Tahun Gerejawi : Bulan Penciptaan
Tema : Manusia
Bacaan Alkitab : Keluaran 12 : 29-42
Ayat Hafalan : I Yohanes 3 : 22
“…dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya daripada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.”
Lagu Tema : Lagu Rohani Populer “Tetap Setia”
Tujuan:
- Remaja dapat menceritakan kembali tulah anak sulung mati.
- Remaja dapat menunjukkan dampak kematian anak sulung bagi orang Mesir.
- Remaja dapat menunjukkan contoh sikap yang merusak hidupnya sebagai ciptaan Tuhan.
- Remaja dapat menunjukkan contoh menjaga kehidupannya sebagai ciptaan Tuhan.
Penjelasan Teks (Hanya untuk Pamong)
Dalam perikop ini ada penggenapan segala sesuatu yang dinubuatkan Musa dalam Keluaran 11: 4-8. Tiap anak sulung di Mesir meninggal dunia. Memang kata “anak sulung” dipakai 4 kali dalam ayat 29 dan menekankan betapa parahnya tulah ini. Seruan yang hebat terdengar. Dahulu orang Israellah yang berseru-seru karena penderitaan mereka sebagai budak (ps. 2:23-24; 3:7), tetapi sekarang bencana menimpa orang-orang Mesir dan mereka berseru-seru. Tulah yang ke-10 ini sebenarnya juga mengenai anak-anak sulung Israel, tetapi karena Allah telah memberitahu terlebih dahulu, anak-anak sulung diselamatkan dari tulah yang mengerikan ini. Bandingkan dengan Keluaran 12: 13. Tuhan menyuruh Musa mengadakan suatu acara bagi tiap keluarga Israel, yaitu menyembelih, memanggang dan memakan seekor anak domba jantan atau anak kambing jantan berumur setahun pada suatu waktu senja yang ditentukan. Kemudian dari darah tersebut dibubuhkan sedikit pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas pintu pada tiap-tiap rumah keluarga yang memakannya. Maka saat malaikat maut lewat untuk mencabut nyawa para anak sulung di tiap-tiap keluarga, malaikat maut tersebut akan melewatkan setiap rumah yang pada ambang pintu itu telah ada darah anak domba, yaitu korban pengganti bagi setiap anak sulung pada keluarga di rumah itu.
Mereka mendesak supaya orang-orang Israel meninggalkan negeri mereka dengan segera sebab mereka melihat kematian dimana-mana di sekitar mereka sehingga mereka sangat takut akan masa depan mereka. Firaun juga putus asa. Meskipun dia mengatakan dahulu bahwa Musa dan Harun tidak bisa melihat mukanya lagi, dia memanggil mereka pada malam hari dan memerintahkan supaya mereka pergi. Dahulu kambing domba dan lembu sapi orang-orang Israel harus ditinggalkan di Mesir untuk memastikan supaya mereka kembali, tetapi sekarang mereka bisa membawa semuanya. Dia mulai menginsyafi bahwa dia tidak dapat melawan Tuhan yang berkuasa atas kehidupan dan kematian. Dia mengambil keputusan pertama yang bijaksana. Dia harus takluk pada kehendak Tuhan. Dengan demikian, besar kemungkinan permohonan supaya dia diberkati Tuhan dimaksudkan dengan tulus hati, bukan sindiran. Dia setuju dengan tuntutan Musa, lalu meminta doa syafaat sama seperti dulu tetapi dengan menyebut pelenyapan suatu tulah. Dalam hal ini Musa dan Harun yang taat akan panggilan Firaun melanggar peraturan dalam ayat 22 yang melarang orang-orang Israel keluar pintu rumahnya sampai pagi. Tetapi sangat penting bagi mereka untuk mendengar perintah Firaun untuk pergi.
Orang-orang Israel harus berangkat cepat dan tidak bisa menunggu sampai fajar, sehingga tidak ada kesempatan untuk mencampur ragi dengan adonan yang dengannya mereka membuat roti. Dengan demikian, ketika mereka tiba di Sukot dan membakar adonan yang mereka bawa dari Mesir, mereka harus makan roti yang tidak beragi. Pesta Roti Yang Tidak Beragi berhubungan dengan peristiwa Keluaran dari Mesir itu. Perjalanan dari Raamses ke Sukot tidak jauh. Memang mungkin dilakukan pada malam hari sesudah pesta itu. Tetapi mereka cukup jauh dari Firaun. Dengan merampasi orang-orang Mesir, orang-orang Israel keluar seperti tentara yang menang. Perpindahan kuasa kepada Israel menjadi sempurna dan mereka bisa mengambil apa yang mereka inginkan. (sumber: Tafsiran Alkitab Keluaran, hal 169-170)
Pendahuluan
- Berikan kesempatan setiap remaja/kelompok untuk untuk mengungkapkan “rasa” ketika menghadapi wabah virus corona yang melanda kehidupan ini!
- Ajak remaja untuk membaca Keluaran 12 : 29-42!
Cerita
Sahabat remaja, tidak bisa kita menyangkal bahwa ketika kita dihadapkan dengan peristiwa kematian yang terjadi secara beruntun maka suasana terasa begitu mencekam dan menakutkan. Beberapa bulan belakangan ini, sejak Maret 2020 seluruh dunia dihadapkan pada suasana yang mencekam karena pandemi Covid-19, yang menelan banyak korban mati. Dalam waktu sehari saja bisa ada ratusan kasus baru dan pemakaman puluhan orang. Tidak sedikit orang menjadi pesimis akan kehidupan di masa mendatang. Demikian suasana yang sedang terjadi di tanah Mesir oleh karena tulah ke-10 yakni kematian setiap anak sulung. Disebutkan bahwa tidak ada rumah orang Mesir yang terluput dari kematian. Tulah tersebut merupakan salah satu bentuk hukuman Allah karena kekerasan hati sang Firaun, yang tidak mengijinkan orang Israel keluar dari tanah Mesir.
Yang menarik dari peristiwa ini adalah bahwa sesungguhnya tulah yang ke sepuluh yakni kematian anak sulung ini juga bisa mengenai keluarga-keluarga Israel. Tetapi karena Allah memberitakan terlebih dahulu kepada Israel, maka anak-anak sulung Israel diselamatkan, tidak terjadi kematian dalam keluarga-keluarga Israel. Apa yang mereka lakukan sebenarnya? Apakah karena mereka umat pilihan, sehingga otomatis Allah berkenan membebaskan anak-anak sulung Israel dari tulah kematian? Allah memang mengasihi mereka, sehingga Israel disebut-sebut sebagai bangsa pilihan. Dalam hal tulah kematian anak sulung, Allah memerintahkan umat Israel melalui Musa dan Harun, supaya mereka mengadakan suatu acara bagi tiap keluarga Israel, yaitu menyembelih, memanggang dan memakan seekor anak domba jantan atau anak kambing jantan berumur setahun pada suatu waktu senja yang ditentukan. Kemudian dari darah tersebut dibubuhkan sedikit pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas pintu pada tiap-tiap rumah keluarga yang memakannya. Maka saat malaikat maut lewat untuk mencabut nyawa para anak sulung di tiap-tiap keluarga, malaikat maut tersebut akan melewatkan setiap rumah yang pada ambang pintu itu telah ada darah anak domba, yaitu korban pengganti bagi setiap anak sulung pada keluarga di rumah itu.
Perintah Tuhan inilah bentuk kasih serta pemeliharaan bagi umat Israel, dan Israel memilih untuk mentaatinya maka mereka diselamatkan dari kematian. Kasih Allah dan respon baik manusia menjadi hal yang sangat penting dalam mewujudkan keselamatan. Kasih dan pemeliharaan serta kepedulian Tuhan selalu dinyatakan dalam hidup manusia, sebab rancangan Tuhan adalah rancangan kehidupan baik. Namun acapkali manusia tidak meresponnya dengan sikap taat, sebaliknya pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak peristiwa nyata terjadi dalam hidup bahwa ketidaktaatan akan membawa bencana, dan bukan keselamatan. Tidak menutup mata, tidak sedikit juga yang terjadi, bahwa meski yang dilakukan ketidaktaatan toh mereka mengalami juga hidup baik, keselamatan dan kesuksesan. Bagi orang beriman, hidup penuh ketaatan selalu menjadi nilai plus.
Aktivitas
- Remaja mengisi sebuah daftar kegiatan (positif dan negatif) selama masa pandemi dalam rangka menghindarkan diri dari Virus Corona:
Menjaga (Positif) Merusak (Negatif) - Menjadikan daftar tersebut sebagai pengingat, sudahkah aku melakukan kegiatan yang positif sebagai bentuk menjaga kehidupan yang dipercayakan Tuhan? Dan sebaliknya, apakah aku sudah menghindari hal yang negatif, sebab melakukannya berarti merusak kehidupan?