Bacaan : Mikha 6 : 1 – 8 | Pujian: KJ 424
Nats: “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” [ayat 8]
Bagaikan air susu dibalas air tuba! Demikianlah respon bangsa Israel terhadap karya Tuhan dalam perjalanan kehidupan mereka. Melalui perantaraan nabi Mikha, Tuhan Allah menyampaikan dengan tegas kekecewaan-Nya kepada umat yang hidup dalam kejahatan. Memang umat telah mencoba “menyenangkan hati” Allah dengan persembahan yang melimpah. Namun apa yang sebenarnya dituntut oleh Tuhan kepada umat? Korban bakaran anak lembu? Ribuan domba jantan? Puluhan ribu curahan minyak? (ay. 6-7) Bukan semuanya! Tuhan menghendaki kesetiaan yang tulus. Banyaknya persembahan tidaklah berarti apabila perbuatan umat Israel tidak selaras dengan Firman Tuhan.
Dalam Mikha 6:3-5 ini nabi Mikha menunjukkan bahwa sesungguhnya tidak ada kejahatan yang dilakukan oleh Tuhan kepada umat, sehingga umat layak membalas dengan perbuatan jahat. Tuhan justru selalu berkarya, menuntun, menyelamatkan dan membebaskan umat-Nya. Peristiwa di Mesir, Moab, Sitim sampai ke Gilgal adalah bukti bagaimana Allah menyatakan kasih-Nya bagi umat Israel.k dikorbankan sebagai balasan. Namun Allah menginginkan umat berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah (ay. 8). Kebaikan Allah dibalas dengan kebaikan hidup umat. Sebab kebaikan hidup umat adalah wujud kesetiaan umat kepada Allah sebagaimana yang dikehendaki Allah.
Setiap dari kita tentu tidak menginginkan perbuatan baik dibalas dengan kejahatan. Begitu pula dengan Tuhan. Ia menghendaki agar umatNya selalu setia kepadaNya dalam merespon setiap berkat maupun karya Allah dalam hidup. Jikalau sampai saat ini pun kita masih merasakan berkat dan karya Tuhan mengalir dalam hidup kita, maka tetap setialah kepada Tuhan dan wujudkanlah kesetiaanmu dalam kebaikan hidupmu! [mojo]
“Wujudkanlah kesetiaanmu kepada Allah dengan kebaikan hidupmu!”