Minggu Biasa 6 – Penutupan Bulan Kesaksian dan Pelayanan
Stola Hijau
Bacaan 1: Yehezkiel 17 : 22 – 24
Bacaan 2: 2 Korintus 5 : 6 – 10, 14 – 17
Bacaan 3: Markus 4 : 26 – 34
Tema Liturgis: Masa dan Waktu Tuhan Mendatangkan Kebaikan menjadi Saksi-Nya
Tema Khotbah: Hidup untuk Kristus sebagai Ciptaan Baru.
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yehezkiel 17 : 22 – 24
Ungkapan janji Allah ini disampaikan oleh Nabi Yehezkiel terkait misteri kekuasaan dan kedaulatan Allah atas kenabian-pemimpin di waktu yang akan datang. Dalam konteks ketidaksetiaan Zedekia yang tidak setia kepada Babel-Nebukadnesar, menjadi analogi ketidaksetiaan manusia kepada Allah. Oleh karena itu, janji Allah yang disampaikan Nabi Yehezkiel menjadi harapan akan adanya pribadi yang setia dan dianalogikan seperti pohon aras yang dipakai oleh Tuhan dan menjadi tempat bernaung/tempat bernaung segala makluk. Tuhan Allah yang membuat semua terjadi.
2 Korintus 5 : 6 – 10, 14 – 17
Paulus mengingatkan melalui suratnya kepada Jemaat di Korintus, yang memiliki berbagai karunia supaya mereka tidak mengandalkan kekuatan mereka sebagai manusia. Kesadaran bahwa selama masih mendiami tubuh jasmani, maka manusia itu terbatas sehingga tidak ada yang patut disombongkan. Maka, bagaimana dengan tubuh jasmani ini dapat melakukan yang berkenana kepada Tuhan. Hal ini didasarkan pada penghayatan bahwa Kristus telah mati untuk semua manusia berdosa, sehingga hidup yang kita miliki hendaknya dipergunakan untuk kemulyaan-Nya. Caranya dengan sikap hidup manusia baru.
Markus 4 : 26 – 34
Yesus mengajar orang banyak dengan berbagai macam latar belakang sosial dan status di tepi danau. Dalam pengajaran-Nya, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang Kerajaan Allah seperti benih yang ditanam malam hari, ditinggal tidur, dan manusia tidak tahu proses pertumbuhannya. Begitu juga, Kerajaan Allah yang dianalogikan seperti biji sesawi, biji yang paling kecil ditaburkan akan bertumbuh dan menjadi lebih besar dari tanaman yang lainnya sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya. Artinya, nilai-nilai kerajaan Allah patut diwartakan kepada siapapun, sedikit apapun, akan memiliki dampak karena Allah yang berkarya dalam ketidaktahuan manusia. Kiranya nilai-nilai Kerajaan Allah itu menghasilkan buah dan menjadi berkat bagi sesama.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Kesetiaan hidup manusia kepada Allah menjadi sebuah komitmen yang tidak main-main. Kominten itu merupakan janji yang patut ditepati, sebagai wujud komitmennya. Selama manusia hidup di dunia, maka manusia masih dalam keterbatasan dan kelemahan. Tapi bukan berarti manusia tidak bisa melakukan apapun, tapi malah sebaliknya yaitu dapat mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam hidup supaya bisa menjadi berkat bagi sesama. Hidup bagi Kristus tercermin dalam hidup baru sesuai dengan kehendak-Nya.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
Pendahuluan
Bapak, ibu, dan saudara/i yang terkasih dalam Tuhan Yesus,
Ungkapan Bunda Theresa selalu mengema, ”Kita tidak bisa melakukan semua hal besar, tapi kita bisa melakukan hal kecil dengan cinta yang besar”. Hal itu berangkat dari sebuah kesetiaan dan komitmen hidup Bunda Theresa melayani para penyakit Kusta di Calcuta-India. Semangat melayani dengan cinta yang besar itulah memampukan pelayanannya sampai akhir hidupnya. Hal ini tentu menjadi refleksi kita bersama di tengah dunia yang sudah modern era milenial ini masih adakah cinta, komitmen, dan kesetiaan?
Isi
Manusia di dunia modern-milenial sudah terbiasa dengan segala sesuatu yang bersifat instant. Segala sesuatu mudah didapat dan tidak perlu perjuangan keras. Mulai dari makan, cukup menekan ponsel pintar dan pesanan datang, pembayaran rekening dan macam-macam, cukup di rumah dengan ponsel pintar semua bisa dilakukan. Hal ini seringkali yang membuat kehidupan manusia menjadi semakin pragmatis, egosentris dan ingin segala sesuatu cepat-instan tanpa perjuangan dan proses. Semudah menekan ponsel pintar, menggesek kartu kredit atau debat dan semuanya menjadi beres. Seperti jari yang tinggal menunjuk yang diinginkan dan langsung ada, menjadi penolakan jika realitas tidak berjalan demikian. Pertanyaan mendasar di awal merupakan refleksi bagi kita merenungkan panggilan hidup kita sebagai saksi-saksi Kristus dalam hidup, sebagai berikut :
- Kesetiaan
Kesetiaan melakukan tanggung jawab dalam pelayanan dan kehidupan sekecil apapun merupakan sesuatu yang sangat berharga. Kesetiaan tidak diukur dari besar dan kecilnya pelayanan yang kita lakukan tapi dari seberapa setianya kita mewujudnyatakan dalam kehidupan. Kesetiaan dalam pelayanan dan tanggung jawab kehidupan tidaklah mudah, karena sering kita mengalami tantangan dan pergumulan dari antara orang-orang sekitar. Misal, perasaan kecewa, marah, dan bahkan saat fisik dan perekonomian kurang mendukung. Lalu, kita mulai ragu untuk melangkah dan tidak setia. Mengingat pelayanan Bunda Theresa, kesetiaannya merawat orang sakit kusta dilakukan sampai akhir hidupnya. Sekalipun mengalami pergumulan dana dan bahkan mengalami sakit, tapi bunda Teresa tetap setia. Inilah yang diharapkan Allah dalam hidup, seperti analogi dalam nubuatan Yehezkiel-akan menjadi tempat bernaung segala makluk. Kesetiaan pelayanan kita akan dirasakan sesama di sekitar kita. - Cinta
Nilai cinta yang diajarkan Tuhan Yesus tentu melebihi segala sesuatu yang ada. Sekalipun kehidupan di dunia yang modern semakin pragmatis dan egosentris, mari kita ingat sebuah nilai yang luar biasa adalah nilai cinta. Refleksi dan pesan Paulus terhadap Jemaat di Korintus, mengingatkan bahwa selama manusia hidup di dalam tubuh jasmani ini maka tidak ada yang patut di sombongkan, sekalipun banyak karunia. Maka hiduplah sebagai manusia baru untuk kemulyaan Tuhan, hidup dengan penuh cinta terhadap sesama. Bunda Theresa merawat para sakit kusta dengan tubuh rentahnya dan cinta yang luar biasa. Mari, kita juga mewujudnyatakan cinta itu di dalam kehidupan. - Komitmen
Kata komitmen (KBBI) berarti perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu. Dalam kehidupan iman Kristen, setiap orang yang telah mengaku percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, maka disitulah komitmen hidupnya untuk meneladan sikap Tuhan Yesus, sebagai model dan fokus hidupnya. Teks Injil hari ini, mengingatkan bahwa nilai-nilai Kerajaan Allah perlu ditaburkan di dalam hidup. Sekecil apapun, maka akan berdampak dan bertumbuh sesuai dengan kehendak Tuhan. Komitmen pelayanan dan kesaksian iman kita adalah melekat di dalam hidup. Bunda Theresa, menghidupi komitmen hidupnya untuk melayani sampai akhir hidupnya bersama-sama dengan mereka yang menderita dan dipinggirkan. Mari kita memiliki komitmen pribadi dengan Tuhan di dalam hidup, sehingga wujud pelayanan kita tidak asal-asalan dan semaunya saja.
Bulan Kesaksian dan Pelayanan tahun 2021 sudah berakhir, tapi tanggung jawab dan panggilan kita hendaknya selalu terpancar di dalam kehidupan kita. Karena kasih dan cinta Allah selalu baru dalam hidup, maka hendaknya kita memberi harapan bagi setiap orang dalam kasih Kristus. Kita tidak pernah tahu kapan waktu Tuhan berakhir di dalam kehidupan kita, maka layanilah Tuhan Yesus melalui kehidupan kita dengan penuh sukacita.
Penutup
Mari kita hidup untuk Kristus sebagai Ciptaan Baru, setia bersaksi dan melayani dengan Cinta. Seperti ungkapan, “orang-orang optimis melihat bunga mawar, bukan durinya. Orang-orang pesimis terpaku pada duri dan melupakan mawarnya”. (Kahlil Gibran). Tuhan Memberkati. (Kulz)
Nyanyian: PKJ. 264 Apalah Arti Ibadahmu
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Bapa, Ibu, lan para sederek ingkang dipun tresnani Gusti Yesus. Wonten pamangih saking Bunda Theresa ingkang mekaten, ”Kita tidak bisa melakukan semua hal besar, tapi kita bisa melakukan hal kecil dengan cinta yang besar”. Bab punika wangsul saking raos kasetyan lan komitmen ibu Theresa anggenipun ngladosi para tiyang ingkang sakit Kusta ing Calcuta-India. Semangat lelados ingkang kados mekaten, kebak katresnan ingkang dados kakiyatan ngantos ing pungkasan gesangipun. Bab punika tamtu dados refleksi kita sami wonten ing satengah-tengahipun gesang ing ndonya ingkang modern, kasebat era millennial punika, punapa taksih wonten katresnan, komitmen, lan kasetyan salebeting gesang kita?
Isi
Manungsa ing ndonya ingkang modern-millenial punika sampun biasa kaliyan perkawis ingkang instant. Sedayanipun saged dipun tampi kanthi gampil lan mboten mbetahaken perjuangan ingkang ewet. Milai bab tetedhan, cekap pesen lewat HP kemawon, pesenan punika sampun dugi piyambak. Kangge bayar rekening lan ugi macemipun, kita cekap wonten ing griya kemawon ngginakaken HP sedaya saged. Bab punika asring dadosaken gesangipun manungsa tansah pragmatis, egosentris, lan sedayanipun nyuwun cepet, mboten purun nglampahi proses lan usaha. Kita pengin nyuwun gampilipun kemawon kados ngginakaken HP, ngginakaken kartu kredit utawi debet lan sedayanipun cekap. Kita saged nunjuk punapa kemawon ingkang dados pepenginan kita, saengga dados penolakan, bilih wonten kasunyatan ing gesang ingkang mboten gampil kados ngginakaken HP utawi kartu kredit/debet kalawau. Refleksi ingkang saged kita raos-raosaken minangka saksinipun Gusti Yesus Kristus, inggih punika :
- Kasetyan
Kasetyan nindakaken tanggel jawab wonten ing peladosan lan gesang punika, sanadyan alit tamtu punika ngadah aji. Kasetyan mboten dipun ukur saking ageng lan alitipun peladosan ingkang kita tindakaken, nanging saking kasetyan kita wujudaken wonten ing gesang. Kasetyan wonten ing peladosan lan tanggel jawab wonten ing gesang tamtu mboten gampil, amargi asring kita ngadepi tantangan lan pacoben saking tiyang kathah wonten ing satengahing gesang kita. Contonipun, raos kuciwa, nesu, lan raos sakiting manah ugi pergumulan ing bab perekonomian. Lajeng, kita milai ragu lan mboten setya. Engget peladosan Ibu Theresa, kasetyanipun ngrimati tiyang sakit Kusta dipun lampahi ngantos pungkasaning gesangipun. Sanadyan ngadepi pergumulan ing kabetahan dana lan ugi nandhang sesakit, nanging ibu Theresa tetep setya. Punika ingkang dipun kersaaken Gusti Allah wonten ing gesang, kados seratan ing Kitab Yehezkiel-bilih badhe dados papan kangge sedaya makluk. Kasetyan kita ing peladosan saged dipun raosaken sesami kita. - Katresnan
