Bacaan: Galatia 4 : 21 – 31 | Pujian: KJ. 376
Nats: “Tetapi apa kata nas Kitab Suci? Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba perempuan itu tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anak merdeka itu.” (Ayat 30).
Aryo adalah anak tunggal di keluarganya. Dia seorang pemuda yang cerdas, sabar, baik, dan halus tutur katanya. Banyak orang mengatakan bahwa Aryo mewarisi sifat-sifat dari ibunya. Ketika ibunya meninggal Aryo mendapatkan warisan dari ibunya, yaitu selembar kain tenun tradisional. Istimewanya, kain itu hasil karya neneknya. Kuno, langka, dan mengandung sentuhan pribadi. Bagi Aryo kain peninggalan itu tak ternilai harganya. Tak bakal ia menukarnya dengan benda lain. Sebaliknya, ia menyimpan dan merawat kain itu sebaik-baiknya.
Suatu warisan dianggap berharga karena harganya memang sangat tinggi. Namun, bisa juga, warisan itu menjadi tak ternilai harganya berdasarkan siapa yang memberikannya kepada kita. Begitulah kira-kira gagasan yang ada di balik pernyataan Galatia 4:30, “usirlah perempuan itu beserta anaknya.” Jika ditanya, berapa nilai manusia? Tentu kita akan menjawab tak ternilai harganya. Tetapi sekali lagi ini bukan hal anak, akan tetapi terkait warisan perjanjian Allah dengan Abraham (Ay. 23). Allah yang berjanji akan memberikan karunia dan berkat kepada Abraham. Pastilah Allah juga akan merancangkan masa depan bagi keturunannya. Demikian pula orang yang sudah mengenal dan percaya pada Kristus, juga merupakan keturunan Abraham dan Ishak. Mereka diperanakkan dalam Roh. Berbahagialah kita karena kita mewarisi perjanjian Allah dan nenek moyang kita, Abraham.
Perjanjian Allah dan Abraham mengundang kita untuk melihat betapa penting warisan yang telah kita terima dengan ucapan syukur. Warisan ini perlu kita teruskan kepada generasi anak cucu kita. Tanggungjwab meneruskan warisan ini jangan dilihat sebagai sebuah beban, tetapi marilah kita memandangnya sebagai ucapan syukur. Pasti ada konsekuensi untuk merawat, mendidik, mendampingi pertumbuhan anak-anak kita dalam iman Kristen. Waktu, biaya, energi, dan perhatian yang mesti dicurahkan. Namun, kesadaran bahwa anak adalah pemberian Allah dan mereka mewarisi perjanjian dan karunia iman dari orang tuanya dapat memotivasi kita untuk mengasuhnya sebaik mungkin. Mari kita menerimanya sebagai suatu kehormatan, dan terus meminta hikmat dan kekuatan Tuhan untuk memampukan kita. Amin. [BK].
“Warisan iman adalah warisan yang teramat berharga,
bukan hanya untuk hidup sekarang, melainkan juga untuk kekekalan.”