Bacaan: 2 Timotius 1 : 3 – 7 | Pujian: KJ. 344
Nats: “Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam”(Ayat 3b)
Ketakutan dan kesedihan yang paling dalam bagi orang yang akan menghadapai kematian adalah sebentar lagi ia akan dilupakan dan tidak diingat lagi. Tidak diingat oleh orang lain merupakan hal yang sangat menyakitkan. Contoh lain dalam kehidupan masyarakat, ada tetangga yang memiliki hajatan, ternyata kita tidak diundang, padahal hubungan kita dengan tetangga kita baik dan akrab. Mulailah muncul pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita, “waduh, kami punya salah apa ya?” Ini menjadi serius dan menyakitkan, karena kita merasa sudah dilupakan dan tidak diingat lagi.
Dalam mengemban tugas pelayanannya, Timotius menghadapi pergumulan yang hebat. Sebagai seorang yang masih muda, ia harus melawan penyesat-penyesat yang membuatnya lemah, merasa rendah diri, dan merasa tidak mampu. Tetapi Paulus sebagai bapa rohaninya senantiasa mengingatnya. Dalam doa dan surat-surat yang dikirimkannya, Paulus menguatkan Timotius dalam perjuangannya menggembalakan umat Tuhan. Ia mengingatkan Timotius bahwa “Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban.” (Ay. 7). Melalui suratnya, Paulus menguatkan Timotius. Bagi Timotius, dalam beban yang ditanggungnya, ia merasa mendapat dukungan dan kekuatan, karena masih ada orang yang mengingatnya dan menyemangatinya.
Hari ini, mungkin saja ada orang-orang yang sedang bergumul dengan kelemahannya, hidup dalam kesepian, karena tidak ada yang memperhatikannya. Marilah kita mengingat-ingat mereka dalam doa-doa kita. Lebih dari itu, mari sediakan waktu untuk sejenak menulis dan mengirimkan pesan singkat kepada mereka, “Aku mengucap syukur kepada Allahku, setiap kali aku mengingat engkau dalam doaku.” Setidaknya kita dapat meringankan beban mereka dengan sekedar mengingat mereka. Mari belajar dari Paulus yang senantiasa mau memperhatikan orang-orang yang dilayaninya. Kita mau mengingat, memperhatikan, dan mendoakan saudara-saudara kita yang selama ini hidup dalam pergumulan. Mereka membutuhkan kita untuk berbagi cerita. Mereka membutuhkan kita untuk menguatkan dan menghibur mereka. Amin. [SKR].
“Aku mengucap syukur kepada Allaku, setiap kali aku mengingat engkau dalam doaku.”
(Filemon 1:4)