Bacaan : Ayub 21 : 1 – 15 | Pujian : KJ. 375
Nats: “Mengapa orang fasik tetap hidup, menjadi tua, bahkan menjadi bertambah-tambah kuat? Mereka menghabiskan hari-hari mereka dalam kemujuran, dan dengan tenang mereka turun ke dalam dunia orang mati.” (ayat 7,13)
Ketika menonton sebuah film atau serial TV, kita akan senang ketika tokoh yang jahat pada akhirnya kalah. Kebaikan pasti akan mengalahkan kejahatan, kita selalu diajarkan demikian. Kejahatan apa pun tidak akan bertahan selamanya. Kita kecewa ketika tokoh yang baik justru mengalami kemalangan sedangkan tokoh yang jahat pada akhirnya Berjaya. Tidak seharusnya begitu.
Pemikiran demikian persis seperti pemikiran kawan-kawan Ayub, jika Ayub sekarang malang, pasti karena dia melakukan kejahatan. Kalau kamu begini pasti jadi begitu. Dan Ayub pun menjawab kawan-kawannya dengan sebuah pernyataan yang menyentak. Banyak orang yang jahat kenyataan hidup dengan sejahtera, penuh kemujuran, mereka bertambah kaya, kebutuhan mereka tercukupi, anak-anak mereka pintar-pintar, penampilan keluarganya memikat bahkan mereka tidak khawatir mati, karena semua sudah disiapkan jauh-jauh hari. Hidup tidak sehitam putih ‘baik pasti beruntung dan jahat pasti buntung’. Dalam hidup kadang yang terjadi justru kebalikannya.
Namun apakah hal tersebut kemudian langsung berarti, “Ya sudah ngapain repot-repot jadi orang baik, mendingan jadi orang jahat saja!” Rasanya tidak demikian juga. Itu juga bukan kesimpulan Ayub. Ayub hendak mengatakan jangan menyederhanakan hidup begitu saja. Tuhan menciptakan hidup dengan segala misterinya, jauh lebih indah dan bermakna daripada sekadar begini atau begitu. Ketimbang menjawab hidup itu begini atau begitu, Ayub mengajak kita bertanya, “Mengapa hal demikian bisa terjadi?” Pertanyaan ini membuat kita terbuka pada apa pun jawaban Tuhan.
Atas pertanyaan Ayub, jujur, saya pun tidak tahu jawabannya. Saya ingin ikut bertanya bersama Ayub dan menyelami misteri Tuhan daripada menjadi sok tahu. Namun sembari bertanya, rasanya menjadi orang baik tetap lebih bermakna daripada hidup jahat. Lebih baik hidup cukup walaupun harus banting tulang, ketimbang harus berlimpah tapi korupsi, misalnya. Kebaikan membuat hidup menjadi lebih indah, kejahatan merusaknya. Jadi walaupun ada – dan mungkin banyak – orang jahat beruntung, saya tetap akan berusaha melakukan yang baik. (gide)
“Mari terus bertanya tentang Misteri Tuhan sembari tetap melakukan kebaikan.”