Bacaan: Yohanes 11 : 1 – 45 | Pujian: KJ. 385
Nats: “Mereka pun mengangkat batu itu.” (Ayat 41a)
Seorang mantan narapidana kasus narkoba datang ke gereja. Ia duduk diam di bangku belakang, berharap ia bisa memulai hidup baru. Tetapi setelah ibadah usai, tak satu pun warga jemaat menyapanya. Beberapa orang dari warga jemaat itu justru menghindarinya. Minggu berikutnya, ia tidak datang lagi ke gereja. Ia sungguh ingin bertobat, tetapi merasa ditolak. Kisah ini menyadarkan kita bahwa banyak orang seperti Lazarus, dipanggil keluar dari kubur, tetapi mungkin masih terhalang oleh batu besar.
Kisah Lazarus yang dibangkitkan bukan sekadar mukjizat Yesus yang mengalahkan maut. Ini adalah gambaran kuat bagaimana hidup baru dimulai ketika komunitas berani bersama-sama membuka pintu kubur dan melepaskan ikatan-ikatan kematian. Yesus tidak membangkitkan Lazarus sendirian. Ia melibatkan orang-orang sekitar. Ia meminta mereka mengangkat batu yang menutup kubur Lazarus (Ay. 39). Dan setelah Lazarus keluar, Ia berkata, “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.” (Ay. 44). Ini memberi pelajaran penting bagi kita bahwa pertobatan dan kebangkitan bukan hanya persoalan pribadi, tetapi perjuangan bersama. Sering kali orang ingin berubah, bertobat, hidup baru, tetapi mereka terhalang oleh “batu” yang berat, yaitu trauma, dosa lama, penolakan, stigma sosial, dll. Untuk itu, mereka butuh kita sebagai gereja, komunitas, dan keluarga untuk bersama-sama membantu membuka jalan bagi mereka yang ingin bertobat.
Dalam masa pra-paskah saat ini, mari kita bertanya dalam hati, “Apakah kita mau membantu mengangkat“batu” dan melepaskan belenggu-belenggu saudara kita yang ingin bertobat? Atau kita malah menghakimi dan membiarkan mereka tetap dalam gelap?” Pertobatan sejati tidak terjadi dalam kesendirian. Gereja dipanggil bukan hanya untuk berkhotbah tentang kasih dan pengampunan, tetapi menghidupi kasih itu dalam perbuatan nyata dengan menerima kembali mereka yang mau bertobat, mendampingi mereka, dan memperjuangkan pemulihan bersama. Amin. [kila].
“Gereja bukan tempat penghakiman masa lalu, tetapi rumah bagi awal yang baru.”