Bacaan: 1 Samuel 18:6-16
Nats: “Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud.” (1 Samuel 18:9)
Semua teman-teman Angga bertepuk tangan dengan hebohnya karena Angga berhasil meraih juara 1 dalam perlombaan baca puisi di sekolah. Teman-teman Angga tidak menyangka jika Angga pandai membaca puisi karena Angga tidak pernah menunjukkan kebolehannya. Tetapi hari ini sangat spesial, karena Angga berhasil menunjukkan keahliannya membaca puisi.
Nia, salah satu pesaing Angga, menjadi sangat marah karena ia tidak bisa menjadi juara 1. Padahal semua orang tahu bahwa dirinya pandai membaca puisi. Dengan wajah cemberut, Nia meninggalkan panggung lomba dan menangis di dalam kelas. Bu Siska tahu Nia meninggalkan kerumunan dengan wajah hampir menangis, lalu bu Siska mengikuti langkah Nia menuju kelas. Dengan perlahan bu Siska berkata: “Nia, kamu sudah berusaha
dengan baik. Tampilanmu juga sangat baik. Kalaupun hari ini kamu gagal, bukan berarti kamu tidak bisa. Kamu sudah menampilkan yang terbaik darimu. Ayo…usap air matamu. Tersenyumlah dan hampirilah Angga. Berilah ucapan selamat kepadanya sebagai bentuk dukunganmu kepadanya. Tahukah kamu Angga juga sedang berjuang untuk menampilkan yang terbaik hari ini. Yach…kalian sudah berusaha menampilkan yang terbaik”. Mendengar
ucapan bu Siska, hati Nia lega dan ia mengusap air matanya dan berjalan keluar kelas menghampiri Angga.
Teman-teman, meskipun Nia tidak berhasil memenangkan perlombaan, tetapi sesungguhnya Nia berhasil memenangkan hatinya karena ia siap menghadapi kekalahan. Sikap Nia ini perlu kita contoh. Jangan seperti raja Saul yang tidak bisa memenangkan hatinya sehingga hatinya diliputi kebencian pada Daud karena orang banyak lebih memuja-muja Daud daripada dirinya. Karena ia gagal memenangkan hatinya, Saul akhirnya berencana membunuh Daud, saingannya. Akh…sungguh tindakan yang tidak baik untuk dicontoh, padahal Saul seorang raja.
Yuk kita hafalkan ayat ini: “Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.” (Amsal 10:12).
Doaku: “Tuhan, ajalah aku mengendalikan rasa cemburuku pada keberhasilan orang lain agar tidak menimbulkan dosa. Amin”.