Jumat Agung – Pekan Suci
Stola Merah
Bacaan 1: Yesaya 52 : 13 – 53 : 12
Bacaan 2: Ibrani 10 : 16 – 25
Bacaan 3: Yohanes 18 : 1 – 19 : 42
Tema Liturgis : Kepatuhan dan Kerendahan Hati Menghasilkan Ketenangan dan Persatuan
Tema Khotbah: Mau Melakukan Pekerjaan Hina dan Berat adalah Wujud Kerendahan Hati
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 52 : 13 – 53 : 12
Tidak sedikit orang yang menafsirkan bahwa bagian kitab Yesaya ini adalah nubuat tentang Yesus Kristus. Tetapi tentunya nabi Yesaya tidak bermaksud menubuatkan tentang apa yang akan dialami oleh Yesus Kristus. Bagian ini hanya merupakan gambaran sang nabi tentang Hamba TUHAN, yang tidak diketahui siapakah dia sebenarnya. Sang nabi hanyalah menggambarkan -sekaligus memberikan harapan bagi umat Tuhan- bahwa Hamba TUHAN itu akan berhasil membebaskan umat Tuhan dari penderitaan dan mendatangkan ganjaran keselamatan bagi mereka. Dia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan (Yes. 52:13) karena dia mau dan akan berhasil menanggung penyakit dan memikul kesengsaraan umat-Nya (Yes. 53:4). Hamba Tuhan itu sangat rendah hati, mau merendahkan diri dan penuh kerelaan, karena -untuk tujuan pembebasannya itu- dia rela dihina dan disiksa penuh kesengsaraan sehingga dia sama sekali tidak menarik bagi siapapun. Dia membuat banyak bangsa dan para pemimpinnya tertegun dan tercengang karena yang sebenarnya dia dimuliakan tetapi dia mau merendahkan diri sampai diremukkan dan kehilangan rupanya yang semarak demi keselamatan umat-Nya.
Ibrani 10: 16 – 25
Dengan paparan yang jelas akan imamat Kristus yang sempurna itu, penulis Ibrani menantang para pembaca surat Ibrani untuk tidak lagi ragu akan iman mereka. Yesus adalah jalan masuk kepada Allah. Dua ciri dari jalan ini adalah baru dan hidup (ayat 20). Baru berarti segar, tidak seperti Perjanjian Sinai yang sudah “usang” (bdk. 8:13). Hidup berarti abadi karena Kristus senantiasa hidup sebagai pengantara mereka (bdk. 7:25).
Tuhan Yesus bukan hanya pengantara kepada Allah, Dia juga kepala Rumah Allah (ayat 21). Artinya Dialah yang mengatur siapa yang boleh masuk ke tempat kudus Allah. Dia yang akan menyambut kita, orang yang percaya kepada-Nya, untuk masuk, tinggal, dan menikmati hadirat Allah selama-lamanya. Hanya dengan hati nurani yang sudah disucikan oleh Kristus sendiri kita dapat menikmati hadirat-Nya (ayat 22). Agar nurani yang sudah bersih ini tetap menjadi bersih, bahkan semakin peka akan kehendak-Nya, penulis Ibrani mendorong para pembacanya agar bertekun dalam iman (ayat 22), berpegang pada pengharapan kepada Allah yang setia (ayat 23), serta hidup dalam kasih dan perbuatan baik (ayat 24). Agar tiga kebajikan Kristen ini benar-benar menjadi nyata, anak-anak Tuhan harus meningkatkan relasi pribadi mereka dengan Allah. Ini kita alami dalam ibadah dan relasi antar sesama melalui saling menasihati dan memotivasi dalam persekutuan Kristen. (ayat 25).
Oleh anugerah Allah di dalam Kristus, kita yang sudah disucikan berani menghampiri takhta Allah. Dengan iman yang teguh, kita melangkah maju penuh pengharapan akan penggenapan janji-janji surgawi dan mengisi kehidupan ini dengan melakukan berbagai perbuatan baik oleh dorongan kasih Allah. Itulah buah-buah rohani yang dapat kita persembahkan ke hadirat-Nya. (https://alkitab.sabda.org)
Yohanes 18 : 1 – 19 : 42
Yesus mempunyai kuasa yang membuat pasukan yang hendak menangkap-Nya terjengkang ketika Dia mengatakan bahwa Dialah yang mereka cari. Itu berarti sebenarnya Dia pasti bisa menggagalkan penangkapan-Nya. Namun demikian, Dia membiarkan diri ditangkap oleh pasukan itu. Dia sama sekali tidak menegur Yudas, murid-Nya sendiri, yang menjadi perantara utama penangkapan-Nya. Dia rela dikhianati oleh murid-Nya sendiri. Dia tidak menyesalkan perbuatan Yudas. Dia bahkan menegur Simon Petrus yang berusaha melawan para prajurit yang menangkap-Nya.
Ketika ditanyai dan diadili oleh Imam Besar, Yesus tidak berkata-kata untuk membela diri-Nya supaya tidak dianggap bersalah. Yesus malah menyuruh Imam Besar mananyakan kepada murid-murid-Nya saja. Padahal Yesus tahu bahwa paling tidak ada dua dari antara mereka -yakni Yudas dan Simon Petrus- sudah berkhianat.
Pilatus tidak menemukan kesalahan pada diri Yesus. Karena itu, dia menawarkan kebebasan kepada Yesus, tetapi Yesus tidak mau mendapatkannya. Padahal Dia sudah disesah berkali-kali dengan cambuk bergerigi tajam dan dimahkotai dengan duri, dan tentu karena itu tubuh-Nya sudah penuh dengan luka yang sangat menyakitkan dan berdarah-darah. Tetapi Dia tidak mau mengambil tawaran untuk bebas, apalagi memperjuangkannya.
Akhirnya Dia disalibkan. Penyaliban-Nya bersama dua orang penjahat sebenarnya merupakan penghinaan kepada-Nya bahwa Dia adalah termasuk penjahat. Tulisan INRI di atas kepala-Nya adalah penghinaan yang lebih besar lagi bahwa Dia sebagai Raja orang Yahudi dianggap telah dikalahkan dengan penyaliban-Nya. Dia dianggap tidak berkutik sama sekali dan kuasa-Nya tidak ada.
Ketika hendak disalibkan, Dia tidak memberontak atau melawan ataupun membebaskan diri-Nya, melainkan membiarkan diri-Nya disalibkan. Dengan itu Dia sengaja menggenapi Kitab Suci secara tuntas, selesai dengan sempurna.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Bacaan 3 merupakan penggenapan bacaan 1. Yesus dengan sengaja dan sadar menggenapi gambaran dan harapan tentang Hamba TUHAN yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya. Dengan penggenapan nubuat Yesaya itu umat yang percaya kepada Yesus mendapat hak untuk hidup dekat dan bahkan bersatu dengan Allah dalam kedamaian (bacaan 2).
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
Pendahuluan
Tidaklah mudah menemukan orang berjabatan tinggi atau berstatus sosial bagus atau berhakikat mulia yang mau dengan sengaja melakukan pekerjaan yang rendah, hina dan menyakitkan. Kalau pun ada yang melakukannya, kemungkinan besar itu disebabkan oleh kesalahan atau kejahatan yang dilakukannya, misalnya karena perbuatan korupsi atau pelanggaran yang lain. Kalau ada yang mengalami pekerjaan itu mungkin juga karena “nasib” sialnya, karena keteledorannya, karena ketidakwaspadaannya. Kalau ada yang mau melakukannya mungkin itu ada pamrih pribadinya, mungkin itu drama, pura-pura, hanya video, bukan realitas yang sebenarnya. Tetapi kalau benar-benar ada yang melakukannya dengan sengaja dan tulus, orang itu pasti dinilai sebagai orang yang sangat rendah hati, sangat mulia, patut disanjung dan ditinggikan.
Isi
Tuhan Yesus mengalami penderitaan atau kesengsaraan hebat bukan sekedar karena sudah dinubuatkan. Penderitaan yang dialami-Nya itu bukanlah ketetapan atau takdir yang pasti dialami-Nya, yang tidak bisa dihindari. Jika demikian, maka Dia berhak untuk protes. Penderitaan yang dialami-Nya itu tentu juga bukanlah karena nasib sial yang menimpa Dia. Jika demikian, maka Dia bisa nggetuni (menyesali) penderitaan-Nya itu. Penderitaan-Nya itu juga jelas bukan karena kesalahan-Nya. Pilatus mengatakan bahwa dia tidak menemukan kesalahan pada diri Tuhan Yesus. Karena, jika penderitaan-Nya itu disebabkan oleh kesalahan-Nya, maka sepatutnya Dia meminta maaf atau ampun.
Penderitaan dan kesengsaraan hebat pasti dialami oleh Hamba TUHAN yang membebaskan manusia dari kuasa dosa dan menyelamatkannya dari kuasa maut. Kuasa dosa telah membuat semua manusia melakukan berbagai-bagai kejahatan dari yang kecil sampai yang sangat mengerikan. Karena kuasa dosa manusia terbelenggu oleh kuasa maut. Manusia tidak mungkin bisa membebaskan diri dari belenggu dan cengkeraman maut itu dengan usahanya sendiri. Kuasa dosa dan maut itu jauh lebih kuat dari kemampuan manusia. Semakin kuat usaha manusia untuk membebaskan diri, semakin kuat pula dosa dan maut mencengkeram manusia, sehingga manusia malah menjadi semakin jahat.
Tuhan Yesus mengalami penderitaan dan kesengsaraan hebat itu karena Dia sengaja, rela dan tulus menggenapi nubuat tentang Hamba TUHAN yang menderita itu (bacaan 1: Yes. 52:13-53:12). Di Filipi 2:7 dituliskan bahwa Dia “…mengambil rupa seorang hamba…” Dia bukan ditetapkan menjadi seorang hamba yang menderita, melainkan Dia sendiri “mengambil rupa seorang hamba”. Dia mengalami kesengsaraan hebat itu karena ingin membebaskan dan menyelamatkan manusia -kita semua- dari kuasa dosa dan kuasa maut. Dia sendiri yang memilih melakukan karya penyelamatan yang menyengsarakan itu.
Tuhan Yesus pasti mempunyai kuasa untuk menggagalkan penangkapan-Nya dan mencegah penderitaan-Nya. Buktinya, (1) ketika Dia mengatakan bahwa Dialah yang dicari oleh pasukan yang hendak menangkap-Nya, mereka langsung jatuh terjengkang (Yoh. 18:6). Padahal Dia hanya mengucapkan kata-kata itu, tidak lebih dari itu. Namun demikian, Dia membiarkan diri-Nya ditangkap oleh pasukan itu. (2) Dia sama sekali tidak menegur Yudas, murid-Nya, yang menjadi perantara utama penangkapan-Nya. Dia rela dikhianati oleh murid-Nya sendiri. Dia juga tidak menyesalkan perbuatan Yudas. (3) Dia bahkan menegur Simon Petrus yang berusaha melawan para prajurit yang menangkap-Nya (Yoh. 18:11). (4) Ketika ditanyai dan diadili oleh Imam Besar, Tuhan Yesus tidak berkata-kata untuk membela diri-Nya. Dia malah menyuruh Imam Besar mananyakan kepada murid-murid-Nya saja (Yoh. 18:21). Padahal Tuhan Yesus tahu bahwa paling tidak ada dua dari antara mereka -yakni Yudas dan Simon Petrus- sudah berkhianat. (5) Pilatus -sebagai yang mempunyai kuasa untuk memutuskan prekara- menawarkan kebebasan kepada Tuhan Yesus, tetapi Tuhan Yesus tidak mau mengambil tawaran itu (Yoh. 19:10). Padahal Dia sudah disesah berkali-kali dengan cambuk bergerigi tajam dan dimahkotai dengan duri (Yoh. 19:1,2), dan tentu karena itu tubuh-Nya sudah penuh dengan luka yang sangat menyakitkan dan berdarah-darah. Tetapi Dia tidak mau mengambil tawaran untuk bebas. (6) Tulisan INRI (Yoh. 19:19) di atas kepala-Nya adalah penghinaan besar kepada-Nya bahwa Dia sebagai Mesias (Raja orang Yahudi) dianggap telah dikalahkan dengan penyaliban-Nya. Dia dianggap tidak berkutik sama sekali dan kuasa-Nya lenyap di tangan Pilatus. Tetapi Dia diam saja dan malah menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa, Dia membiarkan diri mati di atas kayu salib itu.
Tuhan Yesus rela direndahkan, dihina dan disiksa sampai mati disalibkan demi menyelamatkan kita orang berdosa ini. Dia benar-benar rendah hati. Dia “…merendahkan diriNya dan taat sampai mati…” (Flp. 2:8). Hanya orang yang benar-benar rendah hati yang mau mengambil pekerjaan dan status amat rendah seperti itu. Dia melakukan pekerjaan yang merendahkan dan menyengsarakan itu secara tuntas, sampai selesai. Dia menggenapi nubuat itu dengan sempurna.
Pekerjaan-Nya yang merendahkan dan menyengsarakan-Nya telah menyelamatkan kita. Kerendahan hati-Nya itu menentramkan jiwa kita. Pengorbanan-Nya yang sempurna itu membuat kita bisa hidup dekat dan lekat dengan Allah. Tubuh dan darah-Nya yang suci menyatukan kita dengan saudara seiman, menguatkan persekutuan kita.
