Bacaan : Amsal 22 : 2 – 16 | Pujian : KJ. 11
Nats: “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (ayat 6)
Anda masih ingat dongeng yang diceritakan oleh orang tua atau kakek nenek Anda ketika masih kecil? Mungkin beberapa dari kita diberikan cerita fabel tentang hewan, seperti kancil, monyet, atau kura-kura. Atau mungkin cerita rakyat mulai Ande-ande Lumut sampai Sangkuriang. Atau mungkin ada yang mendapat cerita tentang tokoh Alkitab sambil diajak ngidung. Apa pun ceritanya, pelajaran moral pertama kita, biasanya kita dapatkan melalui cerita-cerita masa kanak-kanak tersebut. Kita mungkin tak ingat detail ceritanya, tapi kita ingat sekali dengan pesan ceritanya.
Agaknya hal tersebut yang dinyatakan oleh penulis Amsal 22 ini. Penulis Amsal mengajak kita untuk mendidik anak, cucu, ponakan, saudara kita sejak masa mudanya di Jalan Tuhan. Sang penulis Amsal menyebut mata Tuhan adalah pengetahuan (ay. 12). Ya, memang penulis Amsal agak berlebihan ketika mengatakan, “Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya.” Seolah-olah orang muda itu bodoh. Tapi tentu maksudnya lebih pada : ayo didiklah mereka sejak masa muda, supaya ketika dewasa mereka setia pada Jalan Tuhan.
Sesuatu yang ditanam sejak kecil akan membekas bahkan sampai dewasa. Jika cerita yang ditanamkan ketika masa kecil adalah hukuman, kekecewaan, dan kebencian, mungkin anak tersebut harus berjuang melawan trauma atas hal tersebut sepanjang hidupnya. Bahkan mungkin bisa jadi dia akan tumbuh menjadi orang yang pahit dan pendendam. Tetapi jika sejak kecil cerita yang diajarkan adalah kasih Tuhan. Sepanjang masa kecilnya dia mendapatkan teladan bagaimana hidup dalam cerita kasih tersebut, serta segala perjuangan dan tantangannya, maka kita berharap ketika dewasa pun dia akan tumbuh dalam kasih dan melanjutkan cerita kasih Tuhan kepada yang lain. (gide)
“Kasih Tuhan adalah cerita terbaik dalam hidupku”