Terpisah Renungan Harian 4 April 2019

4 April 2019

Bacaan : Yesaya 43 : 1 – 7 | Pujian : KJ 451
Nats : “Janganlah takut, sebab Aku ini menyertai engkau.” [ayat 5a]

Ketika seorang anak kecil terpisah dari orangtuanya, ia akan berusaha untuk mencari-cari orang tuanya. Dan ketika mengalami kebingungan serta kecemasan, ia akan mulai menangis sejadi-jadinya. Tentu hal ini akan menarik perhatian orang banyak yang berada di sekeliling anak tersebut. Mungkin ada yang tergerak untuk berusaha untuk menolongnya.

Bangsa Israel yang terserak-serak ke seluruh penjuru dunia setelah ditaklukkan oleh Kerajaan Babel, hidup dalam pembuangan selama beberapa tahun baik dalam masa pemerintahan Kerajaan Babel maupun Media-Persia. Hal ini tentu menjadi sebuah pukulan berat bagi bangsa ini. Ada begitu banyak anggota keluarga yang terpisah tanpa memiliki kepastian apakah dapat berjumpa kembali.

Kecemasan karena terpisah tentu menjadi sesuatu yang sangat wajar. Apakah mereka masih diberi kesempatan untuk bersua dengan saudara, orangtua atau kerabat yang dikasihi? Tentu seolah-olah menjadi sebuah tanda tanya besar. Mungkin saja setiap malam yang mereka lalui, harus dilalui dengan perasaan sepi, rindu, cemas bahkan takut. Namun bila kita kaji, keterpurukan Israel ini adalah buah dari ketidak-taatan Israel kepada Allah.

Namun toh demikian, Allah tak ingin mereka selamanya terpisah. Maka Ia kembali tampil sebagai Allah Sang Penyelamat Israel. Allah yang telah membawa bangsa ini keluar dari tanah perbudakan di Mesir, sekali lagi menyatukan bangsa atau keluarga-keluarga yang terpisah. Bangsa yang telah remuk, dibentuk, dibangun kembali. Mereka dipanggil dari seluruh penjuru dunia untuk dipersatukan kembali.

Kehidupan kita-pun seringkali terserak-serak karena ketidak-taatan kita sendiri. Namun Allah tidak membiarkan kita sendirian dan tenggelam dalam kecemasan. Ia sendiri yang menyatukan kembali keluarga-keluarga yang tercerai-berai serta rusak karena problematika hidup yang menjerat mereka. Dan tentu Allah akan berkarya di dalam diri mereka yang mau mengintrospeksi diri, terbuka, serta bertobat kembali. [DK]

“Harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak