Bacaan Alkitab: Hakim-hakim 11 : 29- 40
Tahun Gerejawi: Bulan Kespel
Tema: Tokoh rekan kerja Allah
Ayat Hafalan : “ Kalau engkau benazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu. ( Pengkotbah 5 : 4 )
Penjelaan Teks (Hanya untuk Pamong)
Iman Yefta kepada Allah nampak saat ia bernegosiasi memperjuangkan hak atas tanah yang diklaim bani Amon. Maka Roh Allah memenuhi diri Yefta setelah raja Amon tidak mau menghiraukan argumentasinya. Maka muncullah semangat untuk berperang melawan bani Amon. Karena ia tahu kemenangan berasal dari Tuhan, maka ia terlebih dahulu minta pertolongan Allah. Bahkan ia bernazar akan mempersembahkan apa saja yang keluar menyambut dia sepulang dari medan perang, bila Tuhan berkenan memberikan kemenangan kepada dia. Memang nazarnya terkesan diucapkan dengan terburu-buru tanpa memikirkan akibatnya. Namun tak dapat dipungkiri bahwa itu menunjukkan ketergantungannya pada Allah. Akhirnya Yefta berhasil memenangkan peperangan.
Melihat ayahnya pulang dengan kemenangan, membuat putri Yefta satu-satunya bersukacita dan bergegas menyambut ayahnya. Namun hal itu membuat Yefta sangat terpukul, karena ia teringat akan nazarnya. Maka meskipun terasa berat, Yefta harus merelakan putri satu-satunya dipersembahkan kepada Tuhan. Sang putripun merelakan dirinya dipersembahkan kepada Tuhan. Ini menunjukkan betapa seriusnya mereka menepati nazar yang telah terucap. Yefta yang beriman kepada Allah tentu tidak akan mau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan iman dan janjinya kepada Allah.
Berkaitan dengan nazar Yefta ini ada dua pendapat yang berbeda :
- Persembahan korban bakaran berupa manusia umumnya dilakukan oleh bangsa-bangsa penyembah berhala pada zaman itu, dan hal tersebut adalah sesuatu yang tidak dilakukan di antara bangsa Israel.
Dicatat bahwa Yefta “melakukan kepadanya apa yang telah dinazarkannya itu; jadi gadis itu tidak pernah kenal laki-laki” (ayat 39). Jadi ini bisa diartikan bahwa Yefta mendedikasikan anaknya kepada Tuhan. Anak perempuan itu didedikasikan untuk hidup berselibat seumur hidupnya. Setiap tahun, teman-temannya dari anak Yefta menyanyikan, mempercakapkan kehidupan berselibatnya dan bukan untuk menangisi kematiannya. - Nazar yang diucapkan Yefta menunjukkan bahwa Yefta mempunyai latar belakang setengah kafir, karena selama ini Yefta tinggal di daerah pinggiran dimana ide-ide kafir berlaku. Jadi baginya nazar itu harus dilakukan atau dipenuhi meskipun di Israel dilarang keras mempersembahkan manusia sebagai korban bakaran.
Putri Yefta bersedia memenuhi nazar itu. Dia hanya minta waktu dua bulan untuk menangisi kegadisannya bersama teman-temannya. Dan memandang kematian-nya sesaat lagi sebagai tragedy ganda : bukan hanya bahwa dirinya akan menjadi kurban bakaran yang dipersembahkan, tetapi bahwa dia juga harus mati sebagai seorang perawan karena belum menikah. Belum mendapat anak dan tidak pernah mendapat. Dan tidak mendapat anak dianggap sesuatu yang memalukan.
Namun yang penting dalam topik kita kali ini bukanlah tafsir tentang nazar tersebut, tapi tentang bagaimana Yefta memenuhi nazarnya meskipun itu sangat berat, sebagai bukti kesetiaannya pada Allah.
Kita bisa belajar dari kisah Yefta ini bahwa kita sebaiknya tidak sembarangan bernazar. Apalagi jika hal itu kita lakukan untuk “menyuap” Tuhan agar mau menolong kita. Selain itu kita juga belajar untuk menjadi orang yang berintegritas. Kita harus menepati apa yang kita ucapkan. Perbuatan harus sesuai dengan perbuatan.
TUNTUNAN IBADAH ANAK BALITA
Tujuan: Anak dapat menceritakan kembali tentang kisah janji Yefta yang harus ditepati kepada Tuhan.
Alat Peraga: Pamong menyiapkan :
- Gambar-gambar atau alat peraga yang digunakan minggu lalu.
- Gambar-gambar di bawah ini (terdapat di CD)

Pendahuluan – (Pamong menyiapkan alat Peraga)
- Berikan pertanyaan-pertanyaan seputar cerita minggu yang lalu.
- Ajak anak-anak mengulang cerita dengan menggunakan gambar atau alat peraga minggu yang lalu.
Inti Penyampaian:
Tunjukkan gambar 1
Anak-anak masih ingat ya apa yang dikatakan Yefta. Ya, Yefta mengatakan bahwa daerah yang mereka tempati adalah milik mereka. Yefta mengatakan pada beberapa orang.
Tunjukkan gambar 2 dan 3
Lalu orang-orang itu pergi menemui raja Amon
Orang-orang itu berkata,” Raja Amon, daerah tempat tinggal kami adalah Gilead. Jadi kami tidak akan pergi dari sana.”
Raja Amon menjawab,” Tidak bisa, kalian harus pindah.”
Tunjukkan gambar 1 dan 2
Lalu orang-orang itu pulang dan menemui Yefta.
Mereka menceritakan pada Yefta apa yang disampaikan oleh Raja Amon. Raja Amon tetap memaksa mereka untuk pindah karena raja Amon memaksa, maka akhirnya Yefta menjadi marah. Sebenarnya Yefta tidak ingin berperang tapi karena Raja Amon ingin mengusir mereka, terpaksa Yefta harus melawan.
Sebelum berperang, Yefta berjanji pada Tuhan,” Tuhan, kalau nanti aku menang melawan orang Amon, aku akan menyerahkan pada Tuhan apapun yang pertama kali keluar dari rumahku,”
Dan Yeftapun menang. Lalu Yefta pulang ke rumah.
Tunjukkan gambar 4
Anak Yefta yang senang karena ayahnya menang, segera berlari keluar menyambut ayahnya Karena Yefta sudah berjanji pada Tuhan (ajak anak-anak mengulang janji Yefta pada Tuhan jika ia menang perang).
Karena yang keluar dari rumah pertama kali adalah anaknya, maka Yefta menepati janjinya untuk menyerahkan anaknya pada Tuhan.
Aktivitas : Memberi warna gambar anak Yefta menyambut ayahnya.
TUNTUNAN IBADAH ANAK PRATAMA
Tujuan :
- Anak dapat menceritakan kembali tentang kisah janji Yefta yang harus ditepati kepada Tuhan.
- Anak dapat membiasakan diri untuk tidak bernazar secara sembarangan.
Alat Peraga
- Gambar-gambar/alat peraga yang digunakan minggu lalu.
- Gambar anak perempuan Yefta yang keluar rumah dengan gembira menyambut ayahnya (Gambar terdapat di Alat peraga Balita dan juga terdapat di CD)
Pendahuluan
Ajak anak-anak mengulang cerita minggu yang lalu dengan menggunakan gambar dan alat peraga minggu yang lalu.
Inti Penyampaian
Meskipun orang-orang yang diutus oleh Yefta telah mengatakan pada Raja Amon bahwa Gilead adalah milik mereka, Raja Amon tetap ingin merebut daerah tersebut. Yefta sebenarnya tidak ingin berperang. Ia ingin berunding saja baik-baik. Tetapi Raja Amon terus mendesak ingin memiliki tanah milik Gilead. Maka Yefta dan orang-orang Gilead terpaksa berperang dengan orang-orang Amon.
