Jangan Lupa Bahagia Pancaran Air Hidup 28 Mei 2022

28 May 2022

Bacaan: Mazmur 97 : 1 – 12 ǀ Pujian: KJ. 392
Nats:
“Sion mendengarnya dan bersukacita, puteri-puteri Yehuda bersorak-sorak, …” (Ayat 8).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), senyum adalah gerak tawa ekspresif yang tidak bersuara untuk menunjukkan rasa senang, gembira, dan suka dengan cara mengembangkan bibir sedikit. Nah, jika ada anak kecil sedang tersenyum kepada kita, bagaimana reaksi kita? Minimal dengan keberadaan diri yang ada, kita berusaha agar senyum mereka tetap tersungging di bibirnya. Dan untuk itu bermacam-macam cara kita lakukan. Kita dapat mengajaknya berinteraksi dan berkomunikasi. Mulai ikut mengangguk-anggukkan kepala hingga bercakap-cakap dan lantas menggendongnya. Disadari atau tidak, hal ini membuat anak kecil itu tersenyum dan membawa kebahagiaan bagi kita. 

Sekarang, mari coba kita nyanyikan lagu dari KJ. 392 berjudul “Ku Berbahagia”. Bagaimana perasaan hati kita setelah menyanyikannya? Tergerakkah hati kita untuk ikut merasakan kebahagiaan? Lagu tersebut merupakan lagu terjemahan dengan judul asli Blessed Assurance, Jesus is Mine yang ditulis oleh Fanny Crosby. Ia mengalami infeksi mata saat berusia 6 minggu, dan berakhir dengan kebutaan. Pada situasi seperti itu, kebahagiaan tetaplah diupayakan hadir dalam hidup Crosby oleh Allah. Berikutnya, melalui lagunya Crosby mampu membahagiakan orang lain hingga saat ini.

Kedua contoh di atas menunjukkan kemampuan setiap manusia untuk berbagi kebahagiaan. Demikian juga dengan bacaan hari ini. Ada upaya Allah untuk menjaga keberlangsungan kebahagiaan umat-Nya (ay. 8). Dengan kuasa-Nya, diungkapkan antara lain gunung dijadikan luluh seperti lilin, dan orang yang beribadah kepada patung dijadikan malu, serta yang memegahkan diri kepada berhala dan illah dijadikan menyembah Dia (ay. 7). Allah yang menguasai alam dan manusia telah menggunakan kuasa-Nya untuk memberikan kesukacitaan kepada umat-Nya.

Berpijak kepada semangat bulan Kespel, Allah mengajak kita untuk bersaksi melalui kegembiraan hidup yang kita miliki. Sesuai judul renungan hari ini, yang mungkin sering kita jumpai dalam lagu, tulisan di kaos bahkan dalam wujud buku, kita memang diajak untuk bahagia. Namun, tetaplah kalimat ini perlu dipahami secara hati-hati. Janganlah kebahagiaan membuat kita lupa diri dan melupakan Allah yang memberikan anugerah-Nya. Akhirnya, sudah siapkah kita berbagi sukacita dan sorak-sorai dari Allah untuk sesama kita? Amin. [WdK].

“Mulailah berbagi senyum!”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak