Bacaan: Markus 4 : 35 – 41 | Pujian: KJ. 440 : 1, 3
Nats: “Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: ‘Marilah kita bertolak ke seberang.’ (Ayat 35)
“Marilah kita bertolak ke seberang”, ajakan Tuhan Yesus ini disambut baik oleh para murid. Oleh karena itu, mereka segera meninggalkan orang banyak lalu bertolak ke seberang bersama dengan Tuhan Yesus. Tentu ini bukan perjalanan pelayaran tanpa pertimbangan, mengingat sebagian dari para murid memiliki latar belakang nelayan, yang sudah sangat paham dengan seluk beluk pelayaran dan juga gejala-gejala alam yang ada. Nampaknya optimisme dan kepercayaan yang kuat kepada Sang Guru, memotivasi mereka untuk tetap bertolak ke seberang. Sebagaimana yang mereka lakukan pada saat merespon ajakan Tuhan Yesus kepada murid-murid yang pertama, “Mari, ikutlah Aku…” (Markus 1:17).
Namun sayangnya, optimisme, semangat dan keyakinan para murid tidak dapat bertahan ketika mereka menghadapi gelombang dan badai yang menghantam perahu yang mereka tumpangi. Kenyataannya gelombang dan badai meluluh-lantahkan optimisme, semangat dan keyakinan mereka, sehingga Tuhan Yesus harus bertindak di tengah-tengah mereka, meredakan badai dan gelombang untuk memulihkan keyakinan dan kepercayaan mereka.
Sadar atau tidak, apa yang dialami oleh para murid adalah gambar diri keluarga-keluarga Kristen dewasa ini. Begitu antusias dan bersemangat menyambut ajakan Tuhan Allah pada awalnya tetapi nglokro saat kesulitan dan tantangan menghadang. Inilah yang orang katakan sebagai semangat “rog-rog asem”. Pesan firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa akan selalu ada tantangan dalam setiap perjalanan di lautan kehidupan kita, ibarat kapal yang sedang berlayar di tengah samudera. Tetapi biarlah tantangan itu tetap ada, supaya kita dapat lebih merasakan kuasa pertolongan Tuhan, yang memampukan kita tetap setia dan semakin percaya bersama Tuhan kita mampu menghadapi badai dan gelombang hidup. (mere)
“Kapal yang hanya berada di pantai memang akan selalu aman, tetapi bukan untuk itu sebuah kapal dibuat.” (John Shedd)