Tahun Gerejawi: Paskah 5/ Masa Raya Unduh-Unduh
Tema: Masa Raya Unduh-Unduh
Judul: Hujan atau Panas, Aku Tetap Bersyukur!
Bacaan: Mazmur 118: 1-4
Ayat Hafalan: “Bersukacitalah senantiasa.” (I Tesalonika 5: 16 )
Lagu tema: “Terimakasih Tuhan”
Tujuan:
- Remaja dapat menyebutkan alasan untuk bersyukur.
- Remaja dapat menunjukkan hambatan untuk bersyukur kepada Tuhan.
- Remaja dapat menemukan cara mengatasi hambatan untuk bersyukur.
- Remaja dapat membiasakan diri untuk bersyukur baik senang maupun susah.
Penjelasan Teks (Hanya untuk Pamong)
Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul perikop Mazmur 118: 1-4 sebagai “Nyanyian puji-pujian.” Dalam ayat pembuka (ayat 1-2), pemazmur mengungkapkan bahwa Tuhan itu baik! Sang pemazmur mengakui bahwa Tuhan itu baik dan kasih setia-Nya kekal, sampai selama-lamanya. “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasannya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Dengan demikian, secara lugas sang pemazmur hendak mengajar kita tentang bagaimana seharusnya manusia menaruh kepercayaan yang penuh kepada Tuhan Allah, Sang Sumber Kehidupan.
Dalam ayat 3, sang pemazmur mengajak bangsa Israel, kaum Harun dan semua umat yang takut akan Tuhan untuk memuji Tuhan. Sama seperti manusia pada umumnya, sang pemazmur pun mengalami kesesakan dan masa-masa sulit dalam menjalani hidupnya. Namun di tengah keadaan yang berat dan menyesakkan, sang pemazmur masih dimampukan untuk berseru dan memohon pertolongan dari Tuhan Sang Sumber Kehidupan. Situasi yang berat tidak membuat sang pemazmur berhenti mengarahkan hidupnya kepada Tuhan. Sang pemazmur yakin dan percaya pada perbuatan tangan Tuhanlah yang pada akhirnya akan menopang serta menolong dari segala kesesakan. Keyakinan itulah yang menjadi dasar atas pujian dan ungkapan syukur sang pemazmur kepada Tuhan Allah.
Kesaksian dari pemazmur mengundang kita untuk menghayati pertolongan Tuhan. Dalam segala kesesakan, kesulitan, dan pergumulan, mari meyakini bahwa kasih pertolongan, kesetiaan, dan keselamatan yang bersumber dari Tuhan. Ketika kita meyakini bahwa penyertaan Tuhan senantiasa nyata, maka kita akan mampu mengucap syukur atas kasih setia Tuhan yang kita hayati tiada berkesudahan. Keyakinan atas kasih setia Tuhan yang tak berkesudahan, akan menguatkan iman dan meneguhkan kita dalam menghadapi pergumulan, sehingga kita tidak akan mudah kehilangan harapan, putus asa, dan gampang menyerah dengan keadaan yang sukar dan menantang. Mari mengandalkan Tuhan yang kasih setianya tak terbatas, “Bersyukurlah kepada Tuhan, bahwasannya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya”
Refleksi untuk Pamong
Berikut ini ada beberapa pertanyaan refleksi yang dapat Anda jawab secara pribadi, yaitu :
- Apakah Anda merasakan kebaikan dan kasih setia Tuhan di sepanjang perjalanan hidup Anda?
- Kapankah Anda mengalami kebaikan Tuhan?
- Apakah di tengah pergumulan dan kesukaran hidup, Anda meyakini bahwa Tuhan itu baik?
Jika Anda dapat menjawab beberapa pertanyaan di atas dengan mudah, syukur kepada Allah karena kebaikan dan kasih setia Tuhan senantiasa dirasakan oleh para pamong yang akan melayani ibadah anak.
Mazmur 118 mengungkapkan dengan jelas bahwa kasih setia Tuhan untuk selama-lamanya. Artinya, kasih setia Tuhan tidak pernah habis. Jika Hari Raya Undhuh-Undhuh, menandai rasa syukur dan pengakuan akan kebaikan Tuhan, maka rasa syukur tersebut tentu didasari oleh iman dan keyakinan akan kasih setia Tuhan yang melimpahruahi kita untuk selama-lamanya. Maka, mari menghaturkan persembahan kepada-Nya dengan penuh cinta dan rasa syukur, sebab Tuhan itu baik, bahwasanya kasih setianya untuk selama-lamanya!
Pendahuluan
- Ajak remaja membaca Mazmur 118: 1-4!
- Sampaikan ilustrasi berikut:Ada cerita tentang seorang nenek yang dikenal dan dipanggil oleh tetangganya sebagai nenek menangis. Ia disebut sebagai nenek menangis, karena dalam hidupnya ia selalu merasa sebagai orang yang susah dan tidak beruntung. Mengapa ia merasa susah? Ia memiliki dua anak, yang satu bekerja sebagai penjual tepung, yang satu penjual payung. Ia merasa susah karena di musim hujan, anaknya penjual tepung tidak dapat menjemur tepung dan di musim panas, anaknya yang penjual payung, tidak dapat menjual payung. Maka, di sepanjang musim, ia murung, bersedih dan menangis dan karena itu ia disebut sebagai nenek menangis.
Untungnya nenek pemurung dan menangis bertemu dengan temannya yang kemudian menasehatinya tentang bagaimana mengatasi kesedihan dan sifat pemurungnya. Temannya mengatakan bahwa ada satu resep sederhana supaya ia menjadi periang dan kembali menjalani kehidupan dengan lebih bersyukur dan sukacita, yaitu ketika musim hujan, cobalah untuk bersyukur sebab anak sang penjual payung dapat menjual payung dan ketika musim panas, bersyukurlah sebab anak sang penjual tepung bisa menjemur dan menjual tepung. Kondisi tetap sama, tidak ada hal baru yang dijumpai, hanya cara pandang/perspektif yang baru. Jikalau sebelumnya hujan dan panas membuat nenek menangis, sekarang tidak lagi. Hujan maupun panas, tidak lagi disambut dengan air mata dan kesedihan melainkan dengan syukur dan gembira.
Cerita
Teman, apa pengalaman yang membuat kita marah, sedih dan kecewa? Bagaimana kita mengekspresikan perasaan itu? (coba ceritakan). Ya, pasti ketika kita berhadapan dengan situasi-situasi yang tidak kita harapkan, kita marah, sedih dan kecewa. Ya, situasi yang tidak kita harapkan pasti berdampak pada munculnya emosi-emosi yang terkadang memunculkan ragam ekspresi. Tidak jarang mungkin dengan cara yang negatif. Hal ini jika terus menerus kita lakukan tentu saja akan berdampak pada kelelahan fisik dan emosi.
Berkebalikan dengan itu, pengalaman dan situasi apakah yang membuat kita bersemangat menjalani aktifitas dengan gembira, kreatif dan penuh syukur? Apa yang kita rasakan dan bagaimana kita mengekspresikan? (Beri kesempatan remaja bercerita tentang pengalaman yang dialami). Ya, dari cerita teman teman, ketika kita menemukan harapan harapan kita mewujud atau tercapai, dengan mudah kita merasa senang.
Nah, kita sudah menemukan hal -hal yang membuat kita merasakan syukur dan tidak. Lantas bagaimana supaya kita bisa lebih sering mengalami perasaan syukur, berbahagia dan bergembira? Mungkin ada hal yang bisa kita antisipasi, misalnya: supaya tidak mendapat nilai jelek, maka kita harus belajar lebih keras, supaya kita mendapatkan sepatu apa yang kita inginkan, maka kita harus rajin menabung. Hanya saja, kita juga berhadapan dengan situasi di luar diri kita yang seringkali terjadi tanpa dapat kita kontrol, seperti pandemi yang menyebabkan kita kehilangan teman, anggota keluarga, dll. Apa kita tidak boleh bersedih dan kecewa? Tentu saja boleh. Sebab sejatinya perasaan juga menjadi bahasa komunikasi kita dengan sesama, bahkan Tuhan. Tetapi apa yang harus kita lakukan berhadapan dengan ragam situasi tersebut ?
Dalam ayat 3, sang pemazmur mengajak bangsa Israel, kaum Harun dan semua umat yang takut akan Tuhan untuk memuji Tuhan. Sama seperti manusia pada umumnya, sang pemazmur pun mengalami kesesakan dan masa-masa sulit dalam menjalani hidupnya. Namun di tengah keadaan yang berat dan menyesakkan, sang pemazmur masih dimampukan untuk berseru dan memohon pertolongan kepada Tuhan Sang Sumber Kehidupan. Situasi yang berat tidak membuat sang pemazmur berhenti mengarahkan hidupnya kepada Tuhan. Sang pemazmur yakin dan percaya bahwa perbuatan tangan Tuhanlah yang pada akhirnya akan menopang serta menolong dari segala kesesakan. Keyakinan itulah yang menjadi dasar atas pujian dan ungkapan syukur sang pemazmur kepada Tuhan Allah.
Kesaksian dari pemazmur mengundang kita untuk menghayati pertolongan Tuhan. Dalam segala kesesakan, kesulitan, dan pergumulan, mari meyakini bahwa kasih pertolongan, kesetiaan, dan keselamatan yang bersumber dari Tuhan. Ketika kita meyakini bahwa penyertaan Tuhan senantiasa nyata, maka kita akan mampu mengucap syukur atas kasih setia Tuhan yang kita hayati tiada berkesudahan.
Maka teman, tentu saja menangis, sedih dan kecewa adalah perasaan yang wajar. Beri waktu untuk menangis, tetapi kita juga perlu melihat situasi yang terjadi (meski tidak kita harapkan) sebagai cara Tuhan sedang mengajari diri kita terus bertumbuh. Ketika kita menyadarinya, maka sebenarnya selalu ada alasan bagi kita untuk bersyukur. Semua baik, dengan kesadaran bahwa Tuhan sedang “mengajari” kita sesuatu. Kita tidak mau melewatkan pembelajaran bukan? Dan karena kita sedang belajar bersama Tuhan, kita yakin bahwa kasih setia Tuhan yang tak berkesudahan, akan menguatkan iman dan meneguhkan kita dalam menghadapi pergumulan, sehingga kita tidak akan mudah kehilangan harapan, putus asa, dan gampang menyerah dengan keadaan yang sukar dan menantang. Hari Raya Undhuh-Undhuh menjadi salah satu waktu bagi kita merayakan kasih setia Tuhan disepanjang hidup, bahkan dalam suka maupun duka. Nyatanya, Allah terus beserta.
Bahwa ada situasi dalam hidup yang tidak dapat dikendalikan dan kita mengalami sedih, tetapi ketika pikiran, hati dan jiwa dilingkupi ingatan akan kasih dan cinta, pertolongan Tuhan, maka apapun situasi yang kita hadapi tidak akan menghentikan hati kita dilimpahi syukur. Kita sedang belajar sesuatu dan bertumbuh menjadi baru bersama dengan Tuhan. Maka, mari mengandalkan Tuhan yang kasih setianya tak terbatas, “Bersyukurlah kepada Tuhan, Bahwasannya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya”. Amin
Aktivitas
- Tulislah 10 hal yang membuatmu bersyukur di sebuah Notes. Bawa dalam doa.
- Tambahkan jikalau kamu menemukan hal baru untuk kamu syukuri.