Minggu Paskah III
Stola Putih
Bacaan 1: Kisah Para Rasul 3 : 12 – 19
Bacaan 2: 1 Yohanes 3 : 1 – 7
Bacaan 3: Lukas 24 : 36 – 49
Tema Liturgis: Kebangkitan telah Terjadi dan Kami hanyalah Saksi–saksi-Nya.
Tema Khotbah: Berani menjadi Kristen.
Penjelasan Teks Bacaan :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Kisah Para Rasul 3 : 12 – 19
Kisah penyembuhan yang terjadi melalui Petrus memberikan kesaksian baru bagi orang Israel yang sejak awal meragukan Tuhan Yesus. Kuasa Yesus tidak hanya terjadi saat banyak orang melihat Yesus sendiri melakukan mujizat, namun ketika Yesus sudah tidak ada – naik ke Sorga – kuasa di dalam nama-Nya masih bekerja dan nyata. Petrus meyakinkan bahwa orang lumpuh yang mereka kenal itu bisa sembuh bukan karena kekuatan dan kuasa Petrus maupun Yohanes, ataupun kesalehan mereka, namun semata-mata karena iman di dalam nama Yesus “yang telah mereka bunuh” namun dibangkitkan oleh Allah. Oleh karena itu, melalui kisah ini umat diajak memfokuskan perhatian pada Allah yang berkuasa dan memberikan kesembuhan, bukan pada orang per orang yang mohon kesembuhan. Penyembuhan melalui doa dan iman yang terjadi sepanjang waktu adalah suatu permohonan kepada Allah yang punya kuasa menyembuhkan. Dikabulkan atau tidak permohonan itu, hanya bergantung pada kehendak Allah. Kisah penyembuhan dalam bacaan ini menegaskan pembenaran Allah terhadap Yesus, Hamba-Nya, yang sudah ditolak oleh bangsa pilihan-Nya. Dengan Allah menyembuhkan orang lumpuh saat disapa Petrus dalam Nama Yesus, menunjukkan bahwa Allah mempermuliakan nama Yesus yang telah dibangkitkan dari kematian.
1 Yohanes 3 : 1 – 7
Yohanes meyakinkan para pengikut Kristus mengenai identitas mereka yang adalah anak Allah. Status ini diperoleh bukan karena upaya manusiawi namun semata-mata karena besarnya kasih karunia Allah bagi manusia. Jika kemudian status itu membawa konsekuensi pada keadaan yang tidak diharapkan seperti kesulitan, penderitaan dan kesesakan, Yohanes meyakinkan bahwa hal yang demikian adalah wajar karena dunia tidak mengenal kita maupun mengenal Dia yang menganggap kita sebagai anak. Namun yang pasti, sekalipun di tengah segala kondisi yang tidak menyenangkan, status sebagai anak tidak boleh luntur dan sirna.
Apa yang harus dilakukan oleh orang percaya? Tetap menjadi anak Allah yang terkasih dengan meleburkan diri dalam keserupaan dengan Dia. Karena jika hidup kita tetap murni seperti Dia, kita akan kudus seperti Kristus, Anak Allah yang kudus itu. Jika orang percaya justru meleburkan diri pada dunia yang menjauhi rupa Kristus, ia melanggar hukum Allah yang menjadikan dia tidak seperti anak Allah dan hidupnya tidak ada kasih.
Lukas 24 : 36 – 49
Bacaan kita kali ini terjadi pasca kebangkitan dan pra kenaikan Yesus ke Sorga. Sebelum para murid ditinggalkan oleh Sang Kristus, terlebih dahulu mereka diyakinkan akan Dia yang sungguh-sungguh hidup. Mata para murid sendiri menyaksikan saat Kristus berkata “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku; Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku” (Luk. 24:39). Iman para murid dan gereja perdana benar-benar didasarkan pada pengalaman iman yang faktual bukan pada kisah mitos tentang kebangkitan Kristus. Bahkan yang jauh lebih penting adalah iman mereka kepada Sang Kristus bukan karena kekuatan manusiawi atau daya analitis teologis mereka, tapi karena karya Kristus semata. Sang Kristus membuka pikiran mereka sehingga apa yang diajarkan Tuhan Yesus tentang : “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur” bisa mereka mengerti.
Para murid akhirnya mampu mengerti bahwa penderitaan, kematian dan kebangkitan serta kenaikan Kristus ke sorga ditempatkan dalam kerangka karya keselamatan Allah sebagaimana telah dinubuatkan oleh Musa, pemazmur dan para nabi. Seandainya peristiwa penderitaan, kematian dan kebangkitan serta kenaikan Kristus ke sorga tidak dinubuatkan terlebih dahulu oleh kitab-kitab Musa, kitab Mazmur dan kitab para nabi maka segala peristiwa tersebut sebenarnya tidak memiliki makna apapun sebab tidak menjadi bagian dari karya keselamatan Allah. Iman para murid dan gereja perdana dibentuk oleh pengajaran dari Kristus yang bangkit dan telah memberikan pengajaran serta telah membuka pikiran serta pengertian mereka sehingga mereka dapat mengerti makna Firman Tuhan yang telah dinubuatkan oleh Kitab Suci.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Karya keselamatan Tuhan akan dipahami dengan utuh ketika Dia membuka pikiran kita, sehingga setiap pengalaman hidup yang diijinkan Tuhan kita alami dan saksikan tidak berlalu begitu saja, namun mempunyai makna yang besar dalam pertumbuhan iman kita. Di manapun orang Kristen hadir dipanggil untuk senantiasa berupaya menghadirkan Dia melalui perilaku yang didasarkan atas iman kepada-Nya. Orang yang beriman di dalam nama Yesus – Anak Allah, akan berjuang menyerupakan diri dengan Dia yang bangkit dan menyelamatkan sekalipun jalan untuk itu terkadang terjal.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
Pendahuluan
Bagaimana seseorang itu dikenali sebagai seorang Kristen? Pernahkah panjenengan tiba-tiba ditebak oleh orang lain yang sebelumnya tidak saling mengenal dengan pertanyaan “panjenengan Kristen ya?” Dari apa biasanya tebakan itu bermula? Sebagian orang dikenali dari aksesoris yang dipakai, seperti anting, liontin pada kalung, kaos, atau buku bacaan. Sebagian lain lagi dikenali melalui kata-kata “Puji Tuhan, Haleluya” yang sering diucapkannya. Nah, seandainya tanpa semua yang disebutkan di atas, masih bisakah orang dikenali sebagai Kristen? Harusnya bisa, melalui setiap laku hidup yang ngristeni yang dilakukan dengan terus menerus dan konsisten, bukan yang dhong-dhongan. Dhong eling dilakoni, dhong lali dilirwakake. Menjadi Kristen seharusnya nampak dalam segala sesuatu yang melekat dalam diri kita, namun tentunya bukan sekedar aksesoris semata, namun melekat dalam keseluruhan hidup sejak dari pemikiran dan rencana, lalu mewujud dalam kata dan laku nyata.
Isi
Jika melihat pengalaman banyak orang Kristen di tengah masyarakat dan pekerjaan, maka tidak jarang menjadi Kristen itu justru menimbulkan banyak kesulitan seperti kehilangan pekerjaan atau kesempatan mendapatkan jabatan, ditinggalkan gebetan (pacar) maupun dipersulit dalam berbagai urusan. Di tengah situasi sulit itu, apa yang harus dilakukan? Penulis surat Yohanes berpesan: Tetaplah menjadi Kristen, tetaplah menjadi orang percaya. Tetap menjadi anak terkasihnya Allah dengan meleburkan diri dalam keserupaan dengan Dia, yang benar dan tidak berbuat dosa. Hidup kita ini dipenuhi dengan kasih-Nya, sehingga sekalipun kondisinya tidak menyenangkan, status sebagai anak terkasih ini tidak boleh luntur dan sirna. Sebaliknya, jika orang percaya justru meleburkan diri pada dunia yang menjauhi rupa Kristus, tidak ada kasih dalam hidupnya. Ia melanggar hukum Allah yang menjadikan dia tidak seperti anak Allah.
Bagaimana status anak Allah ini dinampakkan dalam kehidupan sehari-hari? Tentunya dengan keberanian untuk tetap berbuat benar, melalui kepekaan dan kepedulian hati yang melihat persoalan dan berusaha menjadi solusi di tengah masalah itu. Hal yang demikian itu sebagaimana yang dilakukan oleh Petrus dan Yohanes paska menerima Roh Kudus. Hidup baru yang dialami membuatnya berbuat segala sesuatu yang mengatasnamakan Tuhan. Dalam Kisah Para Rasul itu diceritakan bahwa mujizat kesembuhan orang lumpuh itu terjadi atas permohonan Petrus dilandasi dengan iman kepada Tuhan Yesus. Dengan menyembuhan orang lumpuh yang disapa Petrus dengan melibatkan dan mengandalkan kuasa Sang Kristus, Allah menunjukkan bahwa Ia telah membangkitkan Yesus dari kematian dan memuliakan nama-Nya (ayat 13-16).
Kebangkitan Yesus telah mengerjakan iman dan keberanian. Mengapa peristiwa kebangkitan Yesus menambah pengalaman iman yang sungguh mendasari kehidupan pelayanan para murid dan gereja perdana waktu itu? Karena iman mereka dibentuk oleh pengalaman nyata pada peristiwa sejak Yesus hidup, sengsara, mati dan bangkit. Kristus yang bangkit telah memberikan pengajaran dan membuka pikiran serta pengertian mereka sehingga mereka dapat mengerti makna Firman Tuhan yang telah dinubuatkan oleh Kitab Suci. Para murid akhirnya mampu mengerti bahwa penderitaan, kematian dan kebangkitan serta kenaikan Kristus ke sorga ditempatkan dalam kerangka karya keselamatan Allah sebagaimana telah dinubuatkan oleh Musa, pemazmur dan para nabi. Seandainya peristiwa itu tidak dinubuatkan terlebih dahulu maka segala peristiwa tersebut sebenarnya tidak memiliki makna apapun sebab tidak menjadi bagian dari karya keselamatan Allah. Karenanya, sekalipun sudah tidak ditunggui Yesus, mereka tetap berani menyatakan karya Allah.
Penutup
Bagaimana dengan kehidupan kita? Apakah keyakinan kita pada Kristus yang bangkit telah mendasari setiap perilaku hidup kita, sehingga segala hal yang kita pikirkan, rencanakan dan lakukan sungguh-sungguh diatas namakan Dia? Hal itu seharusnya bukan hanya nampak dalam segala perbuatan yang kita awali dengan pengakuan “di dalam nama Yesus” namun sungguh-sungguh perlu ditanyakan “Apakah rencanaku atas pekerjaan dan hidup ini sudah sesuai dengan kehendak Kristus?”
Jika kita anggota Majelis jemaat, aktivitas gereja, pejabat publik, tokoh di masyarakat, pasangan dalam rumah tangga, orang tua atau anak dalam keluarga, guru, pegawai, karyawan, murid atau mahasiswa, pertanyaannya : Apakah kita sudah mendasari semua rencana dan laku kita dengan atas nama Tuhan? Pada Tuhan ada karya kebaikan dan keselamatan, maka dalam karya kita hal yang samapun seharusnya mewujud. Mungkin tidak mudah menjadi seorang yang hidup ngristeni di tengah godaan jaman ini. Namun, mari terus menjadi berani dan tidak menyerah karena Kristus yang bangkit bersama dengan setiap orang yang setia, yang terus menyapa kehidupan dengan atas nama-Nya. Amin. (KRW)
Pujian : KJ. 375 Saya Mau Ikut Yesus
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Kadospundi tiyang saged dipun wastani minangka Kristen? Punapa panjenengan nate dipun aruh-aruhi tiyang ingkang dereng panjenengan tepang sakderengipun kanthi pitakenan “panjenengan Kristen nggih?” Saking pundi saged dipun tengeri menawi tiyang punika Kristen? Saperangan tiyang tepang saking aksesoris ingkang dipun agem kadosdene anting, liontin wonten kalung, kaos, utawi buku waosanipun. Saperangan malih saking tetembungan kados “Puji Gusti, Haleluya” ingkang asring dipun ucapaken. Nah, saumpami tanpa sedaya punika kalawau, punapa taksih saged tiyang dipun tengeri menawi Kristen? Kedahipun taksih, lumantar tumindak ingkang ngristeni ingkang dipun lampahi kanthi mempeng lan konsisten, sanes dhong-dhongan. Dhong eling dilakoni, dhong lali dilirwakake. Dados Kristen kedahipun ketingal ing sadhengah prekawis pigesangan, mboten namun lumantar barang ingkang dipun ginakaken, nanging wonten ing sedaya urusan pigesangan wiwit saking pemikiran lan sedaya rancangan, lajeng mawujud ing laku nyata.
Isi
Menawi kita nilangi gesangipun tiyang Kristen ing pedamelan punapa pasrawungan, asring kita manggihi bilih dados Kristen punika manggihi kathah karibedan kadosdene : kecalan pedamelan utawi jabatan, dipun tilar gebetan (pacar) utawi manggihi karibedan ing kathah urusan. Ing salebeting kaanan punika, punapa ingkang kedah dipun lampahi? Pitedahipun Yokanan inggih punika : tetep dadia Kristen, tetep dadia wong pracaya. Tansah tetep dados putra kinasihipun Gusti Allah kanthi madha rupa Panjenenganipun ingkang kebak kayekten lan tanpa dosa. Gesang kita punika kebak ing sih katresnanipun Allah, pramila senaosa kaanan punika boten mbingahaken lan kebak reribed, status minangka putra kinasih punika sampun ngantos luntur lan sirna. Kosokwangsulipun, menawi tiyang pitados madha rupa kaliyan donya kanthi nebihi Sang Kristus, piyambakipun kecalan katresnan ing gesang, sampun nerak angger-anggering Allah lan ndadosaken gesangipun boten kados putraning Allah.
Kadospundi status putraning Allah punika saged katingal ing gesang padintenan? Tamtunipun, kanthi wantun tansah tumindak yekti, inggih lumantar kepekaan lan kepedulian ingkang tuwuh saking manah ingkang saestu ngupadi kesaenan lan solusi ing satengahing masalah. Bab punika kadosdene ingkang dipun tindakaken dening Petrus sak sampunipun anampeni Roh Suci. Gesang enggal dadosaken Petrus nindakaken pakaryan alandhesan asmanipun Gusti Yesus. Wonten ing waosan lelakone para rasul kacariosaken bilih mujizat kasarasan ingkang kaalami punika karana panyuwunanipun Petrus ingkang dipun landhesi dening iman dhumateng Gusti Yesus. Kanthi paring kasarasan dhumateng tiyang pincang lumantar rasul Petrus, punika nedahaken bilih Sang Kristus sampun kawungokake lan Asmanipun kaluhurake dening Gusti Allah (ayat 13-16).
Wungunipun Sang Kristus punika murugaken tiyang pitados kalasemanten tansaya wantun lan tatag ngadhepi gesang. Kenging punapa? Karana iman kapitadosanipun kabentuk saking pengalaman nyata gegayutan kaliyan gesangipun Sang Kristus, wiwit sangsara, seda lan wungunipun. Sang Kristus ingkang wungu punika paring piwulang lan mbikak penggalihipun para sekabat supados mangertos pangandikanipun Allah ingkang sampun kaserat ing Kitab Suci. Wusananipun, para sakabat saged mangertos bilih sangsara, seda lan wungunipun sarta mekradipun Gusti Yesus punika satunggaling pakaryan ageng Gusti Allah paring kawilujengan dhumateng manungsa. Sedaya kalawau, sampun dados pamecaning kitab suci kados ingkang kaserat ing kitab Toretipun Nabi Musa, para nabi lan juru Mazmur. Menawi prastawa punika boten dados pameca / wangsit langkung rumiyin, sejatosipun kirang nggadhahi makna punapa-punapa.
Panutup
Kadospundi kaliyan gesang kita? Punapa kapitadosan kita dhumateng Sang Kristus ingkang wungu punika sampun dados landhesan sedaya tumindak kita ing gesang, saengga punapa ingkang kita pikir, rancang lan lampahi saestu wonten asmanipun Gusti Yesus? Bab punika kedahipun boten namung katingal wonten ing tumindak ingkang kita dhasari pengaken “ing dalem asmanipun Gusti Yesus” nanging saestu tuwuh saking pitakenan “Apa rancanganku bab pakaryan lan urip iki wis cundhuk karo karsanipun Gusti Yesus?”
Menawi kita punika pradataning pasamuwan, aktivitas gereja, pejabat publik, tokoh ing masyarakat, semah wonten ing geang bebrayan, tiyang sepuh punapa atau anak ing brayat, guru, pegawai, karyawan, murid utawi mahasiswa, pitakenanipun : “Apa aku wis ndhasari kabeh rancangan lan lakuku ing asmane Gusti?” Wonten ing Gusti sedaya pakaryan sae lan yekti dumunung, pramila wonten pakaryan kita, bab ingkang sami punika kedah mawujud. Mbokmenawi boten gampil dados tiyang Kristen ingkang gesang ngristeni ing satengahing jaman ingkang kebak godha punika. Nanging, kita kaatag tansah wantun ngetingalaken gesang Kristen. Sumangga kita boten nglokro karana Sang Kristus ingkang wungu tansah nyarengi tiyang ingkang setya tuhu, ingkang tansah nglampahi gesang wonten ing asmanipun Gusti Yesus. Amin. (KRW)
Pujian : KPJ. 124 “Kula Sestu Ndherek Gusti”