Bacaan: Yehezkiel 43 : 1 – 12 | Pujian: KJ. 466a
Nats: “Mereka menajiskan nama-Ku yang kudus dengan perbuatan-perbuatan mereka yang keji, maka dari itu Aku menghabiskan mereka dalam amarah-Ku.” (Ayat 8b)
Di desa Sukamaju, hiduplah keluarga besar yang namanya dipandang baik. Setiap anggota keluarganya harus berhati-hati dalam menjalani hidup. Karena jika sampai melakukan kesalahan, dia akan dianggap mencoreng nama baik keluarga. Bagi Surti, tanggung jawab menjaga nama baik keluarganya sangatlah berat. Ia seringkali melanggar nilai-nilai keluarga besarnya. Sang ayah marah dan menganggapnya tidak menghormati nama baik keluarga.
Kisah tersebut mengalegorikan kehidupan umat Israel yang ditugaskan untuk menjaga kekudusan nama Allah dengan senantiasa hidup berkenan di hadapan-Nya. Namun kenyataannya, perintah itu seringkali diabaikan. Mereka menajiskan kekudusan nama Allah dengan perbuatan-perbuatan keji mereka, sehingga Allah mendatangkan malapetaka atas mereka. Allah yang tidak berkenan atas dosa dan pemberontakan mereka. Hal ini yang digambarkan oleh Yehezkiel sebagai Allah yang meninggalkan Bait Suci dan tidak berkenan tinggal di dalam-Nya. Yehezkiel menggambarkan pembuangan sebagai kesempatan bagi umat untuk bertobat dari dosa mereka dan kembali kepada Allah. Di tengah penderitaan umat Israel karena pembuangan itu, Yehezkiel menubuatkan bahwa kehidupan umat Israel yang dipulihkan (pasal 40-48). Allah akan kembali ke Bait Suci dan memenuhinya dengan kemuliaan. Umat akan bertobat dari ketidaksetiaan mereka dan menjadi kepunyaan Allah yang taat. Yehezkiel menceritakan nubuat itu kepada umat Israel, supaya mereka merasa malu akan kesalahan-kesalahan mereka dan berbalik kepada Allah.
Kita juga bertanggung jawab menghormati kemuliaan Tuhan dan kekudusan nama-Nya melalui laku hidup yang berkenan kepada-Nya. Semakin kudus Tuhan, semakin kita merasa malu akan dosa/ kesalahan kita di hadapan-Nya. Semakin mulia nama-Nya, semakin gentar kita menghadap-Nya tanpa mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Bukankah kita menjadi malu ketika kehidupan kita yang penuh dengan dosa dan pemberontakan, diperhadapkan pada kekudusan dan kemuliaan Tuhan? Jika diri kita diumpamakan sebagai Bait Suci, apakah Allah berkenan tinggal di dalamnya apabila laku hidup kita jauh dari kehendak-Nya? Seperti nubuat pemulihan Israel, demikian juga hidup kita yang telah hancur oleh karena dosa tentu sangat mungkin dipulihkan. Namun pemulihan itu menuntut kesediaan kita untuk menyesali dosa dan bertobat dengan sungguh-sungguh. Amin. [wdp].
“Hidup dalam kekudusan adalah bentuk menghormati kemuliaan Tuhan.”