Kesungguhan Hati Pancaran Air Hidup 2 Maret 2022

2 March 2022

Bacaan: Yoel 2 : 1 – 2, 12 17 | Pujian: KJ. 467
Nats:
“Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.” (Ayat 13).

Sungguh-sungguh dalam KBBI diartikan tidak main-main; dengan segenap hati; dengan tekun. Ketika kita berjanji akan melakukan tugas dengan sungguh-sungguh, maka yang kita lakukan adalah melakukan tugas tersebut dengan tidak main-main, dengan segenap hati, dan dengan tekun. Namun tidak jarang ketika kita sudah berjanji melakukannya dengan sungguh-sungguh ternyata yang kita dilakukannya adalah sebaliknya, yaitu bermalas-malasan. Oleh karena itu, harus ada tanggung jawab yang mengikuti atas keputusan diri kita.

Bacaan kita saat ini mengajak agar kita dengan kesungguhan hati menyesali segala pelanggaran kita, yang tidak berkenan dihadapan Tuhan. Seperti yang tertulis di ayat 13 ”Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. Mengoyakkan hati bukan pakaian merupakan seruan, bahwasanya penyesalan bukan hanya sebagai formalitas tetapi mendasar sampai ke dalam hati kita. Dengan harapan Tuhan berbalik kepada kita, karena Dia melihat hati bukan hanya dari yang tampak luarnya saja. Demikian pula dalam ayat 14, “Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi TUHAN, Allahmu. Setiap penyesalan dan pertobatan yang sungguh merupakan upaya agar kita kembali kepada Tuhan.

Setiap tahun, moment Rabu Abu pasti ada. Pertanyaan bagi kita, sudah berapa Rabu Abu yang kita lalui? Demikian pula seberapa kita sungguh-sungguh berbalik kepada Tuhan atas pelanggaran yang kita lakukan? Apabila kita melihat kembali setahun yang lalu, “Ingatkah kita akan narasi pertobatan yang kita ungkapkan kepada Tuhan? Apakah masih kita pegang sampai bertemu dengan Rabu Abu saat ini? Atau hanya diingat dan diabadikan sebagai foto ketika dahi kita menerima abu dari pelayan. Memang Rabu Abu akan selalu datang setiap tahunnya, tetapi sejauh mana kita menghayati Rabu Abu dengan sungguh. Mari kita menyesali dosa dan pelanggaran dalam hidup kita dengan sungguh. Tuhan melihat kesungguhan hati kita, bukan hanya sekedar tangisan yang menarik empati banyak orang. Mari dengan kesungguhan hati kita berbalik kepada Tuhan, karena kita hanyalah debu abu. Amin. [gfc].

 “Manusia senang melihat yang tampak luar, tetapi Tuhan melihat kesungguhan hati kita.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak