Mengampuni Lebih Sungguh Tuntunan Ibadah Remaja 23 November 2025

10 November 2025

Tahun Liturgi: Kristus Raja
Tema: Yesus, Raja yang Penuh Kasih dan Pengampunan
Judul: Mengampuni Lebih Sungguh

Lagu Tema:

  1. Kidung Jemaat No. 467 “Tuhanku, Bila Hati Kawanku”
  2. Lagu Rohani Kristen “Mengampuni Lebih Sungguh”
  3. Kidung Siwi No.28 “Tuhan Yesus Baik”

Bacaan Alkitab: Lukas 23:33-43
Ayat Hafalan: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:43a)

Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Dalam Injil Lukas 23:33-34, Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul perikop “Yesus disalibkan.” Perikop dengan judul dan kisah yang sama juga dapat kita baca di dalam Injil Matius 27:32-44, Injil Markus 15:21-32 dan Injil Yohanes 19:17-24. Tahun liturgi yang dipakai dalam minggu ini adalah Kristus Raja.

Pada ayat yang ke-33 diawali dengan kalimat “Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak.” Ungkapan ini memberikan penjelasan bahwa Yesus telah melewati proses perjalanan  panjang yang penuh dengan penderitaan, dimana kita sering mendengarnya dengan istilah Yesus melewati jalan derita atau via dolorosa. Yesus disalibkan bersama dua orang penjahat. Posisi Yesus yang tersalib berada di tengah. Sementara seorang penjahan ada di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya. Terkait dengan nama tempat Yesus disalibkan bisa kita lihat juga di dalam Injil Matius 27:33 yang bernama Golgota, artinya: Tempat Tengkorak.

Ternyata Penderitaan Yesus tidak berhenti pada penyiksaan fisik yang dialami-Nya, tetapi sampai saat disalibkan pun Yesus masih dicaci, dihina, diolok-olok dan dipermalukan serta diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh orang-orang yang ada pada saat itu. Padahal seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa sebenarnya Yesus tidak pernah berbuat kejahatan apapun, tetapi Dia harus menerima penghukuman yang sangat hina yakni mati di atas kayu salib.

Pada masa itu, mendapatkan hukuman mati dengan cara disalibkan adalah sebuah kutukan dan hukuman bagi seorang penjahat. Orang yang disalibkan adalah orang yang terkutuk, terhukum dan terhina. Namun, apakah “penyaliban” adalah sesuatu yang pantas diterima oleh Yesus? Kejahatan berat seperti apakah yang telah dilakukan oleh Yesus, sehingga Ia harus menerima hukuman salib diantara kedua penjahat saat itu.

Disini mari memahami tindakan Yesus sebagai sebuah bentuk tindakan dalam rangka menyelamatkan dengan kasih dan pengampunan. Yesus berani mempertanggungjawabkan kesalahan orang lain, Yesus rela menggantikan manusia-manusia berdosa. Yesus bertanggung jawab atas dosa yang dilakukan manusia, karena Yesus tahu manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.

Selanjutnya dalam ayat ke-34 dijelaskan tentang bagaimana ungkapan Yesus membuktikan bahwa Ia benar-benar Anak Allah, “Ya Bapa ampunilah mereka sebag mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Kemudian dalam ayat 35-39 terjadi beberapa ejekan yang ditujukan kepada Yesus sebagai berikut : ” Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.” Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya dan berkata: “Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!” Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: “Inilah raja orang Yahudi”. Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!”

Jika kita mencermati secara seksama kisah “Penyaliban Yesus” di dalam Injil Lukas hanya menyebutkan bahwa Yesus disalibkan bersama dua orang penjahat (Lukas 23:33), dan tidak membahas mengenai mekanisme penyaliban. Meskipun demikian, ejekan-ejekan yang dikisahkan tersebut mengomunikasikan betapa suramnya keadaan saat itu. Mereka bukan saja menyiksa tubuh Yesus, mereka bukan hanya mempermalukan harga diri Yesus, tetapi juga telah menginjak-injak status Yesus sebagai Mesias dan Raja. Mereka bahkan menghujat Yesus Sebagai Juru Selamat, yang menantang Yesus untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Ssalah seorang penjahat yang digantung juga ikut menghujat Yesus dengan maksud supaya Yesus menunjukkan kuasanya untuk menyelamatkan mereka semua yang ada di tiang salib. “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!”

Kemudian dalam ayat 40-43, dikisahkan mengenai kesengsaraan yang tidak seharusnya Yesus tanggung. Menariknya, pada saat Yesus dihina, Ia tidak membalas ketika Ia dicaci-maki, Ia tidak melawan. Ketika Yesus dalam kesakitan yang teramat dalam pun, Yesus tidak mengeluh sedikitpun. Di kayu salib, di bukit Golgota itu, Yesus menyatakan Kasih-Nya yang menyatakan anugerah keselamatan bagi manusia yang percaya kepada-Nya. Meskipun Ia merasakan penderitaan yang teramat sangat, Tuhan Yesus dengan sepenuh hati menjalaninya demi keselamatan kita. Ini memberikan sebuah keteladanan bagi kita terkait kerelaan berkorban dan mengasihi dunia, sebagai upaya ikut serta dalam karya keselamatan-Nya.

Dua perkataan-Nya di kayu salib menunjukkan otoritas-Nya. Yang pertama (di ayat 34) “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat!” dan yang kedua (di ayat 43) memperlihatkan otoritas Yesus sebagai Anak Manusia yang menganugerahkan belas kasihan kepada orang berdosa dalam penghakiman terakhir Allah: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Refleksi untuk pamong
Peristiwa “Penyaliban Yesus” yang terdapat dalam Injil Lukas 23:33-43, hendak mengingatkan kita semua akan arti kasih dan pengampunan. Melalui peristiwa itu, kiranya setiap kita dimampukan agar dapat mengenal Yesus sebagai Raja yang tidak datang untuk berkuasa dengan kekuatan duniawi, tetapi untuk menyelamatkan dengan kasih dan pengampunan. Tuhan Yesus dalam karya dan tindakan-Nya, merepresentasikan kasih dan pengampunan yang paripurna. Meskipun menderita, Yesus rela mejalaninya supaya manusia-manusia berdosa diselamatkan. Inilah keteladanan yang Yesus berikan bagi kita dalam hal mengampuni dengan kasih.

Nah, yang patut kita refleksikan sebagai pamong adalah, mampukah kita mengampuni orang yang berbuat jahat kepada kita, mampukah kita mengampuni orang yang membenci kita? Sebagaimana ayat 34?

Mari belajar dari Tuhan Yesus, untuk sungguh-sungguh memberi pengampunan kepada orang lain. Tuhan Yesus Kristus telah memberikan teladan dalam pengampunan terhadap orang-orang yang menyakiti-Nya hingga mati.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti pernah mengalami disakiti. Kita mungkin telah disakiti oleh pasangan kita, orang tua kita, mertua kita, anak-anak kita, dan sahabat-sahabat kita. Akan tetapi, karena kita telah mendapatkan dengan cuma-cuma pengampunan dari tebusan darah dan daging-Nya, kita pun harus mengampuni orang-orang yang telah melukai kita tanpa syarat pula.

Kiranya para Pamong dimampukan untuk meneladani Tuhan Yesus dalam hal memberikan pengampunan. Sebab saat kita memberikan pengampunan terhadap orang lain, kita terbebas dari kenangan pahit di masa lalu. Tanpa pengampunan, jiwa kita akan senantiasa tersiksa dengan kemarahan dan kebencian. Kemarahan dan kebencian akan menjadi rintangan dalam hubungan kita yang akrab dengan Allah. Kemarahan dan kebencian adalah dosa pemisah yang membuat kita jauh dari Tuhan Allah.

Tujuan:

  1. Remaja dapat memahami bahwa pengampunan Yesus mencerminkan kasih Allah yang besar bagi manusia.
  2. Remaja dapat menerapkan sikap pengampunan dalam kehidupan mereka, baik di keluarga, sekolah, maupun pergaulan.
  3. Remaja dapat menganalisis dampak dari pengampunan dibandingkan dengan kebencian dan dendam dalam kehidupan sosial mereka.
  4. Remaja dapat mengevaluasi apakah mereka sudah menjalani hidup yang mencerminkan kasih dan pengampunan Kristus.

Pendahuluan
Remaja yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, pernahkah kalian diperlakukan tidak baik di dalam keluarga, sekolah maupun di dalam pergaulanmu sehari-hari?

Jika pernah, perbuatan apakah yang kau lakukan terhadap orang-orang yang telah menyakiti dan membuatmu menderita? Pernahkah kalian mendoakannya? Apakah sulit kita mengampuni seseorang yang telah membuat hidup kita menjadi menderita?

Pasti kebanyakan dari kita akan menjawab sulit ya. Sebalinya, mudahkah kita menyimpan dendam terhadap orang lain? Oh, tentu mudah sekali ya.

Sekarang jika pertanyaannya: “Mana yang lebih mudah, membenci atau mengampuni???”

Tentu lebih mudah membenci. Karena membenci, memfitnah, mencela, mengejek, memaki-maki, menggosipkan orang adalah perbuatan yang setiap saat sering sekali untuk dilakukan dan tidak perlu dipelajari. Betul atau tidak?!

Tetapi untuk mengampuni orang lain, kita perlu belajar. Nah, Tuhan Yesus sendiri telah mengajar kita untuk mengampuni mereka yang bersalah kepada kita. Bahkan Tuhan Yesus lebih dahulu mengampuni kita, yang diwujudkan-Nya dengan mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita.

Inti Penyampaian
Melalui bacaan Alkitab yang terambil dari Lukas 23:33-43 ingatlah bahwa Yesus Kristus sebagai Raja tidak datang untuk berkuasa dengan kekuatan duniawi, tetapi datang dengan kekuatan cinta kasih dan pengampunan.

Pengampunan Yesus Kristus mencerminkan kasih Allah yang besar bagi manusia. Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul perikop “Yesus disalibkan” di dalam Injil Lukas 23:33-34. Perikop dengan judul dan kisah yang sama juga dapat kita baca di dalam Injil Matius 27:32-44, Injil Markus 15:21-32 dan Injil Yohanes 19:17-24.

Pada ayat yang ke-33 diawali dengan kalimat “Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak.” Ungkapan ini memberikan penjelasan bahwa Yesus telah melewati proses perjalanan  panjang yang penuh dengan penderitaan, dimana kita sering mendengarnya dengan istilah Yesus melewati jalan derita atau via dolorosa. Yesus disalibkan bersama dua orang penjahat. Posisi Yesus yang tersalib berada di tengah. Sementara seorang penjahan ada di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya. Terkait dengan nama tempat Yesus disalibkan bisa kita lihat juga di dalam Injil Matius 27:33 yang bernama Golgota, artinya: Tempat Tengkorak.

Saat tersiksa karena disalibkan di atas kayu salib dengan tubuh yang terkoyak, darah bercucuran, dan dalam penantian akan maut yang mematikan, Tuhan Yesus tidak mengucapkan kata-kata makian, hujatan, dan balas dendam terhadap orang-orang menganiaya hidup-Nya.

Sebaliknya, Dia mendoakan mereka agar Bapa-Nya memberikan pengampunan kepada mereka. Tuhan Yesus mendoakan mereka yang membuat-Nya dihukum, disiksa, dan disalibkan. Ia berdoa agar Allah mengampuni mereka, bukan menghukum mereka. Ia tidak berdoa “Bapa, habisilah mereka, sebab mereka telah menghina otoritas Bapa yang memilih Aku dan menyiksa-Ku.” Tidak demikian.

Sebaliknya, Ia berdoa, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Sebab, jika mereka tahu, mereka tentu tidak akan menyalibkan Tuhan Yesus, Sang Mesias. Doa dan permohonan ini mencerminkan keinginan Tuhan Yesus untuk mewujudkan perdamaian antara Allah dengan umat berdosa. Tuhan Yesus ingin permusuhan diakhiri dan perdamaian diciptakan. Pengampunan yang Tuhan Yesus berikan adalah pengampunan yang tulus, oleh karena Ia mengampuni orang-orang yang telah membuat-Nya menderita. Tuhan Yesus meminta kepada Bapa-Nya agar mereka diampuni. Disaat Yesus mengalami penderitaan karena harus mengalami siksaan dan penyaliban sekalipun, Dia tetap tulus mengampuni dan mengupayakan perdamaian.

Penerapan
Dalam hidup, kita pasti berjumpa dan bersinggungan dengan orang lain. Entah sengaja atau tidak, kita pun bisa terluka dan tersakiti oleh orang lain. Maka, maukah dan mampukah kita, dalam kondisi yang terluka itu, berbuat seperti Yesus Kristus?

Mengampuni bukanlah merupakan hal yang mudah untuk dilakukan oleh manusia. Manusia sering menyimpan keegoisan yang sangat besar, ditunjukkan dengan sikap-sikap seperti tidak mau mengalah, dendam, tidak merasa bersalah. Itulah sebabnya manusia tidak dapat menyucikan dirinya sendiri, apalagi menyelamatkan dirinya. Jadi, manusia membutuhkan penyelamatan dan pengampunan dari Tuhan Yesus Kristus yang dapat menyelamatkan manusia dari hukuman dosa.

Belajar dari sikap Tuhan Yesus yang penuh kasih, kita sebagai anak-Nya diimbau untuk meneladani tindakan-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari. Adalah bijaksana bagi kita untuk keluar dari zona nyaman kita. Salah satu zona nyaman tersebut mungkin adalah sikap yang sulit mengampuni, karena sering kali kita merasa dirugikan jika dengan mudah mengampuni orang-orang yang telah menyakiti kita.

Namun, perlu disadari bahwa dengan mengampuni, kita dapat membebaskan orang yang bersalah kepada kita dari hukuman yang seharusnya ia tanggung. Selain itu, kita juga tidak lagi menyimpan rasa kesal atau dendam terhadapnya. Bagi orang yang diampuni, ia akan merasa lega karena tidak lagi menanggung beban hukuman yang harus diterimanya. Hubungan antara orang yang mengampuni dan orang yang diampuni pun dapat terjalin kembali, menciptakan suasana damai di antara mereka.

Memang perlu kita akui bersama bahwa sikap untuk mengampuni pada awalnya memang sulit dilakukan. Namun, jika kita memahami pengampunan yang diberikan oleh Tuhan kepada kita melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib, maka pengampunan yang kita berikan kepada sesama masih belum sebanding. Oleh karena itu, kita harus terus bersyukur atas kasih dan pengampunan Tuhan yang menyelamatkan.

Aktivitas
Pamong menyediakan kertas berbentuk hati untuk diberikan kepada masing-masing remaja dan mempersilahkan para remaja untuk menuliskan komitmen untuk mengampuni dan berdamai dengan orang-orang yang telah berbuat jahat/buruk terhadap mereka (tuliskan nama orangnya).

Setelah selesai, Pamong mengajak seluruh remaja untuk membuat lingkaran dan bergandengan tangan sambil mengucapkan “Doa Pengampunan” berikut ini “

Tuhan Allah yang maha pengampun, kami bersyukur karena Engkau telah mengampuni dosa-dosa kami semua. Jadikanlah kami sebagai seorang pengasih dan pengampun seperti Engkau sendiri adalah Allah yang kaya akan pengampunan, kasih, dan kemurahan. Mampukan kami untuk mengampuni mereka yang telah bersalah kepada kami (pamong mempersilahkan para remaja menyebutkan nama-nama yang ada di kertasnya masing-masing secara bergantian)

Lalu bersama-sama kembali mengakhiri doa demikian ….

Inilah doa dan permohonan kami, kiranya dengan pengampunan yang kami berikan, dapat membuat kami semua dapat mengalami kelegaan karena tidak lagi dikuasai dengan ikatan masa lampau yang penuh kemarahan dan kebencian. Dengan demikian, hubungan pribadi kami dengan Engkau semakin hangat dan mesra. Amin.


BAHASA JAWA

Pambuka
Taruna lan remaja sing ditresnani lan nresnani Gusti, apa kowe tau ngalami perlakuan sing ala ana ing kulawarga, sekolah, utawa ing pergaulanmu? Yen tau, apa sing wis kowe tindakake marang wong-wong sing nyakitake lan nggawe kowe nandhang sangsara? Apa kowe tau dongakke kanggo wong-wong kuwi? Apa kira-kira angel anggo ngapura wong sing wis nggawe uripmu sangsara? Mesthi akèh saka kita bakal njawab angel, ya. Nanging, sing luwih gampang kuwi tamtu nyimpen dendam marang wong liya, iya ta? Mesthi guampang banget, ya. Saiki yen pitakoné: “Endi sing luwih gampang, sengit utawa ngapura???”

Mesthi luwih gampang sengit ya. Amarga sengit, fitnah, nyela, ngguyu, ngina, nggosip wong iku perkara lumrah sing saben wektu kerep banget ditindakake lan ora perlu sinau. Bener ora hayo?!

Nanging kanggo ngapurani wong liya, kita kudu sinau. Nah, Gusti Yesus wis paring piwucal kanggo kita supaya ngapura wong sing salah marang kita. Malah Gusti Yesus luwih dhisik ngapura kita, sing diwujudake kanthi seda ing kayu salib kanggo nebus dosa-dosa kita.

Inti Pangandikan
Lumantar maca Kitab Suci saka Lukas 23:33-43, elinga manawa Gusti Yesus Kristus minangka Raja ora rawuh ing dunya nganggo kuwasa utawa kekuwatan donya, nanging rawuh nganggo kekuwatan katresnan lan pangapura.
Pangapura saka Gusti Yesus Kristus nggambarake katresnan Allah sing gedhe kanggo manungsa.

Lembaga Alkitab Indonesia menehi judhul perikop “Yesus disalib” ing Injil Lukas 23:33-34. Perikop kanthi judhul lan crita sing padha uga bisa kita waca ing Injil Matius 27:32-44, Injil Markus 15:21-32, lan Injil Yohanes 19:17-24.
Ing ayat kaping 33 diwiwiti kanthi ukara, “Nalika padha tekan panggonan sing diarani Tengkorak.” Nah, tembung iki nerangake manawa Yesus wis liwat perjalanan sing kebak kasangsaran, kanthi istilah dalan sangsara utawa via dolorosa. Gusti Yesus disalib bebarengan karo penjahat loro. Posisine Gusti Yesus sing disalib kuwi ana ing tengah. Dene penjahat’e ana ing sisih tengené lan sijiné ana ing kiwa. Nah, jeneng panggonan Yesus nalika disalib kuwi bisa uga kita deleng ing Injil Matius 27:33 yakuwi sing diarani Golgota, tegesé: Panggonan Tengkorak.

Nalika nandhang sangsara amarga disalib ing kayu salib kanthi badan sing koyak-koyak, getih mili, lan ngenteni pati, Gusti Yesus ora ngucapake tembung-tembung ngina, cacian, utawa balas dendam marang wong-wong sing nyiksa uripé.

Kosok baline, Gusti ndedonga supaya Rama-Né maringi pangapura marang wong-wong mau. Gusti Yesus ndedonga kanggo wong-wong sing nggawe Panjenengané dihukum, disiksa, lan disalib. Gusti Yesus ndedonga supaya Allah ngapura wong-wong mau, ora ngukum. Panjenengané ora ndedonga “Rama, rampungna wong-wong mau, amarga wis ngina otoritas Rama sing milih Aku lan nyiksa Aku.” Ora kaya mangkono ya! Ananging, Gusti malah ndedonga, “Ya Rama, ngapura’a wong-wong mau, amarga wong-wong kuwi padha ora ngerti apa sing padha ditindakake.” Amarga yen wong-wong padha ngerti, mesthine ora bakal nyalibake Gusti Yesus, Sang Mesias.

Nah, donga lan panyuwunan iki nggambarake pepinginan Gusti Yesus kanggo wujudake rekonsiliasi antarane Gusti Allah karo umat sing dosa. Gusti Yesus pengin umat ngraosake Tentrem rahayu. Pangapura sing Gusti Yesus paringake iku pangapura sing tulus, amarga Gusti ngapura wong-wong sing wis nggawe Panjenengané nandhang sangsara. Gusti Yesus nyuwun marang Rama supaya wong-wong mau diapura. Nalika Yesus ngalami sangsara amarga kudu ngalami siksa lan penyaliban, Gusti panggah tulus ngapura.

Penerapan
Ing satengahing pigesangan, kita mesthi ketemu lan sesambungan karo wong liya. Apa sengaja utawa ora, kita uga bisa tatu lan nyeri amarga wong liya. Dadi, apa kowe gelem lan bisa, ing kahanan sing tatu kuwi, tumindak kaya Gusti Yesus Kristus?

Ngapura iku dudu perkara gampang. Manungsa asring nyimpen keegoisan sing gedhe banget, kanthi sikap kaya ora gelem ngalah, dendam, ora rumangsa salah. Mula saka kuwi manungsa ora bisa nyucikake awaké dhéwé, apalagi nylametake awaké dhéwé. Dadi, manungsa butuh penyelamatan lan pangapura saka Gusti Yesus Kristus sing bisa nylametake manungsa saka paukuman dosa.

Dadi, sinau saka sikap Gusti Yesus sing kebak katresnan, kita minangka anak terang kedah niru tindak tanduk Gusti ing urip saben dina. Kita kudu sinau wani metu saka zona nyaman. Salah sijine zona nyaman kuwi bisa dadi sikap sing angel ngapura, amarga asring kita rumangsa dirugikake yen gampang ngapura wong sing wis nglarani ati.

Nanging, ayo sadar manawa kanthi ngapura, kita bisa mbebasake wong sing salah marang kita saka paukuman sing kudune ditanggung. Saliyane kuwi, kita uga ora nyimpen rasa nesu utawa dendam marang wong mau maneh. Kanggo wong sing diapura, dheweke bakal rumangsa lega amarga ora nahan beban paukuman sing kudu ditampa. Hubungan antarane wong sing ngapura lan wong sing diapura bisa terjalin kanthi apik lan tentrem maneh.

Pancen kita perlu ngakoni bareng manawa sikap kanggo ngapura ing wiwitan pancen angel ditindakake. Nanging, yen kita mangerteni pangapura sing diwenehake Gusti marang kita liwat kurban Panjenengané ing kayu salib, kudune kita uga isa nglakoni perkara sing podho, yakuwi maringi sih pangapura marang sesami. Mula saka kuwi, ayo terus ngucap syukur marang katresnan lan pangapura Gusti sing nylametake.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak