Tahun Gerejawi: Paskah 3
Tema: Persembahan Hidup
Bacaan Alkitab: Markus 12: 41-44
Ayat Hafalan: “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” (2 Korintus 9:7).
Lagu Tema: Bawa Persembahanmu (PKJ 146).
Tujuan:
- Remaja dapat membedakan memberi persembahan dengan ikhlas dan persembahan yang terbaik.
- Remaja dapat membiasakan diri memberi persembahan yang terbaik kepada Tuhan.
Penjelasan Teks:
Injil Markus memang mengkritik keras fenomena sosial yang terjadi pada waktu itu. Yesus dalam Injil Markus mengkritik ahli-ahli Taurat yang memang tidak memiliki integritas dalam diri. Yesus membandingkan sikap-sikap ahli Taurat yang suka menindas orang-orang yang tidak memiliki kekuasaan. Salah satunya terdapat dalam fenomena janda miskin.
Seorang janda adalah orang-orang yang termarginalkan. Secara status sosial dia tidak memiliki hukum di dalam kemasyarakatan pada waktu itu. Padahal pada waktu itu, apa yang dilakukan oleh ahli-ahli Taurat yang merampas rumah-rumah janda miskin, sangat bertolak belakang dengan kehendak Allah. Allah sendiri menyerukan umat Israel untuk lebih memperhatikan keadaan para janda miskin, yatim piatu, dan orang-orang yang tersisihkan pada zaman Perjanjian Lama (mis. Keluaran 22:21-24 ; Ulangan 10:18, 14:28-29; 16:11, 14; 24:19-22; 27:19; Mazmur 68:5; Yeremia 49:11).
Penderitaan janda diperkuat ketika Markus membandingkan kontribusi janda dan orang kaya. “Banyak orang kaya memasukkan uang dalam jumlah besar,” namun jumlah ini hanyalah sebagian kecil dari total nilai mereka. Mereka berkontribusi dari kelimpahan mereka. Janda itu, sebagai pembanding, memasukkan “semua yang dia miliki,” yang ditekankan Markus, adalah “semua yang dia miliki untuk hidup.” “Dua koin tembaga kecil” adalah koin terkecil pada waktu itu. Dibutuhkan 64 koin seperti itu untuk membuat satu dinar, upah sehari, yaitu cukup untuk hidup sehari. Wanita itu hanya memiliki 1/32 dari apa yang diperlukan untuk hidup sehari, namun dia memasukkan semuanya ke dalam perbendaharaan Bait Suci.
Sehingga jelas, janda miskin mempersembahkan dari kekurangan bahkan mempersembahkan seluruh hidupnya. Berbanding terbalik dengan orang kaya ataupun sikap ahli Taurat dan Farisi, yang belum tentu mempersembahkan kehidupannya kepada Allah.
Pendahuluan:
- Ajak remaja membaca Markus 12: 41-44!
- Selesaikan soal berikut untuk mengetahui nilai “2 peser= 1 duit” pada masa sekarang!
Markus menunjukkan bahwa dua “peser” (bahasa Yunani: lepton; bentuk jamak: lepta) bersama-sama bernilai satu “duit” (bahasa Yunani: quadrans), koin Romawi terkecil. Sebuah lepton adalah koin yang terkecil dan paling tidak berharga di antara koin yang beredar di Yudea, senilai sekitar enam menit kerja dari upah rata-rata harian. Jika upah harian bekerja selama 8 jam adalah Rp. 50.000,-, berapakah nilai 2 peser= 1 duit tersebut?
Cerita:
Jawaban: 8 jam sehari mendapat Rp. 50.000,-. Per jamnya berarti mendapat Rp. 6.250,-. Per menitnya mendapat Rp. 104,-. 1 peser adalah 6 menit bekerja, mendapat Rp. 625,-. 2 peser berarti Rp. 625,- X 2 = Rp. 1.250,- Rp. 1.250,- adalah jumlah persembahan dari janda miskin itu.
Sama sekali bukan nilai yang besar. Tetapi dalam cerita Tuhan Yesus menyatakan bahwa janda miskin itu memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Karena ia memberi dari kekurangannya, bahkan semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.
Yang diberikan oleh janda miskin bukan hanya perkara ikhlas atau tidak, tetapi dia memberikan sumber hidupnya itu bagi Tuhan. Tuhan Yesus memberikan pelajaran tentang bagaimana Allah menilai pemberian:
- Pemberian seseorang ditentukan bukan oleh jumlah yang ia berikan, tetapi oleh jumlah pengorbanan yang terlibat dalam pemberian itu. Sering kali orang kaya hanya memberi dari kekayaannya — ini tidak meminta pengorbanan. Pemberian janda ini menuntut segalanya daripadanya. Ia memberi sebanyak-banyaknya yang dapat diberikannya.
- Prinsip ini dapat diterapkan pada segala pelayanan orang beriman bagi Yesus. Ia menilai pekerjaan dan pelayanan orang tidak berdasarkan ukuran atau pengaruh atau keberhasilannya, tetapi berdasarkan kadar pengabdian, pengorbanan, iman, dan kasih yang tulus yang terlibat di dalamnya.
“Banyak orang kaya memasukkan uang dalam jumlah besar,” namun jumlah ini hanyalah sebagian kecil dari total nilai mereka. Mereka berkontribusi dari kelimpahan mereka. Janda itu, sebagai pembanding, memasukkan “semua yang dia miliki,” yang ditekankan Markus, adalah “semua yang dia miliki untuk hidup.” “Dua koin tembaga kecil” adalah koin terkecil pada waktu itu. Dibutuhkan 64 koin seperti itu untuk membuat satu dinar, upah sehari, yaitu cukup untuk hidup sehari. Wanita itu hanya memiliki 1/32 dari apa yang diperlukan untuk hidup sehari, namun dia memasukkan semuanya ke dalam perbendaharaan Bait Suci. Sehingga jelas, janda miskin mempersembahkan dari kekurangan bahkan mempersembahkan seluruh hidupnya. Berbanding terbalik dengan orang kaya ataupun sikap ahli Taurat dan Farisi, yang belum tentu mempersembahkan kehidupannya kepada Allah.
Bagaimana dengan kita?
Aktivitas:
- Bagi remaja dalam kelompok, masing-masing kelompok berisi 4 orang.
- Minta mereka mendiskusikan apa yang akan mereka persembahkan pada Hari Raya Persembahan/Undhuh-undhuh di gereja. Persembahan tersebut berasal dari tabungan mereka selama seminggu ke depan atau dalam bentuk yang lain, yang berasal dari usaha mereka sendiri.