Wujud katresnan ingkang dipun tuladhaaken Gusti Yesus punika ageng sanget maknanipun. Sanadyan gesang manungsa tansaya pragmatis lan egosentris, sumangga kita engget tuladhanipun Gusti Yesus inggih punika Katresnan. Rasul Paulus paring serat lan ngengetaken pasamuwan ing kitha Korintus, bilih wonten ing gesang manungsa sacara kajasmanen, kita mboten angsal gumunggung, sanadyan kathah sih rahmat ingkang kita tampeni. Sumangga kita dados manungsa enggal kagem kaluhuranipun Gusti Allah, gesang kanthi kebak katresnan dhumateng sesami. Ibu Theresa ngrimati tiyang sakit kusta kanthi badan ingkang ringkih lan katresnan ingkang ageng sanged. Sumangga, kita wujudaken katresnan wonten ing gesang kita. - Komitmen
Komitmen (KBBI), artosipun prajanji (keterikatan) kangge nindakaken sawetawis perkawis. Salebeting gesangipun tiyang Kristen kedah ngakeni lan pitados bilih Gusti Yesus punika Juruwilujengipun. Wonten komitmen-prajanji wonten ing gesangipun tansah nuladha Gusti Yesus. Artosipun, Gusti Yesus dados panutan ing gesang kita. Teks Injil dinten punika, ngengetaken bilih wujud katresnan punika dados wujudipun Keratoning Gusti Allah ingkang prelu dipun sebar ing gesang kita. Sekedik lan alitipun tumindak punapa kemawon, sageta dados dampak ing tuwuh kados punapa ingkang dipun kersaaken Gusti Allah wonten ing gesang kita. Prajanji peladosan lan paseksi iman kita tansah wonten ing gesang. Ibu Theresa netepi prajanji peladosanipun wonten ing gesang ngantos pungkasan sesarengan kaliyan para tiyang ingkang nandhang penderitaan lan pergumulan. Sumangga kita ugi nggadahi prajanji secara pribadi kaliyan Gusti Allah wonten ing gesang, supados wujuding peladosan kita mboten namung asal-asalan lan sak pikajeng kita piyambak.
Wulan Kesaksian lan Peladosan ing tahun 2021 punika badhe kita pungkasi wekdal punika, nanging tanggel jawab lan timbalan kita lelados lan makarya dados paseksinipun Gusti tansah wonten ing gesang. Sedaya punika saged kita ayahi amargi sih katresnanipun Gusti Allah dhateng kita ingkang tansah enggal. Pramila sumangga kita kebak ing pangajeng-ajeng dhateng Gusti Yesus, awit kita mboten mangertos, kapan wekdal ingkang dipun paringaken Gusti Allah dumateng kita badhe dipun pundut. Saking punika sumangga kita setya lelados Gusti Yesus wonten ing gesang kita kanthi raos bingah ing manah.
Panutup
Sumangga kita sami ingget : Gesang kita kagem Gusti Yesus dados titah enggal, setya tuhu wonten ing paseksi lan peladosan kanthi kebak katresnan. Kanthi seratan ingkang mekaten, “orang-orang optimis melihat bunga mawar, bukan durinya. Orang-orang pesimis terpaku pada duri dan melupakan mawarnya”. (Kahlil Gibran). Gusti Yesus mberkahi. (Kulz)
Pamuji: KPJ. 450 Sumangga Makarya