dan kepada sesama, kepada siapa orang tersebut berbuat salah. Kedua, penatua jemaat diajari Yakobus untuk mengurapi dengan minyak (14). Pengolesan dengan minyak berkaitan dengan kebiasaan PL yang melambangkan berkat atau urapan Allah. Juga dengan kebiasaan saat itu yang menganggap minyak mengandung zat yang menyembuhkan.
Doa yang dinaikkan dalam iman berarti dinaikkan dengan keyakinan akan kuasa Allah yang dapat menyembuhkan. Selain saling mendoakan, orang percaya pun harus bertindak membawa balik saudara seiman yang jatuh ke dalam dosa. Surat Yakobus menekankan iman yang harus dinyatakan dalam perbuatan. Hidup yang benar adalah bukti dan hasil dari iman. Iman dan kebenaran harus mewujud nyata dalam setiap aspek tindakan kita.
Markus 9 : 38 – 50
Yohanes menjadi sangat gelisah dan segera angkat bicara ketika ia mengetahui ada orang lain yang mencatut nama Yesus untuk mengusir setan. Pada zaman itu Yesus sangat terkenal karena kuasa-Nya. Tidaklah mengherankan apabila nama Tuhan Yesus dipercaya dan digunakan untuk melakukan pengusiran setan. Namun terkesan sekali melalui sikap yang ditunjukkan oleh Yohanes, perihal menggunakan nama Yesus untuk suatu mukjizat secara resmi hanya boleh dilakukan oleh murid-murid Yesus saja (Mrk. 6:7). Di luar para murid Yesus tidak memiliki hak untuk mencatut nama Yesus guna mengusir setan.
Dengan melaporkan kepada Yesus perihal pencatutan nama-Nya, diharapkan Yesus merespon dengan menegur orang tersebut. Namun respon Yesus agaknya tidak sesuai harapan Yohanes. Yesus malah mengatakan agar para murid tidak perlu melarang orang yang menggunakan nama-Nya, sebab orang tersebut berada di pihak Yesus (39-40). Hanya saja iman si pengusir setan yang belum berkembang harus dikembangkan lebih lanjut dan bukan dihalangi. Yesus mengajak Yohanes berpikir lebih jauh bahwa para murid mesti memperhitungkan dan menghargai apa yang telah dilakukan oleh orang-orang tersebut. Orang rendah hati akan mampu menghargai karya orang lain.
Yesus paham betul apa yang ingin diungkapkan Yohanes dan para murid lainnya. Keberatan Yohanes mengandung maksud agar Sang Guru memberikan pernyataan secara resmi kepada khalayak ramai bahwa hanya para murid yang berhak melakukan kuasa dalam nama Yesus. Pada akhirnya hal ini bukan bicara tentang kecintaan kepada Yesus, namun kecintaan kepada diri sendiri.
Markus menjelaskan lebih lanjut tentang pengikut Kristus. Bacaan di atas adalah suatu peringatan bagi mereka yang menyesatkan baik terhadap orang lain maupun diri sendiri. Ada hukuman yang telah menanti. Garam dan api adalah simbol pemurnian sekaligus penghukuman. Pada bagian sebelumnya (9:38-41), Markus mengajarkan bahwa menjadi pengikut Kristus berarti hidupnya berpusat pada Kristus. Apa bukti hidup yang telah berpusat pada Kristus? Mereka terus dimurnikan sehingga tidak ada kesesatan. Menjalani pemurnian memang tidaklah mudah. Ada pengorbanan yang harus diberikan. Yesus memberikan contoh anggota tubuh kita seperti tangan, kaki, dan mata yang melambangkan perbuatan-perbuatan kita. Perbuatan kita mencerminkan pemurnian dari hari ke hari dan untuk itu diri kita harus siap hidup seturut dengan Kristus.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Dari ketiga bacaan di atas, kita dapat menarik satu keterkaitan yang utuh bahwa panggilan orang percaya dalam menjalani kehidupan berimannya haruslah senantiasa dapat menempatkan diri dengan baik, mampu menjaga perbuatan dan perkataannya, agar jangan sampai melalui perkataannya ataupun perbuatannya membawa malapetaka bagi orang lain. Dari bacaan pertama, keberadaan orang-orang disebut sebagai pengacau di tengah-tengah bangsa Israel telah membuat bangsa itu terpengaruh untuk memberontak kepada Tuhan Allah dengan lebih mementingkan hawa nafsunya daripada menyadari penyertaan Tuhan Allah dengan penuh rasa syukur. Demikian juga dari bacaan kedua, kita diajak untuk berhati-hati dalam berucap (bersumpah), agar jangan sampai justru melalui ucapan kita nama Tuhan Allah menjadi rusak. Baiklah kiranya setiap orang percaya mempergunakan karunia bicaranya untuk dapat saling mendoakan dan menguatkan. Puncaknya, penulis Injil Markus memperingatkan kita semua agar senantiasa mengingat arti panggilan hidup orang percaya sebagai garam dan terang, yang dipanggil untuk menjadi berkat bagi orang lain, bukan menjadi penyesat atau menjadi batu sandungan.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
Pendahuluan
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, mendapatkan pengakuan atau penghargaan dari orang lain merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Hal itu disebutkan oleh Abraham Maslow dalam makalahnya, “A Theory of Human Motivation”, di Psychological Review pada tahun 1943. Akan tetapi apabila tidak dikendalikan, kebutuhan supaya dihargai orang lain tanpa sadar dapat membuat seseorang jatuh pada jurang merasa lebih hebat dan meninggikan diri dibandingkan orang lain. Salah satu hal yang mungkin terjadi ketika seseorang merasa dirinya lebih hebat dibandingkan orang lain dan butuh pengakuan adalah munculnya sebuah hal yang biasa disebut “megalomania”.
Istilah ini menjadi sangat populer beberapa waktu yang lalu, pasca pemilihan presiden wakil presiden tahun 2019. Mengutip pernyataan seorang psikolog yang termuat di situs merdeka.com: “Seseorang yang memiliki gejala megalomania atau yang bisa disebut sebagai megalomaniak akan senantiasa memprioritaskan diri mereka sendiri dan tidak sungkan untuk mengeliminasi orang-orang di sekitarnya untuk dapat mendominasi lingkungan/ komunitas yang dia tinggali.” Meskipun seolah-olah tujuannya adalah untuk melindungi sebuah lingkungan/ komunitas yang dia hidupi, namun seseorang dengan megalomania syndrom akhirnya akan mengarah pada usaha untuk mengeksploitasi orang lain demi kepentingan dirinya sendiri.
Entah mengidap megalomania ataukah tidak, tetapi seringkali kita pun menemukan seseorang atau sekelompok orang tertentu yang sangat berhasrat untuk senantiasa mendapat perhatian dan penghargaan dari orang lain, entah dengan cara-cara yang tergolong baik ataupun dengan cara yang tergolong tidak baik. Cara baik yang dimaksud adalah: dalam seseorang itu menginginkan perhatian dari orang lain, dia benar-benar berupaya untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas hidup, melakukan tindakan-tindakan yang membuat orang lain kagum. Sedangkan cara yang tidak baik, adalah ketika seseorang atau sekelompok orang tersebut hanya berharap menjadi orang yang diperhatikan atau dihargai, tetapi tidak pernah mau berjuang untuk menjadi orang yang layak diperhatikan atau dihargai, bahkan senantiasa menempatkan orang lain jauh lebih buruk daripada diri atau kelompoknya.
Isi
Bapak, Ibu, dan saudara yang terkasih, kita tentu bisa menilai bahwa sikap-sikap yang hanya ingin dihargai, diakui, maupun menjadi pusat perhatian merupakan sikap yang beresiko membawa iklim yang tidak sehat di tengah-tengah suatu organisasi/ komunitas/ lingkungan. Apabila identitas dasar sebuah pribadi atau komunitas ternyata hanyalah dibangun berdasarkan kesamaan-kesamaan, hobi, bidang minat, pemikiran, latar belakang atau yang lain, maka pada akhirnya sangat dimungkinkan komunitas itu akan bergerak menjadi sebuah kelompok yang eksklusif, dan sulit terbuka pada komunitas lain yang berbeda, hal tersebut bisa menjadi permasalahan yang serius.
Melalui bacaan Firman Tuhan hari ini, utamanya dalam bacaan Injil, kita dapat menemukan satu fakta bahwa para murid ternyata juga jatuh pada jurang membangun sebuah komunitas yang eksklusif, kita sebut saja komunitas murid Yesus. Mungkin saja menurut mereka, komunitas yang mereka hidupi ini begitu istimewa, unggul, dan bergengsi. Anggotanya sama-sama murid pilihan, bahkan dipilih oleh Tuhan Yesus sendiri. Tidak hanya itu, anggotanya juga sama-sama diutus dan diberikan kuasa oleh Yesus, untuk melakukan pekerjaan Allah dalam nama-Nya.
Pada saat itu, tentulah banyak orang yang telah mengetahui betapa berkuasanya nama Yesus. Semua orang takjub melihat banyaknya mukjizat yang dilakukan Yesus. Karena takjubnya, banyak orang yang mengatakan Yesus adalah nabi Elia, Yohanes Pembaptis, atau salah seorang nabi, ada pula yang berharap bahwa Yesus adalah Mesias, yang akan membebaskan bangsa Yahudi dari penjajahan Romawi, memulihkan kembali kerajaan Israel. Coba bayangkan betapa bangganya menjadi seorang murid Yesus, menjadi komunitas orang-orang yang selalu berada di dekat Yesus, yang mendapat kesempatan berelasi secara personal dengan Yesus.
Bapak, Ibu, dan Saudara yang terkasih. Ternyata perasaan dan penempatan diri sebagai yang istimewa itu membuat para murid, utamanya Yohanes lupa diri. Mereka terganggu oleh kehadiran seorang yang tidak termasuk dalam komunitas mereka. Para murid merasa harus menjaga kehormatan komunitas mereka. Mereka tidak mengijinkan seorang yang bukan komunitas mereka, menggunakan nama Yesus secara ilegal. Itulah sebabnya, para murid segera bertindak. Mereka mencoba menghentikan orang itu. Namun, rupanya mereka tidak berhasil. Ketidakberhasilan mereka membuat Yohanes, salah satu murid yang dekat dengan Yesus, segera menghampiri Yesus. Ia memberitahu Yesus apa yang baru saja terjadi, “Guru, kami lihat ada seorang yang bukan pengikut kita, mengusir setan demi nama-Mu. Kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.”
Namun Yesus justru melarang mereka mencegah orang itu. Yesus malah menunjukkan sikap pro terhadap orang yang tidak dikenal itu, yang bukan termasuk dalam komunitas murid Yesus. Pada saat itu, Yesus baru saja mengajar para murid tentang arti menjadi yang terbesar, dalam perspektif kerajaan Surga. Para murid seharusnya ingat ketika Yesus pernah mengambil seorang anak kecil, lalu meletakkannya di tengah dan memeluk anak itu. Dan Ia berkata, “Barangsiapa menyambut seorang anak dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.” Saat itu, Yesus mengajar para murid tentang prinsip komunitas dalam kerajaan Allah. Barangsiapa hendak menjadi yang terbesar, harus mau menyambut dan menerima yang terkecil, yang dianggap rendah, yang berbeda dengan dirinya sekalipun. Dengan demikian keberadaan suatu komunitas akan diliputi dengan damai sejahtera dan berkat.
Sayangnya, para murid tidak mengerti prinsip komunitas dalam kerajaan Allah. Itu sebabnya, Yesus memberikan prinsip yang logis bagi para murid, agar mereka dapat memahami. Prinsipnya, yaitu dengan melihat apa yang dilakukan oleh orang itu, apakah ia mengatakan yang jahat tentang Yesus, apakah ia jelas-jelas melakukan tindakan yang melawan Yesus? Jika orang itu melakukan apa yang baik bagi kemuliaan Allah, maka ia adalah rekan, bukan lawan. Dengan kata lain, Yesus mengajar para murid untuk menerima orang yang tidak dikenal itu dan memandangnya sebagai rekan, di dalam satu komunitas kerajaan Allah.
Maka Yesuspun melanjutkan pengajarannya, supaya jangan setiap orangpun mengambil peran sebagai penyesat atau pengacau yang hanya ingin mencari perhatian, pengakuan, dan penghargaan tanpa memperhatikan kelangsungan hidup orang lain dalam komunitas itu. Dalam kaitannya dengan sehatnya suatu komunitas, Yesuspun memberikan gambaran tentang organ-organ tubuh manusia. Adalah baik jika masing-masing anggota tubuh itu dapat mengerti dan memahami perannya masing-masing, tanpa merasa diri paling baik, apalagi berlaku menjadi penyesat atau pengacau di tengah-tengah komunitas itu.
Penutup
Bapak, Ibu, dan Saudara yang dikasihi oleh Tuhan. Di sinilah kita diingatkan dan diajak untuk kembali melihat keberadaan diri kita sebagai pengikut Kristus di tengah-tengah komunitas atau organisasi-organisasi yang kita hidupi. Sudahkah kita menjadi orang yang mau dan mampu memahami keberadaan orang lain, dengan penuh sukarela mengesampingkan keinginan untuk selalu dilihat, dihargai, dan diakui oleh orang lain? Sudah itu kita lakukan entah itu di kehidupan keluarga kecil kita? Entah di lingkungan tempat kita bekerja? Terutama di tengah-tengah hidup berpelayanan di gereja? Juga dalam hidup berbangsa dan bernegara? Hanya dengan kita mengorbankan nafsu ingin dilihat, diakui, dan dihargailah, maka komunitas yang sehat akan dapat benar-benar terwujud. Mari membangun komunitas yang sehat, yang mau dan mampu saling mendukung dan mendoakan, saling mengerti tugas panggilan dan pelayanannya masing-masing. Tuhan memberkati. Amin. (YEP).
Pujian: KJ. 459 : 1, 4 Ya Bapa, Jamah AnakMu
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Bapak, Ibu, lan para Sedherek ingkang kinasih. Miturut Abraham Maslow wonten ing makalahipun, “A Theory of Human Motivation, ing Psychological Review” tahun 1943, nampeni pengaken utawi pangajen saking tiyang sanes punika kalebet salah satunggaling kabetahan dhasaripun manungsa. Ananging bilih boten dipun kendhalekaken kanthi sae, kabetahan supados dipun ajeni dening tiyang sanes punika saged ndadosaken tiyang dhawah dhateng juranging kadumehan, dados tiyang ingkang rumaos paling rosa lan nginggilaken dhirinipun piyambak. Lan saklajengipun, tiyang punika saged kemawon ngalami sakit mental ingkang kasebat megalomania.
Tembung megalomania punika dados tembung ingkang populer sakmantunipun pemilihan presiden lan wakil presiden ing tahun 2019. Mendhet sekedhik aturipun salah satunggal psikolog wonten ing situs merdeka.com: “Tiyang ingkang nggadahi tandha-tandha megalomania utawi ingkang biasa kasebat megalomaniak punika anggenipun nglampahi gesang padintenan anamung mikir dhirinipun piyambak lan malah-malah mboten nggadahi sungkan babar pisan bilih kapeksa nyingkiraken tiyang sanes ingkang wonten ing sakiwa tengenipun supados saged dados sesirahipun lingkungan utawi kelompok.” Kados-kados tumindhak punika dipun lampahi kangge nglindungi kelompok utawi lingkungan, ananging tiyang ingkang nggadahi megalomania syndrome punika ing pungkasanipun namung ngeksploitasi tiyang sanes kangge kapentingan dhirinipun piyambak.
Duka nembe nandhang megalomania punapa mboten, kita asring manggihi tiyang utawi kelompok ingkang kepengin sanget nampi kawigatosan lan pangajen saking tiyang sanes, ingkang dipun upadi kanthi cara ingkang sae lan mboten sae. Tegesipun pangupadi ingkang sae, ing salebeting kepengin sanget dipun wigatosaken dening tiyang sanes, tiyang punika ngupadi kanthi gesang ingkang langkung sae, ningkataken kualitas gesang, lajeng nindhakaken tumindhak-tumindhak ingkang saged ndamel tiyang sanes nggumun. Lajeng, pangupadi ingkang kalebet mboten sae, anggenipun tiyang punika ngupadi kawigatosan lan pangajen saking tiyang sanes boten dipun sarengi kaliyan perjuang dados tiyang ingkang pantes nampeni kawigatosan lan pangajen, punapa malih piyambakipun mapanaken tiyang sanes kalangkung awon katimbang piyambakipun utawi kelompokipun.
Isi
Bapak, Ibu, lan para Sedherek ingkang kinasih. Tamtunipun kita nggadhahi penggalih bilih kawontenan tiyang-tiyang ingkang kepengin dipun akeni lan dipun ajeni, wah malih dados pusat perhatian, saestu dados sesandhungan ing satengah-tengahing organisasi/ kelompok/ lingkungan. Bilih identitasipun pribadi utawi kelompok punika namung dipun dhasari punapa ingkang sami, sae punika hobi, bidang minat, pamikiran, latar belakang lsp, saged kemawon kelompok punika kalebet kelompok ingkang eksklusif, ingkang awrat nampi kawontanipun kelompok sanes ingkang benten, ing wusana kawontenan kados mekaten dados kawontenan ingkang saged mbeta permasalahan mirunggan.
Lumantar waosan Dhawuh Pangandikanipun Gusti dinten punika, mliginipun wonten ing waosan Injil, kita saged manggihi kasunyatan bilih para sakabat ugi dhawah ing juranging piala – mangun komunitas utawi kelompok ingkang eksklusif. Saged kita sebat kelompok para sakabatipun Gusti Yesus. Miturut penggalihipun para sakabat, kelompok ingkang piyambakipun gesangi punika mirunggan sanget, saestu unggul, lan bergengsi. Anggotanipun kemawon sadaya dipun pilih dening Gusti Yesus piyambak. Mboten namung punika ingkang dados mirungganipun kelompok punika, kelompok punika ugi dipun isi kaliyan para anggota ingkang sami-sami kautus lan dipun paringi panguwaos dening Gusti supados nindhakaken pakaryanipun Allah ing salebeting asmanipun.
Ing rikala semanten, tamtunipun kathah tiyang ingkang sami mangertos kados pundi pangwasanipun Gusti Yesus. Sadaya tiyang nggumun ningali kathahipun mukjijat ingkang dipun tindhakaken dening Gusti. Ngantos-ngantos kathah tiyang ingkang nyebat Gusti Yesus punika nabi Elia, Yokanan Pembaptis, utawi salah satunggalipun para nabi, wonten malih ingkang nggadahi pangajeng-pangajeng supados Gusti Yesus punika sageda dados Mesias ingkang badhe paring pangluaran dhumateng bangsa Yahudi saking panindhesipun bangsa Romawi, mulihaken Israel. Saged dipun bayangaken kados pundi raos bingahipun dados salah satunggaling sakabatipun Gusti Yesus, dados kelompok ingkang tansah celak kaliyan Gusti Yesus, ingkang kaparingan wekdal mangun pasrawungan sacara pribadi kaliyan Gusti Yesus.
Bapak, Ibu, lan para Sederek ingkang kinasih. Rupinipun raos dan tumindhak mapanaken dhiri dados ingkang mirunggan punika ndadosaken para sakabat, utaminipun Yohanes, sami keblinger. Para sakabat rumaos risih dhumateng kawontanipun tiyang-tiyang ingkang mboten kalebet wonten ing kelompokipun. Lajeng para sakabat rumaos kedhah njagi martabatipun kelompokipun punika. Para sakabat mboten marengaken kelompok sanes migunakaken asmanipun Gusti Yesus sacara ilegal. Para sakabat enggal-enggal tumindhak ngendeg nalika ningali tiyang-tiyang saking kelompok sanes ngginakaken asmanipun Gusti Yesus sacara ilegal. Ananging saged kalampahan kanthi sae, lajeng Yohanes ingkang dados salah satunggaling sakabat ingkang celak kaliyan Gusti Yesus paring pirsa dhumateng Gusti Yesus perkawis punapa ingkang nembe kemawon kalampahan, “Guru, kula nembe kemawon ningali wonten tiyang-tiyang ingkang sanes pendherek kita, ngusir setan wonten ing asma Paduka. Ananging sampun kula penging, karana sanes pandherek kita”
Ananging, Gusti Yesus malah mboten marengaken para sakabat tumindhak kados mekaten. Gusti Yesus ngatingalaken dukungan dhumateng tiyang-tiyang ingkang dereng dipun tepangi kalawau. Kanthi tumindhak kados mekaten, Gusti Yesus nembe kemawon paring piwucal dhateng para sakabat gegayutan kaliyan sinten ingkang kasebat paling luhur wonten ing kratoning swarga. Kedhahipun para sakabat saged emut, nalika Gusti Yesus mapanaken salah satunggaling lare alit wonten ing tengah-tengahipun lajeng dhawuh “Sing sapa nampani bocah pepadhane iki atas jenengKu, iku ateges Aku kang ditampani…”. Gusti Yesus ugi paring piwucal dhateng para sakabat bab prinsipipun komunitas ing kratoning swarga. Sintena kemawon ingkang kepingin dados paling luhur, kedhah sami purun nampi ingkang paling alit, ingkang dipun anggep asor, ingkang kawontanipun benten. Kanthi mekaten kawontenanipun komunitas badhe dipun kebaki kaliyan tentrem rahayu lan berkahipun Gusti.