Sebelum berperang, Yefta mohon pertolongan dari Tuhan. Dan Yefta juga bernazar atau berjanji pada Tuhan, jika Tuhan mau menolong dan ia menang melawan orang-orang Amon, Yefta akan mempersembahkan pada Tuhan apapun yang keluar pertama kali dari rumahnya. Dan ternyata Yefta dan orang-orang Gilead akhirnya menang. Yefta sangat gembira dan segera pulang. Ketika sudah dekat rumahnya, Yefta melihat anak perempuannya keluar dari rumah dengan gembira. Ia ingin menyambut ayahnya yang menang perang. (tunjukkan gambar anak Yefta yang menyambut ayahnya) Yefta terkejut dan menjadi sedih karena harus mempersembahkan anaknya pada Tuhan. Meskipun sedih, Yefta tetap memenuhi janjinya.
Penerapan
Kalau kita akan melakukan sesuatu atau menginginkan sesuatu memang sebaiknya kita berdoa pada Tuhan, memohon pertolongan Tuhan. Tetapi tidak perlu bernazar atau berjanji secara sembarangan seperti Yefta (ajak dan bimbing anak-anak untuk membuat beberapa contoh)
Aktivitas
- Hias atau beri warna gambar anak Yefta yang menyambut anaknya.
- Siapkan beberapa alat atau sarana untuk memberi warna. Biarkan anak-anak memilih sendiri dengan apa mereka akan memberi warna pada gambar tersebut.
- Dengan menggunakan gambar tersebut, beri anak-anak untuk menceritakan gambar tersebut.
TUNTUNAN IBADAH ANAK MADYA
Tujuan:
- Anak dapat menyebutkan janji Yefta yang harus ditepati kepada Tuhan.
- Anak tidak sembarangan mengucapkan nazar.
Alat Peraga:
- Gambar alat peraga minggu yang lalu.
- Gambar anak Yefta menyambut ayahnya
Pendahuluan:
Dengan menggunakan gambar-gambar minggu yang lalu ajak anak-anak untuk mengulang cerita minggu yang lalu
Inti Penyampaian:
Setelah mendapat penjelasan dari Yefta, maka para utusan itu segera menemui Raja Amon dan menyampaikan apa yang dikatakan oleh Yefta bahwa wilayah Gilead adalah milik mereka, tetapi Raja Amon mengabaikan penjelasan tersebut. Ia tetap ingin merebut daerah tersebut. Yefta sebenarnya tidak ingin berperang. Ia ingin berunding saja baik-baik. Tetapi Raja Amon terus mendesak ingin memiliki tanah milik Gilead. Maka Yefta dan orang-orang Gilead terpaksa berperang dengan orang-orang.
Sebelum berperang, Yefta mohon pertolongan dari Tuhan. Dan Yefta juga bernazar atau berjanji pada Tuhan, jika Tuhan mau menolong dan ia menang melawan orang-orang Amon, Yefta akan mempersembahkan pada Tuhan apapun yang keluar pertama kali dari rumahnya. (tunjukkan gambar Yefta dari alat peraga minggu yang lalu). Yefta berharap Tuhan akan mengabulkan keinginannya jika ia memberikan persembahan. Dan akhirnya Yefta dan orang-orang Gilead akhirnya menang.
Yefta sangat gembira dan segera pulang. Ia ingin menyampaikan kabar gembira tersebut pada keluarganya. Ternyata anak perempuan Yefta sudah mendengar kabar kemenangan ayahnya maka ia segera berlari keluar rumah untuk menyambut ayahnya.
Ketika sudah dekat rumahnya, Yefta melihat anak perempuannya keluar dari rumah dengan gembira. Ia ingin menyambut ayahnya yang menang perang (tunjukkan gambar anak Yefta yang menyambut ayahnya). Yefta terkejut dan menjadi sedih. Karena harus mempersembahkan anaknya pada Tuhan. Meskipun sedih, Yefta tetap memenuhi janjinya.
Penerapan:
Kalau kita akan melakukan sesuatu atau menginginkan sesuatu, kita pasti berdoa ya. Itu memang hal yang bagus. Dan kita harus yakin Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik buat kita. Jadi tidak perlu bernazar untuk memaksa Tuhan agar mau mengabulkan semua permintaan kita. Apalagi kalau nazar itu diucapkan secara sembarangan tanpa dipikirkan dengan baik-baik terlebih dahulu.
Aktivitas:
- Membuat poster tentang tidak mengucapkan nazar sembarang.
- Pamong menyediakan kertas dan alat warna
Lagu Tema : hati-hati gunakan mulutmu