Melihat Pancaran Air Hidup 10 September 2021

10 September 2021

Bacaan: Yosua 2 : 15 – 24 | Pujian: KJ. 466A
Nats: “Berkatalah ia kepada mereka: Pergilah ke pegunungan, supaya pengejar-pengejar itu jangan menemui kamu, dan bersembunyilah di sana tiga hari lamanya, sampai pengejar-pengejar itu pulang; kemudian bolehlah kamu melanjutkan perjalananmu.” (Ayat 16).

China memiliki objek wisata jembatan kaca yang terpanjang dan tertinggi di dunia. Di mana seluruh alasnya terbuat dari kaca bening. Cukup banyak orang yang melewatinya dengan perasaan takut. Ada yang berpegang erat pada tangan temannya, ada yang merangkak bahkan menangis histeris dan tidak mau berjalan lagi. Mengapa mereka takut? Rupanya masalah itu terletak pada apa yang mereka lihat. Andaikata alasnya bukan kaca bening, pasti mereka tidak akan takut. Ternyata apa yang kita lihat membentuk apa yang kita percayai. Sebaliknya apa yang kita percayai menentukan apa yang kita lakukan. Dalam hal ini, melihat bukan sekedar melihat apa yang tampak secara mata jasmani. Melihat juga dalam arti sebuah bayangan, persepsi, visi, atau imajinasi. Sehingga ketika orang membayangkan jembatan itu berada di antara jurang yang dalam sekali, pastilah ia takut. Iman memang bukan soal melihat dengan mata, itu yang diungkapkan dalam surat Ibrani. Tetapi iman tetap berhubungan dengan bagaimana kita melihat, melihat yang tak terlihat, melihat dengan pikiran dan hati.

Itulah rupanya yang dialami oleh Rahab. Ia mendengar tentang karya dan perbuatan Allah terhadap bangsa Israel. Perbuatan Allah yang sedemikian terhadap Israel membuat ia melihat dan mengaku bahwa Tuhan ialah Allah atas langit dan bumi (ay. 11). Hal tersebutlah yang membuat Rahab melindungi para pengintai Israel dari kejaran utusan Raja Yerikho sekalipun ia seorang perempuan Kanaan. Bahkan dengan imannya, Rahab mampu meyakinkan bangsa Israel bahwa Allah sungguh-sungguh menyerahkan bangsa Kanaan kepada mereka.

Manusia sering melihat tetapi tidak benar-benar melihat. Melihat sambil lalu, akhirnya tak menemukan makna. Terlebih dalam melihat Allah yang tak terlihat. Kita diajak untuk melihat. Melihat karya dan kasih-Nya dengan pikiran dan hati yang tersampaikan dalam Kitab Suci maupun hidup sehari-hari. Untuk itu, kita perlu merendahkan hati, membuang keegoisan dhiri serta terbuka pada sapaan Ilahi yang menuntun kita pada tindakan berbudi dan bercitrakan Kristus yang suci. (garlic).

 “Melihatlah bukan hanya dengan mata tetapi gunakan seluruh hati, akal bahkan dhirimu untuk menyambut firman-Nya”

 

Renungan Harian

Renungan Harian Anak