Bacaan : Yesaya 57 : 14 – 21 | Pujian : KJ 358
Nats: “..supaya semangat mereka jangan lemah lesu di hadapan-Ku.. “ [ayat 16]
Apa yang akan kita lakukan jika sedang menggunakannya, tiba-tiba batrey HP kita habis? Biasanya kita akan segera mencari sumber listrik supaya bisa mengisi ulang dayanya (di charge). Bagi banyak orang, karena kuatir tidak bisa menemukan sumber listrik maka mereka akan membawa power bank (penyimpan daya listrik) kemanapun pergi. HP yang selalu hidup akan membuat orang menjadi bersemangat karena melalui HP itulah mereka bisa berkomunikasi dan mendapatkan banyak informasi. Ketika batrey HP melemah, rasanya semangat turut melemah juga.
Seperti halnya HP yang tidak bisa berfungsi baik jika tidak ada batrey / dayanya, begitulah relasi hidup kita dengan Tuhan. Ada saatnya kehidupan di dunia ini membuat manusia menjadi lemah, patah semangat, putus asa sehingga berdampak pada tidak adanya gairah untuk menjalani hidup. Aktivitas keseharian pribadi menjadi terganggu, apalagi peran dan fungsinya bagi orang lain dan kehidupan di sekitarnya. Jika kita melihat ada sesama kita yang demikian, mereka sebenarnya sedang membutuhkan pertolongan. Jika kita sendiri sedang merasa mengalami itu maka kitalah yang sedang membutuhkan pertolongan.
Bagi orang-orang yang demikian, Yesaya mengungkapkan bahwa senantiasa tersedia pertolongan yang selalu siap diserap daya dan kekuatannya, melebihi HP yang butuh di charge. Dia adalah Allah yang Mahatinggi dan Mahamulia namun selalu bersedia tinggal bersama mereka yang remuk, lemah lesu dan rendah hati. Tujuannya tidak lain supaya mereka yang sedang terpuruk ini menjadi bersemangat dan hidup. Yesaya menggambarkan bahwa Allah tidak pernah tega melihat umat yang telah diberinya nafas supaya hidup ini kalah oleh persoalan yang meremukkan dan melemahkannya di tengah hidup. Karena itu, Dia menyediakan diri-Nya menemani dengan daya yang menghidupkan. Jadi, jika pemakaian membuat daya di batrey HP kita melemah lalu kita mengisi ulang, maka demikian juga dengan hidup kita. Mari senantiasa membangun relasi yang dekat dengan Allah agar saat kita merasa lemah kita segera terisi dengan daya yang menguatkan dan menghidupkan. [KRW]
“Jika daya melemah segera diisi ulang dari sumbernya“