Tabayyun Renungan Harian 28 Juli 2019

28 July 2019

Bacaan : Kejadian 18 : 20 – 33 | Pujian : KJ 249 : 1, 2
Nats : “Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar…; Aku hendak mengetahuinya” (ayat 21)

Sebagai sebuah komunitas, bangsa Indonesia dapat diibaratkan sebagai sebuah keluarga besar yang berisi berbagai perbedaan. Perbedaan itu dapat berupa suku, agama, ras, antar golongan, bahkan sebuah pilihan politik. Jika posisi strategis negara Indonesia sejak dulu menjadi sesuatu yang menggiurkan bagi bangsa-bangsa lain yang ingin mengusainya, maka perbedaan-perbedaan yang ada tersebut adalah kenyataan yang potensial untuk melemahkan bangsa Indonesia, yakni dengan mengadu domba atau yang sering disebut permainan hoaks. Dalam konstestasi pilpres tahun ini pun, sangat kental diwarnai hoaks. Sehingga semua elemen bangsa ini diminta meneliti dan menyeleksi berita yang beredar, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah atau mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya, dalam bahasa Arab disebut Tabayyun.

Saat Allah mendengar keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. Allah berencana menghukum penduduk kedua kota itu. Namun sebelum melakukannya, sekalipun kita mempercayai Tuhan sebagai Yang Maha Tahu, namun dalam bacaan kita hari ini, Tuhan pun menganggap perlu untuk melakukan tabayyun. Bahkan tidak sekedar turun untuk melihat, lebih dari itu melakukan percakapan dan diskusi dengan Abraham. Sehingga Abraham mepunyai kesempatan bernegosiasi untuk menyelamatkan kedua kota itu dari hukuman Tuhan, karena Lot keponakannya tinggal di sana. Sebagai sebuah keluarga, Abraham tidak ingin kehilangan Lot karena hukumanNya atas kedua kota itu. Hal itu nampak dari begitu beraninya Abraham bernegosiasi dengan Tuhan. Cukup bagi Tuhan untuk melakukan tabayyun, kedua kota itu akhirnya mendapat hukumanNya.

Saat perbedaan dalam keluarga digunakan sebagai ancaman keutuhan keluarga, hendaklah setiap elemen keluarga: berani dan mau melakukan tabayyun, demi keutuhan keluarga kita. Artinya kita berusaha tidak menyalahkan orang lain, atau mencari pembenaran diri atas sikap, ucapan dan perilaku kita. Sebagai bagian keluarga hendaknya kita saling mengasihi dan mendoakan agar tercipta damai sejahtera di tengah keluarga kita. (tes)

“Mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya, menangkal hoaks”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak