Hari Ulang Tahun ke-76 Republik Indonesia
Stola Putih
Bacaan 1: Kejadian 45 : 1 – 15
Bacaan 2: Kisah Para Rasul 7 : 9 – 16
Bacaan 3: —
Tema Liturgis: Bersedia, Berkarya, dan Bersinergi Membangun GKJW sebagai Perwujudan Taat kepada Allah
Tema Khotbah: Melekatkan Hati pada Allah yang Sejati
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Kejadian 45 : 1 – 15
Dalam bacaan yang pertama ini, memperlihatkan kepada kita situasi yang begitu emosional dari Yusuf, yang telah begitu rindu dengan saudara-saudaranya. Jika pada pasal-pasal sebelumnya Yusuf masih berupaya menutup-nutupi identitasnya dan mencoba untuk memberikan suatu ujian kepada saudara-saudaranya itu, namun pada saat ini, Yusuf telah membongkar identitas yang sesungguhnya. Dengan penuh cinta dan kerinduan, Yusuf meminta saudara-saudaranya untuk mendekat dan memeluk mereka. Sudah tidak ada lagi dendam dan benci di hati Yusuf kepada mereka, yang sudah menjual dirinya ke Mesir, sehingga ia harus melalui petualangan panjang yang penuh dengan penderitaan.
Segala penderitaan panjang yang terjadi di dalam kehidupan Yusuf, nyatanya tidak membuat dia menjauh dari Allah. Dia tidak menjadi marah/ kecewa/ menyalahkan Allah. Namun disepanjang petualangan hidupnya, Yusuf tetap melekatkan hatinya kepada Allah. Yusuf yakin bahwa Allah senantiasa ada untuk menyertai dirinya. Yusuf yakin bahwa segala peristiwa yang penuh penderitaan, mampu diubah oleh Allah, untuk mendatangkan kebaikan dalam hidup Yusuf. Bahkan bukan hanya mendatangkan kebaikan bagi Yusuf secara pribadi, namun juga seluruh orang yang ada di Mesir, tidak terkecuali keluarganya sendiri (Bdk. Kej 45: 5-8). Pada kenyataannya, segala penderitaan panjang yang telah ia lalui, turut menghantar dirinya menjadi salah seorang penguasa di tanah Mesir. Dimana itu merupakan bukti dan wujud nyata anugerah serta penyertaan dari Allah.
Kisah Para Rasul 7 : 9 – 16
Dalam bacaan kedua ini, memperlihatkan kepada kita bagaimana keteguhan hati Stefanus ketika menghadapi persoalan yang pelik dalam kehidupannya. Pada saat itu ia diperhadapkan pada tuduhan-tuduhan kosong dan berita hoaks yang disebarkan oleh orang-orang Libertini, orang-orang Yahudi dari Kilikia dan Asia, karena mereka kalah dalam berdebat dengan Stefanus. Sehingga dari tuduhan dan hasutan mereka inilah, Stefanus diperhadapkan di sidang Mahkamah Agama, karena dituduh menghujat Musa dan Allah (Bdk. Kis. 6:8-15). Bagian teks yang kita baca saat ini (Kis. 7:9-16), merupakan bagian pembelaan Stefanus yang ia sampaikan untuk menanggapi tuduhan-tuduhan kosong dari orang-orang yang memusuhinya. Melalui pembelaan dari Stefanus ini, kita dapat melihat bagaimana ia tidak gentar dalam menghadapi tuduhan kosong itu. Pergumulan/ persoalan pelik seperti yang sedang ia hadapi, tidak membuat imannya goyah dan tidak membuat ia pergi menjauh dari Allah. Sama seperti Yusuf yang ia sebut dalam narasi pembelaannya, Stefanus yakin benar bahwa Allah pun juga pasti menyertai dan memberi kekuatan serta hikmat untuk menghadapi pergumulan hidup tersebut.
Benang Merah Dua Bacaan
Dua sumber dalam bacaan kita saat ini, mengajak kita untuk tetap mendekat dan melekatkan hati kita kepada Allah, ketika berbagai pergumulan hidup yang berat sedang terjadi. Yakin dan percaya bahwa Allah tetap menyertai perjalanan hidup kita. Ia mampu mengubah berbagai penderitaan menjadi berkat yang diluar nalar pikiran kita sebagai manusia. Asal kita mau bersabar, tetap taat dan setia kepada–Nya.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
Pendahuluan
Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus ini, tentu tidak akan pernah dapat dipisahkan dari sejarah panjang penjajahan yang terjadi atas negeri ini. Beberapa negara seperti halnya Portugis, Spanyol, Perancis, Belanda, Inggris dan Jepang, pernah memiliki andil yang cukup besar dalam menjajah Indonesia. Namun syukur kepada Allah bahwa Allah tidak meninggalkan bangsa kita ini. Allah turut berkarya dan hadir di dalam perjuangan bangsa ini, sehingga kita dapat merdeka atas penjajahan bangsa lain. Allah turut hadir di dalam sejarah bangsa Indonesia, untuk membebaskan kita dari kungkungan penjajahan/ perbudakan bangsa lain. Sehingga seluruh rakyat Indonesia, tidak terkecuali kita para pengikut Kristus pada masa kini, juga turut berbahagia atas 76 tahun Kemerdekaan bangsa Indonesia yang tercinta.
Isi
Bapak, ibu dan saudara yang dikasihi Tuhan, bacaan kita pada saat ini memperlihatkan kepada kita, bagaimana keteguhan hati Stefanus ketika menghadapi persoalan yang pelik dalam kehidupannya. Pada saat itu ia diperhadapkan pada tuduhan-tuduhan kosong dan berita hoaks yang disebarkan oleh orang-orang Libertini, orang-orang Yahudi dari Kilikia dan Asia, karena mereka kalah dalam berdebat dengan Stefanus. Sehingga dari tuduhan dan hasutan mereka inilah, Stefanus diperhadapkan pada sidang Mahkamah Agama, dengan tuduhan menghujat Musa dan Allah (Bdk. Kis. 6: 8-15). Tidak hanya disitu saja, anggota-anggota Mahkamah Agama kemudian menganiaya Stefanus, mempermalukannya di depan umum, dan melemparinya dengan batu hingga ia mati. (bdk. Kis 7:54-60).
Melalui pembelaan Stefanus dalam bacaan kita saat ini, kitapun juga diingatkan kembali dengan sosok Yusuf yang juga diperhadapkan dengan berbagai masalah pelik dalam sejarah hidupnya. Mulai dari dibenci oleh saudara-saudaranya sendiri, dimasukkan ke dalam sumur kosong, dijual sebagai budak di usia yang masih muda dan bahkan harus masuk penjara. Tentu semua pergumulan hidup yang dialami oleh Yusuf bukanlah hal yang mudah, namun begitu berat, menyedihkan, menyesakkan dan membingungkan. Sekalipun demikian, kita bisa melihat bagaimana Yusuf tetap melekatkan hatinya pada Allah dan pada akhirnya ia benar-benar diberkati oleh Allah. Ia dapat menjadi salah seorang penguasa di Mesir. Bahkan dalam bacaan kita saat ini, diperlihatkan bagaimana kemudian ia dapat menolong begitu banyak orang di negeri itu dan tidak terkecuali keluarganya sendiri, yang tengah dilanda kekeringan dan kelaparan.
Jika kita melihat kedua tokoh ini, maka sebenarnya secara manusiawi mereka tidak kekurangan alasan untuk kecewa, marah, dan pergi meninggalkan Tuhan. Secara manusiawi, ketika masalah demi masalah menghadang, mereka bisa saja merasa bahwa Allah sudah melupakan mereka, Allah tidak menolong mereka, dan Allah hanya berdiam diri saja melihat kesengsaraan hidup mereka. Namun alih-alih berpikir seperti itu, mereka justru yakin benar bahwa Allah senantiasa menyertai (bdk. Kis. 7:9 dan Kej. 45:5,8). Mereka yakin benar bahwa Allah mampu memakai segala suka, duka, maupun kesengsaraan yang sedang mereka alami menjadi berkat yang melampaui akal pikiran mereka. Allah mampu memelihara serta berkarya atas hidup mereka dan memberikan anugerah keselamatan, ketika mereka tetap melekatkan hati dan pikirannya kepada Allah.
Bapak, ibu dan saudara yang dikasihi Tuhan, memang pada masa sekarang ini kita tidak bertempur melawan negara lain. Namun sadarkah kita, bahwa pada masa sekarang ini, kita sedang bertempur dan sedang melawan si iblis dengan berbagai tipu muslihatnya. Sadarkah kita, bahwa setiap hari kita sedang berperang melawan si penjajah yang sejati yakni si iblis itu sendiri. Di mana si iblis terus berusaha menguasai, memperbudak, dan menyeret kita kembali menjauh dari Allah. Manusia memiliki kehendak bebas untuk memilih jalan mana yang ingin dilaluinya. Sehingga melalui berbagai keinginan daging dan berbagai pergumulan-pergumulan hidup yang kita alami, si Iblis berusaha untuk menggoyahkan iman kita dan berusaha memperbudak kita kembali di bawah kungkungan dosa dan maut. Si Iblis bisa memakai berbagai hal yang tidak menyenangkan (permasalahan ekonomi, pasangan hidup, keluarga, pekerjaan, dlsb), untuk dapat menjatuhkan kita.
Penutup
Secara khusus ketika kita menghadapi kesulitan dan pergumulan hidup yang pelik, apakah yang harus kita lakukan? Apakah kita lari menjauh dari Tuhan, karena kecewa seakan-akan Tuhan tidak mau menolong? Menyalahkan Tuhan dan pergi meninggalkan-Nya? Apakah demikian? Tentu Tidak…! Sama seperti Stefanus dan Yusuf dalam bacaan kita saat ini, jangan biarkan masalah memisahkan kita dengan Allah. Tetapi jadikanlah masalah/ pergumulan hidup itu, seperti halnya lem yang melekatkan kita semakin erat dengan Allah. Sebab hanya dengan melekat pada Allah, kita akan mendapat ketenangan, kekuatan dan pertolongan, yang melebihi nalar kita sebagai manusia. Ingatlah bahwa Allah tidak pernah tidak mengasihi kita, asal kita mau melekatkan hati kita dan taat kepada–Nya, niscaya pertolongan–Nya akan tepat pada waktunya. Sama seperti Allah telah berkarya dalam diri Stefanus, Yusuf, dan juga di dalam sejarah bangsa kita ini, maka yakinlah bahwa Allah juga akan berkarya dalam hidup kita. Selamat mengisi kemerdekaan ini dengan ketaatan dan kelekatan total kepada Allah, sehingga hidup kita terus dimerdekakan–Nya dari kuasa dosa. Amin. (YAH)
PUJIAN: KJ. 446 Setialah
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Mengeti dinten Kamardikanipun Indonesia, ingkang dipun pengeti tanggal 17 Agustus dinten punika, temtu mboten saged dipun pisahaken saking sejarah penjajahan ingkang dipun lampahi dening bangsa Indonesia. Kadosdene negari Portugis, Spanyol, Perancis, Belanda, Inggris, lan Jepang, nate nindes lan njajah bangsa kita punika. Nanging kita kedah saos sukor dhumateng Gusti Allah, awit Panjenenganipun mboten nate nilar bangsa kita punika. Gusti Allah makarya ing satengah-tengahing sejarah bangsa Indonesia punika, Gusti Allah kersa ngluari bangsa Indonesia saking penjajahan bangsa sanes. Matemah sedaya rakyat Indonesia, mekaten ugi kita tiyang Kristen, saged saestu bingah awit sampun 76 tahun Kamardikan dipun tampi dening bangsa Indonesia. Punika nggih saestu pakaryanipun Gusti.
Isi
Bapak, ibu lan para sedherek ingkang dipun tresnani dening Gusti. Waosan kita ing dinten punika nedahaken tumrap kita sedaya, bab kakiyatan iman lan manah saking Stefanus ingkang saweg ngadepi perkawis ingkang awrat wonten gesangipun. Stefanus dipun tuduh kaliyan tuduhan-tuduhan goroh (bohong), saking tiyang-tiyang Libertini, tiyang Yahudi saking Kilikia lan Asia, amargi tiyang-tiyang punika kawon anggenipun debat kaliyan Stefanus. Matemah saking tuduhan kalawau, Stefanus dipun adili ing satengah-tengahing Sidang Mahkamah Agama. Stefanus dipun tuduh nista nabi Musa lan Gusti Allah (bdk. Kis. 6:8-15). Mboten namung punika kemawon, anggota-anggota Mahkamah Agama ugi nganiaya Stefanus lan mbenturi Stefanus kaliyan selo, ngantos piyambakipun pejah (bdk. Kis. 7:54-60).
Mekaten ugi lumantar panjawabipun Stefanus ing waosan kita dinten punika, kita dipun engetaken tumrap bapa leluhuripun bangsa Israel, nggih punika Yusuf. Ingkang nggadahi karibedan gesang ingkang awrat sanget. Dipun wiwiti saking piyambakipun ingkang disengiti kaliyan sederek-sederekipun, dilebetaken sumur asat, dipun sadhe dados budak sinaosa taksih nem lan dipun kunja. Temtu sedaya karibedan gesangipun Yusuf punika mboten gampil, awrat sanget, lan nggegirisi. Nanging, kita saged mirsani bilih Yusuf tansah setya dhumateng Gusti lan Gusti Allah saestu paring berkah dhateng Yusuf. Matemah Yusuf saged dados pangwasa ing tanah Mesir lan saged paring pitulungan dhateng sedaya tiyang ing negri punika, mekaten ugi dhateng brayatipun piyambak, ingkang saweg nandang pailan (kelaparan).
Ing wanci punika sumangga kita sami mirsani tokoh kekalih punika (Stefanus lan Yusuf). Ing ngriku kita mangertos bilih sejatosipun sacara tata kamanungsan, Stefanus lan Yusuf mboten kirang alesan anggenipun getun, nesu, selak, lajeng nilaraken Gusti Allah. Bilih dipun tingali saking tata kamanungsan, ing wanci karibedan gesang ingkang awrat ngreridhu lampah, saged kemawon Stefanus lan Yusuf ngrumaosi bilih Gusti Allah sampun supe kaliyan piyambakipun, Gusti Allah mboten saged nulungi lan Gusti Allah namung mendhel kemawon mirsani kasangsaran umatipun. Nanging tinimbang nggalih ingkang kados mekaten, Stefanus lan Yusuf pilih tetep setya, yakin estu bilih Gusti Allah tansah nganthi lampahipun (bdk. Kis. 7:9 dan Kej. 45:5,8). Stefanus lan Yusuf yakin estu bilih Gusti Allah saged ngrubah sedaya kasangsaran dados berkah. Gusti Allah tansah ngrimati saha makarya ing gesangipun. PakaryaniPun punika saestu nglangkungi sedaya akal pikiran kita manungsa.
Bapak, ibu lan para sederek ingkang dipun tresnani dening Gusti. Ing wanci punika kita pancen sampun mboten perang kaliyan negari sanes. Nanging kita kedah sadar bilih ing wanci punika kita nggih taksih perang nglawan si Iblis kaliyan sedaya tipu muslihatipun. Si Iblis punika terus nggodha supados gesang kita saged dipun kuaosi, kita saged diperbudak malih lan kita dipun seret nebih saking Gusti Allah. Manungsa gadhah kehendak bebas milih lan nemtokaken margi ingkang pundi, ingkang dipun kersakaken badhe dipunlampahi. Matemah, lumantar sedaya pengangen-angene daging lan sedaya karibedan gesang ingkang kita lampahi, si Iblis ngarah nglunturaken iman kapitadosan kita lan ngarah ndadosaken kita budak malih ing salebeting dosa lan pati. Si iblis saged ndamel sedaya perkawis ingkang nggegirisi ati (permasalahan ekonomi, jodoh, brayat, pedamelan, lsp), supadhos kita saged nebih saking Gusti.
Panutup
Mliginipun bilih kita ngadepi sedaya karibedan gesang ingkang nggegirisi manah kados mekaten, lajeng punapa ingkang kedah kita lampahi? Punapa kita nebih lan nilaraken Gusti, amargi kuciwa, Gusti mboten purun paring pitulungan? Punapa mekaten ingkang badhe kita pilih? Temtunipun mboten! Kadosdene Stefanus lan Yusuf ing waosan kita, sampun ngantos karibedan gesang malah nebihaken kita kaliyan Gusti Allah. Nanging mangga sami ndadosaken karibedan gesang punika kadosdene lem ingkang saged langkung ngraketaken malih kita kaliyan Gusti Allah. Awit namung saking Gusti Allah kemawon kita saged pikanthuk katentreman, kakiyatan, lan pitulungan ingkang nglangkungi nalar pikiran kita minangka manungsa. Sumangga kita sami emut, bilih Gusti Allah saestu nresnani kita lan kersa paring pitulungan, bilih kita purun nyelak, rumaket lan taat wonten ing ngarsanipun Gusti. Mangga sami pitados bilih pitulunganipun Gusti Allah mboten nate telat. Kadosdene Gusti Allah sampun makarya tumrap gesangipun Stefanus, Yusuf lan sejarah bangsa kita punika, mangga kita sami yakin estu bilih Gusti Allah tansah makarya wonten ing gesang kita sami. Amin. (YAH).
Pamuji: KPJ. 342 Karsaa Mirsani