Penutup
Sikap, niat, tekat dan karya Tuhan Yesus yang kita hayati hari ini mengajari kita dan menguatkan kita untuk selalu rendah hati. Hendaknya kita mau dengan sengaja, rela dan tulus melakukan pekerjaan atau kegiatan yang merendahkan dan yang menyengsarakan sekalipun. Kerendahan hati kita akan menentramkan jiwa banyak orang. Kerendahan hati kita pasti menyenangkan hati Tuhan. Mari kita hayati tayangan video singkat berikut ini bagaimana Tuhan Yesus merendahkan diri-Nya. (tayangkan video dari https://www.youtu.be/gU0dRnDDqcs)! (st)
Nyanyian: KJ. 158 Ku Ingin Menghayati
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Boten gampil manggihaken tiyang apangkat drajat inggil tur sugih ingkang kersa kanthi sengaja nindakaken pakaryan ingkang asor lan nyengsarakaken. Menawi wonten ingkang kersa nindakaken, mbokmenawi punika dipun sababaken dening kalepatan utawi piawon ingkang dipun lampahi, upaminipun tindak korupsi utawi panerak sanesipun. Menawi wonten tiyang ingkang kersa nindakaken pakaryan punika, mbokmenawi tiyang punika ngalami nasib apes, jalaran anggenipun sembrana utawi boten waspada. Upami wonten tiyang ingkang kersa nindakaken pakaryan asor punika, mbokmenawi piyambakipun nggadhahi pamrih pribadi, mbokmenawi namung drama, apus-apus, sanes ingkang sanyatanipun. Nanging menawi saestu wonten tiyang ingkang kersa nindakaken pakaryan asor lan nyengsarakaken punika kanthi sengaja, lila lan tulus, tiyang punika mesthi kawastanan andhap asor sanget, mulya lan utama manah lan lampahipun, temah pantes ingalembana lan linuhuraken.
Isi
Gusti Yesus ngalami kasangsaran awrat sanget sanes namung karana sampun kaweca saderengipun. Kasangsaran ingkang dipun alami punika sanes kodrat utawi takdir ingkang mesthi kelampahan, ingkang boten saged dipun inggati. Awit menawi pancen mekaten, Gusti Yesus pareng nutuh dhateng ingkang netepaken kodrat punika. Kasangsaran awrat ingkang dipun alami dening Gusti Yesus punika sanes nasib apes ingkang nibani Panjenenganipun. Awit menawi pancen mekaten, Panjenenganipun pantes nggetuni kasangsaranipun. Kasangsaranipun punika cetha sanes amargi kalepatanipun. Pilatus ngendika bilih piyambakipun boten manggihaken kalepatanipun Gusti Yesus. Awit menawi kasangsaranipun punika kasababaken dening kalepatanipun, prayoginipun Gusti Yesus nyuwun pangapunten.
Kasangsaran awrat mesthi dipun alami dening Abdining Yehuwah ingkang ngluwari manusa saking rehing dosa lan nylametaken manusa saking pangwasaning pepejah. Rehing dosa sampun ndamel sadaya manusa nindakaken mawarni-warni piawon wiwit saking ingkang alit ngantos ingkang nggegirisi. Karana rehing dosa, manusa binanda dening pangwasaning pejah. Mokal manusa saged nguwalaken dhiri saking rante bandaning pejah punika srana kakiyatan lan pambudidayanipun piyambak. Pangwasaning dosa lan pepejah langkung ageng sanget tinimbang kakiyatanipun manusa. Saya sanget manusa mbudidaya nguwalaken dhiri, saya rosa ugi dosa lan pepejah ngrangket manusa, temah manusa malah dados saya awon lan risak watak lan patrapipun.
Gusti Yesus ngalami kasangsaran awrat sanget punika jalaran Panjenenganipun sengaja, lila lan tulus nindakaken pameca bab Abdinipun Yehuwah ingkang nandhang sangsara (waosan 1: Yes. 52:13 – 53:12). Ing Filipi 2:7 kaserat bilih Panjenenganipun “… ngagem sipating abdi…” Panjenenganipun boten katetepaken dados abdi ingkang sangsara, nanging Panjenenganipun piyambak ingkang “ngagem sipating abdi”. Gusti Yesus ngalami kasangsaran awrat punika awit Panjenenganipun kepengin ngluwari manusa -kita sadaya- saking rehing dosa lan nylametaken kita saking pangwasaning pepejah. Panjenenganipun piyambak ingkang milih nindakaken pakaryan karahayon ingkang nyengsarakaken punika.
