Konsistensi Sebagai Upaya Mengecap Yesus Khotbah Minggu 15 Agustus 2021

2 August 2021

Minggu Biasa – Bulan Pembangunan GKJW
Stola Hijau

Bacaan 1: Amsal 9 : 1 – 6
Bacaan 2: Efesus 5 : 15 – 21
Bacaan 3: Yohanes 6 : 51 – 58

Tema Liturgis: Bersedia, Berkarya, dan Bersinergi Membangun GKJW sebagai Perwujudan Taat kepada Allah
Tema Khotbah: Konsistensi sebagai Upaya Mengecap Yesus

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Amsal 9 : 1 – 6
Amsal secara sederhana sangat identik dengan kitab hikmat. Hikmat sendiri dalam KBBI diartikan sebagai bijak dan arif. Nah, bijak sendiri dalam KBBI diartikan sebagai selalu menggunakan akal budi. Akal budi sendiri bermakna daya juang untuk menimbang antara batin dan pikiran dalam melihat yang baik dan buruk. Akhirnya secara sederhana Amsal yang merupakan kitab hikmat adalah sebuah upaya terus berjuang untuk terus menimbang secara terus-menerus antara yang baik dan buruk dengan kacamata batin dan pikiran.

Amsal 9:1-6 merupakan salah satu pengajaran bagi bangsa Israel. Penulis kitab Amsal memahami perlunya pengajaran ini karena masyarakat saat itu mengalami tantangan yang mengarah pada degradasi nilai-nilai sebagai umat Allah. Ada harapan besar dengan menerima pengajaran ini hidup mereka mengalami kenaikan kualitas nilai hidup sebagai umat Allah.

Ayat 1-2 menggambarkan tentang perjamuan (mungkin bisa dikatakan sebagai pesta) yang diawali dengan gambaran peranan rumah. Rumah yang dibangun dijelaskan berkontruksi 7 tiang. Hal ini nampaknya ingin menjelaskan bahwa rumah merupakan tempat pendidikan paling dasar bagi setiap manusia dan konstruksi merupakan sarana pendukung untuk mewujudkan pendidikan/ pengajaran itu, sedangkan angka 7 identik dengan angka baik/ sempurna dalam dunia orang Israel. Sehingga secara sederhana penulis Amsal ingin mengatakan bahwa pengajaran pertama dimulai dari lingkup yang paling dasar dan lakukan pengajaran itu dengan sarana-sarana yang baik sehingga menghasilkan manusia yang baik.

Gambaran makanan dan minuman yang tersedia merupakan sebuah pengajaran, dimulai bukan dari pemuasan sesuatu yang tidak tampak namun dimulai dari sesuatu yang tampak. Hal ini dikarenakan kecenderungan manusia yang lebih tertarik dengan sampul terlebih dulu daripada menggali isi di balik sampul itu (bdk. Cerita Yesus yang makan ikan bersama dengan para murid barulah Dia memberikan wejangan, atau Yesus yang mengutus murid untuk menebar jala agak ke tengah untuk mendapatkan sesuatu yang tampak (ikan) barulah Yesus memberikan pengajaran).

(Ay. 3-5) Di ayat ini, penulis Amsal mulai memasukkan pengajaran moral. Dia menggambarkan dengan para pelayan perempuan yang berseru mengundang orang untuk makan roti dan anggur. Hal ini bukan dalam artian makan dan minum secara lahiriah, melainkan lebih kepada mengecap sesuatu yang bersifat pengajaran.

Hal ini semakin nampak jelas karena undangan ditujukan bagi mereka yang belum berpengalaman dan tak berakal budi. Mereka yang belum berpengalaman adalah orang yang belum memperoleh pendidikan yang cukup – harapannya dengan pengajaran ini mereka memperoleh pengetahuan, kepandaian, baik hal prinsip maupun teknis. Dan orang yang tak berakal budi adalah orang yang tidak baik karakter moralnya, maka ada harapan agar mereka belajar untuk semakin menjadi manusia yang memiliki kualitas karakter yang baik.

(Ay. 6) merupakan konklusi pengajaran berupa dorongan untuk membuang segala bentuk kebodohan, ketidakpedulian pengajaran mengenai kualitas karakter, dan ada harapan untuk mampu menjalani hidup yang dipenuhi dengan pengertian yang mengarah pada akal budi.

Efesus 5 : 15 – 21
Paulus menyadari betul bahwa karakter hidup orang Efesus sebelum mengenal Kristus adalah orang yang ada dalam kegelapan dan segala apa yang dilakukan adalah sesuatu yang sangat memalukan. Namun ketika mereka telah mengenal Kristus, mereka mendapat sapaan agar mengalami perubahan hidup. Perubahan hidup dari yang belum mengenal sampai mengenal Kristus disebut Paulus sebagai manusia baru. Tentunya ketika berproses dalam perubahan itu muncul tantangan-tantangan yang selalu menggoda yang menjadikan mereka ada dalam posisi yang stagnan/ mandeg – sehingga berdampak mereka tidak mengalami perbedaan dari yang dulu belum mengenal Kristus dan saat ini mengenal Kristus. Berpijak dari dinamika kehidupan yang dialami oleh masyarakat Efesus, Paulus berjuang agar mereka memiliki hati dan pikiran yang mau berjuang untuk semakin mengenal Kristus. (Ay.15) Paulus menekankan untuk hidup secara seksama (yun: akribos). Secara harafiah bermakna benar, akurat, konsisten, dan sempurna. Penekanan Paulus adalah perjuangan untuk mengenal Tuhan dibutuhkan evaluasi diri untuk memperbaiki hidup, meningkatkan kualitas hidup, dan semua ini dilakukan dengan konsisten.

Semakin jelas, ketika Paulus berbicara masalah konsistensi diri dia semakin memperlengkapi dengan wejangan “pergunakanlah waktu yang ada” (Ay. 16). Kata waktu yang dipakai adalah (kairos) bukan (kronos). Kronos secara harafiah berarti rentang waktu, yang ditandai dengan tahun, bulan, hari, jam dst. Sedangkan Kairos lebih mengarah pada suatu bagian dari waktu kehidupan, yang ditandai dengan suatu peristiwa penting. Kairos juga lebih bermakna pada moment atau kesempatan. Jadi, di dalam menjalani kehidupan yang meningkatkan kualitas dan terus mengevaluasi itu hendaknya terus menggunakan setiap moment/ kesempatan dengan baik.

Selanjutnya Paulus memberikan langkah-langkah secara praktis dalam kerangka evaluasi diri dan peningkatan kualitas hidup dalam setiap kesempatan/ moment seperti berjuang untuk terus mengerti kehendak Tuhan, jangan mabuk anggur, selalu wujudkan kata yang mendamaikan, selalu ungkapkan syukur akan segala sesuatu, dan ditutup dengan sebuah sapaan untuk tidak mengalami arogansi diri.

Yohanes 6 : 51 – 58
Salah satu tokoh yang diagungkan oleh bangsa Israel adalah Musa! Dalam perjalanan Musa bersama dengan bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan menuju tanah perjanjian. Dalam pasal 6 ini Musa dilihat sebagai sosok istimewa oleh Israel karena melalui Musa, bangsa Israel tidak mengalami kelaparan karena Manna yang turun memberikan kelegaan bagi bangsa tersebut.

Yohanes 6:51-58 menuliskan bahwa Yesus tampil dengan menyuguhkan hal yang aneh di mata Israel. Apa yang dikatakan oleh Yesus pada bagian ini adalah sebuah pelanggaran dalam adat dan kebiasaan orang Yahudi pada waktu itu – makan daging manusia adalah sebuah hal yang sangat dilarang dan bisa dikatakan hal yang keji, serta minum darah bahkan darah hewan adalah hal yang terlarang. Ketika Yesus mewartakan tentang “dagingNya yang dimakan dan darahNya yang diminum” tentu menjadi polemic. Banyak orang Yahudi berpikir bahwa Yesus tidak waras. Berangkat dari hal ini tidak jarang pengikut Yesus tidak mampu memahami, dan akhirnya meninggalkan Dia karena ini pengajaran yang tidak mudah.

Lantas sebenarnya bagaimana maksud yang ingin disampaikan Yesus dengan mengatakan yang demikian? Di sini saya ingin memulai dengan pembukaan Injil Yohanes, dikatakan bahwa Sang Sabda telah menjadi manusia (Yoh. 1:14) yang artinya Yang Ilahi/ Sabda itu telah mendatangi dunia dalam wujud manusia biasa, yang lemah, bahkan rapuh. Lantas apa tujuannya? Nampaknya hanya dengan cara demikian Ia dapat sungguh merasakan kuatnya pengaruh jahat yang meskipun Ia sendiri tidak kalah dari pengaruh tersebut. Hal ini ingin menunjukkan bahwa manusia itu tidak seluruhnya adalah jahat ketika ada perjuangan untuk menata kehidupan.

Mengecap “daging dan darah” Yesus bukan dalam artian secara lahiriah, namun lebih mengarah kepada mengecap Sang Ilahi itu agar terus bersemayan dalam diri umat yang berjumpa dengan Dia. Yesus memberikan diri untuk ‘dinikmati’ oleh manusia agar keberadaan manusia yang renta dan fana dapat menerima Yang Ilahi dalam diri manusia itu dan manusia memperoleh kehidupan. Hal inilah yang sering dibahasakan dalam bahasa iman/ spiritual bahwa mengecap Yesus dalam diri-Nya akan memperoleh bagian dalam hidup yang kekal karena dia sudah mengalami kontaminasi bersama dengan Sang Ilahi – yaitu Yesus itu sendiri. Namun bagi orang yang tidak menangkap makna yang dituang oleh Yesus, mereka akan saling mempertengkarkan bagaimana Yesus bisa memberikan diri-Nya untuk dimakan.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Peningkatan kualitas hidup beriman bersama Allah dibutuhkan upaya untuk terus mengecap dan mencerna sifat Ilahi yang adalah Yesus itu sendiri. Pengecapan akan sifat Ilahi Yesus tidak dapat dilakukan hanya pada situasi dan keadaan tertentu – namun perlu untuk mencerna itu secara terus-menerus. Dan pengecapan itu dimulai dari tempat yang paling dasar, yaitu rumah – secara khusus diri kita yang adalah rumah Allah dan GKJW sebagai rumah kita mengenal Yesus.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan
Ada seorang bapak yang sangat gemar makan petai – baik dimakan secara langsung mentah, maupun digoreng, dan dibuat campuran sayuran. Dampak dari seorang bapak yang sangat gemar makan petai ini, istri dan anak-anaknya selalu protes karena menimbulkan aroma yang tidak sedap di mana-mana. “Pak… sudahlah tidak usah makan petai lagi, aroma petainya itu lho kemana-mana… rasanya sampai mau pingsan aku…” ucap sang anak kepada bapaknya. Lantas dengan wajah biasa sang bapak merespon dengan nada bercanda apa yang menjadi perkataan sang anak tadi, Kamu ini ya lucu, ya pasti kalau bapak makan petai, ya pasti yang muncul aroma petailah, masa bapak makan petai yang muncul aroma mawar atau melati”.

Secara alamiah sesuatu yang masuk dalam tubuh kita pastilah hal itu pulalah yang akan keluar dari tubuh kita. Orang yang makan petai pasti aroma petai yang akan dirasakan oleh diri dan juga orang lain. Tentunya akan menjadi hal yang aneh dan tidak logis jika seseorang makan petai, namun aroma yang keluar dari dirinya adalah aroma yang bukan petai! Hal itu adalah masalah makan dalam hal lahiriah, lantas bagaimana dengan kehidupan mengecap dan mencerna dalam hal batin? Bukankah juga demikian? Seharusnya ya demikian, apa yang masuk dalam batin dan spiritual kita karena ‘makanan’ dari Allah seharusnya itu pulalah yang kita rasakan dan dirasakan oleh orang lain.

Isi
Pengajaran Yesus dalam tulisan Yohanes 6:51-58 sepintas memberikan kesan pengajaran yang tidak logis! Bagaimana seorang memberikan dirinya untuk dikecap dan dirasakan untuk mendapatkan hidup kekal? Sesuatu yang tidak logis dan tentunya sangat tidak wajar. Pikiran semacam itu akan muncul jika tergesa-gesa untuk mencermati perkataan-Nya. Padahal Yesus memberikan pengajaran untuk mencerna dan menikmati Dia supaya kehidupan batin manusia yang dipenuhi dengan kelemahan, kerapuhan, dan ketidakberdayaan akan terkontaminasi dengan sifat Ilahi Yesus! Dan pada akhirnya sifat Ilahi Yesus ini benar-benar menjadi virus yang berpengaruh besar dalam hidup kehidupan manusia. Nah, ketika sifat Ilahi Yesus itu sudah berkontaminasi dan berpengaruh dalam diri manusia yang berjumpa dan berkenan mencerna Dia dalam kehidupan, ada harapan besar hasil pencernaan itu bisa pula dirasakan oleh manusia/ ciptaan di sekitarNya.

Akan menjadi sesuatu yang tidak logis dan menjadi pertanyaan besar, ketika manusia setiap hari mencerna Yesus dengan menunjukkan hidup yang terlihat saleh, namun tidak ada aroma atau dampak apapun yang diterima oleh sekitarnya. Pertanyaannya benarkah dia mencerna Yesus atau sekedar berpura-pura mencerna Yesus dalam hidupnya?

Upaya mecerna Yesus memang bukanlah proses yang sekali dilakukan langsung selesai dengan sempurna (instan) – dibutuhkan sebuah upaya yang harus dilakukan secara konsisten dan sungguh-sungguh. Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Paulus dalam tulisannya di dalam Efesus 5:15-21. Dia mengatakan bahwa sesuatu yang baik perlu dinyatakan secara konsisten/ terus-menerus/ berkelanjutan di dalam kesempatan atau moment waktu yang masih diperkenankan untuk dialami. Disadari atau tidak, salah satu bentuk kelemahan manusia yang paling besar adalah masalah konsistensi/ ajeg. Hampir sebagian besar manusia itu mudah untuk berbuat baik dan menunjukkan rasa Yesus dalam kehidupan, jika ada dalam waktu-waktu tertentu! (Paskah, undhuh-undhuh, natal, dsb). Lantas dimana rasa tentang Yesus itu jika tidak ada moment? Bukankah kita seharusnya mengecap Yesus itu setiap saat dan seharusnya rasa itu dirasakan oleh diri dan orang lain juga setiap saat?

Semakin memperlengkapi masalah konsistensi mengecap Yesus dalam kehidupan, Amsal 9:1-6 menjelaskan bahwa semuanya itu dimulai dari tempat yang paling dasar, yaitu rumah! Rumah yang dipenuhi dengan segala konstruksi yang kokoh akan pencernaan kepada Yesus tentunya akan menjadi pondasi yang istimewa dalam kehidupan manusia berelasi dan mengenal Allah. Ditambah Amsal menegaskan agar setiap pengajaran itu dilakukan bukan dengan bentuk penghakiman atau merendahkan yang lain, namun lebih kepada penerimaan dengan sifat kelembutan untuk menyadari kelemahan dan terus memberikan kesempatan bagi mereka yang berkenan untuk belajar dan berupaya untuk terus meningkatkan kualitas hidup mereka bersama dengan Allah.

Penutup

Minggu Pembangunan GKJW saat ini seharusnya menjadi sebuah salah satu sarana umat untuk meneliti kembali secara serius tentang:

  1. Sejauh mana saya mengecap Yesus yang berdampak pada diri dan juga bagi yang lain?
  2. Sejauh mana saya menyatakan itu jika dilihat dalam bingkai konsistensi diri?
  3. Sejauh mana konsistensi mengecap Yesus itu tergambar dalam “rumah” saya yang sebagai tempat paling dasar saya mengenal Yesus?

GKJW pernah mengalami kepahitan yang berdampak pada hilangnya nilai cinta Allah. Oleh karena itu penghayatan serius akan Yesus yang dilakukan secara konsisten benar-benar akan menyelamatkan GKJW dari masa lalu yang penuh dengan kepahitan itu. GKJW adalah “rumah organisasi” pertama saya dalam mengenal, mengecap, dan mencerna Yesus, maka dengan kesadaran dan kebijaksanaan sudah selayaknya ada sebuah perjuangan mewujudkan rumah GKJW yang penuh dengan keramah-tamahan dan penerimaan agar kualitas kehidupan untuk menghayati Yesus semakin berdampak jelas bagi diri juga bagi keberadaan yang lain! Tuhan Memberkati. Amin. (ABK).

 

Pujian: KJ. 429 : 1, 2 Masih Banyak Orang Berjalan


Rancangan Khotbah: Basa Jawi

Pambuka
Wonten salah satunggaling bapak ingkang remen sanget dhahar pete – sae dipundhahar langsung (mentah), dipun goreng, lan dipun damel campuran sayur. Bab punika ndadosaken, semah lan para putranipun protes awit nuwuhaken ambu ingkang mboten ngremenaken. “Pak… sampun ta, mboten sisah dhahar pete, ambu petene niku lho… raosipun ngantos badhe semaput kula …” ature kang putra marang bapak. Lajeng kanthi pasuryan kang biasa bapak punika paring wangsulan kanthi gegojekan kaliyan punapa kang dados ature kang putra kalawau, Kowe iki ya lucu, ya mesthi ta yen bapak maem pete, ya mesthi ambune pete, masa bapak maem pete ambune kembang mawar lan melati.

Bab ingkang lumrah bilih “apa wae kang mlebu ning badane manungsa ya iku uga kang bakal metu”. Tiyang ingkang kalawau dhahar pete ugi ambu pete ingkang badhe dipunraosaken dening diri pribadi ugi tiyang sanes. Tamtunipun, badhe babagan ingkang mokal menawi tiyang dhahar pete lajeng ambu kang dipun raosaken punika sanes ambu pete! Bab punika taksih wonten ing babagan tedhan sacara jasmani, lajeng kados pundi kaliyan pigesangan nggayemi babagan sacara batin? Punapa mboten sami kemawon? Sejatosipun nggih makaten, punapa kemawon ingkang lumebet ing batin manungsa karena “tetedhan” kang pinangkanipun saking Gusti Allah sejatosipun bab punika ingkang kedah karaosaken dening diri pribadi ugi tiyang sanes.

Isi
Piwucaling Gusti Yesus wonten ing waosan Yokanan 6:51-58, sacara cekak paring piwucal ingkang kadosipun mokal! Kadospundi tiyang masrahaken diri supados dipun dhahar lan dipun raosaken saperlu nampeni gesang langgeng? Bab ingkang karaosaken mokal lan mboten wajar. Pamanggih ingkang kados makaten punika badhe enggal-enggal tuwuh, nalika kita ngraosaken dhawuh punika kanthi manah ingkang kemrungsung. Kamangka Gusti Yesus paring piwucal supados nggayemi lan ngraosaken “Panjenenganipun” supados batin manungsa ingkang kalimputan bab ingkang winates, bab ingkang ringkih saged ngalami ‘kontaminasi’ kaliyan sifating Gusti Yesus kang Ilahi. Lan ing pungkasan sifating Gusti Yesus kang Ilahi punika saestu dados ‘virus’ kang sae ingkang kagungan pengaruh kang ageng ing pigesanganing manungsa. Nah, nalika sifating Gusti Yesus ingkang sampun rumesep lan dados pengaruh kang ageng ing gesanging manungsa, wonten pangajeng-ajeng supados rumeseping sifat kalawau ugi saged dipun raosaken manungsa lan titah sanesipun.

Dados bab ingkang mboten nalar lan nuwuhaken pitakenan, nalika manungsa saben wektu nggayemi Gusti Yesus kanthi mujudaken gesang ingkang ‘kapirsanan’ sae lan saleh, ananging mboten wonten kasil ingkang dipun tampeni kang ngener, cundhuk kaliyan punapa kang dipungayemi – sae kangge diri lan ugi kagem liyan. Pitakenan kang tuwuh, punapa saestu piyambakipun nggayemi Gusti Yesus ing lampah gesang? Aja-aja namung nggayemi Yesus ing sampule kemawon.

Sinau nggayemi Gusti Yesus ing lampah gesang punika mboten ateges sepisan langsung rampung (instan). Saestu mbetahaken sinau kang kalampahan kanthi ajeg lan temen. Bab punika sami kaliyan punapa kang dados pitedah saking Paulus ing seratan Efesus 5:15-21. Paulus paring dhawuh bilih bab ingkang sae punika saestu kedah dipun lampahi kanthi ajeg ing salabeting wekdal kang taksih dipun keparengaken dipun alami. Menawi dipun raosaken sadar utawi mboten, salah satunggaling karingkihan manungsa kang paling ageng nggih punika bab ajeging urip. Kathah manungsa ingkang gampil tumindak sae mujudaken raos Gusti Yesus ing salebeting gesang, ananging punika dipun wujudaken namung ing wekdal tartamtu! (Paskah, Natal, Undhuh-Undhuh, lsp.). Lajeng kados pundi raos babagan Gusti Yesus menawi mboten wonten moment? Kedahipun para manungsa punika nggayemi Gusti Yesus ing saben wayah. Lan kedahipun raos ingkang dipungayemi punika saged dipunraosaken dening diri lan liyan ugi saben wayah.

Tan saya njangkepi perkawis ajeging diri nggayemi Gusti Yesus ing pigesangan, Wulang Bebasan 9:1-6 mbabaraken bilih sedaya punika kawiwitan ing papan ingkang paling dhasar, nggih punika griya! Griya kang dijangkepi kaliyan konstruksi/ piranti kang jejeg saperlu nggayemi Gusti Yesus, tamtunipun dados dhasar/ pondasi ingkang adi ing salabeting gesanging manungsa mligi anggenipun sesambetan lan wanuh kaliyan Gusti. Langkung cetha Seratan Wulang Bebasan kalawau nedahaken bilih piwucal punika mboten kawujudaken kanthi piwucal ingkang ngasorake liyan, nanging piwucal kalawau dipun wujudaken kanthi alusing budi kang kanthi sadar bilih manungsa punika ringkih lan tansah dipun paringi wekdal kagem sedaya ingkang kersa sinau saha ngupadi saperlu tansaya nganyarke gesang kaliyan Gusti Allah.

Panutup
Minggu Pembangunan GKJW ing wekdal punika kedahipun dados saran utawi piranti saperlu ngoreksi diri kanthi temen :

  1. Kados pundi anggen kula nggayemi Gusti Yesus kang saged dipunraosaken dening diri pribadi lan ugi tiyang sanes?
  2. Kados pundi anggen kula mujudaken bab punika kanthi pitedah ajeging gesang?
  3. Kados pundi ajeging gesang nggayemi Gusti Yesus punika kababar sanyata ing salebeting “griya” kula, lan dados papan kang paling dasar kula wanuh kaliyan Gusti?

GKJW nate ngalami bab ingkang pait, nggegiris. lan ndadosaken kelangan katresnanipun Gusti Allah. Pramila nggayemi Gusti Yesus kanthi ajeg punika saestu dados dhasar kang nyantosakaken GKJW. GKJW punika “griya organisasi” kang wiwitan ingkang kula panggihi, ing GKJW kula saged sinau nggayemi, nggegilut, ngraosaken Gusti Yesus. Pramila kanthi sadar lan wicaksana kedahipun wonten daya lan upaya mujudakan griya GKJW ingkang kebak alusing budi supados pasuryaning Gusti Yesus tansaya cetha kagem diri lan ugi kagem sesami.

Got (parit) yen mampet iku ambune badheg, wong kang binerkahan ning mampet marang liyane, aja-aja wong iku ambune badheg. Amin. (ABK).

 Pamuji: KPJ. 447 : 1, 2 Pra Abdining Gusti

Renungan Harian

Renungan Harian Anak