Bacaan: Zakharia 11 : 1 – 17 | Pujian: KJ. 415 : 1
Nats: “Celakalah gembala-Ku yang pandir, yang meninggalkan domba-dombanya!” (Ayat 17a)
Seorang anak bermain bersama teman-temannya di belakang rumah. Siang itu mereka membakar dedaunan kering dengan api. Udara siang itu berhembus kencang, sehingga api merambat membakar dedaunan kering di sekitarnya. Lama kelamaan api semakin membesar dan terus membesar. Si anak berlari memberitahukan hal tersebut kepada kedua orang tuanya, namun saat ia masuk ke dalam rumah, kedua orang tuanya sedang tertidur pulas. Setelah berusaha terus dibangunkan, akhirnya kedua orang tuanya terbangun dari tidurnya. Saat mereka berlari ke belakang rumah, api sudah membakar bagian belakang rumah. Untung saja dengan bantuan para tetangga, api segera dapat dipadamkan dan tidak membakar semakin banyak ruangan. Karena keteledoran orang tua dalam menjaga anak dan membiarkan anaknya bermain api, mengakibatkan hampir saja seluruh rumahnya terbakar.
Bacaan kita hari ini berisi tentang nubuatan Tuhan yang mengerikan melalui Zakharia. Apabila kita memperhatikan pasal-pasal sebelumnya, khususnya pasal 8, 9, dan 10, Zakharia menyampaikan nubuatan: Israel yang akan diberkati dan dibebaskan dari kuasa musuh. Namun pada pasal 11, nuansa yang terbangun sangat kontras. Pada pasal 11 ini, Zakharia menubuatkan mengenai kehancuran bangsa Israel. Di ayat 6 dikatakan, “Sebab Aku tidak lagi akan mengasihani penduduk bumi, demikianlah firman Tuhan, melainkan sesungguhnya, Aku akan menyerahkan manusia masing-masing ke dalam tangan gembalanya dan ke dalam tangan rajanya, mereka ini akan menghancurkan bumi dan Aku tidak akan melepaskan seorang pun dari tangan mereka.” Israel diserahkan pada seorang gembala yang teledor, yang tidak memperhatikan dombanya.
Dalam ayat 11, Tuhan mengecam gembala yang pandir, yang telah meninggalkan domba-dombanya. Teledor dalam melakukan tugas dan tanggung jawabnya. Mengenai siapakah yang dimaksud dengan gembala yang pandir tersebut, identitasnya tidak disingkapkan. Gambaran seorang pemimpin yang teledor dan tidak memperhatikan orang yang dipimpinnya, akan mendapat celaka. Bukankah setiap kita juga memiliki panggilan untuk menjadi gembala bagi yang lainnya. Jangan sampai kita teledor terhadap tugas kita menjadi gembala bagi keluarga kita atau bagi jemaat dimana kita berada. Tuhan Yesus Sang Gembala sejati senantiasa memampukan kita. Amin. [ANS].
“Penuhi panggilan tugas kita menjadi gembala bagi yang lain dengan tidak teledor!”