Gusti Yesus tamtu kagungan pangwasa kagem nggagalaken niyating para prajurit anggenipun badhe nyepeng Panjenenganipun sarta nyingkiraken kasangsaranipun. Buktinipun, (1) nalika Panjenenganipun ngandika bilih Panjenenganipun ingkang dipun padosi dening para prajurit ingkang badhe nangkep Panjenenganipun, para prajurit punika sanalika nggeblak (Yok. 18:6). Kamangka Panjenenganipun namung ngucapaken pangandika, boten tumindak punapa-punapa. Ewasamanten, Gusti Yesus namung mèndel kemawon dipun tangkep dening para prajurit punika. (2) Gusti Yesus babar pisan boten ndukani Yudas Iskariot ingkang njalari Gusti Yesus katangkep. Panjenenganipun lila dipun kiyanati dening sakabatipun piyambak. (3) Gusti Yesus malah menggak Simon Petrus ingkang nyobi nglawan para prajurit ingkang nangkep Panjenenganipun (Yok. 18:11). (4) Nalika Gusti Yesus dipun dangu lan dipun adili dening Imam Agung, Panjenenganipun boten ngandika punapa-punapa kangge mbela dhiri supados boten kaanggep lepat. Gusti Yesus malah ngaturi Imam Agung ndangu para muridipun kemawon (Yok. 18:21). Kamangka Gusti Yesus pirsa bilih sabotenipun wonten kalih muridipun -i.p. Yudas lan Petrus- ingkang sampun nyelaki Panjenenganipun. (5) Pilatus –minangka ingkang kagungan pangreh netepaken prekawis- nawakaken pangluwaran dumateng Gusti Yesus, nanging Panjenenganipun boten kersa nampi pangluwaran punika (Yok. 19:10). Kamangka Panjenenganipun sampun wongsal-wangsul dipun pecuti mawi pecut ingkang ringgik-ringgik lan mestakanipun dipun makuthani ri (Yok. 19:1,2), lan tamtu awit saking punika sariranipun kebak tatu getihen ingkang perih lan sakit sanget. Nanging Panjenenganipun boten kersa nampeni pangluwaranipun. (6) Seratan INRI (Yok. 19:19) ing inggiling mestakanipun Gusti Yesus dados panyawiyah ageng dumateng Panjenenganipun bilih Sang Mesih, Ratuning tiyang Yahudi, kaanggep sampun kawon srana kasalib. Panjenenganipun kaanggep tanpa daya lan pangwasanipun sirna ing astanipun Pilatus. Nanging Gusti Yesus namung mèndel kemawon lan malah masrahaken nyawanipun dhumateng Kang Rama, Panjenenganipun mèndel kemawon seda ing kajeng salib.
Gusti Yesus lila dipun asoraken, dipun cecamah lan dipun siksa ngantos seda kasalib murih kawilujengan kita tiyang dosa punika. Panjenenganipun saestu andhap asor. “Panenengane wus ngasorake sarirane lan sumuyud nganti seda ing kayu salib” (Filp. 2:8). Namung tiyang ingkang temen-temen andhap asor ingkang kersa nindakaken pakaryan lan nyandhang jejering gesang ingkang asor kados mekaten punika. Gusti Yesus nindakaken pakaryan ingkang ngasoraken dhiri lan nyengsarakaken punika ngantos tuntas, ngantos rampung. Panjenenganipun netepi pameca punika kanthi sampurna.
Pakaryanipun ingkang ngasoraken lan nyengsarakaken dhiri punika sampun nylametaken kita. Andhap asoring manahipun punika nentremaken jiwa kita. Pangurbananipun ingkang sampurna punika murugaken kita saged gesang caket raket kaliyan Gusti Allah ing salebeting katentreman. Sarira lan rahipun Gusti Yesus ingkang suci nunggilaken kita kaliyan sedherek tunggil pitados, ngraketaken patunggilan kita.
Panutup
Niyat, tekad lan tumindakipun Gusti Yesus ingkang kita ayati dinten punika memulang kita lan mugi nyantosakaken kita tansah saged andhap asor. Kedahipun kita purun kanthi sengaja, lila lan tulus nindakaken pakaryan utawi sadhengah kegiatan ingkang ngasoraken lan ingkang nadyan nyengsarakaken. Andhap asoring manah kita badhe nentremaken jiwaning tiyang kathah. Andhap asoring manah kita mesthi mranani ing penggalihipun Gusti Allah. Swawi kita raos-raosaken video cekak bab kados pundi anggenipun Gusti Yesus ngasoraken dhiri (kaputerna video saking https://www.youtu.be/gU0dRnDDqcs)! (st)
Pamuji: KPJ. 269: 1,2 Saiba Sangsarane Gusti