Bacaan : Roma 9 : 30 – 10 : 3 | Pujian : KJ 252 : 1
Nats : “…. aku meletakkan di Sion sebuah batu sentuhan dan sebuah batu sandungan,…” (ayat 33)
Siapa yang tidak mengetahui gunanya batu? Batu memiliki banyak sekali manfaatnya, positifnya bisa digunakan untuk membangun rumah, untuk menambal jalanan yang berlubang. Negatifnya misalnya dilemparkan ke kaca mobil, ditaruh dijalan yang mulus bisa kesandung, ataupun menjadi senjata antar mahasiswa yang sedang bertengkar.
Jemaat Roma bukanlah jemaat yang didirikan oleh Rasul Paulus, tetapi Rasul Paulus menaruh perhatian kepada jemaat Roma karena disana terdapat benih-benih kekristenan yang berlatar belakang dari Kristen Yahudi dan Kristen non Yahudi. Mengapa Jemaat Roma menjadi salah satu sasaran penulisan surat? Karena orang-orang Roma hidup dalam ketaatan akan hukum taurat, padahal dengan kehadiran Kristus itu sebagai pengganti hukum taurat. Oleh sebab itu Rasul Paulus dalam rangka mempersiapkan diri melakukan perjalanan menuju ke Spanyol (penginjilan paling ujung), Rasul Paulus sekalian memperkenalkan Injil kepada orang-orang Roma sebagai pembenaran iman kepada Yesus Kristus yang menyelamatkan.
Salah satu cara Rasul Paulus memperkenalkan Injil Kristus kepada orangorang Roma adalah dengan mengibaratkan sebuah batu. Paulus ingin menjelaskan bahwa Batu yaitu Kristus merupakan dasar dan tujuan pengharapan dan keselamatan. Tetapi sebaliknya, batu itu bisa menjadi batu sandungan kepada orang yang tidak mau menerima Injil Kristus sebagai kabar keselamatan, sebab gaya hidup mereka yang menaati hukum taurat justru menciptakan eksklusif dan akhirnya mereka mendapatkan kesia-siaan.
Seringkali, iman kita pun diperhadapkan seperti manfaat dari batu. Kita bisa saja kesandung batu itu, atau melempar batu dan mengenai orang, tetapi ketika batu itu dibuat pijakan iya bisa untuk menambal jalan yang berlubang sehingga tidak membuat orang jatuh, semuanya sama-sama berguna. Melalui bacaan kita saat ini, kita diajarkan untuk menjadikan batu itu sebagai dasar iman kita dalam bertindak hal yang positif. Mari kita meletakkan Kristus sebagai dasar iman kita dalam berperilaku, bertutur kata, sehingga kita membuat orang lain bisa merasakan Kristus dari perbuatan kita. (dea)
“Jangan lempar batu sembunyi tangan, tapi taruhlah batu untuk pijakan”