Emanipun, para sakabat mboten mangertosi bab prinsip gesang wonten ing kratonipun Gusti punika, pramila Gusti Yesus paring piwucal supados piyambakipun saged mangertos. Para sakabat dipun ajak ningali kanthi lebet punapa ingkang sampun dipun tindhakaken dening tiyang-tiyang kalawau, bilih tiyang-tiyang kalawau mboten nindhakaken perkawis-perkawis ingkang nglawan dhateng asmanipun Gusti, tiyang-tiyang punika sanes mungsuh, ananging sedherek. Tegesipun, Gusti Yesus ngajak supados para sakabat sageda nampi kawontenan tiyang-tiyang ingkang boten dipun tepangi kalawau lan nganggep minangka sedherek wonten ing satunggal komunitas kratonipun Gusti.
Lajeng Gusti Yesus nglajengaken piwucalipun supados sampun ngantos satunggal tiyang kemawon ingkang dados juru panasaran utawi tukang damel rusuh ingkang namung kepingin pados kawigatosan, pangaken lan pangajen tanpa nggatosaken lampahipun gesang tiyang sanes wonten ing komunitas punika. Sesambetan kaliyan saenipun komunitas, Gusti Yesus paring gegambaran ngagem gambaran kawontenan badanipun manungsa. Saestu endah bilih sadaya perangan badanipun manungsa punika saged mangertosi lan nggatosaken ginanipun piyambak-piyambak, tanpa rumaos paling sae, punapa malih dados juru panasaran utawi tukang damel rusuh wonten ing tengah-tengahin komunitas.
Panutup
Bapak, Ibu, lan para Sedherek ingkang Kinasih. Lumantar pamedharing sabda dinten punika, kita sami kaemutaken lan dipun ajak ningali kawontenan dhiri kita piyambak-piyambak minangka pandherekipun Gusti wonten ing komunitas utawi organisasi ing pundi kita gesang. Punapa kita sampun dados tiyang ingkang purun lan saged migatosaken kawontenan tiyang sanes, kanthi legawa nilar pepenginan tansah dipun gatosaken, dipun ajeni, lan dipun akeni dening tiyang sanes. Punapa kita sampun nindakaken punika ing satengah-tengahing gesang beberayatan? Punapa sampun kita lampahi wonten ing lingkungan kita? Punapa sampun kita lampahi wonten ing tengah-tengahing peladosan greja? Mekaten ugi, punapa sampun kita lampahi wonten ing satengah-tengahing gesang ing bangsa lan negara? Namung kanthi kita purun ngurbanaken nafsu supados dipun tingali, dipun akeni, lan dipun ajeni, komunitas ingkang sae saged kawujudaken. Sumangga kita sami mbangun komunitas ingkang sae, ingkang purun lan saged tansah nyengkuyung lan paring donga, tansah mangertosi punapa ingkang dados timbalani peladosanipun piyambak-piyambak. Gusti mugi tansah paring berkah. Amin (YEP).
Pamuji:KPJ. 288 : 1 – 3 Sang Roh Suci Dedalem Ing Ati