Lawanlah Godaan! Khotbah Minggu 6 Juni 2021

24 May 2021

Minggu Biasa 5 – Bulan Kesaksian dan Pelayanan
Stola Hijau

Bacaan 1: Kejadian 3 : 8 – 15
Bacaan 2:
2 Korintus 4 : 13 – 5 : 1
Bacaan 3:
Markus 3 : 20 – 35

Tema Liturgis: Masa dan Waktu Tuhan Mendatangkan Kebaikan menjadi Saksi-Nya
Tema Khotbah:
Lawanlah Godaan!

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kejadian 3 : 8 – 15
Pada mulanya, Allah menempatkan Adam dan Hawa di taman Eden. Dan Allah memberi perintah bahwa semua pohon dalam taman Eden boleh dimakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat tidak boleh dimakan buahnya (Kejadian 2:16-17). Sayangnya, manusia tidak selalu mau mendengarkan perintah Tuhan dan jatuh dalam godaan ular (Kejadian 3:4-5). Dan, keadaan menjadi berbeda manakala manusia mendengar bunyi langkah Tuhan Allah yang berjalan dalam taman itu. Suara itu biasanya membuat mereka senang dan tenang, namun ketika mereka melanggar menjadi berbeda, tidak lagi menyejukkan tapi menakutkan sehingga membuat mereka bersembunyi dari Tuhan di antara pohon-pohonan dalam taman.

Ketika manusia tergoda dan jatuh dalam dosa, Allah memanggil mereka dan bertanya, “Dimanakah engkau?”. Tuhan berkuasa dan mengetahui segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, bahkan yang dialami oleh ciptaan-Nya, tidak terkecuali yang dialami oleh Adam dan Hawa. Pertanyaan itu membawa manusia merenungkan akan sikap yang (telah) dilakukannya. Bagaimana posisi manusia setelah jatuh dalam dosa? Nyatanya, manusia berada pada sikap melawan Allah dan bersikap saling menyalahkan. Adam menyalahkan Hawa karena membuatnya jatuh ke dalam dosa. Hawa menyalahkan ular.

2 Korintus 4 : 13 – 5 : 1
Pelayanan yang dilakukan oleh Paulus tidak selalu dalam keadaan lancar. Terkadang Paulus menghadapi situasi yang tidak mudah, ditekan dari berbagai sisi, dan pengikut Kristus juga mengalami penindasan dan penganiayaan yang bisa membuat seseorang mengalami keputusasaan dan kehancuran. Seperti diibaratkan ‘bejana tanah liat’ (ayat 7) yang adalah gambaran Paulus akan kehidupan yang rentan hancur, terpecah-pecah. Namun nyatanya, sekalipun berisiko nyawa, Tuhan selalu menyelamatkan dia dan membuatnya tidak tawar hati dan tetap semangat menjalani kehidupan dan pelayanannya. Segala yang terjadi dalam kehidupan Paulus tentu ada maksud Allah didalamnya, yaitu supaya orang bisa memahami bahwa kekuatan itu dari Allah saja asalnya (7) dan membuktikan akan kuasa kebangkitan Tuhan yang selalu menyertai kehidupan manusia.

Markus 3 : 20 – 35
Yesus yang menyembuhkan banyak orang memunculkan berbagai respon, baik ahli-ahli Taurat, maupun keluarga Yesus. Mereka cenderung keliru memahami Dia sehingga mengakibatkan keluarga-Nya secara berlebihan mencemaskan keberadaan-Nya, dengan bermaksud mengambil Yesus dan “menyelamatkanNya”, dan dengan cara mengatakan “Yesus tidak waras lagi”. Sedangkan ahli-ahli Taurat melemparkan berbagai tuduhan kejam terhadap diri-Nya. Tuduhan mereka ialah bahwa Yesus memperoleh kuasa dari Iblis sendiri dan dengan cara itu Dia mengusir setan.

Yesus tidak tergoda untuk menjadi sombong sekalipun sudah melakukan karya yang luar biasa dan menjadi perhatian orang banyak. Yesus juga tidak tergoda untuk berhenti berkarya sekalipun berbagai tuduhan dan penolakan diterima-Nya dari ahli Taurat atau keluarga-Nya yang terkesan merendahkan-Nya, meskipun maksud keluarga baik supaya Yesus beristirahat dari segala kelelahan-Nya. Ditengah situasi yang dihadapi oleh Yesus justru kesempatan bagi-Nya untuk mewartakan kabar keselamatan dan menjadi saksi akan karya Allah. Oleh sebab itu, Yesus menegaskan bahwa Ia mengusir setan bukan dengan kuasa penghulu setan. Dengan perumpamaan, Ia mengatakan “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis?” Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan. Ia melakukan pengusiran setan adalah dengan kuasa Allah, yakni Roh Kudus yang ada dalam diri-Nya.

Benang Merah Tiga Bacaan
Terkadang, manusia terjebak pada sikap: “semakin dilarang, semakin dicari”. Sama seperti yang dialami oleh Adam dan Hawa yang dilarang oleh Allah untuk memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Yang bisa membuat manusia melanggar larangan dari Allah, tidak lain adalah godaan. Godaan kerap menyapa untuk menghancurkan kehidupan kita, sama seperti bejana tanah liat yang rentan hancur. Maka teruslah belajar untuk dapat menguasai diri dan tetap melangkah menjadi saksi Kristus serta mewartakan kabar keselamatan.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan
Ada istilah “semakin dilarang, semakin dicari (atau semakin dilakukan)”, itulah realita yang seringkali terjadi dalam kehidupan. Semakin dilarang untuk melakukan sesuatu atau sesuatu itu ditutup-tutupi justru semakin mendorong keingintahuan seseorang untuk mencari dan mendapatkannya. Semakin dilarang, semakin penasaran apalagi jika larangan tidak disertai dengan alasan tentu akan muncul pertanyaan, “Mengapa kok tidak boleh melakukan A, B, C, dst?”. Dan itu juga bisa terjadi dalam diri anak-anak, misalnya: ketika sedang kebaktian minggu, orang tua akan mengingatkan anaknya agar jangan ramai. Tetapi semakin dilarang justru anak semakin teriak-teriak sekencang-kencangnya bahkan bisa marah kalau semakin sering diingatkan. Padahal, larangan itu bertujuan untuk kebaikan. Dalam hal ini tentu bukan hanya anak kecil yang seringkali dilarang dan kemudian tidak mematuhi larangan atau melanggar, terkadang orang yang sudah dewasa pun kerap kali melanggar aturan. Bisa jadi memang karena bebal atau sangat penasaran sehingga ingin merasakan sendiri mengapa ada larangan itu. Namun, jika sudah merasakan akibatnya maka baru jera dan tidak ingin mengulanginya lagi.

Isi
Pada mulanya, Allah menempatkan Adam dan Hawa di taman Eden. Dan Allah memberi perintah bahwa semua pohon dalam taman Eden boleh dimakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat tidak dimakan buahnya (Kejadian 2:16-17). Sayangnya, manusia tidak selalu mau mendengarkan perintah Tuhan. “Yang dilarang, yang dicari”. Karena didorong oleh keinginan yang kuat untuk memilki atau sekedar merasakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Padahal Tuhan melarang tentu bertujuan untuk kebaikan yakni agar manusia tidak jatuh dalam dosa. Namun, manusia justru mengabaikan dan melanggar larangan Allah. Mereka tergoda karena dianggapnya dapat memberi pengertian (Kejadian 3:6) sehingga dengan mudahnya tergoda oleh bujuk rayu ular (Kejadian 3:4-5). Godaan, baik yang muncul dari dalam diri ataupun dari luar kerap mengintai manusia sehingga membuat manusia gagal dalam memahami maksud kebaikan Tuhan. Pada akhirnya, keadaan tentu menjadi berbeda manakala manusia mendengar bunyi langkah Tuhan Allah yang berjalan dalam taman itu. Suara itu biasanya membuat mereka senang, namun ketika mereka melanggar menjadi berbeda, tidak lagi menyejukkan tapi menakutkan sehingga membuat mereka bersembunyi dari Tuhan di antara pohon-pohonan dalam taman.

Ada begitu banyak kisah yang menceritakan tentang kehancuran hidup seseorang oleh karena godaan padahal kehidupan yang dimiliki terlihat baik, bahkan mapan. Godaan seringkali nampak menggiurkan dan terkadang ada juga yang terlena. Misalnya: godaan dalam bentuk perselingkuhan, tergoda dengan kedudukan atau kekuasaan, tergoda dengan uang yang mudah didapatkan dengan cara yang cepat/korupsi, tergoda untuk ingin dihormati, tergoda untuk sombong, dll. Godaan itu bisa datang menghampiri kepada siapapun dan dalam kondisi apapun. Godaan yang didorong oleh keinginan mata atau hati yang bermuara pada keegoisan ini pada akhirnya hanya akan berujung pada kehancuran. Seperti halnya bejana tanah liat yang rentan hancur. Inilah yang menjadi gambaran dari Paulus akan kehidupan manusia yang tidak terlepas dari godaan, pergumulan hidup yang dapat menggoyahkan iman. Lalu, bagaimana seharusnya kita bersikap?

Ketika Yesus menyembuhkan orang pada hari sabat, Yesus diperhadapkan dengan orang banyak, termasuk orang-orang Farisi (ayat 6) dan ahli-ahli Taurat (ayat 22). Mereka merasa “tersaingi” oleh kehadiran Yesus. Keluarga Yesus yang mendengar tentang kabar Yesus yang berada di antara kerumunan orang banyak tersebut segera ingin “menyelamatkannya” dengan mengatakan bahwa Yesus tidak waras sedangkan ahli-ahli Taurat mengatakan “Ia kerasukan Beelzebul,” dan “dengan penghulu setan, Ia mengusir setan.” Mari, kita memperhatikan respon sikap Yesus terhadap orang banyak, keluarga dan ahli-ahli Taurat. Yesus tidak tergoda menjadi sombong ketika menjadi pusat perhatian orang banyak yang datang kepada-Nya. Ketika berhadapan dengan keluarga-Nya yang terkesan merendahkan-Nya dan ahli-ahli Taurat yang memberi tuduhan dan penolakan, Yesus tidak tergoda untuk berhenti berkarya. Di tengah godaan yang ada memperlihatkan bahwa Yesus dapat menguasai diri-Nya dan di tengah situasi yang demikian justru menjadi kesempatan bagi Yesus untuk bersaksi akan karya dan kehendak Allah.

Penutup
Kita dipanggil untuk menjadi saksi Kristus, dimanapun kita berada dan dalam kondisi apapun. Sebagai saksi Kristus, kita perlu terus belajar menguasai diri, menahan diri dari berbagai keinginan yang bisa membuat kita jatuh dalam dosa dan tidak berhenti untuk bersaksi akan kasihNya melalui kehidupan kita, sekalipun godaan dan pergumulan datang menghampiri. Dengan pimpinan Roh Kudus, kiranya kita senantiasa dimampukan menjadi saksi Kristus yang setia. (PM)

Nyanyian: KJ. 436 : 1 Lawanlah Godaan

Rancangan Khotbah: Basa Jawi

Pambuka
Wonten istilah ingkang makaten “semakin dilarang, semakin dicari/ semakin dilakukan”, “dipenging, malah digoleki utawi dilakoni”. Punika kasunyatan ingkang asring kalampahan wonten gesang kita sadinten-dinten. Asring sadaya perkawis ingkang dipun penging supados mboten dipun lampahi/ditindakaken malah ndamel penasaranipun tiyang lan justru dipunlampahi. Punapa malih menawi ingkang dipun penging/larang kala wau mboten wonten penjelasanipun tamtunipun tiyang punika tansaya penasaran lan saged nuwuhaken pitakenan utawi kepingin sumerep, “Kena apa ora oleh A, B, C, lsp?” Bab punika ugi asring kalampahan wonten gesangipun para lare, umpami: Ing pangabekti Minggu para lare punika dipun penging supados mboten rame kemawon. Nanging anggenipun rame tansaya banter, menawi diemutaken utawi didukani, piyambake malah nesu-nesu. Kamangka sedaya kala wau kangge kepentingan kasaenan. Nanging naminipun para lare punapa mangertos bab kala wau. Perkawis punika mboten namung lare alit kemawon ingkang nglanggar aturan, nanging ugi wonten sadengah tiyang dewasa saged ugi karana pepinginanipun utawi karana sembrononipun anggenipun sami nglanggar aturan punika. Lha, menawi sampun nampeni pituwasipun baru rumaos kapok lan mboten mbaleni nglampahi malih.

Isi
Ing sakawit Gusti Allah mapanaken Adam lan Hawa wonten ing petamanan Eden, Gusti Allah paring dhawuh dhumateng manungsa, “Sarupané wit-witané petamanan iki wohé olèh kokpangan, kejaba mung witing pangerti bab kang ala lan becik, kuwi wohé aja kokpangan. Awit samasa kowé mangan wohé mau, ing dina kuwi uga kowé bakal mati.” (Purwaning Dumadi 2:16-17). Emanipun, manungsa mboten mituhu dhumateng dawuhipun Gusti Allah. “Yang dilarang, yang dicari”. Dikanteni raos ingkang kiat anggenipun anggadahi raos pepinginan ingkang ageng supados saged ngraosaken wohing pangawruh becik kaliyan ala. Kamangka Gusti sampun paring dawuh supados mboten dipun tedha punika sadaya kangge kasaenanipun manungsa piyambak supados mboten dawah ing dosa. Nanging manungsa malah remen nglirwaaken katimbang mituhu dhateng karsanipun Gusti, manungsa kagodha dening pepinginaning piyambak karana rumaos saged anggadahi pangertosan (Purwaning Dumadi 3:6) kanthi gampil saged dipun godha dening sawer (Purwaning Dumadi 3:4-5). Panggodha ingkang mijil saking diri pribadi utawi saking njawi, asring nggodha manungsa lan asring mengintai manungsa supados tansah nindhakaken kalepatan saengga manungsa nemahi cilaka.

Pungkasanipun, manungsa nemahi kahanan ingkang benten nalika mireng lampahipun Gusti ing salabeting taman. Swanten punika limrahipun adamel manah manungsa sukarena ananging karena manungsa sampun nglanggar dawuhipun Gusti. Lampahipun Gusti wonten ing taman punika andadosaken manungsa ajrih mboten nengsemaken malih lajeng manungsa sami ndhelik ing antawisipun wit-witan ing petamanan Eden punika.

Wonten kathah cariyos ingkang nyariosaken bilih pigesanganipun ketingal sae, mapan nanging saged ancur amargi kagodha lan kapiket pepinginaning ati. Panggodha asring ketawis nengsemaken manah saengga ndadosaken manungsa lena, mboten menggalih kanthi lebet. Umpami: manungsa saged kagodha nglakoni selingkuh, kagodha kaliyan panguawasan, pilenggahan, kagodha ugi kaliyan bandha donya ingkang padosanipun kanthi cepet (korupsi), kagodha supados dipun urmati lan di pun ajeni tiyang sanes, saged gumunggung anggenipun ningali punapa ingkang dados kagunganipun, lsp. Panggodha punika saged nemahi sinten kemawon lan kanthi kondisi punapa kemawon. Panggodha ingkang dipun bereg pepinginaning mripat utawi manah saged njalari risaking kahanan. Sami kados grabah ingkang dipun damel saking lempung, gampil pecah, ringkih. Perkawis punika ingkang dipun gambaraken kaliyan Rasul Paulus gegayutan kaliyan pigesanganipun manungsa mboten uwal saking agenging panggodha ingkang saged nggoyahaken iman kapitadosan manungsa. Lajeng kados pundi sikap kita?

Kathah tiyang, lumebet ugi tiyang Farisi (ayat 6) lan para ahli Toret (ayat 22) sami ningali Gusti Yesus nyarasaken tiyang sakit ing dinten Sabat. Tamtunipun, tiyang Farisi kaliyan para ahli Toret rumaos dipun saingi dening Gusti Yesus. Para seduluripun Gusti Yesus ingkang mireng bilih Gusti Yesus wonten ing satengah-tengahing tiyang kathah kalawau anggadhahi usaha sami “milujengaken” Gusti saking tiyang kathah, kanthi nyebat bilih Gusti punika sanes tiyang waras, para ahli toret sami mastani bilih anggenipun Gusti nyarasaken tiyang punika ndamel panguwasanipun iblis kapanjingan demit (Beelzebul). Mangga, kita sami anggatosaken sikapipun Gusti tumrap tiyang kathah, para sedulure lan para ahli toret. Gusti Yesus mboten dados tiyang ingkang gumunggung lan kagodha nalika dados “pusat perhatian” tiyang kathah ingkang sami rawuh dhumateng Panjenenganipun. Gusti Yesus ugi mboten kagodha nalika saduluripun sami mawang Gusti kanthi asor lan para ahli toret sami mitenah lan mboten purun sami nampeni dhawuhipun. Gusti Yesus mboten kagodha supados lereh saking pakaryanipun.

Ing satengahipun panggodha, Gusti Yesus saged nguwaosi diri pribadinipun lan nedhahaken bilih ing satengah – tengahing kahanan ingkang mekaten, dados kesempatan kagem Gusti Yesus lan dados saksi pakaryanipun Gusti Allah, Sang Rama.

Panutup
Kita sedaya dipun timbali supados saged dados saksinipun Gusti, ing pundi kemawon lan kahanan punapa kemawon. Dados saksinipun Gusti, kita kedhah saged nyinau ngendaleni diri saking sedaya kepinginaning ati ingkang saged ndadosakaen kita sedaya dumawah wonten ing luwenging dosa lan mboten kendhat anggenipun kita dados seksi tumrap sih Katresnanipun Gusti lumantar gesang kita, sanajan panggodha tansah nginceng lan ngampiri kita. Lumantar tuntunanipun Sang Roh Suci, mugi kita tansah kaatag dados saksinipun Gusti Yesus Kristus ingkang setya. Amin. (PM)

 Pamuji: KPJ. 209 : 1 Tiyang kang Pracaya

Renungan Harian

Renungan Harian Anak